Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 52


__ADS_3

Malam itu saat Vir yang baru saja mengadakan pertemuan dengan beberapa koleganya kembali ke Hotel untuk mengambil beberapa berkas yang harus ia tanda tangani.


Setelah selesai, Ia ke luar dari ruangannya sambil membawa tas kerja dan juga berkas yang baru saja diambilnya.


Vir berjalan dengan gagahnya, semua staf karyawan yang ia lalui menunduk hormat padanya. Vir hanya membalasnya dengan seulas senyuman dari bibirnya yang sudah tidak terlalu bengkak.


"Selamat malam Pak" sapa si Resepsionis saat Vir lewat di depan mejanya.


Vir hanya merespon dengan sebuah anggukan tanpa senyuman.


Tatapannya fokus pada pria yanga baru saja masuk dari pintu hotel yang ada di depannya.


Pria itu adalah Zaky, pria yang memeluk istrinya siang tadi. Vir terus menatap dengan melemparkan tatapan perang.


Entah mengapa saat berpapasan dengan Zaky rotasi bumi seakan melambat membuat pergerakan keduanya seakan sedang menggunakan fitur slow motion seperti yang ada di adegan film laga jika sedang ada adegan genting membuat gerakan si tokoh dalam film seakan melambat.


Begitu lah kiranya keadaan keduanya ketika saling berpapasan, Namun mungkin hanya Vir saja yang merasakan itu. Tidak dengan Zaky, karena ia sendiri tidak tahu siapa pria yang menatapnya seperti itu.


Walaupun kelihatannya Zaky tidak suka dengan tatapan Vir tapi ia tetap acuh. toh ia pun tak mengenalnya, pikir Zaky dalam hati.


Saat posisi mereka sudah berjauhan semua seakan kembali normal, rotasi bumi yang tadinya terasa melambat kini bak angin lalu yang berhembus begitu cepat, seakan baru saja tidak terjadi apa-apa.


Security yang berdiri di depan pintu kaca itu membukakan pintu untuk atasan mereka seraya menyapanya dengan hormat.


"Selamat malam pak!" Kedua security itu membungkuk hormat.


Zaky yang masih berada di bagian loby bisa mendengar ucapan security tadi, Ia berbalik memerhatikan interaksi dua security itu pada pria yang tadi menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan


Vir menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu security "Tolong ambilkan mobil saya!" Perintahnya yang langsung dilaksanakan,


security itu segera bergegas mengambil mobil tuannya di basement parkir.


Vir melirik Arlojinya, karena pria tadi ia jadi mengingat sesuatu yang Aileen berikan padanya.


Vir lalu meraih voice recorder yang Aileen berikan.


Ia menatap voice recorder yang berbentuk pulpen itu,


"Aku akan mendengarkan apa isinya" Ucap Vir seraya berjalan ke arah mobilnya yang sudah ada di sana.


Security tadi turun dan hendak beralih membukakan pintu untuk Vir.


"Ck, jangan berlebihan seperti ini! aku bisa membukanya sendiri" ucap Vir, membuat security tadi mengurungkan niatnya dan langsung kembali ke posisinya.


Sementara dari arah loby, Zaky sama sekali belum beranjak, sedari tadi ia terus mengamati interaksi dua security itu dengan pria yang sepertinya bos di hotel ini.


Satu yang dapat Zaky simpulkan, Pria yang menatapnya itu adalah salah seorang pemilik hotel yang dimaksud temannya tadi.


Seperti mendapat sebuah peluang, Zaky tersenyum dan langsung berjalan ke arah resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu?" ucap resepsionis itu terlebih dahulu ketika melihat Zaky berjalan mendekat ke arahnya


Zaky meletakkan tangannya di atas meja resepsionis.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu pria yang barusan lewat tadi siapa ya?"


Si Resepsionis itu lalu beralih menatap mobil Vir yang masih terparkir di depan sana, sepertinya ia belum juga pergi.


"Dia pemilik hotel ini" ucap sang resepsionis singkat, menjelaskan seadanya.


"Emmnt, apa beliau sudah menikah dan punya istri?" Tanya Zaky lagi.


Resepsionis itu menatap wajah Zaky, dia menghembuskan nafasnya "Maaf, itu privasi pimpinan kami, saya tidak bisa membocorkan hal semacam ini kepada sembarang Orang" ucap Resepsionis itu yang ragu dengan gerak gerik Zaky.


zaky berusaha tersenyum, Ia tidak ingin resepsionis itu mengira dirinya orang yang berniat jahat.


"Saya bukan orang jahat, saya Hanya ingin tahu tentang dia"


"Tetap saja pak, Kami tidak bisa memberi tahu sembarang hal pada orang lain. Apalagi bapak tamu kami, itu kehidupan pribadi pimpinan!" ucap Resepsionis yang tidak mengerti apa tujuan pria di depannya itu menanyakan kehidupan pribadi Vir.


Yang pasti ia tidak akan memberikan info apa-apa


Zaky menghela nafas "saya minta maaf karena sudah bersikap lancang," Zaky kemudian melangkah meninggalkan loby.


Kenapa aku jadi tidak sabaran karena masalah ini. apa salahnya menunggu Aileen, kau bisa mendengar semuanya langsung darinya.


Zaky berlalu dengan perasaan gundah gulana memikirkan perkataan Aileen, Ia berharap semua itu tidak benar dan hanya bualan dari Aileen yang marah karena dirinya hilang kabar.


