
Pagi hari telah tiba. Semua kembali seperti sedia kala yang mana sepasang suami istri itu kembali pada kehidupan pribadi mereka masing-masing, tinggal satu rumah namun tidur di tempat yang berbeda.
Walaupun begitu, Aileen tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik.
Sebelum Vir bangun, kali ini ia mencoba untuk lebih memerhatikan setiap hal kecil suaminya itu, seperti masuk ke kamar Vir dan menyiapkan semua perlengkapan kerjanya.
Ada perasaan takut dalam hati, takut jika Vir akan meneriakinya lancang seperti saat awal pernikahan mereka dulu. Akan tetapi ia tetap memberanikan diri untuk menjalankan tugasnya sebagai istri yang baik.
Sama seperti Vir, dia juga akan berusaha untuk hubungan mereka.
Dan saat bangun Vir juga tidak marah begitu melihat pakaiannya sudah tersedia di ujung tempat tidur, malah ia kelihatan tersenyum.
Mereka berdua pun melewati sarapan dalam keheningan. Tidak seperti biasanya, mereka selalu memperdebatkan hal kecil jika saja Vir mulai memprotes masakan istrinya.
Namun kali ini benar-benar berbeda, Kelihatannya lebih adem dengan menikmati sarapan dalam ketenangan.
Setelah selesai sarapan, Vir dan Aileen terlihat berjalan beriringan menuju pintu utama rumah mereka. Hubungan keduanya memang cukup membaik semenjak di luar negeri tinggal bersama.
"Vir.." panggil Aileen pada Vir yang tengah sibuk membenarkan kancing lengan kemejanya.
"Hmmmnt.."
Vir menghentikan langkahnya namun masih fokus pada kancing kemeja yang hampir selesai ia pasang.
Aileen terlihat mengulurkan tangannya, membuat Vir menatap heran.
"Dulu setiap kali Daddy akan berangkat kerja, mommy selalu mencium tangan daddy." Jelas Aileen
"Lalu?" tanya vir, Ia mengerutkan keningnya ingin mengetahui lebih lanjut penjelasan sang Istri
"kalau boleh, mulai sekarang aku sebagai istri mu ingin melakukan itu juga agar hubungan kita semakin membaik" ucap Aileen ragu-ragu takut Vir tidak terima dan akan mengomelinya.
Namun tak di sangka respon Vir sangat tak terduga. Bukannya marah, ia justru terlihat mengulum senyumnya dengan sudut bibir yang sedikit mengembang meskipun tidak begitu kentara tapi bisa dipastikan jika ia memang sedang tersenyum.
Tukk.
Lagi-lagi Vir menyentil kening Aileen, membuat wanita itu mengaduh kesakitan.
"Paling ini hanya akal-akalan mu saja kan agar bisa mencium tangan ku setiap saat" kata Vir seraya mengulurkan tangannya mendekat ke Aileen.
Aileen mencium punggung tangan Vir sambil berkata "Eh, bukan begitu! maksud ku itu..."
Belum sempat Aileen menyelesaikan ucapannya, Vir sudah menyelanya
"Kau boleh melakukannya setiap hari, tentu aku akan senang sebab merasa seperti kau mengidolakan ku" Kali ini ia sudah tersenyum penuh kemenangan, Ia benar-benar paling bisa membuat Aileen terpojokkan.
"Vir maksud ku bukan begitu!! Cium tangan itu hal yang wajar bagi sepasang suami istri bukan berarti aku mengidolakan mu" protes Aileen tak terima jika Vir merasa ia mengidolakannya.
"Iya, iya, terserah kau saja! Ya sudah cepat lakukan dengan benar, tangan ku sudah pegal seperti ini" kata Vir pasrah, dia selalu saja merasa kalah jika harus beradu argument dengan Aileen.
Aileen pun kembali mencium tangan Vir, Vir terlihat tersenyum menggemaskan.
Ia mengacak-acak rambut Aileen yang sudah rapi.
"Aiih Vir, rambut ku berantakan!!" teriak Aileen sambil menyingkirkan tangan Vir dari kepalanya
Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya menuju halaman depan.
"Aku juga sering melihat seorang suami mengantar istrinya saat akan kemana-mana" kata Vir saat sudah hampir sampai di mobilnya.
