
“Dengar, kamu hanya perlu mengatakan semua isi hatimu tanpa emosi. Keluarkan semuanya agar kau bisa lega dan setelah itu aku akan menjelaskan soal masalah tadi” ucap Aileen, saat mereka sudah berada di depan mansion
Vir mengangguk mengerti, ia mengelus lembut tangan Istrinya.
Aileen dan Vir pun masuk ke dalam.
“Malam, semuanya” Vir masuk seraya melambaikan tangan
Hans, Melinda dan Vino yang kebetulan baru selesai makan malam tengah bersantai di ruang keluarga. Mereka menoleh ke arah Virendra dan Aileen.
“Vir, Eil..” ucap Ibu.
Sedangkan Ayah yang masih kelihatan marah hanya melemparkan tatapan sinis pada Vir.
“Dia berbuat ulah apa lagi, Eil? Apa dia bertemu dengan wanita itu dan pulang dengan keadaan mabuk?” Ayah mulai beranjak, ia berjalan mendekati Vir.
“Ayah, jangan asal menuduh! Itu tidak baik untuk kesehatan!” tuding Vir pada Ayah dengan diiringi tawa kecil
“Vir, jaga bicaramu!” sahut Ibu tak terima dengan perkataan Vir
“Tidak Ayah. Vir sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Fia..” sanggah Aileen
“Cukup, Eil! jangan terus-terusan menyembunyikan kebusukan anak ini! Kau terluka karenanya namun kau masih saja melindunginya. Jangan disembunyikan, Ayah melihat semuanya, katakan saja! agar ayah memberinya pelajaran! Dia memang keras kepala! Lebih baik dia diberi pelajaran sebelum membuat kami malu jika hal ini sampai kepada keluarga mu” Ayah terus mengoceh membuat Vir yang mudah tersulut emosi langsung berjalan meraih lukisan yang ada di dinding itu kemudian menghancurkannya secara membabi buta.
Ibu dan Vino terlonjak kaget, mereka segera beranjak.
Ibu memegangi Ayah, sedangkan Vino mendekati Vir.
“Vir apa yang kau lakukan!” tunjuk Vino yang mulai emosi dengan sikap adiknya.
“Kalian semua memang tidak pernah memercayai ku!” Dengan amarah yang memuncak, Vir meluapkan kekesalannya “Aileen sudah mengatakan semuanya dengan jujur tapi kalian masih tidak percaya! Apa semua hal yang menyangkut diriku terlalu buruk hingga sulit bagi kalian untuk memercayainya?” Vir menghentakkan kakinya di atas pecahan bingkai lukisan.
Emosinya membuat Vir menghancurkan apa yang bisa ia hancurkan.
Semua hanya terpaku diam..
Di sela ekspresi memerah di wajah tampan pria itu, ia melemparkan seringain membuat dirinya terlihat begitu menakutkan.
Aileen tak ingin menghentikan. selagi suaminya tak bertindak di luar kendali, ia akan membiarkannya mengutarakan isi hatinya dan berharap Vir akan mendapatkan kelegaan setelahnya.
“Aku selalu terlihat buruk dimata kalian! Aku dibenci karena selalu menentang keinginan kalian! Terutama Ayah, Ayah selalu ingin aku menjadi seperti apa yang Ayah inginkan, bukan? Tapi Ayah lupa cara menjadi orang tua yang baik, Cih!!!”
“Jaga ucapan mu, Virendra!” bentak Ayah namun Vir hanya menyeringai
“Aku akui, Aku memang bukan anak yang baik karena tidak menuruti keinginan kalian! aku pembangkang, aku keras kepala, Aku egois! Tapi itu semua karena kalian.. Kalian tidak pernah menghargai keputusan ku.”
Vir menghela napas, ia mengingat kejadian dulu, dimana Ayah meminta dirinya untuk tidak mengejar mimpinya dan bekerja di perusahaan untuk menggantikan Vino yang saat itu sedang berada di luar Negeri. Vir yang tak ingin mengurus perusahaan menolak keinginan Ayah, Ia lebih memilih bekerja sendiri untuk membangun Hotel impiannya.
