
Betapa terkejutnya mereka saat begitu tiba di lokasi, namun sama sekali tak menemukan siapa-siapa di sana. Hanya ada sebuah mobil yang tak ada siapapun di dalamnya, bahkan pintu mobil itu masih terbuka di bagian kemudi.
Mereka menemukan sebuah ponsel yang diduga milik Shakeel berada tepat di bawah pintu kemudi mobil. Sedangkan di jarak lima langkah mereka menemukan ponsel yang diduga milik Aileen, retak berhamburan di tengah jalan.
Hati mereka kian diterpa perasaan yang mengganjal. Bahkan Daddy mulai berteriak, mengarahkan orang-orangnya untuk menyusuri wilayah disekitar sana.
“Susuri tempat ini!”
“Siap, Tuan!”
Sementara Vir, ia dengan begitu tak berdayanya menunduk, kemudian meraih kepingan ponsel istrinya yang retak. Ingin rasanya ia terisak di sana, sekuat tenaga Vir berusaha menstabilkan diri. Bahkan rasanya ia tak mampu membayangkan segala kemungkinan yang menimpa istrinya. Ketika pikiran kalutnya masih memikirkan penyebab, apa? Kenapa? Siapa dan Bagaimana? Pikirannya justru terpercah saat Daddy Al menghampirinya.
“Apa kalian punya musuh? Atau mungkin punya masalah dengan seseorang?” Vir menangkap ekpresi cemas sekaligus sedih pada wajah Daddy.
Ia yang tak mampu lagi membendung kesedihannya hanya mampu menggeleng dengan air mata yang mulai menetes. Vir tentu menggeleng, sebab ia sama sekali tak merasa memiliki musuh. Selama ini, ia merasa hidupnya baik-baik saja, hingga pada kejadian tak terduga ini terjadi.
“Ayo Vir diingat lagi. Siapa tahu sebelumnya kalian sempat punya masalah dan mungkin bertengkar dengan seseorang?” Om Ferdy pun turut menengahi.
Namun jawabannya tetap sama, sebab ia memang merasa tak punya masalah dengan siapapun. kecuali satu orang, yaitu Niko. Itupun masalahnya sudah begitu lama, sekitar 5 tahun yang lalu. Namun mata Vir membola seketika saat ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, dimana Niko hadir diacara reuni dan mereka bahkan sempat terlibat pertengkaran. Baru saja Vir ingin berkata, tapi Daddy Al lebih dulu menyelanya.
“Kita perlu tahu itu Vir, bisa saja ini kasus penculikan..” Daddy mengusap rambutnya gusar.
“Benar Tuan..” seorang berbadan kekar datang mendekat “Apalagi saya menemukan ini di pinggir jalan sana..” Ia menunjukkan sepatu yang tadi Aileen gunakan sambil menunjuk jarak yang cukup jauh dari sana.
Vir meraih sepatu itu, Bahkan genangan di pelupuk matanya, kian menganak sungai. Ia terduduk, luruh di jalan sambil memegangi sebelah sepatu tersebut.
Daddy yang melihat itu langsung memeluk menantunya, berusaha menyalurkan kekuatan pada jiwa yang sama-sama rapuh.
Beberapa saat kemudian. Daddy Al, dan om Ferdy memutuskan untuk pergi ke kantor polisi. Mereka berniat melaporkan kejadian ini, terlebih lagi banyak hal aneh yang ada di sana, membuat mereka bergerak cepat untuk melaporkan. Agar polisi bisa langsung turun tangan dan mencari keberadaan Aileen dan Shakeel.
Sedangkan Vir, Biyan dan pengawal yang lain akan menunggu di sana sampai polisi datang.
“Sabar ya kak, kakak pasti baik-baik saja. Dia bersamaa Keil. Shakeel pasti menjaganya.!” ucap Biyan mencoba menenangkan.
Dengan tatapan kosong, Vir hanya terdiam sambil termenung dalam duduknya yang beralaskan jalan, bersandar di mobil dengan penampilan acak-acakan.
“Masalahnya dia tidak sendiri Biy. Jika dia sendiri aku yakin dia pasti kuat dan akan baik-baik saja sampai kita menemukannya!”
Biyan mengerutkan kening, ia sama sekali tak mengerti dengan ucapan kakak iparnya itu.
