
Virendra dan Aileen berjalan sepanjang koridor, keduanya akan segera pergi dari rumah sakit itu. Vir terlihat menenteng satu tas berukuran besar yang berisi barang-barang istrinya.
Keduanya berjalan bergandengan dengan Satu tangan Vir menggenggam erat tangan istrinya, seolah wanita itu akan hilang jika terlepas dari genggamannya.
“Moon, pelan-pelan! langkah mu sudah seperti orang yang terjerat hutang dan berlari menghindarinya..” ujar Aileen yang mencoba mencairkan suasana, Ia tahu suaminya itu tengah mememdam rasa bersalah atas apa yang terjadi padanya.
Vir memperlambat langkahnya, Ia menoleh ke arah sang istri sambil sesekali mengelus tangan itu penuh sayang.
“Kemarilah!” Vir merangkul tubuh Aileen dan keduanya kembali melangkah.
Baru beberapa langkah, keduanya kembali menoleh saat seseorang terdengar menyebut nama Aileen.
“Zaa, kau masih ada di sini?” tanya Aileen saat melihat Zaky. Sementara Vir, pria itu terlihat melemparkan tatapan tak suka. Ia semakin mempererat rangkulannya dengan begitu posesif.
“Iya, Aku menghawatirkan mu jadi aku menunggu di sini” ucap Zaky yang mana membuat mata Vir membola seketika.
“Tidak perlu mengkhawatirkannya, sekarang dia sudah aman bersamaku.” ketus Vir yang tak bisa menyembunyikan rasa tak sukanya pada Zaky.
Sementara Aileen merasa tak enak hati pada Zaky, apalagi tadi pria itu sempat membantunya.
Zaky yang tak ingin berdebat hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Aileen yang seolah mengisyaratkan permintaan maaf dari raut wajahnya.
“Ayo, sayang..!” Vir merangkul tubuh Aileen dan segera pergi.
“Kami pulang dulu! Terimakasih untuk yang tadi” Aileen menyempatkan diri untuk menoleh dan menyampaikan rasa terima kasihnya.
Sesampainya di parkiran, Vir membuka pintu mobil. Ia kebingungan harus menyimpan tas besar Aileen dimana, mobil sport miliknya tak punya cukup ruang untuk menampung barang sebesar itu.
“Ahkkk, sial! Mobil ini terlalu sempit nuntuk menampung tas ini..” gerutu Vir sambil menendang ban mobilnya.
Aileen tersenyum gemas melihat tingkah suaminya.
“Hey, tidak perlu marah-marah. Aku rasa tasnya cukup untuk di simpan di bawah kaki ku.” tunjuknya pada sisi kosong di bawah dashboardnya. Aileen hendak meraih tas itu, namun Vir malah menjauhkannya dari jangkauan sang istri.
“Tidak, Aku tidak ingin kakimu pegal karena terhalang tas ini” katanya, yang ternyata memikirkan kenyamanan kaki Aileen.
“Ya, terus harus bagaimana? Tidak mungkinkan kau memangkunya, ini terlalu besar, sayang.”
“Kita pikirkan cara lain!” Vir nampak memikirkan bagaimana caranya agar tas itu bisa masuk ke mobil tanpa membuat istrinya kewalahan.
“Emmnt, permisi!” lagi-lagi suara seseorang mengalihkan konsentrasi Vir yang tengah berpikir keras.
“Ck, kau lagi! Kenapa kau seperti hantu yang muncul tiba-tiba..” ketusnya saat melihat siapa si pemilik suara.
“Moon..” Aileen mengelus lengan Vir, berusaha menenangkannya agar tidak terlalu galak pada Zaky
“Hmmmmnt, Ada apa?” Vir terpaksa sok ramah, Ia tidak ingin Aileen kecewa.
Priaa sialan ini selalu saja merusak moodku!! Ck, apa dia tidak tahu wajahnya itu sudah seperti kepulan asap yang begitu mengganggu penglihatan ku.. Vir memutar mata malas.
“Ahh, iya. Aku liat kalian seperti memikirkan sesuatu. Ada apa? Siapa tahu aku bisa membantu!” tawar Zaky, yang memang sedari tadi memerhatikan pergerakan Aileen dan Vir dari kejauhan.
