
Virendra masuk ke dalam kamar, tatapannya tertuju pada seonggok tubuh yang meringkuk menutup diri dengan selimut tebal di atas ranjang.
Pandangannya beralih menatap jam digital yang ada di atas nakas. Waktu baru menunjukkan pukul setengah sebelas siang namun mengapa istrinya itu malah tidur siang lebih dulu.
Diletakkannya koper itu kemudian ia mulai melangkah mendekat ke arah ranjang, ada perasaan haru dan bahagia berkecamuk di dalam hati saat melihat wajah Aileen yang memang lebih berisi namun sedikit pucat. Apa dia sakit?? tanya Vir pada dirinya. Perasaan sedih itu kian mencuat tatkala melihat goresan di wajah cantik isterinya yang mulai memudar.
Ia lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Perasaan lelah yan tadi hinggap di tubuhnya lenyap seketika saat menatap wajah teduh yang selalu mampu menggetarkan hatinya itu. Tangan Vir tergerak membelai wajah cantik sang istri sambil mengecup dalam keningnya dengan durasi yang cukup lama.
Aku mencintaimu, Sun...! Maafkan aku atas semua yang telah terjadi sebelumnya.. Lirih Vir dalam hati, bulir bening terlihat mengalir di pipinya ke luar menerobos dari sudut matanya yang terpejam.
Ia masih saja mencium kening sang istri dengan tangan yang kini perlahan mulai memeluk tubuh wanita yang masih tertidur pulas itu. Sebisa mungkin ia melakukan pergerakan pelan dan lembut agar tak mengganggu tidur Aileen-nya tercinta.
Setelah puas dengan ciuman di kening, kini Vir mulai beranjak sambil menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya. Sebelumnya ia tak pernah merasa selemah ini. Perlakuan Daddy padanya tadi mengingatkannya pada perlakuannya pada Aileen di awal pernikahan dulu. Ia tak menyalahkan siapapun dalam masalah ini, baginya ia memang berhak mendapat amukan dari Daddy, itupun ia masih bersyukur semuanya baru terungkap saat mereka sudah sama-sama saling mencintai. Jadi kemungkinan untuk selamat akan lebih besar.
Seandainya Aileen tak menutupi semuanya dari dulu mungkin sudah lama Daddy meminta mereka untuk berpisah.
Aku tahu ini semua pasti terjadi, wajar jika daddy mu marah karena mengetahui semuanya. Dan aku sama sekali tidak keberatan untuk itu, aku sadar sikap ku dulu memang pantas mendapat ganjaran di masa sekarang... Walaupun begitu, aku sangat bersyukur karena saat ini aku sudah memiliki mu seutuhnya. Dengan begitu, aku akan semakin merasa kuat karena ada kamu di samping ku..
Vir meraih tangan Aileen lalu mengecupnya dengan sayang.
Pandangannya beralih menatap perut Aileen, seketika wajah penuh kesedihan itu berubah menjadi senyum penuh kebahagiaan. Tangannya tergerak menyibakkan selimut hingga ke bawah perut sang isteri. Tatapannya menyerngit saat menyadari Aileen masih mengenakan kemeja putih miliknya yang ia pakai saat video call semalam.
Apa dia tidak mandi? Vir tersenyum sambil menggeleng kecil mengamati raut wajah lelap hingga tubuh isterinya yang setengah terlentang dengan guling yang mengganjal di belakang tubuhnya.
“Hay..” tangan Vir tergerak mengusap perut yang ditutupi kemeja putih “Apa kau benar-benar sudah ada di sana?” kini Vir mendaratkan kecupan di perut yang masih rata itu.
“Kau tahu, Daddy begitu menghawatirkan kalian! Setiap kali melihat Mommy mu muntah, Daddy selalu merasa itu karenamu sampai saat tadi malam Mommy mu kembali muntah dan Mommy bilang dia sudah terlambat jauh dari waktu period-nya, Daddy langsung yakin jika dirimu memang sedang tumbuh di sini..” Vir menepuk pelan perut Aileen. Ia melakukannya dengan penuh kelembutan dan ketulusan seolah tengah mengobrol dengan seseorang yang begitu memahami dirinya.
