Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 33


__ADS_3

"Maaf karena adik ku Daddy jadi mengetahui semuanya dan marah seperti tadi" ujar Aileen yang berjalan di depan Vir, Setelah cukup lama di sidang mereka baru saja ke luar.


"Ini bukan salah siapa-siapa, lagi pula semua yang Daddy katakan memang benar!" ucap Vir seraya memutar knop pintu dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Aileen yang masih mematung di depan pintu.


Aileen yang tadinya sudah menyiapkan mental sekuat baja atas segala kemungkinan yang akan terjadi setelah kejadian tadi pun menarik napas dalam, ia tidak percaya dengan respon Vir yang tidak marah sama sekali. Mengingat pria itu sering kali marah dengan hal spele yang ia lakukan apa lagi jika menyangkut soal keluarganya.


Puas termenung Ia pun segera masuk ke dalam dan menutup pintu.


"Tetap saja, ini semua ulah Biyan! biar nanti aku yang akan menegurnya agar tidak lagi jadi ember bocor" Aileen sengaja kembali membahas hal tadi, ia ingin melihat respon Vir apakah suaminya itu benar-benar tidak marah pada Biyan.


Vir yang duduk di sofa sibuk melepas sepatunya, beralih menatap Aileen yang duduk di sisi ranjang menghadap dirinya.


Ia memicingkan matanya "Haiss, jangan bertindak yang aneh-aneh! Apa kau mau adik mu kembali mengadu karena kau memarahinya dan aku yang akan dimarahi daddy mu?" Berucap sambil beralih melepas jam tangannya "Lagi pula aku memang salah, Kita menyetujui perjodohan ini, itu artinya kita juga harus berusaha saling menerima"


Aku sudah berusaha menerima semua ini, Namun kau tak pernah mau melihat ku dan membuka hati untuk ku!!


Dirimu lah yang belum bisa menerima semuanya sampai-sampai kau sering menyudutkan dan menyalahkan ku dalam perjodohan ini.. Eil memutar mata malas sembari mencebikkan bibirnya


Sementara Vir masih terlihat menunduk, entah apa yang ia lihat di bawah lantai sana.


Vir menghela nafas, Ia mengenyampingkan egonya demi ikatan suci yang terjalin di atas Pernikahan tanpa cinta ini.


"Beri aku waktu! Aku akan berusaha untuk ini.. Tapi aku tidak bisa menjanjikan kapan bisa menerima semuanya seutuhnya. Aku hanya bisa menjanjikan bahwa aku akan berusaha" tuturnya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya


Aileen mengiyakan ucapan Vir hanya dengan sebuah anggukan singkat


Sungguh dirinya tak menyangka jika Vir akan mengatakan ini, Ia tidak percaya jika pria itu ingin berjuang dan berusaha.


Aileen tersenyum, ada perasaan senang yang membuncah dalam hati. Benarkah yang ia dengar tadi? Tidak kah ini berlebihan? Jika benar demikian, dirinya pun akan berusaha dan melakukan seperti yang Vir katakan tadi, walaupun sebelum Vir mengatakan itu dia sudah berjuang lebih dulu dan berdiri di garis star sebelum wasit menyatakan mulai.


Namun bagaimana dengan Fia? Bisakah ia mengabaikan perasaan wanita itu? Tentu dia juga akan begitu terluka.


Bisakah kali ini saja untuk tidak memikirkan hal lain, Masalah yang terjadi hari ini saja cukup membuatnya pusing.


"Aku ke luar dulu.." ujar Vir yang baru ke luar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti.


Aileen tersentak, Ia tidak menyadari kapan Vir masuk ke dalam kamar mandi, kenapa tiba-tiba pria itu ke luar sudah dengan pakaian yang berbeda.


Malas memikirkan hal lain ia pun beranjak untuk membersihkan diri


.


.


.


.


Di belahan bumi yang lain, seorang pria tengah adu mulut dengan seorang wanita yang sangat tidak asing.

__ADS_1


"Dimana Vir? Aku ingin bertemu dengannya!" teriak Fia nyaring.


"Tidak boleh, tidak sembarang orang boleh memasuki ruangan pimpinan" cegat Dito yang berdiri menghadang Fia di depan pintu ruangan Virendra


Kali ini ia sedang berhadapan dengan Dito yang mencegahnya masuk ke ruangan Vir.


Ya, kali ini Fia datang ke Angkasa Land Hotel untuk menemui Vir yang sudah beberapa hari ini tidak pernah menemuinya, bahkan nomor telepon pria itu pun tidak aktif.


Fia menghentakkan kakinya sebal "Kau ini kenapa Dit? Kenapa akhir-akhir ini kau begitu sensitif pada ku.. kau seolah menjauh dariku" tanya Fia yang merasa semenjak dirinya datang dari luar negeri sikap Dito sudah tak seramah dulu.


"Ku rasa kau tahu apa alasannya" kata Dito acuh


Fia menatap tak suka pada Dito yang tak sedikit pun beranjak


"Apa karena Vir sudah menikah?" tebaknya asal, Dito hanya tersenyum kikuk "Cih sepertinya kau sudah mulai membela dokter itu!! Apa dia juga meracuni mu agar tak menyukai ku..?"


Dito menghela nafas, Ia yang selama ini dekat dengan Fia hanya karena menghargai wanita itu sebagai kekasih pilihan Vir. Namun sekarang situasinya berbeda, Vir sudah menikah dengan orang lain dan ia akan mendukung hubungan Vir dengan istrinya, Toh selama ini orang tua Vir juga tak merestui hubungan mereka.


