
Aileen sibuk menata hidangan makan malam di atas meja. Kali ini ia kedatangan dua tamu spesial yang membuatnya memasak banyak makanan untuk dihidangkan pada ibu mertua dan kakak iparnya itu.
Kedatangan tiba-tiba mereka sore tadi membuat Vir merasa terganggu sebab tengah asyik bercengkrama dengan istrinya namun Ibu dan Kakaknya malah datang.
Namun berbeda dengan Aileen yang begitu senang dengan kehadiran mereka.
“Silahkan di makan!” Aileen mempersilakan lalu ikut bergabung, ia duduk di samping Vir yang tengah meliriknya secara intens.
“Mau yang mana?” tanya Aileen pada Vir
“Mau yang ini..” Vir menunjuk aset berharga pada istrinya, Ia tersenyum nakal sambil berbisik sensual.
Aileen memukul pelan bahunya, untung saja Vir masih punya malu dengan tidak mengeraskan suaranya saat mengucapkan kata-kata frontal yang tidak seharusnya diucapkan saat di depan banyak orang, apalagi posisinya sedang berada di meja makan.
“Apa kau tidak punya malu? Di sini ada ibu dan Kak Vino”
Vir menggeleng dengan senyum tanpa beban.
“Hissst.. Cepat katakan, mau yang mana? Biar aku ambilkan” Aileen merenggut kesal sambil melototkan matanya pada Vir.
Sementara Ibu dan Vino yang melihat itu hanya saling tatap sambil megulum senyum. Meski tak mendengar apa yang Aileen dan Vir ucapkan namun mereka sangat senang melihat tingkah dua sejoli itu.
Ibu merasa beruntung sebab Vir sudah bisa menerima pernikahannya dengan utuh.
“Wah kau hebat sekali Eil. Masakan mu sangat lezat! Pantas saja Vir kelihat berisi” Puji Ibu setelah merasakan hasil masakan menantunya.
Aileen yang baru selesai menyendokkan makanan untuk Vir segera menoleh ke arah Ibu, Ia tersenyum atas pujian yang diberikan.
“Masakan mu memang layak bersaing dengan masakan restoran...” timpal Vino seraya mengacungkan dua jempol pada Aileen.
“Ah, Ibu dan Kak Vino bisa saja!” Aileen merasa pujian itu terlalu berlebihan. Sama seperti Vir, ia bukanlah orang yang suka akan pujian. Sebab pujian bisa membuat seseorang merasa sombong dan akan berakhir lupa diri.
“Jangan menampakkan senyummu, cukup tersenyum di depanku saja!” bisik Vir lagi
Aileen melirik Vir dengan memutar mata malas, bagaimana bisa pria itu melarangnya tersenyum pada Ibu dan kakaknya sendiri. sangat aneh bukan. Apa iya dia cemburu pada Vino dan tak rela jika Aileen tersenyum padanya. Keposesifannya benar-benar di luar akal sehat manusia pada umumnya.
Dasar aneh..! cebik Aileen dalam hati
“Kenapa kau senang sekali bisik-bisik Vir?" sahut Vino yang mana membuat Vir langsung menoleh
“Kenapa kau begitu kepo?” Vir berbalik bertanya
Ibu yang melihat itu segera melerai sebelum terjadinya perdebatan yang akan menggangu selera makannya
“Haiiiss, kalian berdua diamlah! Jangan mengusik waktu makan ibu, ck dasar anak nakal!” Ibu mendelik sebal, dua putranya itu seolah tak bisa bertahan hidup jika tak melewatkan waktu tanpa berdebat. Apalagai Vino memang terkenal suka mengusik Vir. Pria itu selalu senang setiap kali melihat adiknya mengomel dan membantah ucapannya
“Mereka memang selalu seperti ini Eil. Seandainya bisa, ibu ingin menukarnya dengan anak perempuan!” ucap Ibu yang mana membuat Aileen terkekeh. Ibu kelihatan begitu tertekan punya dua putra menyebalkan.