“Ck, tapi Daddy yakin kau pasti tidak tahu apa itu period kan?” Vir terdiam sejenak lalu tersenyum haru sebelum akhirnya menarik napas dalam dan kembali mendekatkan wajahnya ke perut Aileen
“Saat kau tumbuh besar nanti, Daddy dan Mommy akan menjelaskan banyak hal. Kita akan bercerita, bermain, mengajari mu banyak hal dan kita akan melakukan sesuatu bersama-sama. Daddy akan membesarkan mu dengan baik hingga kau akan tumbuh menjadi anak yang paling bahagia di dunia ini” ujar Vir haru sambil mengangkat kerah bajunya untuk menghapus cairan yang meleleh dari hidung mancungnya. Ia terlihat begitu menyedihkan dengan menangisi kebahagiaan yang akan menjadi pelengkap keluarga kecilnya itu.
Entah mengapa monolog sepihak itu benar-benar menyeruak penuh haru ke dalam hatinya, hingga setiap kali ia berbicara, air matanya selalu saja menetes. Bukan cengeng ataupun berlebihan, ia benar-benar merasa bahagia dengan statement Aileen malam tadi hingga membuat ia merasa bahagia melebihi apapun. Baginya kebahagiaan ini tiada tandingannya.
Sementara itu, Aileen yang samar-samar mendegar seseorang yang tengah mengobrol begitu dekat darinya dan bahkan ia pun merasakan sebuah tangan melingkar di tubuhnya dengan sebuah benda bulat berbulu menempel di dadanya membuat ia yang setengah sadar membuka mata langsung terperanjat kaget..
“Huaa, ka-kau siapa? kenapa tidak ada wajahnya, kenapa wajahmu berbulu semuaa???” teriaknya yang hanya melihat bagian rambut Vir bersandar di dadanya dengan tangan yang memang melingkar penuh di sana.
Vir yang tengah asyik menatap pergerakan perut Aileen yang naik turun seirama dengan hembusan napas yang berhembus itu, pun tak kalah terkejutnya saat mendengar Aileen yang memekik hebat. Ia lalu berbalik dengan tatapan tak kalah paniknya.
“Hey, kenapa? Apa kau mimpi buruk?” Vir menatap wajah pias Aileen yang beranjak bersandar ke kepala ranjang dengan napas terengah.
Aileen memberikan tatapan memicing sambil beberapa kali menggosok matanya. Seolah berusaha meyakinkan diri, apakah yang dilihat benar adanya atau hanya fatamorgana belaka.
“Sayang, kenapa? Kau pasti mimpi buruk ya?” tanya Vir saat melihat Aileen sama sekali tak bergeming.
Manusia wajah berbulu ini memanggil ku sayang?? dan wajahnya begitu mirip dengan suamiku.. Apa aku mimpi? dengan tatapan menerawang Aileen masih menatap lekat wajah pria di depannya.
“Sun... Hey!” pria itu mengalihkan tangannya mengusap lembut wajahnya yang masih mematung.
Kini otak Aileen mulai bekerja dengan normal. Ia sadar, jika ini bukanlah mimpi atau fatamorgana belaka. Orang di depannya itu memanglah suami yang beberapa hari ini ia rindukan.
Tapi kenapa? kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah ini baru hari kedua.. tanyanya dalam hati.
Dengan mata berkaca-kaca Aileen mencebikkan bibirnya lalu meraih bantal di sampingnya dan melemparkannya ke arah pria yang tadi sempat dikiranya makhluk dengan wajah berbulu itu.
__ADS_1
“Hey, kenapa memukulku?” ucap Vir sambil menangkis bantal tersebut lalu menangkup tangan sang isteri dan mendekapnya erat sebab kini wanita itu mulai terisak sendu.
“Hey, kenapa menangis? Apa aku menyakitimu?” ucap Vir sambil mengusap lembut punggung Aileen dengan tangan yang satunya membelai lembut rambut panjang itu
Dengan terisak pilu, Aileen melingkarkan tangannya begitu erat, seolah Vir akan pergi jika saja ia tak balas memeluknya.
