
Mentari pagi kembali menyapa, membagi cahaya menyinari dunia. Banyak yang bilang hari baru merupakan awal yang baru pula. Namun hal itu tak berarti bagi wanita yang satu ini, ya dialah Aileen. Ia harus melalui hari-hari dan memacu waktu hanya untuk satu kisah yang sampai kapan pun tidak akan bisa ia tebak akhirnya.
Bahkan untuk berharap ada kebahagiaan di dalamnya pun ia tak berani.
Ia hanya berusaha menjalani tugasnya sebagai seorang istri dengan baik, menutupi kebobrokan rumah tangganya dengan baik itu jauh lebih penting, hal itu dia lakukan demi tercapainya kebahagiaan orang-orang yang menginginkan pernikahan itu.
Ya dia hanya sibuk memikirkan perasaan orang lain, sampai membuatnya lupa cara membahagiakan dirinya sendiri.
Setelah kejadian malam tadi, ia berpuasa menahan diri untuk tidak membuka obrolan apa pun pada manusia aneh yang berstatus suaminya itu.
Ia sudah melakukan semua tugasnya, mulai dari membersihkan rumah dan menyiapkan makanan pun sudah dilakukan sejak pagi-pagi buta.
Virendra yang sudah siap dengan pakaian kerjanya pun menuruni tangga sambil menenteng tas kerjanya, ia tertegun melihat seisi rumah sudah bersih dan tertata rapi, Vir berjalan menuju ruang makan. Ia melihat berbagai sarapan sudah siap saji di sana. Namun satu yang tak ia lihat, Aileen, entah dimana keberadaan wanita itu.
Tak, tak, tak..
Vir mendengar suara drap langkah yang dihasilkan dari gesekan high heels wanita.
Di sana terlihat Aileen yang berjalan masuk ke ruang makan dengan tatapan datar tanpa ekspresi seperti biasanya.
Wanita itu berlalu begitu saja melalui Vir yang masih berdiri di sisi meja.
Vir merasa aneh, biasanya wanita itu lah yang terlebih dahulu menyapanya. Namun ia tak ambil pusing..
Vir pun mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya, ia menyerahkannya kepada Aileen yang sibuk memotong sandwich menggunakan garpu dan pisau..
Aileen menatap sekilas lalu kembali sibuk mengunyah sandwich nya
"Baca...!"
Aileen tak bergeming..
"Aku bilang baca Aileen Xavierra!!"
Aileen meletakkan garpu dan pisaunya, ia menarik nafas berusaha menenangkan diri. lalu mencepol rambutnya dengan menatap datar ke arah Vir.
"Kau ini kenapa hah?? apa kau dalam mode hemat suara?" Ucap Vir yang mulai kesal "Baca surat itu!!"
"Shhhit..! sudah!!"
Vir tersenyum "Lalu?" tanyanya, dengan memasang wajah sok lugu
Idiih, apa-apaan dia? kenapa memasang wajah sok lugu seperti itu..huhh ingin rasanya aku menampol wajahnya...
"Memangnya aku bisa apa, Kau mau memanipulasi ku kan??" Aileen mengangkat kedua alisnya lalu tersenyum
"Bukan memanipulasi, lebih tepatnya aku hanya ingin kau menuruti ku! sekarang tanda tangani.."
__ADS_1
"Tidak, Memangnya apa untungnya untuk ku.. Isinya semua merugikan ku.. Lagi pula tanpa surat itu bukankah aku selalu menuruti semua keinginan mu dan mengerjakan semuanya" tolak Aileen masih enggan menatap Vir dan sibuk dengan makanannya "Kenapa kita tidak bercerai saja Vir? Dengan begitu kau bisa kembali bersama kekasih mu dan aku bisa terbebas!!" Aileeen sudah tak bisa mengontrol dirinya, Kata kata itu lepas begitu saja. tidak, bukan itu yang ia inginkan, Meskipun ia tahu pernikahan ini tidak akan mudah namun ia tak pernah berpikir untuk melakukan perceraian, karena baginya kata itu merupakan hal yang tabu.
