Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 43


__ADS_3

Saat sore hari, Vir terlihat ke luar dari gedung Angkasa Corp Tbk. Ia berjalan ke arah mobilnya yang sudah di bawa oleh security menuju halaman gedung.


"Vir..!" teriak seseorang saat Vir hendak masuk ke dalam mobil


Siapakah yang berani memanggilnya dengan sebutan nama saja saat masih berasa di lingkungan kantor.


Vir menoleh ke arah sumber suara, Ia terkejut tatkala melihat wanita yang sangat ia kenal berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu berjalan mendekat dengan tatapan penuh amarah.


Seketika wajah Vir berubah pias, Beberapa minggu terakhir ini ia seolah melupakan Fia. Ya wanita itu adalah Fia, Vir merasa bersalah karena pada saat di luar negeri ia sama sekali tak pernah menghubungi wanita itu, bahkan berpamitan pun tidak ia lakukan.


"Fi.." lirih Vir yang masih terpaku melihat keberadaan Fia


"Kau sungguh tega Vir!!" hardik Fia dengan tatapan penuh amarah yang siap meledak.


Vir menoleh sekilas ke arah dua security yang berjaga di dekat pintu masuk. Bukan security, lebih tepatnya ke arah cctv yang ada di sana.


"Kita pergi dari sini! Aku akan jelaskan semuanya!" Vir menarik tangan Fia masuk ke dalam mobilnya.


Mobil mewah itu lalu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya.


"Kenapa kau setega ini padaku Vir? Kenap hah??" teriak Fia pada Vir yang hanya diam sambil fokus mengemudi


"Vir, jawab aku!!!!" teriaknya lagi,


Sepertinya Fia benar-benar merasa di campakkan oleh Vir yang belakangan terakhir ini tak pernah menghubunginya


"Tunggu kita sampai dulu baru aku jelaskan" kata Vir dengan berusaha tenang


Tidak lama kemudian, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah Cafe yang kelihatannya cukup sepi pengunjung.


Virendra dan Fia masuk ke dalam Cafe dengan langkah tergesa-gesa.


"Kau darimana saja? kenapa hilang begitu saja? kenapa tidak pernah mengabari ku? Kenapa Vir?" teriak Fia pada Vir yang baru selesai memesan minum pada pelayan Cafe.


Vir menghela nafas, ia melirik sekitaran. Beruntung di sana hanya ada mereka dan beberapa pegawai Cafe saja.


"Pelankan suara mu Fi" lirih Vir, Ia tidak ingin mereka jadi pusat perhatian apalagi karena pertengkaran


Sebenarnya ada rasa bersalah dalam diri Vir, Ia juga merasa kasihan pada Fia jika harus terluka karenanya. Namun ia juga harus bisa menentukan pilihan antara istrinya atau kekasihnya itu


"Oke akan aku jelaskan!" Vir menghela nafas dalam, kemudian kembali melanjutkan ucapannya "Aku minta maaf sebelumnya, karena tidak pernah mengabari mu! Aku benar-benar sibuk.."


Vir menjelaskan Semua alasannya kenapa ia pergi ke luar negeri tanpa memberi tahu Fia.

__ADS_1


"...Jadi aku harap kau bisa mengerti! walau bagaimanapun juga dia tetap istri ku, Aku tidak bisa membiarkannya pergi tanpa diriku" Vir berusaha memberikan pengertian pada Fia yang keliatannya masih emosi.


"Kau menganggapnya istri?” Fia menajamkan tatapannya pada Vir "Kata mu kau tidak mencintainya, Kenapa pergi menyusulnya! Kau sudah mulai ada rasa padanya kan?" teriak Fia seraya mulai meneteskan air matanya, Ia tidak terima jika Vir mengklaim wanita lain sebagai istrinya, Ia tidak rela jika pria yang ia cintai lebih perhatian pada wanita yang dijodohkan dengan kekasihnya itu.


"Fi, kalau aku tidak ke sana apa kata keluarga ku? Di sana ada ibu dan Ayah, jadi apa yang akan mereka katakan saat aku tidak ada di sana. Tentu mereka semua akan kecewa padaku, Aku tidak ingin hubungan ku dengan Ayah dan Ibu yang mulai membaik sejak pernikahan ini harus retak kembali Fi, aku juga lelah jika terus-terusan harus bermasalah dengan mereka" tutur Vir panjang lebar seraya menggengam tangan Fia yang kelihatannya mulai meneteskan air mata kesedihan


"Hikss, Kau muali mencintainya kan!! Kau jatuh cinta padanya Vir.. Sebentar lagi Kau akan meninggalkan ku kan, Kau berbohong Vir, kata mu kau ingin meninggalkannya tapi kau malah menemuinya" Bukannya mengerti, Fia malah menangis dan membuat Vir semakin merasa bersalah.


Vir mendekat ke arah Fia lalu membawanya ke dalam dekapannya. Ia benar-benar tidak bisa melihat wanita yang ia cintai menangis seperti ini, walaupun ia sendiri merasa ada yang aneh saat menyentuh Fia.


Setelah cukup lama berusaha menenangkan Fia.


"Sudah ya, jangan menangis lagi! Aku minta maaf jika perbuatan ku menyakiti mu! Aku tahu aku salah, aku tidak akan mengabaikan mu lagi tapi aku mohon untuk saat ini tolong mengerti posisi ku. Jadi aku juga tidak mudah Fi! Aileen tanggung jawab ku dan kau wanita yang aku cintai, aku benar-benar tidak bisa memilih,


Jika aku mengabaikan dia" Sungguh Vir pun merasa berat berada dalam situasi ini, Ia berharap Fia juga bisa mengerti sama seperti Aileen yang bisa memahaminya dan mau berjuang bersama walaupun mereka tidak tahu kisah ini akan berakhir seperti apa.


