
Suara ketukan di pintu kamar membuat sepasang kekasih yang masih larut dalam kesedihan itu seketika meregangkan pelukan sambil menyeka air mata masing-masing.
“Eil, Vir?” Suara Ibu membuat Aileen hendak beranjak, tapi Vir menahan tangannya untuk tetap duduk. Tentu itu membuat Aileen menampakkan wajah tak setuju, tapi ia tetap duduk, sebab suara ibu kembali terdengar.
“Katanya mau ziarah ke makam Ayah? Ibu dan Vino sudah siap, kami tunggu di bawah ya!”
Begitu ibu menyampaikan dan setelahnya Aileen dan Virendra tak lagi mendengar apapun. Keduanya lantas bergegas untuk bersiap. Terlebih dulu Aileen membantu Vir naik ke kursi roda, meski agak sedikit kesulitan, tapi ia bisa melakukannya.
“Maaf aku hanya bisa merepotkan!”
Ucapan Vir membuat Eil yang tengah membantu Vir untuk mengganti baju menggunakan kemeja hitam lantas terjeda, Aileen menatap nanar pada Vir dengan wajah sendu.
“Jangan bicara seperti itu!” Jemari Eil tergerak mengusap wajah Vir, “Aku sama sekali tak merasa direpotkan!” Ia tersenyum kemudian jemarinya beralih meraih hairdryer untuk mengeringkan rambut sang suami.
“Shuuuut! Aku tidak mau dengar!” Bahkan saat Virendra hendak kembali melayangkan protes, Aileen cepat-cepat menempelkan telunjuknya pada bibir Vir, seolah mengisyaratkan bahwa dirinya tak ingin mendengar apapun jika itu menyangkut soal Vir yang selalu menganggap dirinya beban.
Begitu selesai bersiap, Ia dan Vir kemudian segera menyusul ibu dan Vino yang sudah menunggu di ruang tamu. Ternyata disana masih terlihat Dito yang ternyata belum juga berangkat, tentu hal itu membuat Virendra langsung melayangkan tatapan yang mengisyaratkan tanya kenapa sahabatnya itu belum juga pergi.
“Kau kenapa Vir? sepertinya kau sangat tak suka melihat ku masih ada disini?" Sergah Dito yang menyadari raut wajah Virendra. Hal itu membuat Ibu yang tengah membaca majalah dan Vino yang tengah sibuk dengan ponselnya lantas menoleh ke arah sejoli itu.
Ucapan Dito membuat Vir berdecak kesal, “Otakmu isinya hanya prasangka buruk saja! Dasar makhluk galau!”
__ADS_1
“Aku menatapmu karena heran saja, kenapa kau masih disini. Bukan karena aku tidak suka!” Jelas Vir.
Ucapannya itu membuat Dito lantas terkekeh sambil mendekatinya, “Aku tahu maksudmu Vir! Aku akan berangkat setelah kalian pergi!”
“Oh!" Ucap Vir singkat.
“Maaf aku tidak bisa menemanimu!” Ujar Dito seolah begitu merasa bersalah, dan Vir yang tahu maksud sahabatnya itu lantas tersenyum. Ia tahu Dito begitu menghawatirkannya, dan tentu mengatakan hal barusan karena beberapa hari ke depan ia tak bisa menemani dan ada saat dibutuhkan.
“Pergilah, Dit! Kau tak perlu jadi pria mellow seperti ini, apalagi sampai menghawatirkan secara berlebihan, disini ada banyak orang yang menjagaku!" Ucap Vir.
Setelah itu, merekapun masuk ke dalam mobil. Tak lupa Dito menyempatkan diri untuk membantu Vino memampah Virendra masuk ke dalam mobil. Vir sekeluarga pun pergi dengan Pak supir.
.....
Setelah selesai, Vino lalu mendorong kursi roda itu ke arah tempat peristirahatan terakhir sang Ayah. Sementara ibu dengan langkah pelan berusaha berjalan di sisi Aileen,. mendampingi sang menantu yang bahkan jalannya pun sudah mulai melambat.
