
“Bagaimana Biy, apa Keil dan Eil sudah datang?” Mama Syella (Ibu Shakeel) baru saja tiba di halaman belakang rumah, di tepi kolam, tempat yang akan digunakan untuk party kecil-kecilan ulang tahun mommy Jessica. Ya, Party yang diatur khusus oleh Biyan dan Daddy Al yang berkolaborasi dengan Shakeel juga tentunya.
Biyan, Daddy, Papa Ferdy juga Mama Syella tengah mempersiapkan surprise. Semua keluarga sudah mengaturnya sedemikian rupa. Sedangkan Opa dan Oma dijadikan pengalihan, untuk membawa Mommy pergi.
“Kami ingin jalan-jalan ke taman kota. Tapi ingin ditemani oleh mu, Jessica!” begitu kata Oma Fera membuat alasan membujuk Mommy.
“Iya, Papa juga ingin sekali menghirup udara segar di taman kota..” Opa pun ikut menimpali. Ya, Mereka semua sudah mengaturnya. Bahkan oma dan opa terlihat begitu antusias demi membuat kejutan untuk menantunya itu.
Dan kini mereka masih menunggu satu tokoh yang tak kalah pentingnya juga. Yaitu Aileen yang tengah di jemput oleh Shakeel.
“Belum, Tante.. Keil masih menjemputnya!” Mama Syella mengangguk mendengar jawaban Biyan.
Semua persiapan sudah selesai, bahkan area kolam sudah di hias sedemikian rupa. Ada banyak lampion-lampion kecil juga sebuah meja yang berhiaskan lilin dan bunga cantik di atasnya. Ada beberapa balon dan rumbai-rumbai membentang sepanjang kolam. Nampak aesthetic dengan gradasi cahaya putih berpadu keemasan..
Kini hanya tinggal menunggu Shakeel dan Aileen barulah mereka menelpon Mommy dan akan menyuruhnya pulang. Jika ditanya apa mereka semua tak menunggu Virendra, menantunya? jawabannya tentu tidak, karena saat ditelepon tadi, Aileen sempat memberi tahu jika suaminya sedang mengadakan reunian jadi mungkin akan datang agak terlambat. Semua keluarga memahami hal itu.
Daddy Al tersenyum demi melihat foto ketika ia dan mommy masih muda terpajang di sana. Ya, jiwa muda daddy kembali muncul dan mendadak ingin bernostalgia, mengenang hubungannya dengan Mommy saat masih muda dulu.
...----...
“Bagaimana Biy, ini sudah hampir 2 jam. Kenapa kakak mu belum juga datang?” tanya Daddy sambil melirik arloji di tangan kirinya.
Biyan hanya mengedikkan bahu, kemudian meraih ponselnya di atas meja.
Papa Ferdy yang juga khawatir pun berkata “Ma, coba hubungi Keil. Tanyakan mereka ada dimana !”
“Tunggu, biar ku telepon!” Mama Syella mendial nomor putranya, kemudian mengarahkan ponsel ke telinga.
Papa Ferdy juga Daddy Al masih diam sambil menunggu kabar dari Biyan dan Mama Syella yang tengah menelepon dua orang yang sedari tadi ditunggu kedatangannya.
“Nyambung tapi tidak diangkat!” ucap Mama Syella setelah hampir 5 kali menghubungi putranya.
“Nomor kakak tidak aktif..” ucap Biyan menimpali.
Mereka semua pun saling tatap dengan wajah penuh kecemasan. Kenapa dua orang itu tiba-tiba tak bisa dihubungi seperti ini?
“Bagaimana bisa, ini sudah hampir 2 jam tapi mereka belum juga sampai!” Daddy juga meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Aileen dan Shakeel secara bergantian, namun tetap saja. Kedua orang itu sama sekali tak bisa dihubungi. Sama seperti yang Biyan dan Mama Syella katakan.
Suasana hening seketika, semua larut dalam pikiran masing-masing. Bersamaan dengan itu, suara helaan napas terdengar dari Papa Ferdy.
“Kita tunggu setengah jam lagi, siapa tahu sedang macet.. Biasalah, namanya juga malam minggu!” Jelas papa Ferdy hanya mencoba untuk menenangkan. Ia hanya tak ingin semua terbebani padahal ia pun memiliki feeling yang tak karuan, namun ia mencoba meredamnya dengan berpikir positif.
Bahkan mereka semua masih setia menunggu ketika seorang pelayan datang memberi tahu jika yang disiapkan party telah tiba.
“Permisi, Tuan muda. Nyonya besar dan Tuan besar sudah datang.."