Dia tidak sendiri? Tentu, dia memang tidak sendirian, Aileen memang bersama keil bukan? pikir Biyan, yang masih tak mengerti.
__ADS_1
“Maksudmu apa kak?” Biyan mencoba memecahkan rasa penasarannya.
“Dia hamil Biy, kakak mu sedang mengandung, Eil mengadung anak kami, calon keponakan mu!” punggung Vir mulai bergetar, ia menelusupkan wajah dalam-dalam diantara lutut, sambil terus menangis dan menyalurkan emosi dengan cara memukul-mukul jalan.
“Apa???” Pekik Biyan tak percaya, Adik Aileen itu terlihat begitu terkejut.
“Ja-ja-jadi Kakak hamil?” tanya Biyan berusaha meyakinkan diri dan Vir hanya mengangguk, mengiyakan.
“Tatapi kenapa kami tidak ada yang tahu, sejak kapan dia hamil?" Tanya Biyan penasaran. sejujurnya ia senang mendengar berita kehamilan sang Kaka, namun waktunya sangat tidak tepat. Kabar yang seharusnya jadi kabar gembira malah berubah menjadi kabar menyedihkan seperti itu. Tentu itu membuatnya geram.
“Baru sebulan, kami oun batu tahu sekitar seminggu yang lalu, memang tidak banyak yang tahu..hanya aku, dia dan Dito.. Kami berencana akan mengabarkan ini saat acara syukuran di hari Senin nanti. namun kejadian tak terduga ini justru terjadi..” Vir menghela napas kasar, ia mengusap rambutnya dengan gusar.
“Kak...” Bahkan Biyan pun, turut dibuat menangis, ia yang tadi masih bisa menahan diri. kini turut merasakan kesedihan dan kekhawatiran yang Virendra rasakan. Terlebih lagi Aileen tengah mengandung. Tentu kejadian ini sangat tidak menguntungkan untuk New bumil itu.
Ting..
Suara notifikasi pesan masuk, membuat Vir menyeka air mata dan hidungnya secara bergantian. Kemudian ia meraih ponsel dari saku celananya.
ia tak lagi menangis. Namun, kini raut wajahnya berubah tegang begitu mengecek ponsel. Tentu Itu membuat Biyan khawatir.
“Biy, aku harus pergi!” dengan tergesa-gesa Vir pun beranjak ..
“Aku harus pergi..” Vir kembali mengulang perkataanya..
Biyan hanya terpaku melihat Vir yang berjalan sempoyongan ke arah mobilnya. Sudah seperti orang yang kehilangan masalah hidupnya.
“Ada apa dengan Tuan muda?" Tanya pengawal yang melihat Biyan mematung dengan wajah kebingungan.
“Entahlah..” ucap Biyan dan langsung ikut beranjak, ia segera menyusul Vir di mobilnya.
“kak, Kau mau kemana?"
Vir menoleh ia menepuk bahu Biyan dan berkata “kemarikan hp mu, aku akan menyambungkan GPS ku. Ketika Daddy dan polisi datang, langsung cari aku. Kau tunggulah di sini sampai Daddy dan Om Ferdy datang, aku pergi duluan.."
...____...
Di sisi lain, di sebuah bangunan tua, persis seperti gedung yang sudah terbengkalai. Terlihat seorang laki-laki tengah meronta begitu tersadar tubuhnya sudah terikat dan di jaga oleh orang-orang berbadan besar, tak ada satu orangpun yang dikenalnya, Semuanya begitu asing.
Amarahnya membuncah seketika saat melihat seorang wanita yang sangat dikenalnya tengah duduk dengan kaki dan tangan terikat, sama persis seperti dirinya.
“Lepas, lepaskan aku bangsat! Kenapa kalian menyekap kami di sini? Siapa sebenarnya kalian dan apa yang kalian inginkan!!” Teriaknya geram sambil berusaha melepaskan diri. Namun ikatan di tangan dan kakinya lebih kuat daripada usahanya. Semua terasa sia-sia, tak ada yang bisa dilakukan, selain berdoa dan pasrah menunggu keluarga yang datang mencari.
__ADS_1
“Lepaskan kami!! Aku akan menghabisi kalian semua jika berani macam-macam..!”
“Lepas...!”
Plak....
