
Sore hari, Vir yang ketiduran di sofa kamar Aileen pun bangun. Ia menatap seisi ruangan namun tak juga menemukan wanita itu di sana.
Ia langsung mencari keberadaan Aileen.
Entah ada angin apa sampai ia begitu serius menjaga Aileen yang sedang sakit sampai-sampai tertidur di kamar wanita yang katanya ia benci.
Sementara itu di halaman terlihat dua orang wanita tengah mengobrol, dengan wanita yang satu membawa bayi yang baru berumur sekitar 5 bulan. Dia adalah Moza dengan bayinya.
"Aku mencari mu kemana-mana, ternyata kau ada di sini, kau itu sedang sakit kenapa malah ke luar!"
"Ehh.."
Suara seorang pria membuat Aileen dan Moza langsung menoleh ke sumber suara.
Aileen menatap Vir yang berjalan ke arahnya.
"Apa dia suami mu?" tanya Moza
Aileen mengangguk.
"Wah suami mu perhatian sekali ya Eil, dia pasti sangat mencintai mu sampai menghawatirkan mu seperti inj" goda Moza pada Aileen, saat melihat Vir yang kelihatannya marah karena Aileen yang sakit ke luar dari rumah
Aileen terdiam..
"Cinta??
tidak, itu bukan cinta. Apa iya perhatian seperti itu bisa dikatakan cinta?
Bagiamana mungkin aku berharap nama ku ada dihatinya, sedangkan menatap ku saja tak masuk di akalnya"
Aku tahu dia hanya sedang bersandiwara, kualitas aktingnya memang sudah tidak diragukan lagi, dia bisa segala hal, bisa marah, sok baik bahkan bisa bersandiwara... gumam Aileen dalam hati seraya memutar mata malas
"Kau kan sedang sakit, tidak seharusnya ke luar dan menemui bayi seperti ini.." tunjuk Vir pada Moza dan bayinya
"Maafkan dia sudah mendekati bayi anda dalam keadaan sakit.." Vir berujar sok bijak
"Eh tidak apa.." kata Moza hati-hati takut Aileen merasa tersinggung.
Sementara Aileen terus menatap Vir dengan tatapan yang sulit di artikan, semenjak ada Vir di sana ia hanya diam mendengar ocehan pria itu yang seolah begitu perhatian pada sakitnya yang tidak begitu parah..
"Kalau begitu kami masuk dulu.."
Moza tersenyum mengangguk
Kemudian Vir menarik tangan Aileen ke dalam rumah..
"Kau ini kenapa Vir, aku tidak sakit begitu parah sampai harus mengatakan itu pada mbak Moza. Aku hanya demam, itupun sudah tidak..!!" protesnya saat sudah berada di ruang tamu
"Haiiish kau ini, bukankah seorang dokter seharusnya tahu orang sakit tidak boleh mendekati bayi, harusnya kau beristirahat saja agar segera pulih!!! kalau terlalu lama sakit siapa yang akan membersihkan rumah???" Vir mendengus kesal
Aileen juga semakin kesal mendengar ucapan Vir. Ia pikir Vir benar benar tulus merawatnya, ternyata hanya agar ia cepat pulih dan kembali mengerjakan semua tugas rumah.
"Iya baiklah Tuan, kau yang maha benar.." berucap melengos pasrah "Sekarang bisakah kau melepas tangan mu dari tanganku?" Aileen melirik ke arah tangannya yang masih di genggam oleh Vir
Vir gelagapan, kemudiaan melepas genggamannya. Dia sendiri pun tak sadar jika masih menggenggam tangan Aileen.
"Jangan besar kepala, tadi aku tidak sengaja!" teriaknya pada Aileen yang sudah melenggang pergi dan sedang berada di tangga.
.
.
.
Malam harinya, Vir dan Dito sedang berada di sebuah Cafe andalan mereka untuk makan malam, Kali ini Vir dan Dito tidak hanya berdua tetapi di sana juga ada Fia.
__ADS_1
Kehadiran Fia membuat Dito menjadi pendiam tak seperti biasanya. Padahal banyak hal yang ingin Dito katakan, tapi karena ada Fia ia mengurungkan semuanya. Semenjak Vir menikah ia sudah tidak begitu respect pada hubungan kedua sejoli ini, dia lebih memilih menjadi pendukung hubungan yang sah yaitu hubungan Aileen dan Vir.
