Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 71


__ADS_3

Sementara itu, Vir baru saja sampai di lokasi yang Dito kirimkan. Tempat itu merupakan sebuah Bar besar yang terkenal di kota ini.


Vir memakai topi Hoodie-nya lalu berjalan memasuki bangunan berbentuk persegi itu.


Ia mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan mencari keberadaan satu makhluk diantara puluhan orang yang tengah duduk dan berjoget ria di sana.


“Ck, dia dimana? Apa mungkin di private room?”


Vir berjalan menyusuri ruang, menyibak kerumunan orang yang tengah berjoget ditengah alunan musik yang bertaburan lampu disko yang bisa membuat sakit kepala atau bahkan terjerumus bagi orang yang tidak biasa ke tempat laknat ini.


Beberapa wanita terlihat meraba tubuh Vir, berusaha agar pria itu mau memakai salah satu di antara mereka. Bahkan Vir secara kasar menolak mereka.


“Hey tampan, mari bersenang-senang denganku, kau pasti akan puas!” ucap Seorang wanita berpakaian minim yang menampakkan jelas dada dan lekuk tubuhnya.


“Damn it, Menyingkirlah! Aku tidak ada urusan dengan mu” Vir menghempaskan tangan wanita yang terus menempel padanya.


“Aku mencari orang ini, apa kau melihatnya?” Vir menunjukkan foto Dito pada wanita tadi


“Tadi aku melihatnya..”


“Dimana?”


“Aku akan memberi tahu jika kau bersedia memakaiku” ucap wanita itu dengan dada yang digesek-gesekan di lengan Vir.


Mendengar Itu Vir langsung emosi, Ia mecengkram wajah wanita yang dipenuhi dengan balutan makeup tebal, membuat wajahnya seperti boneka susan


Cih, sama sekali tidak menarik bahkan berani menggodaku. wajah istriku jauh lebih cantik natural daripada ini.


Vir tersenyum kecil, bahkan saat sedang emosi seperti ini ia masih sempat memikirkan istrinya yang entah sedang apa.


“Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa saja membuatmu kehilangan pekerjaan dalam sekejap” ancam Vir seraya melepaskan topi Hoodie-nya.


Seketika wanita yang ada dicengkeramnya dan teman-temannya itu langsung menangkup kedua tangannya memohon ampun.


“Maaf tuan, kami tidak tahu jika itu anda”


Mereka yang tahu jika Vir merupakan salah satu pemegang saham terbesar di Bar tersebut merasa bersalah karena sudah salah alamat dalam mencari mangsa.


“Cepat katakan dimana temanku ini?” bentak Vir.


sekalipun ia berteriak kencang tidak akan mampu menandingi suara musik dj yang begitu menggema di sana.


“Dia ada di ruangan xxx”


Vir lalau pergi menuju ruangan yang dimaksud.


Di sana ia melihat Dito tengah berbaring di sofa dengan Bir dan Wine yang berjejer di meja.


Vir merasa lega saat mendapati Dito hanya seorang diri dan tidak ada tanda-tanda pria itu telah melakukan Night stand dengan wanita malam yang ada di Bar. Sebenarnya Vir senang saat mengetahui Dito ingin meninggalkan kebiasaan buruknya. Namun kali ini sepertinya pria itu benar-benar tengah galau berat hingga kembali menginjakkan kaki di tempat ini.


“Woi!!” Vir merebahkan dirinya di samping Dito yang tengah berbaring di sana. Dia menepuk keras wajah Dito agar pria itu terbangun.


“Ck, lama!” cebik Dito. kini Ia sudah beranjak duduk dengan benar


Vir menyunggingkan senyum seraya kembali menepuk bahu sahabatnya itu


“Dasar mengenaskan! Ada Apa?” tanya Vir seraya menuangkan sebotol Bir, namun pergerakannya berhenti saat mengingat pesan sang istri yang tidak mengizinkannya minum alkohol.


Vir melenguh kesal seraya menyandarkan tubuhnya ke sofa dan memopang kepalanya dengan kedua tangan.


“Kenapa tidak jadi?” tanya Dito yang melihat Vir tak jadi menuang Bir tersebut.


“Tidak ada, cepat katakan! katamu ingin cerita” ucap Vir seraya memejamkan matanya


Dito menarik napas dalam kemudian mulai bercerita “Aku mencoba cari pasangan melalui platform kencan online namun saat bertemu dengan wanita itu dia malah mengira aku berniat ingin melecehkannya karena aku tidak sengaja terjatuh bersama dan menindihnya di atas sofa yang kebetulan saat itu ruangannya aku reservasi. dia menamparku dan menolakku lalu pergi begitu saja” ucap Dito begitu mengenaskan.


Namun bukannya iba, Vir malah terkekeh mendengar cerita dramatis dari Dito.

__ADS_1


“Mungkin itu hukuman untuk Playboy seperti mu” tertawa terbahak-bahak


“Virendara sialan, bukannya prihatin kau malah menertawaiku! dasar brengsek” umpat Dito seraya meneguk segelas wine


Sementara Vir, pria itu terlihat merogoh rokok yang ada di atas meja. Ia membakarnya lalu menyesapnya.