Keluarga itu lantas duduk sambil mengirimkan do'a pada Ayah. Selama melantunkan do'a air mata Vir tak henti-hentinya menetes, apalagi saat sorot matanya tertuju pada sosok Vino yang kelihatan menyembunyikan kesedihannya, pria itu terlihat pura-pura tegar.
Hal itu lantas membuat Vir merangkul ibu dan sang kakak. Rasanya sakit sekali berada di situasi ini, ia benar-benar merasa sangat tak berguna, ia bahkan tak bisa melihat dan mengantarkan Ayah ke tempat peristirahatan terakhirnya.
.....
__ADS_1
“Ku rasa kita tidak perlu ke sana Vir! Lagipula semuanya sudah berlalu dan mereka juga sudah dihukum!” Aileen berusaha memastikan keinginan Virendra yang katanya ingin menemui Fia dan Niko ditahanan.
Sepulangnya dari ziarah di makam Ayah, Aileen dan Virendra memang meminta izin kepada Vino dan Ibu untuk berkunjung ke hotel. Padahal itu hanya akal-akalan Aileen agar Vir tak larut dalam kesedihan, pasalnya sejak beranjak dari makan Ayah, wajah suaminya itu kian terlihat murung. Beruntung Vir langsung menyetujui usulannya saat ia membisikkan hal itu tadi.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Angkasa Land Hotel!” Begitu Eil membisikkan.
Meski Ibu dan Vino sempat melarang, namun akhirnya mereka bisa mendapat izin setelah Vir bisa meyakinkan jika ia akan baik-baik saja dan tentu tak akan terlalu merepotkan sang istri.
Setelah sempat berkeliling, bahkan sudah menyempatkan untuk makan siang disana, Virendra meminta untuk pergi ke rumah tahanan tempat dua orang bejat yang membuatnya terus kepikiran. Rasanya ia belum puas jika belum bertemu langsung dengan dua orang tersebut.
“Aku tidak apa-apa, Eil, percayalah!” Vir mendongak menatap wajah cemas sang istri saat keduanya masih berdiri di depan pintu mobil, menunggu beberapa scurity yang akan membantu Vir masuk ke dalam mobil.
“Aku takut terjadi sesuatu padamu, aku takut tak mampu mengontrol mu!" Ujar Aileen masih dengan wajah cemas.
Virendra lalu meraih tangan sang istri, dikecupnya penuh kelembutan. Kemudian sorot mata itu beralih menatap manik yang diliputi kecemasan berlebih itu, Ia berusaha meyakinkan. “Aku akan berusaha mengontrol diri, Eil!” Sekali lagi Vir mendaratkan kecupan di punggung tangan dan telapak tangan Aileen.
“Aku hanya ingin meluapkan apa yang aku rasa Eil!” Tangan Vir kini beralih menunjuk dadanya, “Aku akan terus merasa sesak jika belum mengatakan apapun pada orang yang menjadi penyebab hancurnya kehidupanku!"
Sungguh Aileen tak mampu lagi untuk melarang Vir, kata-kata barusan membuat ia bisa merasakan apa yang Virendra maksud. Ia lantas mengangguk sambil melingkarkan tangan di bahu sang suami seraya memberi tepukan ringan, tanda ia tengah menguatkan.
“Jani ya, kau tak boleh tersulut emosi!” Aileen berusaha memastikan. Begitu melihat anggukan meyakinkan dari Vir. ia segera menyingkir dan mempersilahkan dua security untuk segera membantu Virendra masuk ke mobil.
__ADS_1
Mereka akan pergi menggunakan mobil yang biasanya Vir gunakan kemana-mana, beruntung mobil itu datang tepat waktu, tentu semua itu terjadi atas perintah Vino yang begitu menghawatirkan kondisi sang adik. Sebab Aileen sendiri tak sempat memikirkan hal itu karena dari tadi ia sibuk menemani Vir berkeliling hotel. Kini mobil itu mulai melaju meninggalkan halaman Angkasa Land Hotel.