Satu tamparan keras membuat pria tadi bungkam seketika. Bahkan luka lebam yang ada di sudut bibirnya, kembali mengeluarkan darah.
“Diam Anj*ing!!!" Dalam keadaan seperti ini saja kau masih sombong!” Pria yang menamparnya itu menyeringai, disusul dengan gelak tawa dari tujuh orang lainnya, yang bertugas menjaga di sana.
“Kau yang anj*ing, Bans*at!!” Teriak pria itu tak mau kalah, ia benar-benar dibuat geram “Kalau berani jangan seperti ini! Aku tahu kalian disuruh seseorang, suruh mereka keluar sekarang juga!” Teriak pria itu dengan urat-urat leher yang menjembul keluar. Menandakan ia memang sedang geram, seperti ingin menghabisi dalang dari semua kejadian ini.
“Katakan apa yang kalian inginkan!!!”
Prankk ...
Sebuah botol wine di lempar tepat di hadapannya, membuat pria itu mengangkat kakinya, berusaha menghindari pecahan botol wine itu. Jika tidak, mungkin kakinya pun akan hancur.
“Diamlah!” sentak salah seorang yang paling besar badannya. sepertinya dia adalah ketua diantara mereka semua “Sebenarnya kami tidak ada urusan dengan mu, tapi kebetulan kau bersamanya jadi kami pun membawa mu!” Orang berbadan besar itu maju dan langsung melayangkan tamparan pada pria yang diikat itu.
“Keil...!” Pekik seorang wanita. Ia baru saja tersadar dari pengaruh bius, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati dirinya dalam keadaan tubuh terikat. Sedangkan tak jauh dari sana, matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal tengah menerima pukulan. Ya, dia Adalah Shakeel, Sedangkan wanita itu adalah Aileen.
Betapa sedihnya ia saat melihat kondisi saudara sepupunya itu penuh dengan luka lebam. Dan ia pun hanya bisa menangisi ketidakberdayaannya untuk berbuat sesuatu.
Ingatan Aileen tertuju pada kejadian beberapa jam yang lalu, kejadian dimana ia masih sadar dan pergi bersama Shakeel. Ia dan sepupu laki-lakinya itu akan menuju ke rumah Mommy untuk mengadakan party kejutan ulang tahun Mommy. Namun kejadian naas tak terduga justru terjadi, dimana mereka diikuti oleh sebuah mobil dan digiring menuju tempat sepi.
Mobilnya dihentikan oleh sebuah mobil jeep yang dari dalamnya keluar tujuh orang bertopeng.. Kemudian menyeret dirinya secara paksa. Mereka juga menyeret Shakeel keluar dari mobil. Keil sempat melakukan perlawanan hingga membuat wajahnya jadi babak belur begitu. Namun ia tak bisa lagi mengingat apapun saat sesuatu menempel menutupi hidung dan mulutnya. Saat sadar, ia sudah berada di ruangan gelap itu dalam keadaan terikat dan matanya langsung tertuju pada Shakeel yang terus memberontak.
“Tolong jangan siksa dia!!” Aileen menangis tersedu-sedu. Merasa iba dengan luka di wajah Shakeel.
Bukannya merasa tersentuh, pria yang ada di hadapan Keil itu justru kian mencengkram rahangnya secara keras.
“Kalau mau selamat, lebih baik kau diam saja! Jangan banyak cinconng, jika tidak ingin hidupmu berakhir tragis di sini..” Ancamnya sambil menghentakkan wajah Shakeel dengan keras.
Setelah itu, para manusia biadab itu makin terbahak-bahak. Sungguh tak berhati!
“Eil, Jangan panik ya! Everything will be fine, sistaa..” Dengan mata berkaca-kaca, Shakeel menatap Aileen. Berusaha memberi kekuatan pada sepupunya itu.
“Kau harus tenang! Aku ada di sini!” lirih Shakeel dengan tatapan menyedihkan. Merasa rapuh dan lemah. Namun ia tetap harus kuat agar Aileen tak panik dan semua akan baik-baik saja hingga seseorang datang menyelamatkan mereka.
“Jangan bantah mereka, Keil! Aku tidak ingin kau terluka” Aileen pun kian tersedu-sedu. “Ku mohon jangan lakukan itu!”
__ADS_1