Keheningan terjadi beberapa saat, hanya denting jam yang berbunyi. Keduanya larut dalam diam, membiarkan tubuh yang berbicara menggunakan bahasa yang begitu dalam tanpa berniat melonggarkan pelukan penuh cinta, setelah dipisahkan beberapa waktu oleh jarak dan dipertemukan kembali dalam perasaan kasih yang kian membara.
Interaksi dalam diam itu seolah mengungkapkan betapa keduanya begitu saling merindu satu sama lain. Bahasa cinta yang tersalur melalui tindakan membuatnya hanyut dalam diam tak bertepi dengan saling menyalurkan cinta yang begitu besar.
“Aku rindu..” lirih Aileen sambil menelusupkan wajahnya dalam-dalam di dada bidang milik pria yang telah menjadi pemilik hatinya itu.
“Aku juga rindu, sangat rindu..” kata Vir dengan wajah yang tenggelam melekat di ceruk leher jenjang nan wangi milik wanitanya tercinta.
Keduanya kembali larut dalam diam sebelum sejurus kemudian Aileen melepaskan pelukan itu, dengan Vir yang masih menatapnya lekat sambil menggenggam erat lengannya.
“Kenapa bisa ada di sini?” tanya Aileen heran, sebab yang ia tahu suaminya itu baru akan kembali besok malam.
Vir tersenyum penuh arti, ia memang sengaja tak memberi tahu Aileen tentang kepulangannya. Selain karena mendadak, ia juga ingin memberi kejutan pada isterinya itu.
“Karena bisa, karena aku mau pulang..” ucapan yang tak pernah Aileen harapkan, alasan klise yang tak memuaskan si pewawancara.
“Ck..” Aileen menampar pelan wajah sang suami.
“Awww..” cebik Vir “Tuan putri ku semakin galak” ia memasang wajah memelas seolah sedang tersakiti sungguhan.
“Lebay..!” Aileen menghambur kepelukan Vir, dan pria itu mendaratkan kecupan di puncak kepalanya.
“Aku pulang lebih awal karena aku menghawatirkan kalian..” sahut Vir sambil membelai lembut punggung Aileen
Aileen yang mendengar kata 'kalian' mendongak seketika, ia sama sekali tak mengerti “Kalian?” tanyanya heran
Aileen tersenyum haru, ia kembali menyandarkan kepalanya ke dada bidang milik Virendra “Moon, itu belum pasti”
“Tapi aku yakin seribu persen jika dia memang sudah ada di sini” Vir kembali mengelus perut Aileen
“Tidak boleh terlalu berharap sebelum periksa ke dokter kandungan!”
“Bukan berharap, tapi dia memang sudah ada, Aku yakin itu.. ” Aileen pun hanya terdiam mendengar itu.
“Sun, baju ini?” tunjuk Vir pada kemeja miliknya yang Aileen kenakan
“Kenapa? Kau marah aku memakainya?”
“Buka begitu sayang” sanggah Vir
“Lalu?”
“Kau belum mandi?" tebak Vir, pertanyaan itu terus mengganjjal sedari tadi. Sebab tak biasanya isterinya itu bermalas-malasan seperti ini, apalagi sampai belum mandi hingga sesiang ini.
Aileen mengangguk sambil mengusap-usap wajahnya di dada bidang suaminya “Entah kenapa, hari ini rasanya berat sekali untuk melangkah ke kamar mandi”
“Tidak masalah, mau mandi atau tidak sekalipun aku tetap menyayangimu” Vir mencuri kecupan dari bibir sang isteri.
“Atau mau aku mandikan?" Vir tersenyum penuh arti
__ADS_1
“Idih gombal.. Dasar mesum!!” mencebik dengan senyuman tertahan
"Kalau bukan pengaruh malas aku juga tidak ingin seperti ini.. Gerah!” Aileen sama sekali tak melepaskan pelukannya dari tubuh Vir.
