Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 65


__ADS_3

Di sebuah ruangan, nampak seorang wanita dengan penampilan acak-acakan tengah duduk meringkuk di pojok ruangan.


Matanya sembab karena terlalu lama menangis, sudah beberapa hari ini ia mengurung diri di ruangannya.


Sungguh wanita mengenaskan, Apa cinta akan selalu membuat seseorang tak berdaya seperti ini, Ia benar-benar kacau.


"Arghhhh, kenapa sangat sulit melupakannya! Aku terlalu mencintai dia sampai tak bisa menumbuhkan rasa benci itu"


Ya, semenjak Vir memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Fia. wanita itu terlihat begitu hancur, bahkan sampai menyiksa dirinya seperti ini.


Mencintai boleh tapi jangan berlebihan, sebab ketika Cinta itu hilang jika hati mu tidak kuat maka dia akan memperdayaimu dan membuat dirimu hancur.


Mencintai dengan sewajarnya, Benci juga sewajarnya, karena semua rasa itu bisa berubah kapan saja, dan kita tidak tahu kapan sang Maha membolak-balikan hati membuat rasa itu berubah.


Semua yang berlebihan tidak baik sebab ketika harapan mu dipatahkan oleh takdir kamu akan terluka. Buat diri menjadi kuat, Lakukan semua sesuai dengan porsinya sebab jika terluka pun tidak akan masalah karena rasa ikhlas itu akan membuatmu kuat.


***


Hari ini Aktivitas Vir benar-benar fullday di Angkasa Corp tbk. Sejak siang tadi ia sama sekali belum pergi menuju hotelnya.


Ada sedikit masalah perusahaan yang mengharuskannya tetap stay di sana.


Setelah pagi tadi mengadakan beberapa rapat penting dengan jajaran petinggi perusahaan lainnya, saat ini Vir tengah bergegas menuju pabrik untuk meninjau langsung beberapa produk baru yang akan di import ke luar negeri.


Ia berjalan di dampingi dengan Pak Amran si asisten tua milik Ayahnya yang belum ia ganti.


Sebenarnya Vir ingin sekali mengganti Pak Amran, hanya saja belum menemukan posisi yang tepat untuknya. Dia ingin memberikan orang tua ini posisi yang tinggi sebagai bentuk apresiasinya. Sungguh Vir benar-benar merasa canggung jika harus memiliki Asisten yang lebih tua darinya.


"Kita pergi ke Restoran dulu, saya haus dan ingin rehat sejenak"


"Baik tuan muda, mari" ucap Amran memberi jalan untuk Virendra


Sesampainya di Restoran, Vir dan Amran terlihat menikmati Cofeelate dan sesekali mengecek tabletnya


Derrt, dertt, dert..


Vir beralih menatap Hp-nya yang berdering di meja, tertera panggilan dari nomor yang tak di kenal.


"Halo, dengan Pak Virendra?"


"Iya, saya sendiri"


"Begini pak, saya dari staf Attaya Boutique ingin menginformasikan bahwa sudah beberapa hari ini Ibu Fia sama sekali belum ke luar dari ruangannya, Dia belum makan apapun. Kami khawatir akan terjadi sesuatu padanya. Apa bapak bersedia datang untuk membujuknya agar mau keluar?"


Mendengar penuturan sang penelepon, membuat Vir menggeleng dengan raut wajah ditekuk.


Ia menghela napas


"Kenapa malah memberi tahu saya? Kenapa tidak mencoba menelpon Adik atau orang tuanya?" Sepertinya Vir tidak ingin bertemu dengan Fia. Walaupun di hati kecilnya Ia merasa bersalah pada wanita itu karena sudah jadi penyebab masalah ini


Bagaimana mungkin bisa melupakannya jika harus bertemu kembali.. Lirih Vir dalam hati, ternyata ia hanya ingin menghindari Fia agar bisa melupakan wanita itu.


"Kami sudah menelpon keluarganya, tapi sepertinya mereka masih menetap di luar negeri pak."


Vir lupa, jika satu tahun terakhir ini orang tua Fia memang masih tinggal di luar negeri pasca pengobatan yang wanita itu lakukan.


"Kalau begitu akan saya pikirkan" sambungan telepon itupun terputus.


"Ada apa Tuan? Apa ada masalah?" tanya Amran yang melihat raut wajah Vir nampak berbeda


"Tidak ada. Pak Amran jika ingin kembali ke kantor duluan tidak apa, saya masih ada beberapa urusan"


Amran terlihat ragu-ragu meninggalkan bos mudanya itu.


