
Virendra... Siang tadi ia memang sempat begitu syok mendengar ucapan belasungkawa dari Zaky atas kematian Ayah. Yang mana ia sendiri tidak tahu menahu soal hal itu. Tentu hal tersebut membuat ia sempat terkena serangan panik, untungnya tidak berdampak parah bagi kondisinya yang baru stabil.
Selama sadar dari koma, ia jelas memang selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya, Virendra selalu merasa ada yang hampa. Meski begitu, pria yang baru sadar dari koma beberapa minggu yang lalu itu sama sekali tak bisa mengungkapkan kehadiran siapakah yang kurang sehingga membuat hatinya selalu diterpa kesedihan tanpa sebab. Hingga kejadian tadi tiba, membuat ia sadar akan sosok yang kurang itu adalah Ayahnya sendiri. Tentu sangatlah menyakitkan!
“Aku minta maaf atas ucapanku tadi, Vir! Aku sama sekali tak bermaksud apa-apa. Aku benar-benar tidak tahu banyak tentang kondisimu!” Begitu kata Zaky saat sore tadi Vir sudah diperbolehkan pulang, dijemput oleh Vino, sang Kakak.
Hanya Aileen dan Vino yang menanggapi permohonan maaf Zaky itu. Sebab, sejak tadi Virendra hanya lebih banyak diam dan terlihat merenung. Sementara Dito, pria yang sudah menganggap Zaky sebagai rivalnya karena persoalan cinta segitiga dengan Nita, sama sekali tak menghiraukan pria itu. Dito hanya fokus mendorong kursi roda Vir tanpa mau menoleh.
“Jangan dipikirkan, kamu tidak salah." Ucap Vino merespon Zaky seraya menepuk bahu pria yang wajahnya ditumpuki rasa bersalah itu. “Hanya saja waktunya yang kurang tepat.” Lagi-lagi Vino tersenyum teduh.
“Lagipula, cepat atau lambat Vir pasti akan mengetahui hal ini. Kami dan keluarga yang lain memang sedang menyiapkan bagaimana cara untuk memberitahunya secara perlahan, hanya saja kami belum punya keberanian, takut kejadian seperti ini!” Wajah tulus Vino tampak berseri dengan senyum yang terus terselip dalam setiap ucapannya. Tentu itu bisa membuat Zaky merasa lebih relaks berhadapan dengannya.
“Eh, tak disangka, justru Vir tahu dari orang lain.” Lanjutnya yang disusul dengan helaan napas, “Jangan dipikirkan lagi, ya! Justru kamilah yang seharusnya berterima kasih karena sudah membantu mengerjakan satu tugas kami.” Ucap Vino yang diakhiri dengan kekehan untuk mencairkan suasana, yang mana langsung membuat Zaky mulai tersenyum.
Bahkan Aileen ikut terkesan mendengar jawaban bijak dari kakak iparnya itu.
Ya, dia adalah Kak Vino, Jevino! Orang yang bersahaja dan selalu penuh kelembutan. Aileen tersenyum menatap Vino. Ingatan akan awal pernikahan dulu, dimana Vino selalu memperlakukannya dengan baik dan membela setiap kali Vir bertingkah seenaknya membuat ia gemas sendiri. Hmmmm, bagaimanapun juga kau tetaplah suamiku, orang yang aku cintai! Ya, walaupun sifat kalian berbeda jauh, seperti langit dan bumi. Aileen kembali terkekeh dalam hati jika membandingkan sifat dua bersaudara itu.
Tak jauh dari arah mereka, Dito yang mendengar ucapan Jevino justru memutar mata malas. Ia kemudian menghentikan kursi roda, lalu agak membungkuk untuk berbisik di telinga Virendra.
“Kenapa Kakak mu tidak bisa menjadi orang jahat sekali saja?" Tanyanya dengan ekspresi mengenaskan. “Seharusnya dia sedikit memarahi pria itu, bukan malah membesarkan hatinya, huh!" Keluh Dito.
Vir menoyor kepala Dito seraya memutar mata malas, “Jangan samakan saudaraku yang berhati malaikat itu dengan kau yang akal bulus ini!” Tak disangka, Vir yang tadinya enggan merespon dan lebih banyak murung justru tertarik dengan ucapan Dito barusan.
“Aku tahu, kau berharap Vino memarahi Zaky karena kesal dia mendekati kekasih incaranmu kan?!" Protes Vir yang ternyata tahu isi hati Dito.