Vir dan Vino saling pandang mendengar perkataan Ibunya.
...***...
“Kenapa Ayah tidak ikut?” tanya Aileen. Kini ia dan Ibu mertuanya tengah duduk di balkon.
Setelah makan, ibu mengajak Aileen untuk berkeliling melihat rumah mereka. Sementara Virendra dan Jevino tengah berada di lantai bawah.
__ADS_1
“Ayah pergi sejak siang dan belum pulang. Tadinya Ibu akan datang dengan Ayah tapi karena ada urusan, Ayah tidak bisa ikut dan ibu mengajak vino kemari..” Ibu berdiri di pagar balkon sambi menghirup udara malam. Pemandangan malam di Cluster Magnolia sangatlah indah.
Dua wanita beda usia itu terus mengobrol satu sama lain.
...___...
Keesokan harinya, Aileen terlihat ke luar dari ruangan IGD. Ia baru saja selesai menangani pasien gawat darurat.
Saat tengah berjalan Aileen berpapasan dengan pria paruh baya yang sangat dikenalnya.
“Ayah?” Sapa Aileen saat berpapasan dengan Hans. Ayah mertuanya itu menampakkan senyum ramahnya.
“Eil, kebetulan sekali. Ada yang ingin Ayah tanyakan padamu”
Aileen yang mendengar itu segera mengajak Ayah untuk berbincang di ruangannya.
...____...
#Di Angkasa Land Hotel
“Halo Vir...” Vir yang tengah sibuk dengan laptopnya beralih mencari sumber suara. Pandangannya menyerngit tatkala melihat siapa wanita yang menghampirinya.
Fia, wanita itu ada di ruangan Vir. Kilatan amarah terpancar di wajah pria itu. Berbagai tanya muncul di benaknya, bagaimana cara mantannya itu bisa sampai lolos masuk ke ruangannya. Vir berulang kali mengutuki Dito dan Mei sekertarisnya yang bisa kecolongan tahk mencegah Fia masuk ke ruangannya.
Tanpa menghiraukan sapaan Fia, Vir segera meraih Hp nya dan melakukan panggilan.
“Kau dimana? Kenapa tidak memberi tahuku siapa tamu yang datang?” omel Vir pada orang di balik telepon.
“Maaf Tuan, tadi anda menyuruh saya ikut bersama tuan Dito dalam pertemuan dengan pihak Online Travel Hotel yang baru..” Mendengar penuturan sang Sekertaris, Vir lalu menghela napas dan menutup teleponnya kemudian.
Vir beranjak dari duduknya dengan tatapan penuh emosi “Apa kau tidak punya sopan santun? seenaknya masuk ke ruangan orang..” denga tatapan menghujam, Vir mengomeli Fia. Namun wanita itu malah tersenyum tanpa dosa.
“Jangan marah-marah Vir, aku kemari ingin melihat hotel ku..” dengan congkaknya Fia berjalan mengitari ruangan itu, membuat Vir geram dengan tingkahnya. Fia membuatnya kesal, bagi Vir kelakuan Fia sudah seperti orang yang tidak tahu sopan santun, makin ke sini ia makin ilfeel melihat kelakuan mantannya yang seenaknya begini.
“Apa maksud mu?”
“Aku, ingin kau menjadikan ku sebagai pemegang hotel ini!” Fia berjalan ke arah Vir, ia berdiri di sisi meja. Tangannya bertumpu di sana sambil menatap lekat wajah Vir yang menatapnya dengan emosi yang siap meledak.
“Apa kau gila? Atas dasar apa kau meminta ku menjadikanmu sebagai pemilik hotel..” Dengan kasarnya, Vir terus menyanggah setiap ucapan Fia
Fia kembali terkekeh “Apa kau lupa, aku adalah orang yang pernah meminjamkan mu modal untuk membangun hotel ini, Jadia aku juga punya hak atas semua ini..”
