Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 101


__ADS_3

“Kau tahu, moon. Rasanya rambutku mau copot! Wanita itu menariknya begitu keras” ujar Aileen mengadu


Vir sendiri merasa gemas dengan sikap istrinya yang bisa berubah secepat ini. Tadi wanita itu berbicara seakan dirinya begitu bijak namun sekarang ia menampakkan sisi yang berbeda, dengan bersikap manja. Sungguh Vir dibuat heran dengan tingkahnya.


“Katakan yang mana yang sakit, biar ku obati” Aileen menunjuk seluruh bagian tubuhnya yang memang terasa remuk karena perlakuan laknat Fia.


Vir mengarahkan kecupannya ke seluruh bagian tubuh yang Aileen tunjuk, membuat wanita itu terkekeh geli. Matanya seolah menghilang karena tawanya.


“Bagaimana, sudah mendingan?" tanya Vir


“Sudah” dengan senyum mengembang Aileen kembali bersandar di dada bidang sang suami dan melingkarkan tangannya pada tubuh atletis itu.


“Tenang saja, aku sudah membalas perlakuan wanita itu, skor kita 2-1” Vir mengelus-elus lengan istrinya


Aileen mendongak “Maksudnya?”


“Bukan apa-apa” ucap Vir sambil mendaratkan kecupannya


“Moon katakan, apa kau membalas perlakuan Fia?” Aileen melepaskan pelukannya, ia begitu penasaran.


Meskipun kesal kepada Fia, namun ia tak ingin jika Vir membalas perlakuannya. Apa lagi jika sampai melukai.


Belum sempat Vir menjawab. Handphone pria itu berdering lebih dulu.


Vir terdiam mendengar penuturan dari seseorang di balik telepon.


“-----*...”


“Apa?? Kenapa mendadak seperti ini, Aku tidak ingin pergi. kau saja yang mewakili! istriku terluka, aku tidak mungkin meninggalkannya!”


Aileen terdiam menyimak pembicaraan suaminya, Vir terlihat marah- maah pada si penelepon.


“______..”


“Sudah ku bilang dia sakit, tidak bisa ikut! apa kau tuli??” Vir kembali marah-marah, Alieen berusaha menenangkan dengan mengelus punggungnya.


“___...”


“Ck, baikalah aku akan pergi! Kapan penerbangannya?” Mendengar kata penerbangan, seketika detak jantung Aileen berpacu begitu kencang. Perasaan tidak enak menyeruak ke dalam hati.


“Emmnt, iya, iya! jemput aku di rumah, aku harus Packing dulu” Panggilan itu pun terputus, Vir memasukkan Handphonen-nya ke dalam saku jas.


Ia beralih menatap istrinya yang sedari tadi menatapnya dengan perasaan sedih. Wanita itu tahu jika suaminya akan pergi, dan dengan kondisinya yang seperti ini membuat ia tak bisa ikut.


Aileen mengerlikkan matanya lalu mendekap erat tubuh Vir. Vir mengecup puncak kepala Aileen.


“Sun, Aku harus pergi ke korea! Hotel mendapat undangan untuk menghadiri Penghargaan Awards bergengsi di sana” Vir menatap nanar istrinya.


Aileen tersenyum bangga, ia ikut senang mendengar hal itu. “Selamat sayang, Semoga Angkasa Land memenangkan salah satu kategori” Sebisa mungkin Aileen berusaha terlihat senang, meskipun tak bisa berjauhan dengan Vir namun ia juga tak bisa melarangnya, mengingat ini merupakan tanggung jawab suaminya.


“Aamiin!” Vir kembali mencuri satu kecupan dari bibir yang menjadi candunya itu “Ikutlah denganku Eil, Aku tahu kondisimu tidak memungkinkan tapi aku tak bisa bila harus berjauhan apalagi harus meninggalkanmu” wajah Vir mulai dipenuhi kabut kesedihan. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, sejujurnya Vir tak ingin pergi kemana-mana. Mengingat kondisi istrinya yang seperti ini, Ia ingin menemani wanita itu.