“Ah, iya. Kami memang mengalami sedikit kendala! Kau mau membantukan? tepat sekali, ini. bawakan ini ke rumah kami di perumahan Cluster Magnolia jalan Alamanda nomor 42 B” Kata Vir sambil memberikan tas itu kepada Zaky.
“Moon..” lirih Aileen yang tidak enak hati
“Kenapa? dia mau membantu kita, Sun. Lagi pula aku tidak ingin kakimu pegal karena tas ini..”
“Tapi itu merepotkan Zaky, Sayang”
Melihat interaksi antar sepasang suami istri itu, entah mengapa hati Zaky begitu nyeri. Ia bisa melihat jika sejoli di depannya begitu saling mencintai satu sama lain, bahkan panggilan yang dilontarkan keduang mampu mengoyakkan hatinya. Tak bisa dipungkiri jika rasanya pada Aileen sama sekali belum hilang. Entah sampai kapan? namun sepertinya dia harus benar-benar menyerah. Melihat keduanya yang begitu saling mencintai membuat nyalinya menciut
“Emmnt, tidak apa Eil! Aku akan bawakan.Tadi di Cluster Magnolia nomor 42 B kan?”
“Tepat sekali! Kalau begitu tolong titip barang istri saya, kami ingin ke hotel dulu. Biasalah, suami istri suka cari suasana baru untuk melewati hari yang berat ini” bisik Vir hanya pada kata-katanya yang terakhir. Yang mana ucapannya itu mampu membuat wajah Zaky memerah.
Aileen mencubit pinggang Vir, pria itu menggeliat menghindari.
__ADS_1
Zaky yang mendengar itu tak bisa lagi berlama-lama di sana. Ucapan Vir begitu menohok yang menghantamnya mundur sejauh mungkin.
“Kalau begitu, saya pamit dulu. Tas ini aman bersamaku”
Setelah mobil Zaky menjauh meninggalkan rumah sakit. Aileen tak henti-hentinya memandang suaminya yang melemparkan senyum penuh kepuasan selepas kepergian Zaky.
Sana, pergi yang jauh, dasar pengganggu! Aku puas melihat raut wajahmu yang berubah seperti kepiting rebus..
“Moon..” teriak Aileen yang melihat suaminya tersenyum sinis
“Hmmmnt”
“Kau kenapa?”
“Tidak apa-apa! Ayo masuk” Aileen pun sudah duduk di tempatnya, sedangkan Vir juga sudah masuk. Ia menginjak pedal gas dan mobil itu melaju meninggalkan halaman parkir.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, sepasang suami istri itu sama sekali tak terlibat obrolan apapun. Mereka sibuk dalam pikiran masing-masing.
Tanpa Aileen sadari, Vir terus menatapnya dengan perasaan rasa bersalah yang begitu besar. Hatinya bagai teriris setiap kali melihat luka yang ada di wajah istrinya. Bulir bening itu menentes begitu saja, ia menangis dalam diam, Pria Arogan itu menangisi keadaan istrinya.
Maafkan aku eil, ini semua salahku. Kau harus menanggung semua karena hubungan ku dimasa lalu. karir mu hancur dalam sekejap. Kata maaf mungkin tak akan mampu menyembuhkan hancurnya kamu Karena kehilangan karirmu..
Air mata Vir makin bercucuran deras, Aileen yang masih larut dalam pikirannya sendiri sama sekali belum menyadari apa yang terjadi pada sang suami. Wanita itu terlihat memikul beban, hari ini merupakan hari yang berat, tentu tak mudah baginya menerima semua yang terjadi, semua berubah dalam sekejap hanya karena kekacauan yang Fia timbulkan.
Aileen terlihat menghela napas, kemudian menoleh ke arah Vir. Sementara Vir yang menyadari itu, segera buang muka sambil mengusap kasar wajahnya, Ia tidak ingin Aileen melihatnya bersedih.
Aileen mengerutkan keningnya saat menyadari gelagat aneh pada Vir.
“Are You okey?” Aileen memiringkan kepalanya sambil menatap lekat.