Vir menggeleng, wanita di depannya ini semakin menggila “Cih jangan seenaknya! Aku pernah ingin mengganti uangmu tapi kau menolaknya!”
“Aku menolaknya karena dulu kita sepasang kekasih, aku tidak butuh itu karena dulu aku ikhlas membantu mu. Tapi sekarang kita bukan sepasang kekasih lagi jadi aku tidak ingin rugi. Aku ingin kau juga memberiku wewenang sebagai pemegang saham di hotel ini” ucap Fia sambil meraih sebuah amplop dari tasnya.
“Ingat Vir, aku masih memegang surat perjanjian piutang kita 6 tahun yang lalu! Aku bisa saja menuntut mu jika kau tidak menjadikan ku pemegang saham!” ancam Fia sambil melambaikan amplop itu dihadapan Vir.
Vir tersenyum sinis, ia benar-benar tak menyangka. wanita yang pernah ia cintai itu ternyata begitu licik, Ia bahkan rela menyerang dirinya dengan cara ini.
“Kalau mengalihkan nama mu sebagai pemilik saham, aku tidak bisa tapi aku bisa mengganti uang yang pernah aku pinjam darimu” ucap Vir dengan datar, Sebisa mungkin ia menahan dirinya untuk tidak bersikap kasar
“Tidak, aku tidak mau uang! Aku ingin menjadi pemegang saham Atau...” Fia menjeda ucapannya kemudian mendekat ke arah Vir, ia menyentuh wajah pria itu namun Vir langsung menepisnya secara kasar.
“Jangan kurang ajara Fi.. cepat katakan apa mau mu!” suara Vir meninggi seraya mendorong tubuh Fia menjauh
__ADS_1
“Pilihannya ada dua, jadikan aku pemilik saham atau kembali lah bersamaku! tinggalkan istrimu, Aku yakin kau masih belum bisa melupakan ku Vir..” Fia tersenyum penuh kemenangan
Vir menggeleng dengan kegilaan yang Fia ciptakan. Wanita itu telah memanipulasi keadaan, membuatnya terperangkap dalam dua pilihan yang sama-sama membuatnya tetap terjerat dalam permainan licik yang dibuatnya. Vir tak menyangka jika Fia mempersiapkan rencana licik ini untuk melawannya.
“Kau gila!! Aku tidak akan pernah meninggalkan istriku!” Vir mendekat dan mencengkeram rahang wanita itu.
“Aku, Arshaka Virendra, akan menemukan seribu cara untuk menyelesaikan masalah ini tanpa harus terjebak dalam rencana busuk mu!” gertak Vir dengan tatapan yang menyala.
Fia begitu terkejut dengan sikap Vir, pria itu tak pernah sekasar ini padanya. Namun ia berusaha untuk terlihat biasa saja.
“Cih, kau masih saja keras kepala! Aku tahu kau sangat mencintai Hotel mu ini! Jadi pikirkan baik-baik tawaranku” Fia mendorong tubuh Vir, kemudian berlalu pergi meninggalkan Vir yang masih berkabut emosi. Pria itu terlihat mengepalkan tangan dengan urat-urat leher yang timbul akibat menahan emosi.
Saat diambang pintu, Fia berpapasan dengan Hans yang baru tiba. Pria paruh baya itu membuka pintu dan mendapati Fia yang berjalan ke arahnya.
Hans terlihat emosi saat mendapati Fia di sana. Fia berlalu begitu saja melewati Hans dengan tatapan yang menghujam.
Hans tak memperdulikan wanita yang sudah menghilang di balik pintu itu. Ia terus berjalan ke arah putranya, dan...
Plaakkk..
Sebuah tamparan mendarat di pipi Vir, menyisakan bekas memerah di wajah putih pria itu.