Kristal bening nampak menggenang di pelupuk mata indah Aileen, Ia senang Vir mengajaknya. Namun ia cukup sadar diri, mengingat kondisi wajahnya yang penuh dengan luka ia tidak mungkin bisa pergi.


“Moon, lihat wajahku! Apa kau akan membawaku dengan kondisi seperti ini? Aku tidak ingin mempermalukan mu sayang, Lihatlah orang-orang di sini saja heran melihat wajah ku yang dipenuhi goresan seperti ini. Bagaiman jika aku ikut, yang ada mereka akan mengira kau memiliki istri buruk rupa, Aku tidak ingin mempermalukan mu!” tunjuk Aileen pada setiap orang yang heran saat melihat wajahnya.


“Itu bukan masalah, kau masih terlihat cantik meskipun seperti ini. Ikutlah Sun, kalau tidak ingin mendampingi ku, kau cukup berdiam diri di hotel, setidaknya kau berada dekat denganku..” Vir memeluk erat tubuh Aileen, seakan tak rela jika harus berjauhan meski hanya beberapa hari.


“Jangan gila moon, itu sama saja. Aku tidak ingin ikut” ucap Aileen menegaskan, ia masih kekeh dengan pendiriannya “Sayang dengar, kau harus tetap pergi tanpa aku! Jangan dipikirkan, Aku akan baik-baik saja. Aku akan menginap di rumah Mommy..”


...______...


Packing telah selesai, kini Vir dan Aileen sedang menunggu Dito yang akan menjemputnya ke Bandara.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, yang ditunggu akhirnya datang juga. Dito dan pak Supir yang ia bawa membantu memasukkan koper Vir ke bagasi, setelah itu mereka pun berangkat.


Aileen dan Virendra duduk di kursi belakang, dengan Aileen yang tak ingin lepas dari pelukan suaminya. Mereka akan LDR cukup lama, tentu akan sangat menyiksa dua insan yang tengah dimabuk cinta itu.


Sebenarnya Vir tak rela jika harus meninggalkan istrinya namun kehadirannya dalam acara ini sama sekali tak bisa diwakilkan oleh siapapun. Sebab kata Dito undangan tersebut tertuju langsung kepada semua pemilik hotel yang ada di berbagai Negara Asia.


“Apa kau benar-benar tidak ikut Dit?” Vir mulai membuka obrolan


“Tidak, Masih banyak urusan yang belum selesai. Jika aku ikut denganmu maka semua pekerjaan akan terbengkalai” sahut Dito sambil terus menatap lurus ke depan. Pria itu nampak berbeda dengan sedikit pendiam.


“Kau tidak apa-apa kan jika pergi sendiri” ucap Dito lagi.


“Tentu, memangnya aku akan hilang jika tanpamu!” ketus Vir yang mana membuat Dito terpancing untuk kembali membuatnya kesal


“Dulu kau selalu tidak bisa bepergian tanpku” Dito melirik Vir dari kaca spion dengan senyum tertahan.


Vir mencebikkan bibirnya “Jangan mengada-ngada!”


Sementara Aileen hanya terkekeh melihat tingkah dua sahabat itu.


“Penerbananku menggunak pesawat komersial atau non komersial?”


“Komersial, Pagi tadi kak Vino ke Singapura jadi kau tidak bisa menggunakan Jet!”


Vir yang mendengar itu hanya terdiam, Ia beralih menatap wajah istrinya dengan Aileen yang juga membalas tatapan itu.


“Aku akan sangat merindukan mu!” Vir mencumbu Aileen tanpa menghiraukan dua manusia yang ada di depannya.


“Aku ingin kau menciumku Sun!” Vir menempelkan hidungnya pada hidung Aileen.


“Apa kau tidak malu? Di sini tidak hanya ada kita” Wajah Aileen bersemu menjadi merah.