****


Sementara itu, Vir yang sama sekali belum melajukan mobilnya terus menatap voice recorder itu, dengan Satu tangannya menggenggam erat stir kemudi.


"Aku penasaran apa isinya," Vir memutar-mutar benda berbentuk pulpen itu ditangannya, Ia mengamatinya kemudian memencet tombol power pada pulpen itu, membuat pulpennya memancarkan setitik cahaya merah menandakan benda itu telah menyala


Dua Suara itu begitu dia kenal. Vir melotot tak percaya ketika mendengar suara Fia yang menyebut bahwa dirinya telah mengadu hal yang berbanding terbalik dengan Fakta.


Vir tahu semuanya, Ia tahu jika Fia sudah memutar balikkan fakta hingga membuat dirinya marah pada Aileen.


Wajah Vir terlihat memerah menahan emosi. Ia menggenggam erat setir kemudi, dengan beberapa kali memukulnya.


Ia tidak menyangka jika Fia akan melakukan ini. Dia tidak suka di bohongi, Vir hilang respect pada Fia yang sudah membohonginya.


dia tidak menyangka jika kekasihnya itu akan tega melakukan itu demi untuk menjauhkan Aileen dengannya.


Vir merasa bersalah pada Aileen, ini bukan kali pertama ia menyalahkan Istrinya karena perbuatan yang bukan dilakukan olehnya.


"Aku tahu ini tidak mudah untuk Mu Fi, tapi bukan begini caranya, tidak seharusnya kau menyalahkan Aileen atas ini dan membuat aku marah padanya!"


Vir menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas, Ia melaju meninggalkan area hotel dengan kecepatan yang begitu tinggi.


Bahkan sampai membuat kedua security yang bertugas terlonjak kaget karena aksinya.


Vir melaju membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi, bahkan bunyi decitan rem terdengar jelas ketika ia berusaha menghindari beberapa pengendara lain yang menghalangi jalannya.


Vir meraih sebuah headset dari laci dashboard mobil, lalu menyambungkannya dengan hanphonenya.


Vir terlihat memencet hanphonenya lalu beralih memencet tombol headdset yang sudah tertempel di telinganya.

__ADS_1


"Kau dimana?" ketus Vir.


"Aku di Apartemen, ada...?"


Tut...


belum sempat orang yang diteleponnya menyelesaikan pertanyaannya, Vir sudah memutus panggilan itu secara sepihak


Membuat Fia yang ditelepon mengernyit heran.


Tidak biasanya Vir seperti itu padanya.


Beberapa menit kemudian Vir sudah sampai di Apartemen yang Fia tempati.


Vir berdiri di depan pintu seraya memencet bell.


Vir terlihat menghembuskan nafas kasar ketika Fia tak kunjung membukakan pintu untuknya.


Pintu Apartemen pun terbuka, menampakkan Fia yang memberikan senyum termanisnya pada sang kekasih


"Sayang..." ucap Fia tersenyum seraya bergelanyut manja di lengan Vir


Vir melepaskan pelukan Fia dari lengannya.


"Kenapa melakukan ini?" ucap Vir dingin sambil menunjukkan Pulpennya pada Fia


Fia melepaskan pelukannya dari lengan Vir, Ia beralih menatap pulpen yang Vir tunjukkan.


Ia mengernyit heran, Fia tidak mengerti apa yang ia lakukan pada pulpen yang Vir tunjuk.


"Sayang maksud mu apa?" ucap Fia


Vir menatap Fia lekat seraya memencet tombol pulpen yang kemudian terdengar suara percakapannya dengan Aileen saat malam itu.


Fia menutup mulutnya tak percaya.


Dokter itu...


"Sayang, di-dia ingin aku bersaing dengannya untuk mendapatkan mu" ucap Fia


"Aku tahu!" ucap Vir dingin tanpa ekspresi


"Aku tahu semuanya Fi, yang jadi masalahnya kenapa kau tega memutar balikkan fakta? di rekaman itu kau mengakuinya kan!! Kenapa harus menggunakan cara licik seperti ini? Aku tidak suka itu Fi!!!!" Bentak Vir yang mana membuat Fia tertunduk dengan mata berkaca-kaca


Ini kali pertamanya Vir membentak dirinya, setelah lima tahun menjalin kasih.


Hatinya sakit sekali


"Memangnya kenapa Vir? Apa kau marah? kau menyesal karena sudah memarahinya!" ucap Fia dengan menatap Vir lekat


"Kenapa kata mu?? Kau tahu aku paling tidak suka dibohongi Fi, selain itu kau sudah memfitnahnya! Aku marah padanya karena cerita karangan mu!! Sebejad-bejadnya aku, Aku masih tahu jika memutar balikkan fakta itu tidak baik, aku lebih suka orang yang jujur"


Fia tersenyum sinis seraya menyeka air matanya "Lalu kau mau apa?? Aku melakukan ini agar hubungan kalian cepat berakhir, aku tidak rela kau tinggal serumah dengannya, Aku cemburu Vir!!"

__ADS_1


"Bukan seperti ini caranya Fi" Vir menghela nafas kasar, sungguh ia pun tak mampu berkata-kata jika Fia sudah menumpahkan air matanya "Aku kecewa pada mu!" ucap Vir yang kemudian pergi meninggalkan Fia yang menangis di depan pintu Apartemennya.


__ADS_2