Dito yang mendengar itu hanya memutar mata sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Hmmnt, sepertinya kau juga akan berpaling. Sana, pergilah! Suruh calon sahabat barumu itu yang mendorong!" Dito yang kembali merasa teraniaya, segera memutar kursi roda berbalik ke belakang, menghadap ke tempat dimana Vino, Aileen dan Zaky berdiri.
“Aish, Ardito Bagaskara sialan!” Umpat Vir saat Dito melepaskan cengkraman dari kursi roda setelah sedikit mendorongnya.
“Awas saja, aku akan membalasmu jika aku pulih! Tarik kursi rodanya, bangsa*!" Umpat Vir lagi, dengan tangan yang mencoba meraih tangan Dito.
__ADS_1
“Kenapa tidak memanggil calon sahabat mu itu saja?” Hardik Dito. Hmmnt, sepertinya jatuh cinta membuatnya agak gesrek.
“Percayalah, jika kau mencari sahabat baru, pasti tidak akan ada yang sepertiku, yang bertahan dari zaman megalitikum sampai saat ini!"
“Ck, Dit! Berhenti mengoceh!" Ucap Vir yang merasa frustasi melihat tingkah sahabatnya itu.
“Selama ini kau selalu menganiaya ku, Vir! Gantian, kapan lagi aku bisa melakukan ini!Anggap saja sedang mendapat jackpot untuk mengerjaimu.” Bukannya kasihan justru Dito malah terkekeh, kemudian kembali meraih kursi roda Vir untuk berbalik seraya menunggu Aileen dan Vino. Sebenarnya Dito cukup senang melihat Vir yang marah sekaligus menahan tawa karena aksi randomnya barusan. Ia senang bisa sedikit menghibur Virendra dan mengurangi beban pikirannya. Ya, meski sebenarnya tingkahnya itu memang murni karena cemburu.(🤣)
...****************...
Malam itu, setelah makan malam. Ibu yang tahu jika Vir sudah mengetahui semua langsung menghampiri putera bungsunya ke kamar. Ia bersama Vino duduk di tepi ranjang, saling berpelukan dengan kedua anaknya. Mengingat mendiang Hans, benar-benar menguar sesak di hati. Bahkan Aileen yang melihat, turut meneteskan air mata.
Ibu dan Vino menceritakan tragedi penculikan yang disebabkan oleh Fia dan Niko. Membuat Vir sedikit demi sedikit bisa mengingat kejadian malam itu. Puncaknya saat ia mencoba melindungi Aileen dari tembakan yang berasal dari aksi gila Fia. Disaat yang bersamaan ia mendengar teriakan Ayah dan suara lain dari tim yang turut mengamankan. Selain wajah Aileen yang menagis, ia tak lagi mengingat apapun setelah kejadian itu.
Vir terus terisak mengingat tragedi mengenaskan yang merenggut nyawa sang Ayah, bahkan membuat ia menjadi korban, membuat Virendra tak habis pikir dengan sikap gila Fia yang nekat.
“Wanita gila! Aku menyesal pernah mengenalnya!" Lirih Vir di sela tangisannya. Ia kian mengeratkan pelukannya pada Vino dan Ibu.
“Sekarang aku baru sadar, tak selamanya pilihan orang tua itu salah." Lirihnya sembari menatap Aileen yang juga terisak sambil menatap mereka dari sofa.
“Ibu, maafkan kesalahanku. Akibat kesalahan ku Ayah jadi seperti ini." Berulang kali Vir mengecup wajah Ibu yang juga tak kalah sedihnya. “Terima kasih karena sudah memberiku jodoh sepertinya!" Ucap Vir dengan tangan melambai, memberi isyarat agar Aileen turut bergabung, membuat ibu dan Vino menoleh untuk menyambut Aileen kemudian kembali berpelukan setelahnya.
Puas saling berpelukan, kini semua mulai duduk bersampingan. Dengan Aileen yang duduk di tepi ranjang tepat di samping Vir. Sementara Ibu di depannya saling berhadapan, juga ada Vino yang duduk di belakang. Semua nampak termenung mengingat kilas balik alur kehidupan yang menyisakan banyak cerita hingga saat ini.
Suasana hening itu lenyap saat ibu kembali angkat suara. Diraihnya tangan Vir sebelum mengatakan sesuatu.
“Izinkan ibu mengatakan hal yang seharusnya sejak lama ibu sampaikan kepadamu, Vir!" Virendra mengangguk sebagai tanda setuju.