Dari sejak itu, Ayah dan Ibu tak memperdulikannya. Hubungan Orang tua dan Anak itu semakin renggang saat Vir menjalin hubungan terlarang dengan Fia. Namun karena adanya perjodohan yang sudah terjadi sejak lama Vir terpaksa menuruti permintaan Hans yang pada saat itu terkena serangan jantung.
Vir terus berucap panjang lebar. Ia benar-benar menumpahkan apa yang dipendamnya selama bertahun-tahun.
“Jaga ucapan mu, Vir! Alkohol telah membuat mu hilang akal! Bicara mu semakin melantur!!! Kenapa jadi membahas hal seperti ini?” Ayah mulai emosi mendengar penuturan Vir
“Kenapa? Aku hanya ingin mengeluarkan semuanya agar kalian tahu jadi aku tidak lah mudah!!!” sanggah Vir “Aku hanya ingin diperlakukan adil sebagai seorang anak..”
Vino terdiam mendengar penuturan adiknya.
“Aku sudah menurut untuk menikahi, Aileen! dan aku berterimakasih untuk itu karena sudah memilih dia jadi pendamping ku...
Setelah menikah, aku bahkan mau menerima tawaran kalian untuk mengurus kantor. Aku melakukan Semuanya. tapi apa, aku masih tetap tak terlihat di mata kalian..” Vir menghela napas sebelum kembali berbicara
“Dari dulu, di mata ayah dan ibu seolah tidak pernah ada aku, hanya ada Vino, Vino dan Vino.. kalian selalu membeda-bedakan kami. Karena dia yang penurut sedangkan aku tidak, dia di banggankan karena selalu bisa menuruti semua keinginan kalian sedangkan aku dicampakkan karena ingin berdiri di atas kaki ku sendiri.. Tidak ada seorang anak yang bahagia ketika dibeda-bedakan. Apa sangat sulit bagi kalian untuk tidak memaksa kehendak pada anak-anak Ayah dan Ibu? dan kalian berhasil melakukan itu, kalian berhasil membuatku membenci Vino, membuat hubungan persaudaraan kami renggang karena perlakuan kalian.” Vir terus mengeluarkan semuanya tanpa memberikan celah pada Ayah dan Ibu untuk menyanggah ucapannya
__ADS_1
“Ini tidak seharusnya terjadi, namun aku tak bisa menerima itu. Aku iri pada Vino yang selalu mendapat perhatian lebih Sedangkan aku tidak. Aku hanya bisa merasa dihargai saat bersama oma dan opa, tapi sayang mereka sudah tidak ada” Ingatan Vir tertuju pada kenangan saat bersama Opa dan Oma yang selalu membelanya.
Ibu terlihat menitikan air mata mendengar penuturan putranya. Ia tak menyangka jika Vir merasakan itu semua yang bahkan sama sekali tak pernah terlintas dipikirannya sebagai seorang ibu.
“Bahkan kalian tidak pernah memercayai apa yang aku katakan, Ayah selalu meyakini semua dari apa yang Ayah lihat tanpa mendengar penjelasan dari orang yang bersangkutan. Tanpa sadar kalian yang membuat ku jadi pembangkang dan Arogan seperti ini!” Vir meluapkan isi hatinya dengan intonasi yang tinggi, dadanya naik turun meluapkan gejolak yang selama ini terpendam.
“Vir..”dengan isak tangis yang bercucuran ibu berjalan menghampiri putranya yang sedang menumpahkan isi hatinya
Ayah terlihat menunduk. kata-kata menohok yang Vir lemparkan berhasil menembus naluri pertahanannya sebagai seorang Ayah. Ia menyadari semua kesalahannya.