“Anggap saja mereka batu. Ayolah sun, Aku akan sangat merindukan ciuman ini” Vir terus mengendus leher istrinya sambil menjilatinya.


Aileen lalu menuruti keinginan suaminya. Ia mengecup bibir kenyal itu. Vir yang mendapatkan ciuman, tak menyia-nyiakan kesempatan, ia mel*mat rakus bibir yang beberapa hari ke depan akan ia rindukan.


Cih, Vir benar-benar sudah berubah. sejak kapan dia menjadi tidak tahu malu seperti ini!! Apa dia tidak memikirkanku, Aku juga ingin seperti itu, tapi dengan siapa? ck masa iya dengan supir ini!! Hiss kenapa hidupku begitu mengenaskan. gerutu Dito yang juga merasa panas melihat kelakuan sahabatnya


Sementara Aileen dan Vir yang terbawa suasana sama-sama tak menghiraukan dua orang di depannya.


Astagaa, apa Aileen juga segila ini. Vir benar-benar sudah memberi dampak buruk pada istrinya.. Ucap Dito yang terus mencebik kesal


“Heemmnt, Ehhemmmnt” Dito yang sengaja berdehem sontak membuat sejoli itu melepaskan ciumannya.


Aileen yang malu-malu nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Ia tersenyum kikuk mengutuki dirinya yang seperti orang yang kehilangan urat malunya.


Sementara Vir, ia begitu kesal pada Dito yang menghentikan kegiatan yang akan sangat ia rindukan itu.


“Shiiit, Dito sialan!” umpat Vir sambil menendang kursi Dito.


Namun Dito hanya terkekeh geli, ia menoleh melemparkan tatapan mengejek pada Vir yang masih menatap kesal padanya.


...-----...


Setibanya di Bandara, Dito dan Aileen ikut menemani Vir melakukan boarding pass. Mereka melewati gerbang otomatis yang akan terbuka ketika disodorkan sebuah kartu maka gerbang setinggi pinggang itu akan berputar secara otomatis dan seseorang bisa langsung melaluinya.


Setelah mendapatkan selebaran boarding pass, kini Vir diarahkan menuju ruang keberangkatan.


“Aku akan berangkat jam 18.50, itu artinya masih ada waktu 50 menit” ucap Vir sambil melirik selembar boarding pass miliknya.


“Kau jangan kemana-mana, tunggu di sini! Sayang ayo ikut aku, Ada yang harus kita selesaikan!” Vir menyerahkan koper, pasport, Visa, ktp dan selembaran boarding pass itu pada Dito lalu menarik tangan istrinya menjauh.


Dito hanya bisa meghela napas melihat tingkah sahabatnya. Ia lalu duduk di sebuah kursi panjang yang tidak jauh dari sana.

__ADS_1


Sementara Aileen yang ditarik, masih berusaha menyeimbangkan langkahnya.


“Moon, kita mau kemana? Kau ada urusan apa lagi, sayang?” tanya Aileen saat langkah mereka sudah sejajar.


“Ikut saja, kau pasti akan senang” Vir mengerlikkan matanya sambil terus menarik tangan istrinya. Aileen mengernyitkan dahinya saat Vir membawanya ke area toilet.


“Sayang, i-ini..” belum sempat Aileen menyelesaikan ucapannya, Vir sudah menariknya masuk.


Vir menutup pintu toilet menggunakan kakinya, setelah pintu itu terkunci. Vir langsung menyambar bibir Aileen. tangannya menelusup, menggerayangi tubuh bagian belakang istrinya.


Aroma mulut Vir membuat Aileen bergairah, ia membalas ciuman itu dengan tak kalah panasnya. Aileen mengalungkan tangannya di leher Vir.


Ciuman itu semakin dalam, Vir mendorong tubuh Aileen hingga terhimpit di sisi wastafel dengan kaki yang menjuntai. Tangan Vir mulai menelusup ke depan dan meremas buah kenikmatan yang menjadi favoritnya.


