
Begitu tiba di rumah sakit. Aileen dan Dito langsung menunju lantai tempat ruangan Virendra berada. Setibanya di sana perasaannya kian kacau saat melihat seluruh keluarga sedang duduk dengan wajah penuh khawatir.
Ia tak bisa terus membohongi diri jika suaminya pasti baik-baik saja. Kenyataan melihat raut wajah panik dari semua orang yang ada di sana. Benar-benar membuat hatinya sakit. Namun air matanya tak lagi keluar, bulir bening itu seakan sudah kering dan membeku. Sehingga dalam keadaan seperti ini tak ada lagi air mata yang mau keluar.
“Vir, kenapa?" Tanya Aileen pada Vino yang tengah duduk sambil menguatkan Ibu yang tengah menitihkan air mata.
Di sana juga ada Mommy dan Biyan, Setiap hari, Mommy Aileen itu memang selalu meluangkan waktu untuk menjenguk menantunya.
“Kak Vino, apa yang terjadi?" Desak Aileen sembari menggoyangkan tubuh Vino, menuntut jawaban dari pria itu.
“Eil," Mommy yang melihat itu segera menghampiri putrinya. Takutnya wanita hamil itu tak bisa mengontrol diri. Kata dokter kandungan, dia harus bisa mengontrol diri agar tak memicu tekanan darahnya naik. Itu sangat berbahaya bagi ibu hamil, apalagi di trimester akhir ini.
“Ingat nak, kau sedang mengandung. Kasian dia jika terjadi sesuatu padamu.” Mommy berusaha menenangkan Aileen dengan mencoba mengusap perut buncitnya.
Aileen yang sadar akan keadaannya lantas menunduk dengan wajah ditekuk. Ia merasa sangat tak berdaya dalam situasi ini.
Sedangkan ibu mertuanya yang melihat Aileen seperti itu, segera memeluk wanita hamil itu. Ibu Melinda merasa bersalah. Seharusnya ia lebih bisa mengontrol diri untuk tidak menangis di depan Aileen yang bisa memicu kepanikan berlebih bagi Ibu hamil itu.
“Maafkan, Ibu ya, nak.” Tangan Ibu tergerak mengusap bahu Aileen dan perutnya secara bersamaan “Tidak perlu khawatir, suamimu kuat. jelas dia akan baik-baik saja. Dokter pasti bisa menangani" Lirih Ibu berusaha saling menguatkan. Ketiga wanita itu lalu saling berpelukan.
Aileen merasa sedikit lebih tenang mendapat pelukan dari Ibu dan Mommy secara bersamaan.
“Kak, Apa yang terjadi?” Aileen masih berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada Vino. Baginya terlalu lama jika harus menunggu dokter keluar untuk menjelaskan apa yang terjadi di dalam sana.
“Tidak ada, Eil. Hanya masalah kecil" Vino menepuk bahu Aileen berusaha menenangkan adik iparnya yang kelihatan begitu cemas.
“Tapi kak.." Belum sempat Aileen menyelesaikan ucapannya, Mereka semua dibuat menoleh ketika dokter keluar dari ruangan ICU.
“Pak Vino, Bisa bicara sebentar?" Dokter itu melepaskan masker yang melekat menutupi bagian mulut dan hidungnya.
Tanpa banyak bicara Vino segera mengikuti langkah Dokter tersebut.
“Saya ikut.” Lirih Aileen, Yang mana membuat semua menggeleng tak mengizinkan.
“Kita tunggu di sini saja ya, nak.”
“Iya Eil, biar kakakmu saja yang pergi" Sahut Ibu yang juga berusaha mencegah Aileen.
“Eil, tunggulah di sini. Biar aku yang menemani Bang Vino." Sahut Dito Sambil menatap Ibu, memohon izin. Setelah mendapat Izin dari anggukan Ibu, Dito segera berlari menyusul Vino dan Dokter yang selama ini menangani Virendra.
Sementara Aileen, dia hanya bisa melenguh pasrah sambil menunggu kabar. Dia sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Virendra.
...........
“Kondisi jantung adik Anda sempat melemah.”
__ADS_1
Dito dan Vino saling pandang mendengar penjelasan dokter yang seperti sebuah panah yang menghantam telak di jantung keduanya.
Jika begini, bagaimana caranya harus menyampaikan berita buruk ini pada dua wanita rapuh yang tengah menunggu penuh harap di sana. Jelas mereka akan down mendengar semua ini.
Dnegan seksama Dito dan Vino mendengar penjelasan apa saja kemungkinan yang terjadi jika sudah seperti ini. Kata Dokter, kecil kemungkinan untuk mengharapkan orang yang sudah koma selama ini untuk bangun.