"Tidak semudah itu, kau berguna..! Semenjak aku menyetujui pernikahan kita, hubungan ku dengan Ayah dan ibu jauh lebih baik.. dan aku suka itu.. Lagi pula kau pikir Keluarga mu akan senang jika kita berpisah?? kita hanya akan berpisah jika Ayah ku tiada" Sambungnya
Aileen memalingkan wajahnya, ia kesal mendengar ucapan Vir.
Namun yang Vir katakan ada benarnya juga, jika mereka berpisah secepat ini sudah pasti Keluarga mereka akan menanggung malu. Lagipula Aileen sudah berkomitmen bahwa ia hanya akan menikah sekali seumur hidup tanpa adanya perceraian, Namun bisakah begitu jika suaminya terlihat begitu membenci dirinya.
"Tanda tangani lah, aku hanya tak mengizinkan kau membawa seseorang tanpa seizin ku ke rumah ini dan aku mau kau menuruti perkataan ku"
"Kenapa? Apa karena rumah ini rumah mu yang kau siapkan untuk kekasih mu itu?"
Vir sedikit terkejut, bagaimna Aileen bisa tahu.
Flashback On
Aileen yang tak sengaja mendengar obrolan Dito dan Vir, cukup terkejut saat mengetahui rumah ini ternyata rumah yang Vir siapkan untuk dirinya dan sang kekasih
"Jika memang begitu, kenapa dia membawa ku tinggal disini.. apa saat kekasihnya kembali dia akan mengusirku dari sini.."
Flashback Off
"Kalau begitu biar aku beli separuh rumah ini, agar aku pun punya hak di sini"
Vir tersenyum, Wanita ini sangat pintar.. pikirnya
"Jangan khawatir aku tidak akan mengusir mu dari sini, rumah ini atas nama ku atau bukan kau tetap punya hak disini! Lagi pula aku tak sejahat itu, aku masih mengerti tanggung jawabku untuk menaungi mu Sebagai istri ku" Ucap Vir santai.
"Aku membuat surat ini agar kau tidak melanggar isinya, Aku juga tidak ingin ada sembarangan orang datang ke rumah ini, jadi apapun itu kau harus meminta izin dari ku"
Ya Vir hanya membuat surat perjanjian yang berisikan bahwa dia lah peraturan yang harus Aileen turuti, selain itu Aileen juga harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, meminta izin dan persetujuan darinya jika membawa orang datang ke rumah ini.
Namun Aileen merasa itu merugikan dirinya, toh tanpa Vir minta ia juga akan mengerjakan semuanya terkecuali poin yang melarang bertemu dengan keluarganya tanpa seizin Vir dan melakukan semuanya harus dengan izinnya.
"Tidak, aku tidak mau Vir! Jangan memaksa ku.." Aileen meraih tasnya dan langsung beranjak pergi
Vir teriak frustasi, sangat sulit membuat Aileen menuruti keinginannya..
Dia benar-benar tidak mudah ditaklukkan, pikirnya.
***
Di kantor.
Semua staf karyawan berkumpul di depan gedung untuk melakukan morning briefing dari Virendra yang menjabat sebagai CEO baru. semua karyawan menatap kagum pada putra bungsu Hans itu, yang mana sangatlah tampan dan mencuri perhatian.
"kita akan selalu mendapat suntikan suplemen setiap hari jika pimpinan kita bening seperti ini" bisik para karyawan wanita yang masih lajang tentunya
"Jangan aneh-aneh, dia sudah menikah!" timpal karyawan yang lain
Dari yang mereka dengar Vir orang yang sangat tegas, ia memang terkenal arogan Kepada lawan atau pun orang yang tak ia sukai, namun jika ditempat kerja ia tetap bisa profesional dan menghargai kerja keras karyawannya.
__ADS_1
"Selamat Pagi semua. Mungkin diantara kalian semua sudah tahu siapa saya, apalagi kemarin malam Ayah saya sempat melakukan serah terima jabatan kepada saya sebagi CEO, pimpinan baru kalian di Angkasa Corp tbk ini..