Biyan yang masih fokus, langsung tersadar.
Oh, astaga! Semua tak berjalan sesuai rencana. Mommynya justru datang lebih dulu saat Shakeel dan Aileen belum bergabung. Ini benar-benar jauh melenceng dari rencana, seharusnya surprise berlangsung sempurna dengan anggota keluarga yang lengkap
“Daddy, Mommy sudah datang! Dad!!”
“Tante, Om.. Mommy datang!" Biyan masih menyadarkan 3 paruh baya yang larut dalam pikirannya masing masing.
“Daddy, Tantee, Om!!” teriak Biyan hampir putus asa.
“Eh, iya Biy!" Mama Syella langsung menoleh, disusul dengan Papa Ferdy dan Dadyy nya.
__ADS_1
“Mommy dan oma opa sudah datang!”
Meski dalam keadaan tak bersemangat Mereka langsung mengambil tempat sesuai misi utama. Dadyy mulai memegangi cake ulang tahun lalu pergi menunggu di sisi pintu. Sedangkan Biyan, mama Syella dan om Ferdy berdiri di belakang Daddy. Mereka memadamkan lampu di ruangan tersebut.
...---...
“Jessica, Papa dan Mama langsung kamar dulu ya..” ucap Oma begitu memasuki pintu utama.
“Iya, belanjaannya biar aku yang bawakan!” Ya, setelah dari taman sore tadi, Oma dan opa sengaja mengajak mommy pergi ke Mall dan memebeli beberapa kebutuhan di sana. Momyy pun mulai memanggil pelayan untuk membantu membawa barang belanjaannya.
Ia melangkah melalui ruang tamu yang cukup luas. Hingga tibalah dia di area samping, tepat di depan kamar mertuanya yang tidak jauh dari ruang keluarga.
“Sini Bi, biar saya yang bawa masuk!” Mommy mengambil alih beberapa paperbag dari tangan pelayan, kemudian segera masuk ke dalam kamar sang mertua.
“Ma, pa.. Aku masuk ya!”
Beliau sedikit terkejut saat tak mendapati dua orang tua itu di sana. kamarnya nampak sepi.
Loh, kemana mereka?
“Ma.. Mama di kamar mandi?" Mommy mengedarkan pandangan ke seantero kamar. bahkan tas yang oma Fera gunakan sama sekali tak ada di sana. Lalu kemana perginya dua tua bangka itu?
Mommy pun keluar dari kamar. Begitu keluar, matanya langsung tertuju di ruangan gelap tepat di seberang ruang ibadah.
“Loh, kok lampunya mati!” Mommy menghela napas “Bi.. kenapa lampu di ruang santai tidak menyala? Tidak bagus kalau gelap! Nyalakan dulu bi..!” Mommy berteriak, tapi sama sekali tak ada seorang pelayan yang merespon ucapannya.
Dan itu membuat ia melangkah menuju ruang santai tersebut, ruang santai yang menghadap tepat ke area kolam renang yang berada di samping kanan rumah.
Mommy memasuki ruang santai. pencahayaan yang gelap dan hanya mendapat sedikit pantulan cahaya dari ruang sebelahnya, membuat Mommy kesulitan menemukan sakelar lampu di ruangan itu.
“Aduh,...” Mommy menjerit ketika kakinya tersandung di kursi santai. Iapun kembali melangkah, namun baru beberapa langkah ia sudah merasakan cahaya terang seperti kilatan cahaya yang langsung membuat matanya tertutup bersamaan dengan sorakan selamat ulang tahun.
“Tara...”
“Happy Birthday, Mommy...!”
“Happy Birthday adik ipar!”
“Happy Birtday My litlle sista yang sudah tua!”
“Happy Birtday menantuku sayang, The one and only..”
...____...
Begitu meninggalkan Mommy Jessica, oma Opa langsung menuju ke area kolam. bergabung bersama anggota keluarga yang lain, bersiap untuk memberi kejutan pada yang punya Hari.
“Eil dan Keil mana?” mereka sempat heran dan menanyakan keberadaan kedua cucunya yang sama sekali belum bergabung.
“Belum datang..Kita akan hubungi lagi setelah ini!" Papa Ferdy yang Menjawab Ketika ia hampir melayangkan pertanyaan yang sama, namun urung saat mendengar Biyan berucap “Itu mommy, itu mommy.. dia baru saja masuk ke kamar Oma Opa!”
Pandangannya tertuju pada kamarnya yang pintunya masih terbuka karena seseorang baru saja masuk. Mereka semua bungkam seketika.