“Apa saya bisa bertanya dok?" Vino yang sudah lama memendam berbagai tanya dibenaknya pun memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang menurutnya sangat penting untuk diketahui.
“Bisa, silahkan Pak.”
“Begini Dok, adik saya kan sudah koma selama ini. Keajaiban bisa saja terjadi, Jika suatu hari nanti dia sadar, apakah dia tidak akan mengalami sesuatu yang berbahaya dan bisa kembali seperti sedia kala?" Ragu-ragu Vino mengatakan itu. Namun inilah kenyataannya, dia yang awam perihal medis begitu penasaran akan hal itu. Sungguh dia takut jika suatu yang buruk terjadi pada adiknya.
Pria berjas putih itu menghela napas kemudian tersenyum “Begini.." Doker itu meraih sebuah gambar dan satu-satu menejelaskan titik cedera parah yang dialami Vir hingga membuat ia mengalami koma vegetatif seperti ini.
Vino dan Dito dengan seksama mendengarkan penjelasan sang dokter.
“Ada sebagian penderita yang dapat sembuh total dari koma tanpa kecacatan, dan ada yang mengalami penurunan fungsi otak atau bagian tubuh tertentu seperti..." Dokter menggantung ucapannya, Pria paruh baya degan nametag Wiguna, di dadanya itu menatap Vino dan Dito secara bergantian.
“Seperti apa Dok?" Tanya Vino penasaran. Apapun jawaban dokter, ia harus bisa menerima dengan lapang. Adiknya sudah koma terlalu lama, ia jelas harus siap menerima kemungkinan terburuk jika dia sadar nanti.
“Maaf, seperti kelumpuhan contoh kecilnya. Itu hal yang paling sering dialami oleh pasien setelah sadar dari koma vegetatif atau koma panjang seperti yang adik Anda alami.”
Dito dan Vino menggeleng mendegar itu.
“Tapi kita doakan saja yang terbaik, serahkan pada Allah. Dia sebaik-baik tempat untuk meminta dan memohon.” Jelas Dokter Wiguna sedang berusaha membesarkan hati dan menguatkan mereka untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
“Sebenarnya beda-beda, tergantung kondisi dan separah apa luka yang dialami” Dengan penuh rasa sabar, Dokter Wiguna kembali mengulangi penjelasan yang sama. Yang pernah dia berikan. Namun waktu itu, dia hanya memberi tahu ini pada Daddy Al saat beberapa bulan yang lalu.
“Fungsi otak orang koma akan berangsur pulih dari waktu ke waktu dengan perawatan intensif, dimana peluang kesembuhan penderita koma tetap tergantung dari keparahan penyebab dan respon pasien terhadap pengobatan.”
Selepas mendengar banyak penjelasan. Kedua pria itu keluar dari ruangan Dokter Wiguna dengan wajah lesu, Keduanya berjalan di belakang dokter Wiguna untuk menemui keluarga yang lain.
Sebelumnya Vino meminta dokter Wiguna agar tidak mengatakan kejadian sebenarnya pada yang lain, terutama Ibu dan Aileen. Vino tidak ingin kedua wanita itu kembali down karena mengetahui kondisi Vir yang sempat memburuk.
“Kak.." Vino terlihat menampakkan senyum ketika Aileen langsung berlari menghampirinya.
“Bagaimana keadaan suami saya, dok? Dia baik-baik saja kan?" Cecar Aileen dengan penuh harap.
Dokter Wiguna mengangguk mengiyakan. “Dia akan baik-baik saja selama istri dan calon anaknya sehat."
Aileen tersenyum kaku mendengar ucapan dokter Wiguna yang memang sejak lama sudah akrab dengannya saat ia masih bekerja sebagai Dokter dulu. Namun, jawaban itu tak membuat hatinya tenang.
“Masuklah, Mungkin dia sudah sangat merindukan kalian.”
Meski sesuatu mengusik aneh di hatinya, Aileen tetap melangkah penuh semangat masuk ke ruang ICU. Dokter mengizinkan ia masuk dengan seorang perawat dengan harapan agar Aileen bisa merasa lebih tenang jika melihat kondisi Virendra secara langsung.
__ADS_1
Wanita hamil itu perlahan duduk di tepi ranjang, ditatapnya tubuh yang masih kaku tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang. Kondisinya masih sama, tidak ada perubahan sama sekali. Bedanya, alat medis yang terpasang tak sebanyak hari pertama pasca operasi waktu itu.
Bulir bening yang sudah lama tidak menetes itu kembali menggenang di pelupuk matanya. Aileen bisa merasakan matanya yang panas dan cairan bening siap tumpah saat itu juga.
