Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 113


__ADS_3

Setelah beberapa menit berkendara, akhirya Virendra dan Aileen pun sampai di rumah. Namun saat hendak mengarahkan kemudi ke halaman rumah, mata Aileen tiba-tiba tertuju pada sosok punggung tegap pria yang cukup dikenalnya sedang berdiri tepat di bawah pohon palem yang berada di samping rumah Moza.


“Loh, itu bukannya kak Vino?” tanyanya sambil menengok ke kiri, sedangkan Vir mulai menginjak pedal rem, memarkirkan mobil yang dikendarai tepat di belakang mobil milik mereka.


“Kak Vino tahu jika kau datang hari ini?” Aileen kembali bertanya saat Vir sudah mematikan mesin mobil dan melepaskan seat-belt nya lalu dengan kening berkerut ikut menoleh ke arah pandang Aileen.


“Sama sekali tidak ada yang tahu selain Dito..” ucap Vir lalu mulai membuka pintu mobil “Jangan lupa langsung telepon supir! Mobilnya dijemput sekarang.. Halaman terlalu sempit jika menampung tiga mobil sekaligus..” lanjut Vir, dan Aileen sebelum turun segera melakukan apa yang Vir perintahkan.


Ia menelepon supir keluarganya, karena memang yang mereka gunakan pulang adalah mobil dari rumah Daddy.


Setelah selesai, Aileen pun segera menyusul untuk turun. Sementara Vir mulai mengeluarkan barang-barang mereka dari bagasi.


“Itu memang kak Vino, Moon..” ucap Aileen saat melihat pria yang sedang mengobrol dengan Moza itu kini sama-sama melangkah ke arahnya.


“Eil, Vir..” sapa Vino


“Hay...” sapa Moza ramah


“Hay mbak..” balas Aileen lalu beralih menatap kakak iparnya “Kalian saling kenal?” itu merupakan pertanyaan yang pertama kali ingin Aileen katakan sejak awal melihat Vino bersama Moza, pasalnya keduanya terlihat cukup akrab satu sama lain, seperti orang yang sudah kenal lama.


“Ehh..” Vino tersenyum salah tingkah sambil tak sengaja saling tatap dengan Moza “Tidak, ini juga baru berkenalan..” lanjut Vino


“Iya, ternyata Mas ini kakaknya suami mu ya, Eil..” sahut Moza.


“Hah, Mas?” kening Aileen semakin berkerut. Baru kenal, tapi panggilannya sudah seakrab itu.. ucap Aileen membatin


“Tadinya Aku ada urusan tidak jauh dari sekitar sini dan kebetulan dapat kabar dari Dito jika Vir datang hari ini, jadi Aku langsung menyempatkan diri untuk mampir..” ujar Vino, sebisa mungkin menjelaskan secara detail saat melihat raut wajah tak biasa dari Aileen, yang seolah masih mempertanyakan pertemuannya dengan Moza, tetangganya itu. Ya, walaupun pada kenyataannya, ia memang tak sengaja bertemu dengan Moza yang kebetulan melihatnya datang.


Vir yang baru selesai menurunkan barang pun, langsung ikut bergabung diantara mereka.


“Dan pas kemari, ternyata kalian belum datang, lalu kami tidak sengaja bertemu. Kebetulan mbak ini tadi sedang buang sampah..” Vino menjelaskan dengan begitu tenang, sesuai bawaannya yang memang lebih kalem daripada Adiknya yang terbiasa arogan itu.


“Jadi ceritanya kau kemari karena merindukan ku?” sahut Vir dengan mata mengerling ke arah Vino


Vino mengerdikkan bahu dengan bibir mencebik “Tentu.. Aku merindukan adik ku..” Dito menarik bahu Vir lalu merangkulnya dengan setengah memiting.


Aileen yang tadinya diliputi rasa ingin tahu yang besar tentang kedekatan tak biasa Moza dengan Vino, mulai tersenyum demi melihat tingkah dua pria di depannya itu, begitu pula dengan Moza.


“Yakin karena aku?” bisik Vir lagi, yang mana langsung mendapat toyoran dari Vino


“Sembarangan! jangan berpikir yang tidak-tidak, kami bahkan hanya kebetulan bertemu.. Tidak ada hal lain..” Vino mendelik sebal dengan setengah berbisik.


“Semoga saja!!” sahut Vir sambil melepaskan rangkulan Vino dari tubuhnya lalu berjalan sambil menarik kopernya.


“Bantu angkat, Vin..! jangan jadi penonton!!”


Vino pun segera membantu sang Adik. Sementara dua wanita itu masih asyik berbincang dengan saling bertukar kabar mengenai kegiatan mereka belakangan ini.


“Jadi, suamimu baru datang dari Korea?” begitu kata Moza saat tahu alasan ia dan Vir beberapa hari tak ada di rumah. “Hotelnya menjadi salah satu peraih penghargaan hotel terbaik?” tanya Moza antusias


Aileen menggangguk dengan senyum mengembang. Penuh rasa bangga.