“Tapi setelah dipikir-pikir ucapanmu ada benarnya juga, hemmmnt” kini tangan Dito beralih mengambil kacang mede yang ada di sana.


“Ucapan yang mana?” kepulan asap terlihat mengepul dari bibir merah Vir


“Ck, dasar pelupa! ucapan yang mana lagi kalau bukan yang mengataiku ini hukuman untuk Playboy”


“Oh” ucap Vir acuh, membuat Dito melemparkan kacang mede itu padanya.


“Mungkin jika ingin bersama dengan wanita baik kita harus sedikit mendapatkan ujian” Dito mengerdikkan bahunya


Mendengar ucapan Dito yang kedengarannya sangat mengenaskan membuat Vir menoleh seraya menatap lekat wajah sahabatnya itu


Sorot mata Vir seolah mengatakan apa maksudmu?


“Kau pikir saja, Aku yakin sebelum mendapat takdir dan jodoh yang baik pasti Tuhan akan memberikan sedikit ujian untuk membuktikan keseriusan kita dalam menjalani hubungan” celoteh Dito.


Vir nampak berpikir, Ia mengingat hubungan yang Pernah ia jalin, bahkan tidak pernah berjalan mulus sama seperti saat bersama Fia bahkan saat bersama Aileen istrinya pun mereka harus melalui awal yang rumit.


Ia sadar jika ucapan Dito ada benarnya juga, namun pria itu masih bingung, sebenarnya ujian seperti apa yang dimaksud, bahkan saat bersama Fia dia telah melalui banyak ujian dan tetap tak bersatu, lalu saat bersama Aileen pun begitu. Hal itu membuat Vir bingung dengan takdir yang dimaksud.


“Lalu bagaimana denganku, bahkan aku sudah melalui banyak ujian tapi aku masih belum mengerti yang mana takdir ku”


Dito terlihat menghela napas mendengar ucapa Vir yang kelihatan begitu buntu jika sudah mengenai permasalahan seperti ini.


“Kau ini bodoh atau apa. ya jelas-jelas takdir mu ya istri mu, apa kau tidak beruntung memilih wanita seperti itu”


Vir mengangguk, mungkin saja benar. pikirnya dalam hati. Ia tidak lagi menyela ucapan sahabatnya itu. Bahkan kini Vir terlihat mendengar semua ocehan Dito dengan senang hati.


Setelah cukup lama berada di Bar, akhirya Vir dan Dito memutuskan untuk segera pulang. Vir benar-benar menepati janjinya pada Aileen untuk tidak menyentuh Alkohol.


Kedua pria itu berjalan ke arah Kasir.


“Bayar saja, tidak ada yang cegah!”


“Dasar parasit!” umpat Vir pada Dito yang memang selalu terima bersih tiap kali pergi bersama Vir, bukannya tidak mampu membayar tagihan, hanya saja Vir selalu menolak jika Dito ingin membayarnya.


Setelah selesai membayar, Vir kembali menghampiri Dito. Namun tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Fia. Entah mengapa wanita itu bisa ada di sini dan dengan siapa ia datang.


“Hey ayo, kenapa kau malah diam di situ” ucap Dito yang melihat Vir terpaku


Ingin rasanya Vir menghindar, namun sepertinya sudah tidak bisa, sebab wanita itu sudah berjalan ke arahnya.


Dito yang heran ikut melihat ke arah pandang sahabatnya itu. Dia juga sedikit terkejut saat melihat Fia yang sudah ada di hadapan mereka.


Kenapa harus bertemu di sini.. Gerutu Dito


“Hy Vir, Apa kabar?” sapa Fia dengan senyum mengembang


Entah mengapa melihat Fia yabg seperti membuat Vir merasa heran, sebab seharusnya wanita itu masih marah padanya namun apa ini bahkan Fia terlihat biasa-biasa saja.


“Hy” balas Vir canggung, namun tetap Slow


“Lama tidak ketemu!”


“Ah, iya! Aku terlalu sibuk”


Dito yang menjadi penengah pun merasa sedikit canggung dan heran. Ia tahu betul Fia orang yang seperti apa namun entah mengapa, kali ini wanita itu nampak berbeda.


“Aku tahu kita sudah tidak ada hubungan, Tidak bisa memiliki mu sebagai kekasih paling tidak kita bisa berteman” ucap Fia yang kedengarannya begitu menyayat di hati.


Lagi-lagi Vir tercengang dengan ucapan Fia yang malah dengan ikhlas ingin berteman dengannya padahal saat itu dia belum bisa menerima semuanya.

__ADS_1


“Apa aku masih bisa jadi temanmu?” tanya Fia saat tak melihat Vir tak menjawab


“Tentu, kita bisa berteman” ucap Vir


Mendengar hal itu Fia tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Dito dan Vir secara bergantian “Salam pertemanan”


“Salam perteman” balas Vir dan Dito yang masih belum percaya sepenuhnya


“Kalau begitu aku duluan” Fia pun beranjak lebih dulu.


