
“Niko sialan, brengsek, a*u, dan bla bla bla ....” Setelah puas mengumpati Niko dengan seluruh isi kebun binatang dan persekutuannya, Vir lalu menghempaskan tangan Dito dari tubuhnya.
“Lepas!!! kenapa kau suka sekali memelukku..” ketus Vir sambil menghela napas panjang.
“Aku sedang mencegahmu, sialan. Bukan memeluk tanpa sebab!!”
Setelah suasana kembali kondusif, bahkan kerumunan teman-teman yang lain sudah kembali menikmati acara. Virendra, Aileen dan Dito masih berdiri mematung. Mereka berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Terutama Virendra, Ia masih berusaha mencerna kata-kata Niko yang mengatakan jika dirinya selalu berhasil mengoleksi bekas/mantan darinya.
Dengan raut wajah kesal, Virendra menoleh ke arah Aileen yang tengah memeluk lengannya.
Ingin rasanya Vir menanyakan rasa penasarannya itu, mengingat tatapan Aileen dengan Niko tadi terlihat seperti tatapan orang yang saling kenal. Namun hal itu ia urungkan, sebab tak mungkin juga menanyakan hal itu di tempat seperti ini. Tentu bukan suasana yang baik. Ya, dia akan menanyakannya nanti saat di rumah.
Namun, Aileen yang sepertinya mengerti kegelisahan suaminya pun langsung berkata “Aku akan jelaskan nanti..” Aileen mendongak menatap wajah suaminya dan Vir hanya tersenyum mengangguk sambil mengusap wajah sang istri.
“Kau terluka..” lirih Aileen dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak apa-apa.. Maaf, tidak seharusnya aku membiarkan mu menyaksikan hal seperti tadi!!” Vir mengusap bulir bening yang hampir menetes di ujung mata istrinya sambil mengecup puncak kepalanya.
“Maafkan Daddy ya, nak. Daddy membuatmu berada di tengah keributan..” Vir menyesal, sebab tak bisa mengontrol diri tanpa memikirkan kondisi Aileen yang sedang mengandung.
Setelah mengelus perut Aileen, Ia menoleh pada Dito dengan tatapan mengintimidasi.
“Ini semua karenamu!!”
“Loh kenapa aku?”
“Kau yang memaksaku ikut! Lihatlah acara reuni ini benar-benar jadi acara baku hantam karena mu! Kau tidak mencari tahu siapa yang menyelenggarakan acara ini!! Informasimu tidak akurat!” omel Vir dan Dito yang tahu dirinya salah tak banyak bicara, dia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ya, memang aku salah!! Tapi yang lebih salah ya si mantan sahabat laknat itu. Dasar pembuat onar... Dito mengumpat kesal pada Niko.
“Kita pulang sekarang..!" Vir menarik tangan Aileen dengan Dito yang ikut berjalan di belakangnya.
Namun ketika hendak ke luar, Pintu itu lebih dulu terbuka dari arah luar. Seseorang yang juga dikenalnya terlihat baru datang ketika mereka bertiga hendak pulang.
“Virendra? Ardito?” tunjuk pria tersebut dengan senyum mengembang.
“Alandra??” tunjuk Dito dan Virendra secara bersamaan dan pria itu mengangguk.
“Lama tidak bertemu!!”
“Ya, sudah hampir 4 tahun.”
“Ternyata sudah selama itu ya..” sahut Dito
“Padahal kita tinggal di kota yang sama, hmmnt” Vir mengulurkan tangannya.
Ketiga pria itu lalu ber-highfive ria, bersalaman ala pria dewasa pada umumnya.
“Aku tebak, pasti sekarang kau makin sukses ya! Aku dengar hotel kalian kembali menyabet penghargaan Hotel terbaik..” pria bernama Andra itu menepuk bahu Vir dan Dito
Vir mengangguk mengiyakan sambil menyahut “Hah, biasa saja Andra. Kami yakin kau juga tak kalah suksesnya.”