"Seharusnya kau menjauhi pria yang sudah beristri, dia sudah menikah! Lagi pula untuk apa kau mencari Vir, dia tidak ada di sini" ucap Dito


Fia tersenyum sinis.


"Hahah Vir kekasihku yang di rebut oleh dokter itu! Jadi seharusnya dia yang menjauhi Vir!!"


"Minggir Dito, aku muak berbicara dengan mu. aku ingin bertemu dengan Vir"


"Fi, aku bilang Vir tidak ada di sini!, Di sedang ke luar negeri bersama ISTRINYA" Dito sengaja menekan ucapannya pada kata 'Istri' agar Fia mau menyerah untuk mendekati Vir dan sadar bahwa Vir hanyalah mantan kekasihnya yang sudah berstatus suami orang


Dia bahkan sudah melihat mobil Vir tidak ada di parkiran tapi kenapa masih belum percaya??


Dito yang mulai jengah pun meraih hpnya dengan satu tangan dengan tangan yang satunya berusaha mencegah Fia yang masih berusaha masuk.


Dito menelpon security untuk membawa Fia ke luar.


Tidak menunggu lama, Security pun datang


"Bawa dia!" perintah tegas Dito


"Kau!" Fia menatap tak suka pada Dito sesaat sebelum security itu menariknya


Fia memberontak dengan terus mengumpati Dito yang sudah tega mengusirnya secara paksa.


Dito menghela nafas panjang kemudian masuk ke dalam ruangan Vir.


Derggt, dergt...


Dito memicingkan matanya melirik panggilan dari nomor yang tak di kenal, bahkan sepertinya nomor itu nomor dari luar Negeri. entah lah, ia sendiri pun tidak tahu itu kode negara mana yang pastinya bukan +62.


Dito pun mengangkat telepon itu tanpa berniat bersuara sebelum si penelepon bersuara lebih dulu.

__ADS_1


"Hello... halo... Helllo....


Hey Ardito kau dimana??" teriak si penelepon geram, sebab tak mendengar sahutan dari sebrang sana


Dito yang mengenal suara itu pun terkekeh sebelum kemudian marah-marah pada Vir yang baru menghubunginya setelah dua hari di luar Negeri


"Damn it, kau ini kemana saja hah? saking sibuknya melepas rindu kau sampai lupa mengabariku" Dito memutar mata dengan sedikit mengulum senyum di bibirnya


"****, diamlah!! siapa yang melepas rindu hah? kau tahu sendirikan di sini semua orang sedang berduka" Menelpon sudah seperti setrikaan, sedari tadi mondar mandir tak karuan. Beruntung ia ada di luar jadi tidak ada yang melihatnya


"Ya aku tahu, maka dari itu aku turut sedih atas meninggalnya kakek mertua mu" ucap Dito seraya duduk di sofa


Mereka pun mengobrol sambil sesekali membahas urusan hotel.


Dito sama sekali tak berniat memberi tahu Vir tentang kedatangan Fia, Ia tak ingin pikiran Vir teralihkan karena memikirkan Fia. Dito ingin Vir fokus pada Aileen agar hubungan mereka semakin membaik.


Setelah menelpon Vir pun kembali masuk ke dalan rumah, Ia tidak sengaja melihat semua keluarga berkumpul di salah satu kamar yang sepertinya kamar Oma Karina


"Keil cepat panggil dokter" ucap Ferdi pada putranya


"Ya lebih baik dokternya di panggil ke mari" kata suara tua opa Surya


"Benar, lebih baik di rawat di rumah agar lebih leluasa" sahut Ayah Hans


"Mah, mama minum lah sedikit" suara Mommy Jessica kedengaran gusar


"Mama duduk dulu ya" suara Syella ibu Shakeel, sepertinya ia membantu oma untuk duduk


Dari yang Vir dengar, ia menangkap jika oma karina sedang sakit, keadaannya droop.


Namun untuk mengetahui lebih pasti, Vir pun mendekat.


Ia berdiri di ambang pintu, tepat di samping Biyan. Semua orang ada di sana, hanya Aileen saja yang tidak ada


Kemana wanita itu? kenapa tidak melihat Omanya yang sedang sakit? diakan dokter tentu akan lebih mudah memeriksa keadaan omanya.


Namun sepertinya karena saking paniknya, semua orang sampai lupa keberadaan Aileen yang juga seorang Dokter, tentu akan lebih mudah untuk melakukan pertolongan pertama.


"Ada apa dengan oma?" bisik Vir pada orang yang ada di depannya yang ternyata adalah Biyan.


Biyan yang mendengar suara lalu menoleh, Ia menatap sinis ketika menyadari suara yang bertanya tadi adalah kakak iparnya.


Biyan melengos dan membuang muka tanpa berniat menjawab ucapan Vir.


"Aih dasar bocah sialan" lirih Vir namun masih bisa didengar oleh Biyan


Vir pun melangkah masuk, melewati Biyan yang melemparkan tatapan tak suka padanya


"Oma kenapa bu?" bisik Vir pada Melinda yang juga ada di sisi ranjang

__ADS_1


"Drop!! sedari pagi oma tidak mau makan"


Mendengar ucapan Ibunya Vir hanya mengangguk mengerti. Ia pun ke luar dan kembali menuju kamarnya.


__ADS_2