Aileen yang berjalan lebih dulu, hendak membuka pintu mobilnya menoleh saat mendengar ucapan vir.
__ADS_1
Ia menatap penuh tanya
"Sebagai suami, hari ini aku yang akan mengantar mu ke rumah sakit! kau pergi bersama ku" katanya lagi
Aileen menatap tak percaya, ini pertama kalinya, Vir si pria aneh ingin mengantarnya.
"Tidak usah Vir, kita berangkat masing-masing saja. Nanti kau bisa terlambat jika mengantar ku dulu" Aileen berusaha menolak dengan sopan.
"Aihh kau ini, bukankah katamu kau ingin menjadi istri yang baik tapi lihatlah kau selalu saja menolak ku" Vir berdecak kesal sambil menggelengkan kepalanya "Tidak akan ada yang berani memarahi ku jika aku terlambat. Jadi jangan coba-coba menolak ku, ayo cepat masuk" perintahnya dengan wajah datar.
Dengan terpaksa Aileen pun masuk ke dalam mobil mewah suaminya.
Ini kali ketiganya ia naik di mobil itu.
"Aku yang mengantar mu, aku juga yang akan menjemput mu! Jangan coba-coba pulang duluan" katanya seraya fokus mengemudi
"Tidak perlu repot-repot Vir, nanti kau lelah"
"Bisa tidak, untuk satu hari saja jangan menolak ku!! Katanya ingin jadi istri yang berbakti tapi selalu menolak keinginan suami" Vir menggerutu kesal sambil terus fokus menatap jalan yang sudah mulai macet.
Aileen hanya menghela nafas kasar, kemudian ikut fokus melihat jalan yang mulai dipadati mobil yang terjebak macet.
Beberapa menit berkendara, akhirya mereka pun sampai di Rumah sakit.
Aileen turun terlebih dulu, tidak lama setelah itu Vir juga sudah turun dan berjalan ke arah Aileen yang masih berdiri di depan mobil.
"Terimakasih sudah mengantar ku!" Aileen tersenyum pada Vir.
Seolah tayang perdana, ini pertama kalinya Vir membalas senyuman Aileen dengan begitu tulus membuat Aileen jadi salah tingkah.
"Eh, kalau begitu aku masuk dulu" Aileen pun segera melangkah
"Tunggu" Vir mencegah tangan Aileen, Ia menariknya mendekat dan..
Satu kecupan mendarat di kening Aileen.
Seketika suasana menjadi hening, waktu seakan berhenti sejenak, semilir angin pagi seakan menghilang entah kemana membuat pusat dunia seakan hanya tertuju pada mereka.
Aileen dan Vir sama-sama terdiam sejenak sesaat setelah melepaskan kecupan itu. Semua seolah kembali seperti semula, Ibarat telah mendapat kejutan dan mendengar suara ledakan yang cukup kuat secara bersamaan, membuat detak jantung mereka berpacu begitu cepat dan bisa di dengar oleh keduanya.
"Suami istri juga melakukan ini bukan?" kata Vir seraya memalingkan wajahnya dari Aileen yang masih menunduk.
Vir sendiri benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan melakukan ini pada Aileen. Pikirannya terus menolak namun hatinya bergetar seolah menyuruhnya melakukan hal tadi, lalu salahnya dimana?
"Kalau begitu masuklah! Nanti aku akan kembali untuk menjemput mu" Vir melepaskan genggamannya dari tangan Aileen.
Aileen hanya mengangguk kecil, lalu kembali berjalan dengan begitu cepat. Vir masih menatap Aileen yang sudah melangkah menjauh darinya.
Langkah Aileen perlahan memelan. Pelan tapi pasti, ia kembali menoleh ke arah Vir.
"Sekali lagi terimakasih sudah mengantarku! Hati-hati di jalan" Aileen tersenyum
Mendengar itu Vir hanya mengangguk kecil menandakan ia mengatakan Iya "Semoga hari mu menyenangkan!!" Vir tersenyum seraya melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil.
Aileen pun ikut melambai kecil. Mereka terlihat layaknya sepasang anak SMA yang baru saja mendapat kejutan dari Kekasihnya. Begitu manis, seolah baru pertama menjalin cinta, Walaupun mereka berdua masih mencari arah kemana hubungan itu akan dibawa.