“Ya benar sekali, kau pasti lebih unggul dari kami..!” ujar Dito menimpali namun Andra terlihat tersenyum samar sambil menggeleng kecil.
“Sekarang kerja dimana?” tanya Vir
“Biasalah, masih jadi kacung keluarga. Tidak ada kemajuan.”
“Ya, anak pertama memang selalu seperti itu, selalu disetir keluarga..” ucap Vir menimpali
“Kau masih mending jadi kacung keluarga, Andra. daripada aku masih jadi kacungnya Vir..”celetuk Dito sambil terkekeh geli
__ADS_1
“Sial...” Vir mengumpat sambil meninju lengan sahabatnya itu.
Mereka pun terkekeh bersama, begitu pun dengan Aileen yang merasa tergelitik melihat kelakuan Vir dan Dito.
Sesaat kemudian mata Andra tertuju pada Aileen. Vir yang menyadari itu langsung memperkenalkan istrinya. Mungkin saking asiknya ngobrol, dia sampai lupa keberadaan Aileen.
“Ohiya Andra. Ini istriku, Aileen. Eil, ini Andra.” ucap Vir memperkenalkan.
“Oh jadi sudah punya istri ya? Seja kapan? dan kenapa tidak mengundang..”
“Hanya mengundang beberapa rekan saja..” Vir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Aileen dan Andra lalu saling berjabat tangan.
“Andra..”
“Aileen..”
“Andra ini dulu ketua osis di angkatan kami..” Sambung Vir memperkenalkan.
“Iya, dia bintang SMAPEL pada masanya ." Dito pun ikut menimpali.
Ya, Seperti kata Virendra dan Dito. Dulu Andra ini adalah siswa berprestasi di sekolah mereka.
Dan Andra hanya terkekeh geli mendegar ucapan Dito dan Vir.
“Jangan berlebihan, nanti aku terbang.! Kacung seperti ku tidak pantas mendapat pujian..”
“Tidak berlebihan Andra, itu kenyataan..” Dito memutar mata malas
“Ohiya, Riana apa kabar?” tanya Vir
“Dia baik..”
Sementara Aileen terlihat duduk tenang di samping suaminya. Ia hanya menyibukkan diri bermain ponsel, sementara ketiga pria itu masih asyik bercerita, membahas berbagai macam hal.
Ponsel Aileen berdering, terdapat panggilan masuk dari sang Adik, Biyan.
Ia lalu meminta izin pada Vir untuk pergi mengangkat telepon tersebut.
“Sayang, aku akan telepon dulu ya..”
“Di sini saja!”
“Tidak bisa, di sini terlalu bising..”
Vir hanya menghela napas, namun tetap mengizinkan Aileen untuk pergi.
“Ya sudah, tapi jangan jauh-jauh..”
“Iya..”Aileen pun segera pergi mencari tempat untuk mengangkat telepon tersebut.
Sementara Andra sedari terlihat menatap interaksi antara Vir dan istrinya.
“Jangan heran Andra, dia memang seperti itu! ” sahut Dito yang seolah tahu apa isi pikiran Andra.
Dan pria bernama Andra itu pun hanya terkekeh.
“Istrinya hamil Andra, jadi dia harus memberi perhatian ekstra..” celetuk Dito lagi
Andra terlihat berbinar, pria itu lalu mengucapkan selamat pada Virendra “Wah, selamat ya Vir! Aku turut senang mendengarnya...”
“Terimakasih banyak.. Ohiya mungkin beberapa hari lagi Aku akan mengadakan syukuran, ku harap kamu bisa datang..”
__ADS_1
“Tentu! kabari saja, aku pasti datang..”
Setelah itu Virendra, Dito dan Andra pun kembali berbincang, mereka terdengar lebih banyak membahas tentang masa-masa SMA yang menyenangkan.