Semua yang ada bisa mendengar teriakan Mommy Jessica saat ia menanyakan perihal lampu ruangan di depan mereka mati.
“Loh, kok lampunya mati!” Mommy menghela napas “Bi.. kenapa lampu di ruang santai tidak menyala? Tidak bagus kalau gelap! Nyalakan dulu bi..!”
Mereka masih diam dan mendengarkan dengan seksama, menunggu waktu yang tepat saat yang punya hari memasuki ruangan.
__ADS_1
“Aduh!!” Lagi-lagi mereka semua mendengar suara Mommy memekik pelan. sepertinya beliau tersandung.
Dan inilah saat yang tepat untuk keluar dari sarang, memberikan surprise.
“Ini saatnya! Kita keluar sekarang” Biyan terdengar memberi aba-aba. Ya, dia yang lebih muda tentu punya strategi jitu yang bisa digunakan untuk mengkoordinir hal semacam ini. Apalagi jika menyangkut party untuk Mommy nya tercinta.
“Begitu lampunya dinyalakan, Aku akan langsung membakar lilinnya. Tante dan Om langsung pencet party popper! Oma dan Opa menuntun Mommy menuju kolam!” begitu bunyi perintah kordinasi yang Biyan berikan. Sepertinya sudah cocok jadi CEO, menggantikan Daddy di Perusahaan!
“Satu dua, tiga!! Gotcha!!!!”
Klekk, lampu langsung menyala. Mommy yang terkena terpaan cahaya yang memekakan langsung menutup mata.
Ia kemudian segera menyalakan lilin di atas kue yang Daddy nya pegang..
Berjalan sempurna!! Semua menjalankan tugas sesuai kordinasi. God job!
“Tara...”
“Happy Birthday, Mommy...!”
“Happy Birthday adik ipar!”
“Happy Birtday My litlle sista yang sudah tua!”
“Happy Birtday menantuku sayang, The one and only..”
Mommy merasakan dua lengan besar merangkul tubuhnya, bersamaan dengan suara tembakan party popper yang mengeluarkan pita warna warni yang seperti hujan membuat Mommy berbinar bahagia. kemudian melangkah ke arah Daddy yang mengisyaratkan agar ia meniup lilinnya.
“Owaahhh,..” Dengan haru Mommy menutup mulut tak percaya.
“Tiup, Mom!” Mommy lalu meniupnya
Setelah itu mommy dituntun menuju kolam party yang sudah dihias sedemikian rupa. Masih ada kue di sana, kue tar warna cokelat pink berbentuk tas branded dengan dua angka bertengger di atasnya.
Setelah itu semua kembali menyanyikan lagu ulang tahun dan meminta Mommy meniup lilin untuk yang kedua kalinya.
Sejenak larut dalam Party yang berlangsung meriah, semua seakan lupa dengan kecemasan mereka yang sebelumnya.
“Ya Ampun, Aku speechless sekali.. Terimakasih banyak ya atas surprisenya” Mommy memeluk satu persatu keluarganya. Ia bahkan memuji semua dekorasi party yang indah, mengusung konsep aesthetic kekinian.
Tentu pujian kembali diberikan pada Biyan si pengusung ide acara!
“Biyan dan Shakeel yang punya ide!" Begitu Daddy memberi tahu, mereka semua menikmati minuman dan hidangan yang ada.
Shakeel..Seketika mereka menyadari sesuatu yang mengganjal sejak tadi.
“Loh iya, ada yang kurang!” Mommy menatap keluarga secara bergantian. “Shakeel, Aileen dan Virendra dimana? Mereka tidak mungkin tidak tahukan?”
Semua pun menceritakan tentang Vir yang sedang menghadiri Reuni, Kemudian Shakeel di utus untuk menjemput Sepupu perempuannya itu. Namun sudah hampir 3 jam dua orang itu belum juga datang.
Mommy tegang seketika, mendengar putri dan keponakannya belum datang bahkan sampai tak bisa dihubungi membuat matanya berkaca-kaca penuh kecemasan.
“Kenapa malah mementingkan acara seperti ini! Aku sudah tua, ini tidak perlu! Seharusnya kalian mementingkan mereka dan pergi mencarinya!" ujar Mommy marah.
“Ayo sekarang cari! Bagaimana jika terjadi sesuatu!”
“Tunggu dulu jessica, alangkah baiknya kita hubungi Virendra lebih dulu. siapa tahu mereka masih sama-sama dan akan kesini bersama juga!” Tak ingin memperkeruh suasana dan membuat panik, Papa Ferdy lebih memilih cara itu.
__ADS_1
“Tunggu apa lagi, ayo telepon Vir!!”