Sementara Dito dan Vir masih menatap tak percaya. Mereka saling tatap melempar tanya satu sama lain


“Apa dia benar-benar sudah berubah 180 derajat?” ujar Dito yang masih terus menatap punggung Fia yang hampir menghilang dibalik pintu


“Tidak tahu, tapi bukankah lebih baik seperti itu”


“Ya kau benar”


“Ayo pulang” Vir berjalan lebih dulu


Keduanya pun pergi meninggalkan Bar.


🍁🍁🍁🍁🍁


Saat sampai di rumah, Vir langsung masuk ke kamar. Ia tersenyum saat melihat istrinya yang sudah terlelap di atas tempat tidur.


Vir berjalan ke kamar mandi, setelah itu mengganti pakaiaan hanya menggunakan celana pendek dan kaos singlet.


ia berbaring di samping Aileen lalu memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. Vir mengecup mesra wajah istrinya.


Setelah itu Ia lalu menenggelamkan wajahnya diceruk leher sang istri sambil menghir dalam aroma tubuh yang kini menjadi favoritnya, namun tindakannya itu malah membuat Aileen menggeliat.


“Vir, Hmmmnt sudah pulang” tanyanya dengan suara khas bangun tidur, berucap dengan mata terpejam seraya berbalik ke arah Vir.


“Iya, aku baru sampai” Vir menatap lekat wajah istrinya yang kini menghadap dirinya


“Tidurlah, besok harus kerjakan” masih dengan mata terpejam, Aileen menepuk pipi suaminya dengan lembut.


Vir yang sedari tadi tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari wajah teduh sang istri langsung menangkup wajah itu lalu ******* bibir itu dengan begitu lembut, membuat Aileen yang semula terpejam membelalakkan mata. ia pun tersenyum dengan kelakuan suaminya dan ikut membalas ciuman itu.


Namun saat merasakan sesuatu yang berbeda, Ia menghentikan aksi suaminya dengan sedikit mendorong wajah Vir menjauh, Aileen memegang wajah Vir yang kelihatan sudah dipenuhi hasrat.


“Kenapa berhenti?” lirihnya dengan tatapan mendayu


“Pasti tadi kau merokok kan?” Aileen menatap penuh selidik


Vir menghela napas, bagaimana mungkin istrinya bisa tahu, bahkan ia sudah menggosok gigi untuk menghilangkan baunya.


“Sedikit, tapi hanya itu, aku tidak minum” vir melenguh pasrah, mau mengelak pun ia tak bisa berbohong sebab Bu dokter di depannya itu sepertinya sangat pandai menebak bau dengan hanya merasakan atau bahkan menciumnya.


“Lain kali, jangan lagi ya! itu tidak baik untuk kesehatan” Aileen menggerakkan kedua ibu jarinya mengusap lembut wajah sang Suami.


Vir hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Tatapan mata Aileen benar-benar membuatnya terhipnotis.


“Sayang, aku mau” Vir menenggelamkan wajahnya di dada sang istri. Ia mencumbu ceruk leher istrinya, membuat wanita itu menggeliat tak tertahankan.


Tangan Vir mulai menelusup ke piyama yang Aileen kenakan, tangannya bergerak menyusuri setiap bagian yang ada di dalam sana. Bahkan kini tangan itu telah melepas pagar pelindung gunung indah itu kemudian beralih melepaskan satu persatu kancing piyama istrinya.


Vir sama sekali tak melepaskan pangutannya dari bibir dan leher itu. Kini posisinya sudah ada di atas Aileen yang sudah tak memakai apapun kecuali selimut yang menutupi bagian perut hingga ke pahanya


“Tubuhmu selalu mampu memikatku, Aku suka semuanya” satu tangan Vir menyusuri setiap inci tubuh Aileen dengan tangan yang satu berusaha melepas pakaiannya.


Setelah berhasil, vir melemparkannya ke sembarang arah kemudian memulai penyatuannya.


“Eil, sayang..” teriak Vir saat memacu tubuh istrinya. Ia benar-benar ganas dalam hal ini, Vir sudah seperti maniak yang tak bisa menghentikan dirinya jika sudah menyangkut tubuh istrinya itu.


Aileen pun terlihat begitu menikmati setiap sentuhan yang Vir berikan, ruangan itu dipenuhi dengan decitan penyatuan mereka yang menghiasi malam.

__ADS_1


Malam panjang itu mereka lalui dengan jebolan gawang tanpa perlawanan.


Jika saja ini merupakan pertandingan bola mungkin Vir akan keluar sebagai tim pemenang sebab sudah mencetak banyak gol. Bahkan jika Vir berkamuflase jadi timnas Indonesia mungkin seluruh rakyat Indonesia akan sangat mengidolakannya sebagai sang pemecah rekor.


__ADS_2