Apa setidak adil itukah dirinya pada kedua putra mereka..? pikir Ibu dan Ayah
Vino tercengang dengan penuturan adiknya, Walaupun sedari awal ia tahu Vir akan merasakan hal ini namun Ia tak menyangka jika sampai akan separah ini.
Aileen menitikan air matanya, ia merasa lega saat Vir bisa menuangkan semua isi hatinya.
“Aku sudah menerima Pernikahan ku dengan istri ku dan aku sangat bersyukur karena kalian berhasil memaksa ku untuk melakukan itu. Aku menyukuri perjodohan yang Pernah ku tolak ini. namun aku kecewa ketika Ayah masih saja meragukan ku, Ayah bahkan tidak percaya dengan Apa yang Aileen katakan! apa semua yang menyangkut diriku sulit untuk kalian percayai?” tuding Vir
“Vir..” lirih Ayah.
Vir beralih menatap Ayahnya yang perlahan mendekat
“Ayah, minta maaf atas semua perlakuan Ayah selama ini.. Ayah benar-benar menyesal nak..Ayah sama sekali tidak pernah berniat membeda-bedakan kalian. Ayah minta maaf jika kau merasa kami tidak adil..” Hans memegangi kedua bahu putranya.
“Vir, ibu juga minta maaf nak! ibu tidak pernah mengira perlakuan kami akan menyakiti mu! Maaf jika bertahun-tahun kami tidak pernah mengerti dan membuatmu memendam semuanya sendiri..” ibu memeluk Vir. Penyesalan akan sikapnya di masa lalu menyeruak menorehkan kesedihan. Ia tersedu-sedu saat memeluk putranya
Vino berjalan mendekat dan ikut memeluk Keluarganya
“Maafkan aku, Vir! Aku tak pernah berniat merebut kasih sayang ayah dan ibu hanya untuk ku. Percayalah, aku menyayangimu !”
Vir yang merasa lega, ikut menitikan air matanya! Ia tak menyangka hari ini akan tiba, dimana ia mampu mengeluarkan semua yang dipendamnya sejak lama.
Dari jarak yang cukup jauh Aileen Tersenyum haru melihat semua itu
Ayah mengangguk sambil menepuk punggung putranya
“Ayah memercayai mu! Maafkan ayah nak! Maafkan semua kesalahan Ayah yang sudah gagal menjadi orang tua yang baik...”
“Maafkan ibu juga, Vir.”
Ibu, ayah, vino dan Vir terus berpelukan.
Vir menoleh ke arah Aileen, ia tersenyum melihat wanita yang sudah memberinya support keberanian untuk menumpahkan semua isi hatinya.
”Kemarilah Eil, kau juga putriku, kau bagian keluarga kami nak!” Ayah memanggil aileen mendekat.
Mereka semua terkekeh di sela kesedihan saat menyadari telah melupakan keberadaan Aileen yang juga ada di sana.
Aileen ikut bergabung.
“Terima kasih sudah bertahan bersama ku! Kau terbaik” lirih Vir saat Aileen sudah ikut berpelukan bersama.
“kami beruntung memiliki mu, Eil” lirih Ibu
“Kau wanita hebat nak, Kami beruntung memiliki mu. Kau mampu bertahan melewati sikap keras kepala Vir” ucap Ayah
“Sudahlah, ayah. Jangan mengatainya keras kepala! Jika tidak, dia akan mengamuk lagi” sahut Vino, Pria itu memang selalu bisa mencairkan suasana dengan segala celotehnya.
Celetukan Vino membuat Vir tersadar, jika kakaknya itu berada sangat dekat dengan istrinya, bahkan sampai merangkulnya.
“Ck, lepaskan pelukannya! Aku tidak rela istriku dipeluk orang lain” Vir melepaskan pelukannya kemudian menarik Aileen menjauh.
Ayah, ibu dan Vino hanya terkekeh melihat sikap berlebihan Vir yang bahkan tak rela membiarkan Vino memeluk istrinya.
__ADS_1
...******...