“Hikks...” Perlahan Aileen menjatuhkan kepalanya di lengan Vir.
“Kenapa kau tidak bangun-bangun juga, hah?? Apa kau sudah tidak ingin hidup denganku dan anak kita??" Aileen yang selama ini menjenguk Vir dalam keadaan bungkam, kini menumpahkan seluruh keluh kesahnya di sana. Selama ini dia selalu tak mampu dibuat berkata apapun setiap kali melihat kondisi suaminya. Namun kini, ia menumpahkan semuanya. Tatapan dan perkataan dokter Wiguna tadi seakan menunjukkan senyum kepalsuan. Nalurinya mengatakan jika hal yang buruk baru saja terjadi pada suaminya. Hanya saja, semua orang menutupi itu darinya.
“Jika saat awal menikah dulu, Aku selalu berdoa agar kau mau melihat ku dan membuka hatimu untukku. Maka sekarang do'aku tetap sama, Vir.." Aileen menatap lekat-lekat wajah yang sudah terpejam terlalu lama itu.
“Aku masih meminta hal yang sama pada Allah, agar sekali lagi kau mau membuka mata untuk melihat ku. Melihat anak kita yang sebentar lagi akan melihat dunia, Vir.” Lirih Aileen sambil berusaha mengendalikan diri di sela rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
“Lihat aku, Vir. Lihat Aku. Tubuhku tidak seperti dulu, Perut ku besar karena mengandung anakmu! Apa kau tidak ingin melihat dia. Lihatlah, dia sudah sebesar ini. Dia tumbuh jadi anak yang kuat meski kau tidak bisa menemani dia bertumbuh di dalam sini" Aileen memajukan tubuhnya, agar tangan Vir dapat menyentuh perutnya. Ini hal yang biasa dia lakukan setiap harinya. Ia ingin janinnya tetap mengenal sang Ayah meski dalam kondisi yang seperti ini. Walau selama ini dia melakukannya dalam keadaan diam.
“Pasien, merespon ucapan anda. Bu" Perawat yang berdiri di belakang Aileen turut tersenyum melihat kemajuan pada kondisi Virendra yang baru saja menggerakkan jarinya.
“Coba lakukan lagi Bu."
Aileen menuruti perkataan perawat. Ia mendoktrin Vir dengan kata-kata mengenai anak mereka yang segera lahir. Sepertinya pria itu senang mendengar kabar mengenai calon anak mereka.
“Ku mohon bangunlah, anak kita membutuhkanmu. Apa kau tidak ingin dipanggil Daddy? Bukankah kau akan mengajarinya banyak hal."
Aileen terus mengatakan apa yang ingin ia katakan sambil mengingat kenangan saat mereka bersama dulu.
“Dia pasti akan sedih jika tahu Daddynya seperti ini hanya karena menyelamatkan hidup Mommynya dan dia..”
Tit, tit, tiiit...
Suara monitor itu semakin kencang, membuat perawat itu kian tersenyum lebar. Mengharapkan sesuatu yang baik akan terjadi.
“Kau tidak ingin dia kecewa kan? Makan dari itu, kumohon bangunlah. Jangan biarkan kami melalui hidup ini berdua tanpa kehadiranmu”
“Ku mohon bangunlah, Banyak hal yang telah terjadi tapi anak kita dengan kuat bisa bertahan melewati semua bersamaku."
Aileen dibuat semakin terisak ketika bulir bening terlihat menetes dari mata Virendra. Setelah sekian lama koma, ini yang pertama kalinya pria itu merespon dengan cara mengeluarkan air matanya.
Aileen menutup mulutnya tak percaya. Dia tak menyangka aksinya ini mendapat respon positif dari suaminya. Ia menyesal, kenapa tidak dari awal ia melakukan ini agar Vir bisa segera sadar.
“Kamu mendengar ucapanku?"
Monitor terus berbunyi bersamaan dengan air mata Vir yang terus mentetes. Aileen senang Vir bisa merespon keberadaannya.
Namun perasaan senang itu lenyap seketika saat ia melihat gadis pada layar monitor mulai berjalan dengan cepat dan mengeluarkan bunyi semakin kencang bersamaan dengan dada Vir yang naik-turun dan kembang-kempis.
Meski dia tahu apa yang terjadi pada suaminya, Namun Aileen yang panik tak bisa mengendalikan diri. Ia tak mampu mencerna apa yang terjadi.
__ADS_1
“Sus, panggil dokter Wiguna. Ayo cepat!"
“Tenang Bu, itu kondisi yang baik untuk pasien" Sebelum keluar, perawat itu berusaha menenangkan Aileen lebih dulu. “Tunggu sebentar, saya panggil dokter dulu.”