“Wah, sangat luar biasa! Keren, keran..” Moza mengacungkan dua jempol


“Terimakasih Mbak..”

__ADS_1


Setelah itu mereka kembali berbincang beberapa saat, lalu Aileen pun mengajak Moza untuk masuk ke rumah, namun wanita itu menolak dengan alasan ingin melihat baby-nya.


“Apa mbak yakin tak ingin masuk, Kak Vino sedang menunggu mu..” goda Aileen


Moza yang digoda nampak malu-malu “Jangan berlebihan! kami bahkan baru saling kenal..” gerutunya, sebelum akhirnya melangkah pergi.


Setelah itu, Aileen pun segera masuk. Saat sampai di ruang tamu, hal pertama yang di lihatnya adalah Vino yang menerima trofi dari Vir.


“Wih.. keren, keren.. ini bentuknya lumayan unik, Vir..” ucap Vino sambil mengamati trofi berbentuk kerucut terbalik berbahahan setengah kristal dengan bagian atasnya terdapat bintang yang terbuat dari emas.


“Kau benar, ini desainnya paling beda dari trofi yang pernah aku dapatkan” sahut Vir sambil mengeluarkan sesuatu dari kotak yang cukup besar dari kopernya.


“Mau dibuatkan minum apa?” tanya Aileen menengahi


“Tidak perlu, Eil.. Aku hanya sebentar! Setelah ini masih harus pergi..”


Aileen pun hanya menggangguk lalu ikut duduk disamping Vir.


“Ini untukmu, ini untuk Ayah dan ini untuk Ibu..” Vir mengangsurkan tiga kotak berukuran berbeda ke hadapan Vino. Ukuran kotak tersebut cukup bervariasi, mulai dari sedang, kecil dan yang paling kecilnya lagi.


Dari yang Aileen lihat, ukuran kotak milik ibu lah yang paling kecil. Aileen begitu senang melihat keakraban dua kakak beradik itu. Bahkan ia ikut bangga ketika suaminya ternyata memberikan hadiah untuk keluarganya juga. Bahkan tadi sebelum pulang, Vir juga sempat memberikan hadiah pada keluarganya.


“Maaf, seharusnya kau jadi orang pertama yang kuberikan hadiah tapi waktunya tidak tepat..” begitu kata Vir saat lebih dulu memberikan hadiah pada Daddy dan keluarga yang lainnya, namun Aileen sama sekali tak mempermasalahkan itu, melihat Vir sudah repot-repot membeli hadiah saja ia sudah begitu senang.


“Wah, sejak kapan kau jadi pria yang penuh kejutan begini?” Vino meletakkan trofi tersebut, lalu beralih meraih kotak yang katanya untuk dirinya


“Jangan dibuka sekarang, heh..”


“Haha baiklah..!” Vino terkekeh dan mengurungkan niatnya untuk membuka kotak hadiah miliknya


“Emmnt, yang ini Kau saja yang langsung berikan pada Ayah da Ibu, pasti mereka akan sangat senang..” sambil melirik arlojinya, Vino mulai beranjak “Aku masih ada urusan..”


“Apa susahnya dibawa lalu berikan nanti.. Aku juga masih ada urusan, entah kapan baru bisa berkunjung..” ujar Vir


“Baiklah, biar aku bawa..” Vino meraih dua kotak milik ibu dan Ayah lalu memasukkannya ke dalam paper bag kefil yang sudah disimpan


“Kaalau begitu aku pamit dulu..!”


Setelah Vino pergi, Vir meraih trofi itu dan memberikannya pada sang istri.


“Maaf, lagi-lagi yang melihatnya lebih dulu bukan dirimu”


Aileen tersenyum sambil menerima trofi tersebut.


“Tadinya aku ingin kau jadi orang pertama yang melihatnya, tapi Vino begitu tidak sabaran..” gerutu Vir


“Tidak masalah, toh aku juga sudah lihat.. Selamat ya, Moon..” Aileen mengecup pipi Vir, membuat pria itu menariknya dalam rengkuhannya.


“Ohiya, aku juga punya sesuatu untukmu..” Vir melepaskan rengkuhannya lalu meraih sesuatu dari dalam kopernya


Dengan wajah berbinar, Aileen terus memperhatikan suaminya.


“Ini..”


“Apa?” dengan kening berkerut Aileen menerima kotak hadiah berukuran kecil, Ia tersenyum saat melihat cincin berlian di dalamnya.

__ADS_1


Di raihnya cincin tersebut, dengan permata berbentuk hati dari batu Ruby berwarna merah. Sangat indah dan elegan.


Denga mata berkaca-kaca, Aileen membaca tulisan kecil yang terukir di dalam cincin itu Virendra💘Aileen . Membuatnya makin mengharu biru.