Tidak lama setelah itu, Aileen sudah kembali. Ia duduk sambil berbisik pada suaminya.
Vir yang peka dengan situasi langsung mendekatkan telinganya, dengan seksama ia mendengarkan ucapan sang istri.
“Aku pulang duluan ya..” bisik Aileen sepelan mungkin, membuat Vir langsung menoleh
“Hari ini ulang tahun mommy, Biyan mengajakku untuk bikin surprise untuk Mommy..” jelas Aileen dengan masih berbisik
“Ya sudah, kita pulang ya..” Vir meraih tangan istrinya lalu mengusapnya pelan. Namun bukannya setuju, Aileen justru menggeleng. Membuat Vir menyerngit heran.
“Kau di sini saja, reuninya kan belum selesai. Shakeel akan menjemput ku! Kalau acaranya selesai baru boleh menyusulku..”
Virendra terlihat tak setuju, ia tak mungkin membiarkan istrinya pergi tanpa dirinya meski dengan Shakeel sekalipun.
Melihat wajah Vir yang seperti itu, membuat Aileen berusaha membujuknya.
“Sayang, kasihan Andra. Dia baru datang dan kalian baru ketemu setelah sekian lama. Jadi kau tetap di sini saja..”
“Tidak, Aku akan tetap mengantarmu lalu masih bisa kembali setelahnya.. Lagipula di sini ada Dito.." Vir tetap bersikeras.
Aileen tetap menggeleng. Kali ini ia tidak ingin merusak moment pertemuan suaminya dengan teman lamanya. Lagi pula ia tidak akan kenapa-kenapa jika pergi dengan Shakeel. Toh, Shakeel pasti akan melindunginya.
...***...
“Aku titip dia ya, Shakeel..!” Setelah lama dibujuk akhirya Vir mengizinkan Aileen pulang lebih dulu dengan sepupunya.
“Siap..” jawab Shakeel apa adanya.
Kini, Aileen sudah berada di dalam mobil bersama Shakeel.
“Hati-hati ya.. Nanti kalau Andra sudah pulang aku langsung menyusul..” Vir mengecup kening istrinya dari luar.
Aileen membalas melingkarkan tangan suaminya yang berdiri di pintu mobil.
Hampir saja Vir mengarahkan tangannya pada perut Aileen namun untung ia segera sadar. Ia masih harus merahasiakan semuanya dan akan memberikan kejutan pada semua keluarga saat acara syukuran nanti.
Aileen yang melihat itu hanya menggeleng kecil, menertawai suaminya yang hampir membocorkan kejutan yang ia buat sendiri.
...***...
Saat kembali ke dalam, ketiga pria itu kembali melanjutkan obrolan yang tertunda. Dengan Andra yang menanyakan beberapa hal, tak lupa pula menanyakan keberadaan Niko, sebab tak melihat pria itu di sana.
Tentu Vir dan Dito pun menceritakan semuanya pada pria itu. Tak lupa pula ia memberi tahu jika dirinya baru saja selesai baku hantam dengan Niko.
“Oh, Astaga.. Jadi memar di wajah mu ini karena baku hantam dengan Niko?"
Vir hanya mengangguk sambil memegang pipinya.
“Dan ini karya tangan Virendra karena aku berusaha menahannya..” seloroh Dito sambil menunjuk pelipisnya yang juga memar
“Sayang sekali aku malah datang terlambat..”
Andra pun hanya menggeleng kecil, Ia tak menyangka kejadian itu benar adanya. Sama seperti teman alumni yang lain, ia juga tahu jika ketiga pria itu adalah sahabat dekat.
Setelah cukup lama mengobrol mereka pun begitu merasa haus. Dan di saat yang bersamaan pula datang seorang pelayan yang mengantarkan minuman dan memberi mereka satu persatu, tidak lupa dengan beberapa makanan.
“Kebetulan sekali, mbaknya tahu saja jika kami membutuhkan ini..”
...________________...
__ADS_1