Mohon kerja samanya. apalagi disini saya benar-benar membagi waktu pagi, sore, dan malam saya stay disini sedangkan siang harinya saya harus tetap mengunjungi hotel saya.." jelas Vir yang di dampingi jajaran tinggi Perusahaan, salah satunya asisten sang ayah yang masih setia membantu di perusahaan ini dan ada juga sekertaris kepercayaan ayahnya
"Saya harap kerja sama dan semangat kalian semua untuk membangun perusahaan ini jadi lebih maju.... Sampai di sini dulu morning briefing kita, sekian dari saya, terimakasih.."
Semua karyawan pun bubar.
Virendra Menatap bangunan besar kokoh yang tinggi menjulang itu, Ia tersenyum. Ada rasa haru dan bangga dalam dirinya yang bisa mengemban dua tanggung jawab besar sekaligus. satunya hotel yang ia rintis sendiri sedangkan yang satunya merupakan perusahaan manufaktur terkenal milik Ayahnya, Walaupun pernah hampir gulung tikar namun kelihatannya Perusahaan itu kembali berjaya.
"Mari Tuan, saya antar ke ruangan anda..semua sudah dipersiapkan sesuai permintaan anda" ucap seorang asisten yang lebih tua darinya
Vir pun berjalan di dampingi asisten dan sekertaris menuju ruangannya yang sudah di persiapkan tidak jauh dari ruangan sang Ayah.
Ia pun mulai sibuk dengan pekerjaannya, namun pikirannya tetap tak bisa fokus. Pikirannya selalu saja tertuju pada Aileen. Apakah ia sudah mulai memikirkan wanita itu?? Tidak, lebih tepatnya ia kesal atas penolakan yang wanita itu lakukan.
Ya, dia benci ditolak, baru kali ini ada seseorang yang berani menentangnya apalagi itu seorang wanita yang berstatus Istrinya.
aku harus bisa menaklukkannya, dia tidak bisa memperlakukan ku seperti ini!! pikirnya.
"Tidak, aku tidak mau Vir.. jangan memaksa ku" kata kata itu terus terngiang-ngian di benaknya,
Pekerjaannya terbengkalai karena memikirkan Aileen yang berani melakukan penolakan.
"Haah sial, kenapa dia begitu sulit ku genggam. Bagaimana bisa aku membuatnya menderita jika membawanya ke dalam genggaman ku saja aku tak bisa" Vir menyenderkan kepalanya seraya menatap ke arah langit langit ruangan yang bernuansa maskulin dengan cat abu putih dan beberapa corak hitam itu.
Sementara itu, di rumah sakit..
Aileen yang baru selesai melakukan pemeriksaan pada pasien gawat darurat yang memerlukan penanganan pun ke luar dari ruang IGD dengan di iringi perawat yang selalu mendampinginya.
Ia tersenyum saat melihat seorang pria paruh baya yang berjalan bersama seorang pria paruh baya juga.
"Daddy..!" Teriaknya. ya pria itu daddynya yang sedang bersama dengan Sam.
Daddy Al tersenyum melihat sang putri tepat berada di depannya
"Eil, kebetulan sekali bertemu di sini, baru saja daddy ingin menuju ruangan mu"
Aileen menciumi punggung tangan kedua pria paruh baya itu.
"Daddy dan Om Sam ada urusan apa kemari?"
"oh itu, daddy kemari sedang mengurus surat rekomendasi rujukan untuk opa"
"Ah iya kan sebentar lagi kalian akan ke LN ya" tebak Aileen, Kita mengobrol di taman ya daddy" Aileen menyerahkan tasnya pada perawat yang bersamanya lalu memeluk lengan Daddynya dan berjalan ke taman rumah sakit
"Apa kau tidak sibuk nak?"
"Tidak dad, sebentar lagi kan jam makan siang"
Aileen melepaskan kerinduannya bercerita banyak dengan sang daddy dan Om Sam.
__ADS_1