Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 7


__ADS_3

"Begini Vir, Ayah memanggil mu ke sini karena ada yang ingin kami sampaikan" ucap Hans


Semua fokus mendengarkan ucapannya, walaupun Ibu dan Vino sudah tahu namun mereka terlihat begitu tenang mendengarkan.


Vir dengan tatapan dinginnya pun ikut menunggu kelanjutannya. Berbeda dengan Aileen, ia terlihat begitu gelisah. Bagaimana tidak, sedari tadi jantungnya masih bermaraton hanya karena Vir tak melepas genggamannya.


Sebenarnya dia ini berpura- pura atau justru menikmatinya, kenapa ia sama sekali tak melepasnya.


"Ayah dan Ibu akan berangkat ke Singapura, Kami ingin mengembangkan bisnis keluarga kita di sana"


"Kenapa mendadak seperti ini Yah? lalu bagaimana dengan Mansion ini? dan Perusahaan siapa yang akan mengurusnya?" Cecar Vir, Ia terkejut dengan keputusan orang tuanya. Lagi-lagi ia merasa kecewa, karena Ayah dan Ibunya ingin meninggalkannya seorang diri dan lebih memilih tinggal di luar negeri dengan alasan klise seperti ini


Sungguh hatinya sakit, orang tuanya selalu lebih memikirkan Vino dibanding dirinya. Baru saja ia senang karena Keluarganya lebih hangat karena Pernikahan ini lagi-lagi ia harus menelan kecewa karena di tinggalkan.


"Virendra anak Ayah, Ayah percaya kau anak yang hebat! kalian berdua anak Kami yang hebat. Maka dari itu Ayah berniat menyerahkan Perusahaan kepada mu! Ayah ingin kau dan Vino sama-sama memiliki Perusahaan warisan keluarga kita, sehingga Ayah bisa merintis usaha yang baru di sana" Kata Ayah


"Dan soal mansion ini, Kami tidak akan memaksa kalian untuk tinggal di sini, Yang terpenting sering-seringlah mengontrol mansion" Sambungnya lagi.


"Benar Vir, kami hanya ingin kau juga mendapat warisan dari keluarga kita, Lagi pula kakak mu sudah ada, Jadi ibu mohon jangan menolak nak" pinta Ibu


Virendra menghembuskan nafas kasar.


"Ayolah brother, Ayah dan ibu tidak bermaksud lain. Mereka benar-benar ingin merintis usaha lain dan ingin menyerahkan Perusahaan yang ada disini kepada mu" ujar Vino yang tahu betul isi hati adiknya itu bahwa sudah pasti ia mengira orang tuanya pindah hanya karena Vino.


Selalu seperti ini, mereka selalu memaksakan kehendak seperti ini...


Semua menatap Vir penuh harap


"Kalian tahu sendiri kan aku sibuk mengurus hotel ku yang sedang berkembang pesat"


"Kau tetap bisa menjadi Hotelier dengan bantuan Dito, Ayolah Vir jangan tolak Ayah" ucap Ayah memelas


Aileen yang mengerti situasi, tak tega melihat Ayah mertuanya memohon seperti itu.


Ingin sekali ia memohon pada Vir untuk menerima permintaannya. Namun ia tak punya keberanian untuk itu, Sekuat tenaga ia meyakinkan diri untuk mencoba.


Ia pun meletakkan satu tangannya di atas tangan Vir yang masih setia menggenggam tangannya yang lain. Perlahan ia mengelus pelan punggung tangan itu.


Vir menatap Aileen. Wanita itu menatap nanar binar, seolah memohon untuk tidak menolak. Meskipun ia tahu itu tidak mungkin berhasil, setidaknya ia sudah mencoba. Pikirnya


"Huuuh.. Baik lah aku mau"


Tak disangka Vir malah menuruti keinginannya.


Semua mata berbinar bahagia menatap Vir.

__ADS_1


"Benarkah?"


Vir mengangguk yakin, entah sadar atau tidak. Ia terus menatap Aileen dan semakin mengeratkan genggamannya.


"Ah syukurlah.."


"Kami menyayangi mu" Ayah dan Ibu memeluk putra bungsunya.


Vino yang melihat itu, ikut senang. Ia pun ikut memeluk Keluarganya.


Rasanya senang sekali. Bak ketiban sekarung berlian, Aileen seperti mendapat sebuah lubang oksigen dalam goa gelap tempatnya terperangkap. Tanpa disadari Ia telah menaruh harapan pada hubungan itu, Sungguh hatinya telah bertekad untuk mencari celah agar hubungan mereka tetap terjalin selamanya, meskipun ia tahu tak akan mudah, Ia sendiri tidak tahu rintangan seperti apa yang menantinya di depan sana.