Sekali lagi Aileen seperti mendapat kejutan bertubi-tubi, Pagi ini ia benar-benar melihat sisi yang berbeda dari seorang Vir yang Arogan.
Setelah mobil Vir tak terlihat, Ia kembali memegangi keningnya dan tersenyum.
Rasanya manis sekali, Bisakah ia berharap lebih? Benarkah ini awal yang baru untuk mereka, melihat Vir yang keras terlihat melunak.
__ADS_1
Tanpa Aileen sadari, sedari tadi ada dua orang yang memperhatikan tingkahnya mulai dari saat bersama Vit tadi
"Cie ciee, Vibes pengantin baru memang berbeda ya!!" kata dokter Risa yang tiba-tiba muncul dengan perawat Nita
Seketika wajah putih Aileen blushing karena dokter Risa dan perawat Nita secara tiba-tiba datang menghampirinya.
"Iya nih, Aku dan kak Risa jadi iri" sahut Nita sambil terkekeh mengingat adegan ciuman ala drakor yang dilakukan suami istri yang mereka saksikan tadi
"Aku? Iri? Yang benar saja Nita, aku kan sudah punya. Mungkin kau lah yang iri Nit, secara kau kan belum punya gebetan" kata dokter Risa mengejek Nita yang memang jomblo sejati
Nita pun terkekeh geli, Ia lupa jika dokter Risa sudah punya suami jadi sudah tentu sering merasakan seperti yang dilakukan dokter Aileen tadi.
Aileen hanya tersipu malu dengan ucapan Risa dan Nita
"Ah iya aku punya sesuatu untuk kalian" kata Aileen berusaha mengalihkan pembicaraan
"Apa?" ucap dokter Risa dan Nita secara bersamaan
"Sedikit oleh-oleh, tapi aku lupa membawanya" kata Aileen yang mana membuat dua wanita yang tadinya bersemangat langsung murung seketika
"Hahaha sudah jangan murung, besok akan aku bawakan" kata Aileen lalu merangkul dua orang yang sudah seperti saudara baginya.
Mereka bertiga pun melangkah masuk bersama.
.
.
.
"Sepertinya hubungan mu dengan Aileen makin ada kemajuan" ucap Dito, seraya menghirup Capuccino yang ada di depannya.
Seperti biasa, Jika siang hari Vir akan berkunjung ke hotelnya.
Ia terlihat masih sibuk menandatangani beberapa berkas yang terbengkalai akibat ditinggal ke luar Negeri.
"Vir..!!" Dito kembali memanggil Vir yang sama sekali tak menghiraukan ucapannya
"Hmmmt.." sahut Vir
"Vir..!!!"
"Shut up! Can't you see I'm busy? (Diamlah! Tidak kah kau melihat aku sedang sibuk?)" Ia melirik sekilas ke arah Dito yang terlihat tersenyum mengejek mendengarnya berbahasa Inggris
"Buahaha, Apa kau mengira kau masih di luar negeri?" Dito terkekeh terpingkal-pingkal.
"Shiit, Damn!!! Kau mengganggu konsentrasi ku" katanya seraya menutup pulpennya dan menatap Dito dengan serius.
Sepertinya ia akan menjelaskan hal yang ingin Dito dengar
"Makanya jawab pertanyaan ku, jika tidak aku akan terus menggaanggu mu" kata Dito
"Kenapa kau malah mengancam atasan mu?"
"Sudahlah Vir, jawab saja pertanyaan ku! Sepertinya hubungan mu dengan Aileen mulai membaik, apa kau mulai mencintainya?" Bertanya sudah seperti wartawan yang tengah mewawancarai aktor terkenal
"Belum, tapi kami masih berusaha untuk itu" jawab Vir ala kadarnya
Dito menghela nafas lega, Ia bersyukur sahabatnya itu sudah berusaha untuk menerima pernikahannya. Itu saja sudah membuat ia senang
"Aku berharap secepatnya kalian bisa saling mencintai..." belum sempat Dito melanjutkan ucapannya Vir sudah menyelanya
__ADS_1
"Sudah dulu Dit, Jam makan siang sudah hampir habis, Aku harus kembali ke ACT" Ucap Vir seraya melirik jam tangannya, Ia beranjak ke luar dan langsung disusul oleh Dito.