Wanita paruh baya itu beralih menatap Aileen, “Eil!"
“Ya?"
__ADS_1
“Izinkan ibu mengatakan hal ini tanpa membuatmu merasa terbebani!" Hal itu membuat Vir dan Aileen mengkerutkan kening, kecuali Vino. Ia terlihat mengerti setelah ibu menoleh padanya dengan raut wajah memelas. Membuat Vino yang seolah tahu maksud sang ibu hanya mengangguk.
“Tentang masa lalu suami mu." Tangan ibu beralih meraih tangan Aileen untuk diusap, “Ibu tahu, membahas mantan adalah hal yang sensitif bagi seorang istri." Ucapan ibu yang diselingi senyuman membuat Aileen tertunduk malu.
“Tidak apa, Bu. Aku mengerti, lagipula sepertinya ini hal penting!" Ujar Aileen mantap seraya balik menepuk punggung tangan sang mertua.
Setelah itu, ibu kemudian mulai menarik napas. Ia menatap lekat pada Vir, “Ibu tahu jika mengucapkan ini sekarang pun sudah terbilang terlambat. Seharusnya Ibu dan Ayah memberi tahu hal ini sejak lama." Ibu menjada kalimatnya, membuat Vir dan Aileen penasaran dengan hal yang ingin Ibu sampaikan.
“Tapi tidak apa, setidaknya ibu akan lega jika memberi tahu hal ini pada mu. Ibu hanya ingin agar tidak ada lagi kesalah pahaman yang terjadi.”
“Vir, sebenarnya ini tentang alasan kenapa dulu kami begitu menentang hubunganmu dengan Fia.”
“Bu, cukup! Aku tidak ingin mendengar hal tentang wanita itu lagi!" Vir memalingkan wajahnya.
“Vir, ibu hanya ingin agar kau tahu alasannya!" Ibu masih mencoba membujuk. Namun, Vir terlanjur menggeleng dan enggan menoleh.
Bukannya tak menghargai sang ibu. Hanya saja Virendra benar-benar enggan mendengar hal tentang Fia.
“Vir!” Ucap Vino seraya memberi isyarat agar Virendra mau mendengarkan ibu terlebih dahulu. Bersyukur Vir mau menuruti Vino, membuat ibu bisa melanjutkan ucapannya.
“Sebenarnya alasan kami menentang hubungan kalian dulu adalah karena alasan orang tua Fia adalah orang yang menyebabkan perusahaan Ayah bangkrut akibat keserakahan dan ketamakan keluarga mereka. Lalu dengan tidak tahu dirinya keluarga itu menyebarkan berita palsu jika Ayahlah yang menggelapkan dana dan suka menipu sehingga tidak ada pihak manapun yang mempercayai keluarga kita untuk memberikan Pinjaman." Ibu kembali terisak mengingat kisah masa lalu mereka yang pahit akibat ulah fitnah keluarga Fia.
Sementara Virendra yang mendengar itu merasa matanya begitu panas dan berkaca-kaca. Ia pernah dengar cerita ini, hanya saja ia tak tahu apa penyebabnya. Tak disangka semua penyebabnya adalah keluarga dari wanita yang pernah bertahta istimewa di hatinya. Pantas saja dulu Ibu dan Ayah begitu menentang keras hubungan mereka.
Aileen yang mendengar itu pun kini mulai mengerti. Ia yang pernah mendengar cerita ini, mencoba menghubungkan jika saat itu keluarganya lah yang memberi bantuan pada keluarga Ayah Hans, terlebih lagi kedua opa mereka bersahabat baik.
Virendra yang tak menyangka inilah yang menjadi alasan utama hubungannya ditentang. Ia kemudian beralih menatap Vino.
“Selama ini kau juga tahu, Vin?" Anggukan dari Vino membuat Vir kembali merasa sangat bersalah, sebab hanya dirinya lah yang tidak tahu. Bukan, lebih tepatnya tak ingin tahu. Ia menyesali tindakannya yang dulu selalu menghindar setiap kali diajak membahas hal ini. Alasan karena sikap pilih kasih Ayah dan Ibu pada Vino dulu membuat mata hatinya tertutup. Terlepas dari hal itu, hal yang paling ia sesali adalah menentang keluarga hanya karena Fia.
“Maafkan Vir Bu, maaf atas semua kesalahanku di masa lalu. Maaf karena tidak pernah mendengar nasehat kalian!" Vir memeluk Ibu sambil menahan sesak .
__ADS_1
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...