Fia terlihat mengangguk mendengar ucapan Vir, tidak ada yang tahu apakah ia benar-benar akan memahami ucapan Vir atau menganggapnya hanya sebagai angin lalu.


"Tunggu sebentar aku akan membayar minuman ini dulu, setelah itu kita akan pulang"


Vir pun berjalan ke arah meja kasir.


Dan saat ia kembali Fia terlihat meletakkan hanphone Vir kembali ke atas meja, entah apa yang ia cari. Vir yang tak ambil pusing pun langsung mengajak Fia untuk pulang karena wanita itu datang menemuinya hanya menggunakan taxi.


Setelah sampai, Ia langsung ke luar dari mobil dan bersandar di depan mobilnya sambil menunggu sang istri.


Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu terlihat ke luar sambil menenteng satu paper bag ditangannya dan tas kerjanya di tangan yang satu.


Vir yang mendengar suara langkah mendekat ke arahnya langsung berbalik, Ia tersenyum melihat Aileen.


"Apa itu?" Vir mengernyit heran melihat Aileen ke luar membawa paper bag.


"Paper bag dan tas" jawab Aileen enteng seraya mengangkat keduanya


"Ck, Aku tahu itu paper bag dan tas Aileen! Maksudku apa isinya?" kata Vir yang hendak melayangkan sentilannya pada kening sang istri. Sepertinya ia benar-benar menjadikan sentilan sebagai hobby barunya dan menjadikan kening Aileen sebagai pusat sasarannya


Aileen terkekeh sambil menunjukkan isi paperbagnya pada Vir


"Ini souvenir yang kita beli pada saat di Negara A itu"


"Bukannya souvenir ini ada di rumah Opa Surya?" kata Vir yang tahu jika dos souvenir itu ikut bersama barang-barang Apa Omanya


"Tadi aku mengambilnya, teman-teman ku tidak sabar ingin melihat souvenirnya, jadi aku langsung pergi saja ke rumah" kata Aileen

__ADS_1


Vir memicingkan matanya seolah tidak bey yakin dengan jawaban sag istri


Aileen yang ditatap seperti itu seolah tahu arti dari tatapan sang suami


"Aku pergi mengambilnya menggunakan motor bersama Nita"


Niat hati hanya sekedar memberi tahu tapi malah jawabannya membuat Vir marah.


"Hiya kenapa kau berani ke luar menggunakan motor? itu berbahaya!!" teriak Vir yang tak habis pikir dengan sikap istrinya


"Tapi aku tidak apa-apa Vir, lihatlah aku baik-baik saja" Aileen merentangkan tangannya seraya sedikit memutar ke kiri dan ke kanan menunjukkan pada Vir bahwa ia memang tidak kenapa-kenapa


Tuk..


Vir menyentil kening Aileen membuatnya mengaduh kesakitan.


"Ini sakit Vir, kenapa kau suka sekali melakukan ini pada ku?" Gerutu Aileen seraya mengusap keningnya


"Aku tahu kau menghawatirkan mu, tapi jangan menghukum ku seperti ini" protes Aileen


Vir mencebikkan bibirnya "Aku yang mengantar mu Eil, otomatis keselamatan mu tanggung jawabku! Apa kau pikir siapa yang akan mereka salahkan jika terjadi sesuatu pada mu? Tentu aku, Pasti merek akan bertanya kenapa kau bisa sampai naik motor tentu karena aku lagi, karena aku yang mengantar mu jadi membuat mu tidak bawa mobil!" kata Vir panjang kali lebar.


"Iya aku minta maaf. tapi sungguh lihatlah, aku sama sekali tidak apa-apa. Lagi pula aku sangat rindu naik motor" ujar Aileen


"Aih iya terserah kau saja, ayo pulang!" Vir menarik tangan Aileen masuk ke dalam mobil lalu ia pun segera masuk dan melaju meninggalkan halaman rumah sakit.


.


.


.


Setelah selesai makan malam. Mereka sama-sama naik ke atas dan menuju kamar masing-masing.


Vir kelihatan terus memandangi Aileen yang sudah hampir masuk ke kamarnya.


Sepertinya Vir ingin mengajak Aileen untuk tidur bersama, tapi ia tak punya keberanian untuk itu. Ia masih terlalu gengsi jika harus dirinya yang mengajak duluan. Selain itu, di saat yang bersamaan pula ia teringat akan bayangan Fia yang menangis karenanya.


Vir bimbang, semua terasa berat Ia bingung harus bagaimana..


Searogannya Vir, dia tetaplah laki-laki yang masih punya hati. Laki-laki yang masih tahu batasannya.


"Arggggh" Vir mengusap wajahnya kasar seraya menghempaskannya begitu kencang

__ADS_1


Kenapa semuanya jadi begini? Ini terlalu sulit untuk ku, disaat yang bersamaan aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa karena aku sadar mereka sama-sama memiliki status yang berbeda!!! Aku memang belum mencintai istri ku tapi aku juga tidak mungkin menyakitinya. Sedangkan Fia, aku mencintainya tapi aku juga tidak ingin ia tersakiti karena pernikahan ini!! Aku harus bagaimana...


__ADS_2