Vir memegang pipinya, perlahan ia menatap ke arah Hans. Sudah kepalang emosi dengan perlakuan Fia, kini Ayahnya datang tanpa sepatah kata langsung berlaku kasar padanya membuat jiwa pembangkangnya yang pernah tidur kembali memberontak dan siap meledak.
“Anak sialan!!” tuding Ayah yang tak kalah emosinya “Ternyata kau masih saja berhubungan dengan wanita itu!!! Apa hidupmu tak cukup dengan satu wanita, hah?” suara Ayah menggelegar ke seantero ruang
“Ayah pikir kau sudah berubah! Ternyata semua yang Aileen katakan itu tidak benar! Dia terlalu baik dengan menyembunyikan semua kelakuan bejat mu! Tapi aku Ayah mu, Vir! Selain tak bisa menipuku, Ayah sudah mendapat dua bukti kau berduaan dengan jalan* itu!!!”
Vir tak lagi memperdulikan sebutan apa yang Hans sematkan pada Fia, jika dulu dia selalu marah dengan perkataan Hans yang seperti itu namun kini ia sama sekali tak perduli. Ia lebih tertarik dengan apa yang Ayahnya tuduhkan.
“Aku tahu Ayah memang tak pernah menyukai ku!! Melihat ku dengan Fia bukan berarti bisa jadi alasan untuk menyimpulkan aku masih berhubungan dengannya! Hubungan kami sudah berakhir lama, Jadi stop memperlakukan ku seperti ini!” Vir membela diri, ia tidak terima dengan apa yang Ayahnya tuduhkan apalagi sampai mengatainya 'Anak Sialan' ia paling tak suka diperlakukan seperti itu.
“Kau memang keras kepala! Ayah peringatkan sekali lagi, Jangan bikin malu Keluarga, Virendra!! Dalam keluarga kita, tidak ada yang suka main wanita! Jika kau tidak segera mengakhiri hubungan mu dengan wanita itu dan jika sampai masalah ini terdengar ke telinga Tuan Alfin Maherza, maka jangan harap Ayah akan menganggap mu sebagai putra! Ayah akan menghapus namamu dari daftar ahli waris!” Sekali lagi Hans menampar wajah Vir dan langsung melenggang pergi.
Lengkap sudah tamparan yang mendarat di pipi pria itu..
Vir marah sejadi-jadinya. Ia melampiaskan amarahnya dengan mengahancurkan semua yang ada.
“Argghhh... Masalah macam apa lagi ini!!” teriak Vir sambil menghamburkan semua benda yang ada secara membabi buta
Ia tidak terima dituduh seperti ini, Ia tidak punya hubungan lagi dengan Fia namun kenapa Ayahnya sampai semarah ini padanya. Ia yakin selain melihat hal tadi, Ayah pasti mengetahui sesuatu hingga membuat pria paruh baya itu begitu emosi.
“Persetan, dengan Hartamu! Aku sama sekali btidak perduli, Tapi kenapa kau selalu berlaku seperti ini padaku!” Vir menghantamkan tangannya di atas meja.
Ia kesal dengan perlakuan Ayahnya yang selalu seperti ini. Masalah Fia dan kesalahpahaman dengan Ayahnya membuat Vir semakin dibuat pusing. Ia kesal dengan apa yang terjadi.
“Vir, Hotel kita...” ucapan Dito yang baru masuk berhenti seketika saat melihat semia benda yang seharusnya ada diatas meja sudah berhamburan di lantai.
Vir melirik Dito dengan tatapan mendominasi
“Apa yang terjadi?” Dito berjalan ke arah Vir
“Ck, ini semua karena mu!!! urus staff yang tidak becus itu, bagaimana bisa mereka membiarkan Fia lolos masuk ke ruangan ku dan membuat onar!” ucap Vir Sambil berlalu pergi.
Dito terdiam mencerna ucapan Vir. Baru datang tapi sudah kena amukan macan.
__ADS_1