"Jangan khawatir, saya baik-baik saja. Kembali lah lebih dulu dan selesaikan beberapa berkas yang belum selesai di meja saya"


"Kalau begitu saya pamit Tuan muda! Semoga urusan anda segera selesai" Amran membungkuk memberi hormat


Vir yang tak suka diperlakukan seperti itu hanya menggeleng kecil sambil memijat pelipisnya.


"Pak Amran tunggu!"

__ADS_1


Pak tua yang sudah melangkah menghentikan langkahnya dan berbalik dengan melemparkan tanya dari raut wajahnya.


"Gunakan sebagai ongkos taksi!" Vir yang terlihat merogoh dompetnya memberikan beberapa lembar uang merah pada sang Asisten.


Amran terpaku menerima uang itu.


"Ambil saja, anggap sebagai tip karena kita tidak pulang bersama"


"Ini tidak perlu tuan" tolak Amran


"Ambillah Pak, jika tidak saya akan marah"


"Eh, terimakasih tuan muda! kalau begitu saya pamit dulu"


Selepas kepergian Amran, Vir langsung meraih Hp-nya dan menelepon seseorang. Namun saat panggilan itu sudah tersambung hanya tinggal menunggu yang di telepon mengangkatnya Pria itu malah membatalkan panggilannya dan melangkah pergi dari sana.


Sementara itu di rumah sakit, Seorang wanita terlihat duduk santai di ruangannya. Kebetulan dia sedang tidak ada pasien sehingga memutuskan untuk istirahat sejenak.


Wanita itu adalah Aileen, ia menatap layar ponselnya yang menyala sekejap kemudian kembali mati.


"Ada apa menelepon?" lirihnya saat melihat nama orang yang melakukan panggilan itu.


Ia pun menelepon balik suaminya, namun tidak diangkat.


"Sepertinya tidak begitu penting, aku akan tanyakan langsung saat bertemu nanti" Mengerdikkan bahu seraya meletakkan Hp-nya di meja.


****


#Di Butik


"Pak, saya bersyukur anda datang! Saya sangat khawatir Ibu kenapa-kenapa" ucap seorang wanita yang sepertinya sekertaris Fia.


Wajah Vir terlihat terpaksa datang kemari, Jika tidak menyangkut nyawa ia mungkin tidak akan mau lagi menginjakkan kaki di butik ini.


"Apa ada kunci cadangan?" tanya Vir pada beberapa staf yang ikut bersamanya.


Kini mereka sudah berada tepat di depan ruangan Fia.


"Ada dan kami sudah mencobanya, tapi di kunci dari dalam makanya kami tidak bisa masuk"


Vir benar-benar tak habis pikir dengan tindakan Fia yang selalu menyiksa diri seperti ini jika ada masalah.


"Kita dobrak saja, hanya itu jalan satu-satunya"


Para staf itu pun menyetujui usulan Vir, karena sepertinya hanya itu yang bisa dilakukan untuk mengeluarkan Bos mereka dari dalam sana.


Mereka semua pun menyingkir dari ambang pintu agar Vir lebih leluasa melakukan aksinya.


Pria itu mengambil ancang-ancang dan dalam hitungan detik ia berhasil mendobrak pintu yang cukup terkunci kuat dari dalam sana.


Mereka semua pun mengintip penasaran, ingin melihat bagaimana keadaan bos mereka.


Semua staf berbisik tentang kejadian hari itu, karena saat terakhir kali Virendra datang dari situlah awal mula bos mereka mengurung diri.


Tidak ada yang tahu persis masalah apa yang terjadi, namun melihat Fia yang seperti ini mereka bisa menduga telah terjadi masalah besar.


Vir yang sudah masuk ke ruangan itu, berjalan ke arah Fia yang duduk meringkuk di sudut ruangan.


Hati Vir ngilu melihat kondisi wanita yang pernah ia cintai begitu lusuh dan acak-acakan seperti orang gila.


"Fi..!"


Fia yang tadinya menunduk seraya memeluk lututnya tidak menyadari seseorang telah berhasil masuk ke sana.


Fia mendongak, saat menyadari Vir ada di sana pupill matanya mengembang, tersirat pengharapan di mata wanita itu.


"Vir, aku tahu kamu tidak bersungguh-sungguh kan! Aku tahu kau masih sangat mencintaiku" Fia ingin meraih tangan Vir namun pria itu malah menghindar membuat tatapan mata wanita itu berkaca-kaca membendung bulir bening yang siap meluap kapan saja.


"Fi, jangan terus-terusan menyiksa! Kapan kau mau berubah jadi lebih dewasa, Tidak seharusnya menyiksa diri seperti ini" ucap Vir jengah yang sedari dulu tahu Fia selalu begini setiap kali menghadapi masalah kecil dengan siapapun itu.


"Ini semua karenamu, kau yang membuat ku seperti ini dengan meninggalkan aku dan memilih wanita itu" ucap Fia sedikit berteriak dengan air mata yang mulai tumpah.