Vir mengedip-ngedipkan matanya berusaha mengalihkan perhatian Aileen agar tak disangka menangis sungguhan.
“I'm Okey, Sun! jangan bertanya begitu, harusnya aku yang bertanya” katanya, sambil menampakkan senyum tulus.
“Hey, ada apa dengan matamu? apa kau menangis?” Aileen makin memperdalam tatapannya sambil memegang bahu Vir.
“Tidak, siapa yang menangis! Aku hanya kelilipan My Sun.” Lihatlah, betapa lihainya seorang Virendra bersandiwara. Entah apa yang ingin disembunyikan, toh Aileen juga tidak akan mengejeknya hanya karena menitihkan air mata. Bukankah itu hal yang wajar, setiap manusia diciptakan memiliki kelenjar air mata masing-masing tanpa memandang gender, jadi bukankah wajar jika seseorang menangis?
“Kau terluka tapi masih mengatakan tidak apa-apa, Apa kau sehat?”
Aileen hanya terkekeh mendengar ucapan suaminya.
Saat sedang menoleh, pandangannya tertuju pada jejeran pedagang kaki lima yang tengah berjualan di tepi taman kota. mata Aileen berbinar bahagia melihat itu, Ia seolah ingin mencicipi berbagai makanan yang ada di sana.
“Moon, apa aku boleh minta sesuatu?”
“Tentu sayang, apa? Katakan, apapun itu akan aku turuti” Vir meraih tangan Aileen lalu mengecupnya
“Ah benarkah??” Aileen mulai terkekeh, seperti tengah memikirkan ide jahat yang siap ia gunakan untuk mengerjai suaminya.
“Kalau aku meminta mu meninggalkan ku, apa kau juga akan melakukannya?” Aileen terkekeh geli, mendengarnya saja sudah membuat wajah Vir berubah seketika.
“Aisshh, permintaan macam apa ini!! Jangan mengada-ada!”
“Hahahah, mengemaskan sekali” Aileen mencubit gemas pipi suaminya.
“Ck, sama sekali tidak lucu!”
“Come on, Moon. Jangan marah, aku hanya bercanda” Aileen menempelkan kepalanya di lengan Vir yang masih menampakkan raut wajah marah.
“Apa itu benar-benar keinginan mu? Apa kau akan senang jika aku menurutinya?” ucap Vir tanpa menoleh, ia begitu fokus menatap jalan yang dilalui.
Aileen beranjak, ia menatap lekat wajah sang suami. “Sayang, aku bilang aku hanya bercanda! kenapa malah mengatakan seolah kau ingin melepaskan ku” Wanita sensitif itu mencebik tak suka
Vir tersenyum, mengapa wanita suka seenaknya? dia yang menabuh genderang perang namun ia juga yang marah ketika gendrang itu di sambut .
“Sekalipun kau memaksa untuk terlepas dariku, Aku tidak akan melepaskan mu dari genggaman ku” ucap Vir yang mana membuat Aileen tersenyum dan kembali bersandar di lengannya.
__ADS_1
“Sekalipun aku berlari menjauh tolong kejar dan cegah aku. Karena percayalah, aku pun tak pernah ingin terlepas darimu! aku hanya ingin berada di sampingmu selamanya. Itu komitmenku sejak awal yang memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupku bersama pilihan yang Tuhan berikan”
Vir begitu terharu mendengar ucapan Aileen, kata-kata wanita itu mampu membuatnya seperti dihinggapi ribuan bunga dan kupu-kupu.
Vir mengecup puncak kepala sang istri, sungguh ia dibuat tak bisa berkata-kata lagi.
“Katakan apa yang kau inginkan, Sun!”
“Ah iya,” Aileen beranjak, ia hampir saja melupakan keinginannya yang ingin singgah di taman. Aileen menoleh ke belakang, mobil mereka sudah sedikit jauh dari taman.
“Moon, Aku ingin makan di taman”
“Makanan apa yang ada di taman?” Vir mengerutkan keningnya
“Banyak, moon! Di sana ada banyak penjual!”
“Apa makanannya higienis?”
Aileen mengangguk dengan menatap binar, seperti anak ayam yang mengiba minta makan.