Vir menghentikan ciumannya, sejoli itu saling tatap dengan napas yang memburu. Gelora yang menggebu menimbulkan hawa panas di toilet yang cukup sempit itu.


“Aku akan sangat merindukan mu, Sun!” ucapnya dengan suara parau.


Tangan Vir beranjak membuka celana Aileen, lalu membuka lebar-lebar paha itu kemudian membuka ikat pinggang kulit yang melingkar di celananya.


Vir mulai menanamkan intinya pada milik istrinya, tangannya menyibakkan baju Aileen lalu menyergapnya sambil memacu tubuhnya.


Aileen dengan hasrat kian terpacu mulai melenguh nikmat tak tertahankan. Ia menekan kepala suaminya yang masih menempel di dadanya.


“Ahkk, Vir..hmmmppt, Sayangku...”


Vir yang mendengar itu segera melahap bibir sang istri agar tak lagi mengeluarkan suara. Ia tak ingin pengunjung toilet lainnya mendengar ******* itu.


“emmmmpht, Sun.. Jagan berisik sayang!” bisik Vir sambil menggigit telinga istrinya.


Tubuh Aileen menggeliat, ia mendongak dengan mata terpejam saat merasakan pacuan Vir semakin menggila. Suaminya begitu ganas dan kuat, namun ia tetap menikmatinya.


..._____...


Vir dan Aileen sudah kembali dengan tangan yang masih saling bertaut. Wajah pria tampan bernama Virendra itu nampak lebih bersinergi dan ceria. Dengan wajah berbinar ia menghampiri Dito Sahabatnya yang sudah kering menunggu selama 45 menit.


Dito berdiri sambil menyerahkan Paspor, visa, ktp dan boarding pass itu pada Vir.


“Aku tahu apa yang baru saja terjadi! Kau dari mengambil jatahmu kan!” bisik Dito sambil tersenyum ke arah Aileen


“Kalau tahu kenapa masih bertanya!”


“Ck, kau benar-benar maniak **** yang tidak tahu tempat” Dito menepuk bahu Vir lalu kembali duduk.


“Aku baru merasakannya, Dit.Ternyata rasanya begitu nikmat, Aku tidak bisa berhenti” ucap Vir menimpali sambil menarik Aileen duduk di sampingnya.


Aileen yang sedikit mengerti maksud Vir hanya memutar mata malas. sejujurnya ia malu jika Vir membahas hal itu di depan orang lain.


Pengumuman keberangkatan pesawat yang Vir tumpangi sudah menggema di sana. Para penumpang sudah beranjak menuju pintu keberangkatan.


Vir membawa Aileen ke dalam dekapannya “Jaga dirimu baik-baik. Aku akan sangat merindukanmu!”


Aileen membalas pelukan itu dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


“Hey jangan menangis, atau aku tidak akan jadi pergi” Vir mengusap bulir bening itu.


“Jangan lama!” lirih Aileen dan Vir hanya menjawab dengan anggukan.


Vir mengecup seluruh wajah istrinya.


“Aku pergi dulu! Dit aku titip istriku, antar dia ke rumah Daddy Al! Jika dia kenapa-kenapa dan goresannya bertambah maka aku akan membantai mu setelah kembali nanti!” Ucap Vir penuh penekanan


Setelah melihat Dito mengangguk mengiyakan, Pria itu sekali lagi mengecup kening istrinya kemudian mulai berbaur dengan para penumpang yang berjalan menuju pintu keberangkatan.

__ADS_1


Aileen terus menatapnya penuh kesedihan, jujur Ia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Vir begitu berarti dalam hidupnya.


Walaupun hanya sementara, namun ia merasa sangat sedih. Air matanya kembali menetes namun Dito yang melihat itu langsung menenangkannya, Ia akan melindungi istri sahabatnya itu dengan baik.


__ADS_2