"Kemarilah Eil, kau juga putri kami" Hans mengajak Aileen bergabung untuk berpelukan


"Ah tidak usah, dia tidak terbiasa berpelukan dengan banyak orang sekaligus" ujar Vir melepas pelukannya.


Aku tahu kau hanya tidak ingin dia memeluk ku kan. tebak Vino


Semoga kalian bersama selamanya!


.


.


Setelah Vir menyetujui Semuanya Mereka pun langsung mengadakan penyerahan jabatan secara mendadak dan memperkenalkan Vir sebagai CEO di perusahaan.


Setelah selesai mereka langsung menuju ke bandara dan langsung masuk ke dalam jet pribadi yang akan menerbangkan Ayah, Ibu dan Vino ke Negara Singapura.


"Kalian baik-baik ya, Kami akan sering berkunjung. Namun jika tidak sempat maka kalian lah yang harus mengunjungi kami" wejangan Ibu


"Vir jaga menantu Ayah! dan kau Eil, kau jaga putra ku ini! Walaupun dia sedikit Arogan tapi percayalah dia orang yang baik" Ayah mengelus rambut putranya


Mendapat perlakuan seperti itu, Vir sangat senang. Setelah sekian lama, atas semua perseteruan yang pernah terjadi akhirnya ia kembali mendengar kata-kata itu. Ya pujian dari Ayah dan ibunya yang sudah lama tidak ia dapatkan.


Vir mengangguk dan memeluk Ibu dan Ayah.


"Adik ipar, kau harus makan yang banyak. karena bersabar itu butuh tenaga" Ucap Vino yang mana membuat Aileen tersenyum


"Kau, selalu saja meledak ku" Vir beralih memeluk Vino


"Jangan terlalu keras kepala, itu tidak baik!


Aku bangga pada mu" Vino menepuk punggung sang adik


"Semoga kalian bahagia selamanya"

__ADS_1


Mendengar ucapan Vino, Vir terdiam sejenak.


Itu tidak akan terjadi, lagi pula aku mencintai Fia...


Kami tidak akan pernah bahagia! Entah aku atau dia, salah satu diantara kami pasti akan berakhir menyedihkan...


***


"Jangan merasa bangga! aku menyetujui permintaan itu bukan karena mu, api memang karena aku ingin menjadi CEO di perusahaan Ayah" Ketus Vir.


Kini mereka masih berada di dalam mobil, pulang dari bandara


Aileen hanya diam, ia sama sekali tak ingin merespon ucapan Vir.


Huhhh sudah ku bilang, jangan pernah menaruh harapan apapun padanya. itu semua dusta! kau hanya akan tersakiti dalam hubungan ini..


"Aku berhenti di sini"


Chiittt....


Perkataan Aileen membuat Vir langsung mengerem mendadak.


Ia menyeringai dengan tatapan yang sulit diartikan


"Baguslah, jadi aku tak perlu repot-repot meminta mu untuk turun"


Aileen menarik nafas dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya.


Ia turun dari mobil, Ia mengutuki kebodohannya karena sempat menaruh harapan pada hubungan yang tidak sehat ini..


"Arggghh, bodoh, bodoh bodoh..kenapa aku bodoh sekali!!"


Karena kesal ia menendang kencang sebuah kaleng sehingga terkena sesuatu di depan sana, namun ia tidak tahu mobil mana yang kena, sebab di jalan itu begitu banyak mobil yang berlalu lalang.


Sebuah mobil yang ia kenal kembali mundur, kaca mobil itu terbuka menampakkan pria yang juga ia kenal, pria yang baru saja dengan enteng menyetujui permintaannya untuk turun.


"Kau ini kenapa? Huhhh mentang-mentang punya segalanya kau dengan mudah melakukan sesuatu dan ingin merusaknya" Ucap Vir dan langsung kembali tancap gas.


"Apa katanya?? dasar menyebalkan, apa dia tak punya rasa iba sedikit pun melihat ku berdiri di pinggir jalan seperti ini" Aileen berdecak kesal


Ia melangkah menyusuri jalan, air matanya menetes mengingat perkataan Vir, yang mengatakan bahwa "Mentang-mentang punya segalanya, kau dengan mudah melakukan sesuatu" Ucapan itu terus terngiang-ngiang di otaknya.


Ia benci kata-kata itu, Hal itu mengingatkannya pada sesuatu yang membuat dia menjadi seperti sekarang ini, sesuatu yang membuatnya menjadi orang yang tertutup dan benci bergaul dengan orang yang toxic.


"Aku tidak boleh lemah, jangan menangis! kau ini kuat Eil.. Jangan sampai Keluarga mu mengetahui hal ini" Ucap Eil yang tersadar jika ia tak boleh lemah apalagi menunjukkan air mata di muka umum

__ADS_1


Ia pun segera menghentikan taxi untuk mengantarnya mengambil mobil yang masih ada di rumah sakit.


__ADS_2