“Yakin?”
“Hiyaaa, Vir!! Perkara makan di taman saja kau bertanya seperti seorang detektif!” Lagi-lagi kesensitifan wanita itu meledak.
Vir semakin dibuat gemas, ia pun menyerah dan siap menuruti keinginan Nyonya besarnya.
“Baiklah, Anything for you!” katanya sambil memutar arah mobil dan kembali ke taman.
Anything for you katanya? setelah membuat ku kesal dia baru mengatakan hal itu, Ckckck..
...____...
Setelah membeli berbagai jenis makanan dan minuman, kini sepasang suami istri itu tengah duduk di kursi yang tersebar diberbagai penjuru taman. Keduanya memilih duduk di bawah pepohonan rindang.
Banyak pengunjung yang duduk di sana sambil berinteraksi dan berbicara satu sama lain. Suasana menjelang sore membuat taman menjadi lebih ramai dengan pengunjung dari berbagai kalangan yang bersiap menghabiskan hari mereka menghirup udara sejuk kota saat sore hari.
“Mau?” Aileen menyodorkan sosis bakarnya ke depan bibir Vir yang masih setia terkatup, sedari tadi pria itu hanya terdiam tanpa mencicipi makanan yang istrinya beli.
“Aaaa” Aileen kembali menyodorkan namun Vir menolak dengan gelengan.
Pria itu tak berselera untuk makan, Ia benar-benar tak terima dengan masalah yang terjadi hari ini. Ia tidak rela karir istrinya hancur dalam sekejap meskipun pimpinan mengatakan masih bisa kembali bekerja setelah melewati pembinaan. hanya saja Vir merasa ini suatu penghinaan baginya. Sementara wanita yang dipikirkan malah terlihat tanpa beban, ia terus asyik mengunyah makanannya.
Aileen terlihat begitu menggemaskan dengan serpihan keju mozarella yang menempel di ujung bibirnya. Vir yang melihat itu mulai tersenyum, Ia mendekatkan wajahnya lalu menarik tengkuk sang isteri.
Cup..
Vir ******* sisa keju tersebut sambil mengambil kesempatan agar lida*nya bisa menyambangi mulut sang istri.
“Manis!” tersenyum sambil mengusap lembut bibir Aileen.
Aileen terpaku, jantungnya berdegup kencang. ia tak menyangka jima Vir akan melakukan itu di tempat umum.
“Kenapa?” tanya Vir, ia membawa kaki Aileen ke atas pahanya dan menariknya mendekat.
Aileen tersenyum lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Vir.
“Sekali lagi Aku minta maaf, Sun! Ini semua salahku, Aku yang membawamu ke dalam masalah ini! Seharusnya aku bisa menjagamu. seharusnya kejadian ini tidak terjadi, kau terluka dan kehilangan karir mu karena kesalahanku” Vir dengan rasa bersalahnya, menumpahkan semua penyesalan yang masih bersemayam di hatinya.
“Sayang, ini bukan salahmu. sudahlah jangan di bahas” Aileen bangun, ia menatap nanar suaminya. mata pria itu terlihat berkaca-kaca.
Aileen menangkup wajah Vir dan mengelusnya lembut, Ia mencium kening suaminya.
“Moon, Aku memang sedih karena kehilangan pekerjaan ku, tubuh ku sakit menerima perlakuan kasar dari Fia. Tapi aku masih bisa menghadapinya jika itu bersama mu. Kau tahu Moon, aku siap kehilangan apapun di dunia ini asal jangan kamu. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku begitu mencintaimu. Bagiku rasa takut kehilanganmu lebih besar dari apapun” Ucap Aileen yang terisak, Ia menumpahkan perasaannya yang sesungguhnya.
“Maafkan Aku Eil, di awal pernikahan aku pernah menyakiti mu! terimakasih karena sudah mencintaiku. Aku juga sangat mencintai mu” Vir memeluk Aileen begitu erat. Sejoli itu seakan tak memperdulikan banyak mata yang terus memandang haru ke arah mereka.
___________________________________
__ADS_1
**Happy Reading ☺️
Jangan lupa tinggakan jejak**