__ADS_1


Melihat apa yang terjadi, para staff yang masih berdiri di depan pintu kini tahu masalah apa yang terjadi diantara kedua orang itu.


"Oh jadi itu masalahnya?"


"Jadi Pak Vir memiliki wanita lain di sisinya dan mencampakkan ibu"


"Pria tampan memang sulit dipercaya"


ucap mereka saling berbisik dan menghakimi satu pihak sedangkan mereka sama sekali tidak tahu kebenarannya.


Maafkan aku Fi, tapi inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Aku tidak mungkin meninggalkan istriku dan memilihmu..


"Sudahlah Fi, Aku kemari bukan untuk berdebat melainkan untuk melihat kondisi mu. Tolong jangan seperti ini!"


Vir melirik jam tangannya, Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat. Itu artinya dia sudah melewati janjinya dengan sang istri. Sudah pasti Aileen akan mengira dirinya tak menepati janji.


"Aku harus pergi, Jaga dirimu baik-baik" Vir melangkah meninggalkan Fia yang mulai teredu-sedu.


Saat setengah langkah Vir berbalik menatap wanita itu "Dan satu lagi, jangan pernah bertindak konyol seperti ini. kau harus tetap menjalani hidup" ucap Vir kemudian melenggang pergi.


****


Sementara itu, Aileen yang sudah lama menunggu memutuskan untuk menunggu Vir di sebuah Cafe yang tidak jauh dari Rumah Sakit.


Ia pun sudah mengirimkan pesan pada suaminya itu jika dirinya masih menunggu di Cafe yang berada di seberang rumah sakit.


Saat di Cafe pun wanita itu masih menunggu namun Virendra tak kunjung datang. Bahkan pesannya pun masih tercentang dua, itu artinya dia belum membacanya.


Saat tengah menunggu, Aileen yang sedang menyantap salad buah sambil berselancar di media sosial dikejutkan oleh suara seseorang yang dikenalnya.


"Hey Eil, kau juga ada di sini?"


"Eh Za.." Aileen mendongak menatap Zaky yang berdiri tepat di sampingnya "Aku sedang menunggu seseorang, kamu sendiri kenapa bisa ada di sini?"


"Kantor ku tidak jauh dari sini!" Zaky tersenyum "Boleh aku duduk?"


"Tentu, silahkan".


Mereka pun mengobrol bersama.


Tidak terasa hari sudah berganti malam namun Vir tak kunjung datang. Bahkan ini sudah lewat jauh dari janji yang mereka buat.


Zaky yang menyadari raut wajah Aileen tidak bai-baik saja terlihat kuwatir.


"Apa ada masalah?" Zaky memiringkan kepalanya menatap wajah Aileen


Membuat wanita itu tersenyum canggung dan menggeleng.


"Sudah waktunya makan malam, bagaimana kalau kita makan bakso seperti dulu" tawar Zaky, Ia tahu telah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu namun sepertinya Aileen enggan untuk mengatakan apapun pada dirinya.


Aileen yang sangat doyan bakso pun langsung berbinar senang, moodnya jadi lebih baik. seketika ia melupakan kekesalannya pada Vir yang sudah membuatnya menunggu lama.


Lebih baik aku pergi makan bersama Zaky daripada menunggu Vir. Hmmnt ya lebih baik begitu, mungkin dia ada urusan mendadak yang tak bisa ditinggal..


"Kebetulan sekali aku sedang lapar, mau makan dimana?"


"Bagaimana kalau makan di warung pinggir jalan seperti kebiasaan kita dulu" ucap Zaky ragu-ragu, takut jika Aileen akan menolak pergi ke tempat seperti itu.


Zaky sendiri ingin makan di tempat itu bukan tanpa sebab, Ia ingin mengulang kembali kenangan mereka dulu yang selalu menjelajah kuliner pinggir jalan.


"Ide bagus, Ayo pergi sekarang"


Tak disangka Aileen malah setuju, Zaky senang sebab sahabatnya itu sama sekali tak berubah.


"Apa kau yakin?”


Seulas senyum penuh keyakinan tersungging dari bibir Aileen


"Ah baiklah, kebetulan aku punya tempat baru yang rasa baksonya terkenal enak se-Indonesia raya" ucap Zaky bersemangat.


"Haha yang benar saja, memangnya kau pernah makan bakso keliling Indonesia?" terkekeh geli

__ADS_1


"Emnnt belum, tapi aku pikir akan melakukannya" sahut Zaky yang mana membuat Aileen tak berhenti tertawa


"Ayo!" Keduanya pun beranjak meninggalkan cafe itu pergi menuju tempat yang Zaky maksud.


__ADS_2