Mereka menyantap makan malam tanpa suara, hanya ada suara berisik dan dentingan sendok dari pengunjung lain
"Oh iya Vir, bukan kah kau sering berkunjung ke rumah mu yang di cluster Magnolia? kalau ke sana lagi ajak aku juga, aku suka suasana perumahan di sana.."
Mendengar ucapan Dito seketika Vir melotot tak percaya. Ia lalu menginjak kaki Dito dari bawah meja
"Auwww" pekik Dito yang memang sengaja mengatakan hal tadi agar Fia lebih cepat mengetahui bahwa Vir telah menikah.
"Kenapa Dit?" tanya Fia heran
"Ahkk, ini sepertinya di Cafe ini ada tikus! dia menginjak kaki ku.."
Damn!! berani sekali dia mengataiku tikus..
Sementara Fia yang mendengar kata tikus langsung bergidik ngeri, namun segera ia tepis. Bagaimana mungkin ada tikus di Cafe terkenal seperti ini! Sudah tentu pihak Cafe akan memperhatikan kebersihan Cafenya
"Ah kau ini ada-ada saja Dit..!" seru Fia
"Oh iya Vir, apa iya kau sering berkunjung ke cluster Magnolia?"
Vir menggangguk, sambil sesekali melirik tak suka pada Dito yang sudah membocorkan rahasianya.
"Kenapa tidak memberi tahuku? aku juga ingin ke sana" ucap Fia girang,
Dulu memang dialah yang membantu Vir memilih rumah di sana, Itu mereka lakukan sebab berharap suatu saat nanti hati orang tua Vir akan luluh dan setelah menikah akan tinggal di sana.
Namun semua berubah haluan tak sesuai rencana, justru orang lain lah yang kini tinggal di sana bersama Vir sebagai sepasang suami istri. Bahkan Fia tidak tahu jika Vir sudah menikah.
Begitulah manusia, hanya bisa berencana sedangkan Tuhan dan takdir-Nya tak selalu sesuai keinginan dan rencana hamba-Nya.
"Apa sekarang kau tinggal di sana?" Fia kembali bertanya membuat Vir bingung harus menjawab apa
Ini semua karena mulut ember Dito, Vir menatap kesal pada sahabatnya.
"Vir.."
"Eh iya Fi, Tidak! Aku hanya tinggal di sana saat Ayah dan Ibu ada di sini sedangkan bila mereka pergi maka aku akan tinggal di mansion utama" jelas Vir dengan alasan yang entah akan menyelamatkannya atau justru menjerumuskan.
.
.
.
Keesokan harinya, seperti hari-hari biasa pada umumnya. Mentari kembali bersinar terang dengan cahaya cerahnya. Semua orang kembali beraktivitas seperti biasa.
Begitu pula dengan wanita cantik satu ini, ia baru saja turun dari mobilnya dan berjalan memasuki gedung rumah sakit yang kelihatannya masih sepi.
"Pagi dok" sapa seorang perawat wanita yang juga baru datang dan berjalan menyeimbangi langkahnya
"Pagi.."
"Kemarin kenapa tidak masuk?"
"Kemarin Aku tidak enak badan" ujar Aileen di sela langkahnya
"Padahal kemarin ada seseorang yang ingin bertemu dengan dokter"
Aileen menatap heran ke arah perawat yang menggunakan masker itu.
Sang perawat pun membuka maskernya, menampakkan wajah yang begitu Aileen kenal
"Eh ternyata kau Nit, aku kira siapa" Aileen menatap sekilas lalu kembali fokus ke arah depan.
__ADS_1
Nita tersenyum mengangguk.
"Tadi katamu siapa yang mencari ku?"
"Ada seorang wanita, tapi aku juga tidak tahu dia siapa. Katanya nanti dia akan datang lagi.." jelas Nita
Aileen terdiam, sepertinya dia tahu siapa wanita yang mencarinya itu.
Tidak, ia tidak boleh menemuinya. Virendra melarang mereka bertemu. Lagi pula Aileen tidak akan sanggup jika harus bertemu dengan kekasih suaminya itu, Ia tidak tahu harus mengobrol apa. Kalaupun harus bertemu tentu rasanya akan berbeda pasti dia akan merasa canggung.
"Kalau dia datang lagi, katakan saja aku sedang sibuk" Aileen pun langsung masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Nita yang masih terpaku di depan pintu
Nita menatap heran, tidak biasanya dokter Aileen seperti ini. Nita penasaran namun ia juga tak selancang itu sehingga berani menanyakan apa alasannya.
Pintu itu kembali terbuka menampakkan Aileen yang ke luar membawa sebuah paperbag.