“Terimakasih sudah menyatukan keluarga kami, Eil! Vir banyak berubah saat bersama mu!” puji Ayah pada Aileen
Selepas drama ungkapan Vir yang menguras emosi tadi, kini Ayah, Ibu dan Aileen masih berada di ruang keluarga . Ayah dan Ibu begitu menyesali sikap mereka yang sebelumnya dan berjanji untuk tidak membeda-bedakan kedua putranya lagi.
“Keputusan Oma dan Opa kalian memang tidak salah.. Perjodohan ini membawa banyak berkah” timpal Ibu yang merasa beruntung memiliki menantu seperti Aileen.
...____...
“Kau jangan menyerah, Vir. Itu hotel mu, jangan biarkan dia merebutnya! Kalau perlu kita tempuh jalur hukum!” Mendengar cerita sang adik tentang masalah Fia yang datang ke hotel siang tadi membuat Vino geram sendiri.
Kini ia dan Vir tengah berada di halaman. Vir sengaja bercerita pada Vino agar pria itu memberikan solusi dan Vir ingin agar Vino yang memberi tahu Ayah mereka soal masalah ini.
“Itu pasti, Sementara ini aku masih menyuruh Dito untuk mengumpulkan bukti bahwa transaksi yang kami lakukan selama ini memang murni pinjaman tanpa adanya perjanjian pembagian saham”
“Itu memang harus Vir, Aku akan mendukung semua rencana mu!” Vino menepuk bahu Vir memberikan kekuatan.
“Terimakasih” Vir membalas pelukan Vino. Setelah mengutarakan semua isi hatinya ia merasa sangat lega, bahkan perasaan sayang kepada kakakanya itu kini bertambah. Vir seolah mendapatkan Keluarganya yang utuh seperti saat masih kecil dulu.
“Maaf, jika selama ini kau merasa diabaikan! Aku sama sekali tak berniat membuat Ayah dan Ibu mengabaikanmu” Vino mengelus punggung kekar Vir
“Jangan bahas yang sudah lewat. Aku ingin memulai semuanya dari awal tanpa adanya perasaan iri seperti dulu” sahut Vir
Vir melepaskan pelukannya saat melihat wanita yang sangat berarti dalam hidupnya melangkah mendekat.
“Apa sudah selesai?” Vir menghampiri Aileen dan mengecup kening istrinya.
Aileen mengangguk seraya melingkarkan tangannya di tubuh Virendra.
“Kalau begitu, kita pulang sekarang!” Vir menarik Aileen ke mobil.
“Kak, kami pamit!” Aileen beralih menatap Vino.
Vino yang ada di teras tersenyum sambil melambaikan tangan
“Hati-hati di jalan!” ucapnya saat Vir memencet klakson.
Vino terus menatap mobil sport itu yang mulai ke luar dari halaman mansion.
Vino pun masuk ke dalam, Ia mendapati orang tuanya yang tengah berjalan kearahnya.
“Apa mereka sudah pulang?” tanya Ibu
“Baru saja” ucap Vino Sambil mengangguk
Ibu menghela napas kemudian menatap Hans. Bulir bening itu kembali menetes.
“Kita hampir gagal jadi orang tua yang baik..”
“Benar, Kita mendidiknya terlalu keras hingga tanpa sadar melukai perasaannya” ucapan Vir terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ayah dan Ibu benar-benar menyesali perbuatan mereka.
“Kita bisa memperbaiki semuanya, yang Vir butuhkan hanyalah kasih sayang! dia juga ingin dihargai dengan mengapresiasi semua kinerjanya. Selama ini Ayah dan Ibu memang tidak pernah mendukung semua keputusan yang dia buat” Ucap Vino menimpali
“Kau benar Vin! Ayah dan Ibu memang salah”
“Di sisa hidup kami, kami akan berusaha menjadi orang tua yang baik untuk kalian..”
________
Yuk kencengin dukungannya, biar semakin rajin update...😂
Tapi kalo gak mau juga gak papa, aku gak maksa🤭
__ADS_1