
Setelah mengambil mobilnya di rumah sakit Aileen pun langsung pulang ke rumah.
Dengan gontai ia melangkah masuk.
"Kau ini dari mana saja hah?? Kau pikir aku ini pengawal mu yang harus menunggu mu sepanjang malam" kata seseorang di belakang sana membuat Aileen yang hendak naik tangga menghentikan langkahnya. Ia berbalik mencari sumber suara, disana terlihat Vir yang tengah duduk di sofa dengan tatapan penuh amarah.
Astaga makhluk aneh ini selalu saja membuat jantung ku meloncat.
Aileen menghela nafas kasar, melihat Vir yang masih menatapnya.
"Maaf! tapi aku tidak pernah menyuruh mu untuk menunggu"
"Haisshh...Aku menunngu mu agar kau tak menggangu tidur ku dengan meminta ku membuka pintu untuk mu" ketus Vir
"Apa kau pikir aku ini bodoh dan kurang kerjaan sehingga mau menunggu mu tanpa alasan, sangat tidak penting!" Sambungnya dan Langsung melenggang pergi melalui Aileen yang masih mematung di dekat tangga.
"Apakah sulit baginya untuk bicara biasa saja, kenapa selalu ngegas seperti itu...dasar menyebalkan" gumam Aileen, setelah itu, ia pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ahhhkk rasanya aku lelah sekali.." Aileen merentangkan tangannya seraya menatap langit-langit kamar.
"Ini semua karena Virendra si pria gila itu, dia yang membuat seluruh tubuh ku remuk seperti ini "
Ehhh apa yang ku katakan, kenapa aku mengatainya gila, dia kan suamiku. Bukankah aku harus menghormatinya.. Ah tapi itu benar, dia memang gila..! Haisssshh kau ini kenapa Eil, segila-gilanya Vir dia tetaplah suami mu, kau harus menghargainya!! ingat kata mommy, jika ingin surga seorang istri harus patuh dan berbakti pada suaminya...
Lagi-lagi, perang batin terjadi. sungguh Aileen yang malang.
Saat tengah asyik perang batin, tiba-tiba saja ia teringat perlakuan manis Vir saat di rumah mertuanya tadi. Meskipun ia tahu itu hanyalah sandiwara, namun entah mengapa jantungnya selalu saja berdegup kencang jika mengingat hal itu.
Ia berguling kesana kemari di atas kasur seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Sudah seperti ABG labil yang baru puber, untung saja tak ada yang melihat tingkah memalukan seorang dokter Aileen.
Puas berguling, ia pun terdiam sejenak memikirkan sesuatu.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan berusaha menjadi istri yang baik. Apa pun yang terjadi aku akan bertahan" lirihnya lalu beranjak menuju kamar mandi.
••••
Seorang pria masih tertidur lelap di balik selimut tebalnya. Hari ini hari minggu jadi membuat ia malas beranjak.
Namun seketika ia mengerjapkan mata saat mencium aroma masakan yang menggugah selera bahkan mampu membangunkannya yang masih terlelap.
Ia pun beranjak menuju ke kamar mandi membasuh wajahnya, lalu segera turun ke dapur.
"Jika tak bisa masak lebih baik jangan, aroma masakan mu sangat menggangu membuat ku terbangun" omel Vir saat melihat ternyata Aileen yang masak.
Memangnya siapa lagi yang masak, toh kalian hanya tinggal berdua
Aileen tersenyum mendengar ocehan Vir. ia berbalik badan, tatapannya ternodai, ia terkesima melihat Vir yang bertelanjang dada. Sungguh wanita mana pun akan tertarik jika melihat pemandangan indah seperti ini, dada bidang dan roti sobeknya seolah melambai meminta untuk di sentuh.
Vir menatap ke arah pandangan mata Aileen, Ia tersadar, wanita itu sedang menatap tubuhnya.
Vir tersenyum kecut.
__ADS_1
"Cih kau bahkan tak berkedip menatap tubuhku, Apa kau tergoda?" hardik Vir
"Hah Apa, siapa yang menatap mu?" Aileen gelagapan karena tertangkap basah menatap tubuh suaminya
Sepertinya kemampuan aktingnya semakin bertambah setelah adegan sandiwara yang ia lakukan kemarin
"Ternyata bakat berakting mu memang tak diragukan lagi"
"A-aku tidak berakting Vir, tadi aku melihat di dinding itu ada kecoak" lanjutnya mencari alasan, sungguh ia malu karena Vir menyadari bahwa ia menatap tubuhnya
"Haissh, kenapa di rumah ini bisa ada serangga menjijikkan itu. Sepertinya kau tidak membersihkan rumah dengan benar" ucap Vir yang tahu itu hanya alasan Aileen "Mulai sekarang aku tidak mau tahu, setiap pagi kau harus membersihkan rumah dulu sebelum berangkat kerja" Vir tersenyum licik
"Baik akan aku lakukan" jawab Aileen enteng
Vir yang mendengar Jawaban Aileen dibuat tercengang, bukan ini yang ia harapkan. Ia berharap Aileen keberatan dan menolak permintaannya namun justru sebaliknya, wanita itu malah setuju tanpa menolak.