"Jika dia datang berikan ini padanya, sampaikan terimakasih ku" Aileen kembali menutup ointu ruangannya.
Sementara Nita ia terus menatap paperbag itu ditangannya. Dia penasaran namun tak punya cukup keberanian untuk membukanya.
Nita pun pergi, ia akan melakukan apa yang dokternya katakan walaupun menyimpan banyak tanya di benaknya.
.
.
.
Selepas pemberiannya dikembalikan dan sang dokter pun tak ingin menemuinya, Fia merasa sangat sedih. Ada rasa kecewa di dalam dirinya. Ia meminta Vir datang menemuinya dan akan mencurahkan isi hatinya pada sang kekasih.
Fia menunggu di salah satu kursi di restoran ternama, dia memilih tempat dibagian rooftop agar bisa menikmati udara bebas di tengah perasaan kecewanya.
Saking sedihnya Fia tak henti-hentinya menatap barang pemberiannya yang dikembalikan oleh dokter Aileen.
Salahnya dimana? apa aku melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan sang dokter sampai dokter itu tak ingin menemuinya dan malah mengembalikan pemberiannya. Berbagai pertanyaan berputar di otaknya.
"Fi kau kenapa? Kau menangis?" kata Seorang Pria yang baru tiba dan duduk di hadapan Fia
"Vir, dia mengembalikan pemberian ku!! dia juga menolak menemui ku..hikss!" Fia terisak sendu karena si malaikat penolongnya menolak bertemu
Vir menyergit heran. Ia tidak mengerti apa yang Fia katakan? Siapa yang ingin ditemuinya dan menolak sehingga ia sedih Seperti ini?
"Jangan menangis ya, bisa jelaskan padaku? Aku sama sekali tidak mengerti maksud mu Fi.." Vir mengusap air mata Fia
Fia pun menceritakan Semuanya pada Vir, yang mana dia ingin bertemu dengan dokter Aileen namun seorang perawat menyampaikan bahwa sang Dokter tak bisa di temui dan malah mengembalikan pemberiannya. Ia tahu itu hanya alasan untuk menolak bertemu dengannya.
Aileen?? Vir tahu maksud Fia
Namun Vir tak habis pikir, kenapa Fia sebegitu mengagumi dokter yang tidak lain adalah wanita yang bagi Vir yang telah merusak hubungan mereka. Tapi di sisi lain Vir juga merasa lega karena Aileen menuruti perintahnya untuk tidak menemui Fia lagi.
"Sudahlah Fi, kenapa sampai sedih begini, toh kau pun tidak begitu mengenalnya" Vir berusaha menenangkan
Bukannya merasa tenang, kata-kata Virendra malah membuat Fia emosi.
"Kau tidak tahu Vir, aku merasa berhutang budi padanya! dia menolongku saat dimana orang yang ku temui hanya diam melihat ku kesakitan namun dia malah mendekat dan meminta orang lain untuk membawa ku ke mobilnya, bagiku dia orang baik Vir. aku mengaguminya!!! dia Dewi penolong ku" teriak Fia sedikit kencang, membuat para pengunjung Restoran menoleh kepada mereka
Vir menarik nafas dalam dan berusaha tenang menghadapi Fia.
"Itukan sudah tugasnya sebagai seorang dokter. Lagi pula saat itu kita akan tetap tahu penyakit mu sekali pun bukan dia yang mendiagnosis!"
Fia menghela nafas, Sungguh kekasihnya ini masih sama seperti dulu, masih kurang peka dengan keadaan.
"Vir, kau tau seandainya dia tidak menolong ku mungkin aku akan mengabaikan rasa sakit itu bahkan mungkin akan terlambat di tangani. mungkin aku tidak akan ada di sini.."
Ya Fia memang lah sosok orang yang sangat abai, dia paling malas dan anti berurusan dengan yang namanya rumah sakit, Saat ia merasakan sakit ia hanya akan membeli obat di apotek dan akan meminumnya tanpa mau repot-repot berkonsultasi ke dokter. Namun justru karena kelalaiannya hampir membuatnya terlambat menyadari penyakit yang bersemayam dalam dirinya. Beruntung dulu saat ia merasa sakit ada seorang dokter yang menolongnya sehingga ia mengetahui ternyata ada penyakit di dalam dirinya.
__ADS_1
"Ya sudah iya, aku minta maaf!! kau yang tenang dulu. mungkin dia sedang sibuk jadi tidak bisa menemui mu" Vir menggengam tangan Fia berusaha untuk menenangkannya