“Dulu Aku pernah tidak menyukai inisial kita yang ada di cincin pernikahan ini” Vir menunjuk cincin pernikahan miliknya “Tapi sekarang aku ingin menebus itu, Aku ingin kau menggunakan cincin yang di dalamnya terukir nama kita, bukan hanya inisial saja..”


Vir meraih cincin tersebut, lalu menyematkannya pada jari manis di tangan kiri Aileen.


Tanpa bisa berkata-kata lagi, Aileen langsung berhambur ke dalam pelukan Vir. Bukan hanya ucapan sang suami yang membuatnya mengharu biru, tetapi belakangan ini tindakan pria itu benar-benar berubah dan kian lembut dari biasanya. Hal itu tentu merupakan perubahan besar bagi seorang Virendra, entah apa yang melatar belakangi, namun melihat tutur katanya yang kian melembut bukan hanya pada dirinya tapi juga pada sang Kakak tadi, membuat Aileen merasa bangga padanya.


Vir yang melihat Aileen langsung berhambur kepelukannya, membuat ia langsung membalas pelukan itu dengan tak kalah eratnya.


“Terimakasih Daddy, hadiahnya sangat indah..”


Mendegar kata Daddy, Vir langsung melepaskan pelukannya. Ia teringat jika harus membawa Aileen untuk periksa kandungan.


“Kita harus ke rumah sakit sekarang..”


...______...


“Ck, sudah ku bilang aku tidak ingin ke rumah sakit ini..” gerutu Vir saat sudah berdiri tepat di depan pintu ruangan yang bertuliskan dr Wandika Kusuma Sp.O.G


Kalian tentu tahu siapa pemilik nama tersebut.


Yaa, setelah melakukan registrasi. Aileen memang mendapatkan jadwal penanganan oleh dr Wandi. Karena kebetulan hari itu hanya dr Wandi lah Obgyn yang pasiennya terbilang sedikit untuk hari ini, tentu itu menjadi rekomendasi utama agar tak menunggu lama. Hal itu tentu membuatnya ketar ketir.


Tentu saja, memangnya siapa yang rela jika istrinya harus ditangani oleh pria yang jelas-jelas pernah mengajak istrinya berkencan secara terang-terangan.. Is the Fuc*ing real.


Sedari awal, Vir memang menolak untuk datang ke rumah sakit itu. Mengingat serentetan masalah terakhir terjadi di sana, membuat ia enggan untuk meninjakkan kaki di sana. Namun karena Aileen mengatakan rindu dengan rekannya, jadilah ia terpaksa menyetujuinya.


“It's Okey Moon.. dr Wandi tidak akan macam-macam, dia pasti profesional” Aileen mengusap lengan Vir, berusaha menenangkan


Namun Vir terlihat masih tak terima. Pria itu masih saja menghembuskan napas dengan kasar. Lagi pula tidak ada pilihan lain, sebab semua dokter sedang ada pasien dan ia yang tadinya ngotot dan tidak sabaran ingin segera memeriksakan keadaan sang istri justru berubah murung ketika melihat nama Obgyn yang akan menangani sang istri.


Wajah yang tadinya begitu antusias itu, kini berubah menjadi tatapan geram tak terima. Bahkan tanpa semangat.


“Ibu Aileen Zavierra Utama..” panggil ramah seorang perawat setelah melihat seorang ibu hamil yang merupakan pasien terkahir dokter Wandi ke luar dari ruangan itu.


Aileen beranjak namun Vir segera mencegah tangannya “Kita ke Rumah sakit lain saja..” ucap Vir dengan raut wajah murung


Aileen menggeleng pelan dengan kening berkerut “Tidak bisa, Moon.. Kita sudah dipanggil, harus segera masuk..”


Setelah dibujuk oleh Aileen, barulah Vir mau menyetujuinya. Bahkan masih terdengar helaan panjang saat mulai memasuki pintu berplitur cokelat itu.


“dr Aileen, ternyata..” sapa perawat tadi begitu ia masuk ke dalan ruangan yang di dalamnya terdapat ruangan yang terbagi dengan sekat kayu berdesain unik


“Apa kabar dok, lama tidak bertemu..”


“Baik..” ucap Aileen sambil mendudukkan diri untuk melakukan beberapa pengecekan sebelum pemeriksaan inti.


“Silahkan duduk, Pak..” ucap perawat itu pada Vir yang masih saja menampakkan kegelisahannya.


“Sini..” lirih Aileen sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya


Dengan berat hati, Vir pun duduk. Ia terus memerhatikan serentetan pemeriksaan umum yang dilakukan perawat itu pada sang istri. Mulai dari pengecekan tensi darah, cek Hb, tinggi badan, berat badan, lingkar lengan dan sebagainya.

__ADS_1


“Nah, sekarang sudah boleh masuk untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter Wandi..” Perawat itu memberikan sebuah kertas dan buku berisi keterangan mengenai beberapa hasil pemeriksaan yang baru saja dilakukan.


__ADS_2