Apa dia masih waras, harusnya dia menolak ku. Ahh kenapa dia bisa mengerjakan semuanya seperti ini. bukankah dia ini wanita manja yang hanya bisa mengandalkan orang tuanya. Aku jadi kesulitan membuatnya kewalahan..
"Makanlah..!" Aileen meletakkan semangkuk
sup dan udang sambal di atas meja
Vir tersentak dari lamunan, ia menatap penuh selera pada makanan yang ada di depannya.
"Aku tidak mau, Masakan mu tidak enak! aku sudah merasakannya kemarin, rasanya sangat buruk, tidak pantas di makan oleh manusia" tolaknya
Aileen melangkah keluar sebab mendengar suara bell berbunyi, sepertinya mereka kedatangan tamu.
Kembali ke ruang makan
Dasar wanita menyebalkan, kenapa sangat sulit membuatnya terpojok..
"Sial, ini semua karena kemarin aku mencela masakannya, tidak mungkin kan jika hari ini aku menyantap ini. Yang ada nanti dia akan besar kepala jika aku menyukai masakannya" ucap Vir gengsi
Niat hati ingin menindas Aileen malah ia yang merasa tertindas, wanita itu terlalu tangguh untuk pekerjaan rumah tangga seperti ini. Ia bahkan bisa mengerjakan semuanya. Pikirnya
Ia terus menatap hidangan itu.
Vir terus menatap ke luar ruangan, memantau pergerakan Aileen. Ia menyendokkan satu suapan ke dalam mulutnya
"Huhh, ini lezat sekali" ucap Vir sambil mengunyah sambal udang
Haisssh kenapa aku malah memuji masakannya
Vir menggeleng, tanpa sadar ia terus menyendok udang dan sup itu secara bergantian.
Sementara itu di luar, Aileen yang baru saja membuka pintu cukup terkejut saat melihat seorang pria yang tidak ia kenal berdiri di sana dengan senyum mengembang di wajahnya
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Aileen
"Vir nya ada? perkenalkan saya Dito sahabat sekaligus asisten pribadi Virendra" Dito mengulurkan tangannya
__ADS_1
"Eh iya, saya Aileen" ucap Aileen canggung
Aileen pun mempersilahkan Dito masuk untuk sarapan bersama.
"Hy Vir" sapa Dito tersenyum lebar
"Kau??"
Vir menatap penuh tanya, kenapa sahabatnya itu datang sepagi ini.
Sementara Aileen tak henti-hentinya menatap ke arah hidangan yang kelihatannya sedikit berkurang. Ia memicingkan matanya menatap ke arah Vir
Huh daasar payah, katanya masakan ku tidak enak tapi apa ini? dia bahkan diam-diam memakannya, dasar aneh!!!
Vir beralih menatap Aileen, ia melemparkan tatapan mematikan saat Aileen terus menatapnya. hal itu seketika membuat Aileen mengalihkan pandangannya.
Sejujurnya Vir cukup senang dengan kedatangan Dito, jadi ia tak perlu canggung karena telah memakan masakan Aileen. Dengan adanya Dito, tentu ia dengan bebas menyantap semuanya.
"Silahkan makan Pak Dito"
"Terimakasih dok, kebetulan sekali saya sedang lapar"
"Ahh santai saja, jangan memanggil saya dengan sebutan itu. Kita tidak sedang berada di rumah sakit! panggil nama saja"
Dito mengangguk mengerti
"Berhentilah berbasa basi" bisik Vir pada Dito.
Namun sepertinya pria itu tak mengindahkan perkataan Vir, ia justru terus mengoceh dengan berlagak sok akrab pada Aileen. Ia bahkan berulang kali mengatakan pernah menjadi pasien Aileen, namun Aileen sama sekali tak mengingatnya.
"Masakan istri mu sangat lezat Vir, kalau seperti ini aku juga ingin dijodohkan seperti mu! tapi aku mau yang seperti Aileen" bisik Dito
"Kau ini berisik sekali, diamlah.! aku jadi tak berselera karena mu"
Dito menatap pada piring Vir, pantas saja dia tak berselera toh makanannya sudah habis. pikir Dito
Setelah selesai makan, Vir dan Dito pun langsung beranjak ke ruang tamu.
"Ada apa kau kemari?" tanya Vir
"Aku ingin menyerahkan ini" Dito memberikan sebuah map yang harus di tanda tangani Vir
Vir pun menandatangani berkas itu lalu kembali menyerahkannya pada Dito.
"Bukankah ini rumah yang kau pilih dengan Fia dulu?" tanya Dito seraya mengedarkan pandangannya menatap interior rumah itu
"Iya, kau jangan jadi ember bocor"
"Memangnya siapa yang akan jadi ember bocor untuk siapa, kurang kerjaan sekali!" timpal Dito yang mengerti maksud Vir. "Fokus lah dengan rumah tangga mu, kau tak perlu terus-terusan memikirkan Fia"
"Diamlah, kau tak perlu ikut campur..!"
"Tapi Vir, kau ini sudah menikah..jangan sampai ada yang tersakiti diantara kalian"
Vir menarik nafas dalam, itulah yang selama ini ia pikirkan. Ia takut jika suatu saat Fia datang dan mengetahui ia telah menikah, entah bagaimana cara menjelaskannya pada wanita itu.
__ADS_1