Suasana kembali hening sesaat tanpa adanya obrolan diantara keduanya.
“Loh, ini kok basah? kenapa ada cairan lengket-lengket begini?” tanya Aileen saat merasa sesuatu menempel di pelipisnya setelah menggesek-gesekkan wajah di dada bidang Vir barusan.
“Mana, coba ku lihat” Aileen membiarkan Vir mengusap pelipisnya yang terdapat cairan seperti lendir namun bertekstur agak cair dan bening.
Namun bukannya menjawab Vir justru terkekeh geli membuat Aileen heran.
“Kenapa?”
“Ini dapat dimana?” tanya Vir sambil terkekeh, namun Aileen mengedikkan bahu tanda tidak tahu.
“Dari tadi aku tak kemana mana Vir.. Memangnya itu apa?” tanya Aileen yang makin heran
“Ini..” sambil terkekeh Vir menunjuk ke arah kerah bajunya yang agak sedikit basah dan Aileen mengerutkan keningnya dengan mata sipit
“Apa Vir, ini kenapa?”
“Ini, bekas ini” tunjuk Vir pada kerah bajunya yang basah sembari menunjuk hidungnya secara bergantian, dengan tawa terpingkal-pingkal saat melihat raut wajah Aileen yang sepertinya mulai paham maksud darinya.
“Hiss, Vir!!!” Aileen melepaskan pelukannya sambil mendorong tubuh Vir hingga terlentang di atas kasur dan Pria itu masih saja terkekeh “Sejak kapan kau jadi jorok begini, hah? Kenapa? Apa kau influenza atau apa?” tanya Aileen sambil menarik jaket Vir untuk membersihkan pelipisnya.
“Tadi aku menangis saat melihat mu terlelap dan kau tahu kan jika seseorang menangis pasti cairan itu akan ke luar dengan sendirinya..” ucap Vir jujur apa adanya.
Namun Aileen yang terlanjur merasa jorok tak menghiraukan ucapan tulus suaminya. Ia masih mencebik kesal.
“Sana, kau harus mandi dulu Moon!! Jika tidak, aku tidak akan mendekatimu! Jangan harap aku akan memberikan service terbaikku” Aileen mencebik sambil beranjak dan melangkah ke arah kamar mandi.
Vi yang masih berbaring dengan tawa yang belum usai terus menatap langkah isterinya. Aileen nya terlihat begitu menggoda menggunakan kemeja longgar miliknya yang menampakkan kaki jenjang itu.
Vir menelan ludah kasar sambil berdehem dan menarik napas kemudian.
“Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu!” ucap Vir saat Aileen sudah ke luar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.
“Mandilah, aku akan siapkan pakaian dan makanan” Aileen berjalan menarik koper suaminya lalu membawanya menuju sofa.
“Aku akan minta bi ijah mengantarkan makanan ke mari. Kita makan di sini saja ya” ucap Aileen pada Vir yang sedang melepaskan sepatunya dan mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya lalu beralih memaki bathrobe.
Vir hanya mengangguk, pilihan makan di kamar merupakan jalan ninja yang tepat untuk menghindari Ayah mertuanya. Ia belum siap untuk menemui Daddy, Vir yang ingin melepas rindu terlebih dahulu akan menemui Daddy nanti setelah urusan keberlangsungan hidupnya selesai .
...________...
Skefo (Sekedar Info) :
Kalau moodku lagi baik dan berada di puncak tertinggi aku pasti akan rajin up.. Tapi kalau mood ku anjlok ke dasar bumi, sudah pasti akan jarang up.. Jadi harap maklum yah para readers sekalian yang masih setia mengikuti kisah Ini.
Btw, biar aku makin semangat kalian jangan lupa tinggalkan jejak dan komen ya, karena itu salah satu mood booster terbaik yang bisa ngebalikin Mood aku..
Tapi kalau gak mau juga gak apa-apa kok, aku orangnya gak suka maksa..🤧
Keep Calm and Ejoy with this story
__ADS_1
Salam #VirEil_WithLove
Happy Reading All ❤️