Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 48


__ADS_3

Keesokan harinya, Aileen terbangun dari tidurnya, Ia merasakan sakit di lengan bagian kanan, Ia lalu duduk bersandar sambil memijat bagian tangganya yang sakit.


Jelas sakit, sebab semalam Vir menggunakannya sebagai bantal.


Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian Aileen, melainkan ia heran dan terkejut saat mendapati dirinya terbangun sudah ada di kamar.


Siapa yang membawa ku ke sini? Perasaan semalam aku tidur di ruang tamu. Ya aku ingat jelas aku tidur di sana, tapi bagaimana bisa aku ada di sini? Gumamnya dalam hati, Ia kebingungan sendiri bagaimana bisa dirinya ada di dalam kamar.


Aileen menatap seisi ruangan, namun saat melihat jam tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


Yang mana membuatnya meloncat dan berlari menuju Kamar mandi.


Setelah ke luar ia meraih kopernya yang berukuran kecil dan memasukkan beberapa perlengkapan ke dalamnya, seperti nya dia akan pergi.


Sambil menenteng koper, Aileen menuruni tangga. Ia semakin dibuat heran saat melihat semua ruangan sudah bersih, bahkan meja sofa yang semalam berantakan kini sudah tertata rapi, tidak ada lagi gelas dan piring makanan yang berserakan di sana.


"Siapa yang membersihkan semua ini?" Aileen mengerutkan keningnya "Apa mungkin mbak Moza? Tapi seingat ku, sebelum aku tidur dia sudah pulang terlebih dulu, lalu siapa yang membersihkan semuanya?" Aileen menggaruk tengkuknya.


Ia benar-benar kebingungan, kenapa rumahnya bisa tiba-tiba bersih seperti ini. "Apa mungkin Vir? tapi dia bahkan tak pernah pulang, lagi pula mana mungkin dia bisa melakukan pekerjaan rumah..." Aileen terus bermonolog sambil berpikir keras siapa yang melakukan semuanya


"Aihhh, terserahlah! Siapa pun yang melakukannya, aku berterima kasih pada mu!" ucapnya, kemudian kembali melangkah.


Tanpa Ia tahu jika suaminya lah yang melakukan semua pekerjaan rumah itu, Tidak tahu apa tujuan Vir tiba-tiba mau mengerjakan semuanya, mungkin saja karena merasa bersalah pada sang istri. Kedengarannya memang aneh jika Vir yang melakukan semuanya, tapi itulah yang sebenarnya terjadi, bahkan Ia juga sudah memesan makanan untuk Aileen agar wanita itu tidak perlu repot-repot masak dan langsung sarapan, tapi sayang sekali, Aileen malah tidak mengecek dapur sehingga tidak tahu jika di sana sudah ada makanan yang bisa dia gunakan untuk sarapan.


Entahlah apa maksud Vir mengerjakan semuanya kemudian pergi begitu saja tanpa bertemu dengan istrinya.


.


.


.


Di dalam taxi, Aileen tengah duduk sambil memandangi jalan dengan kaca mobil yang sepenuhnya turun menunjukkan jelas pemandangan dan berbagai kendaraan yang berlalu lalang, bahkan dari dalam mobil Ia bisa dengan jelas melihat berbagai gedung tinggi berjejer di sepanjang jalan yang ia lalui.


Dergg, dergg..


Aileen yang tengah fokus menatap pemandangan sambil menghirup udara pagi, kini beralih menatap layar hpnya. Di sana tertera panggilan dari pihak rumah sakit tempatnya bekerja.


Aileen menggeser tanda hijau pada layar panggilan, lalu meletakkan hpnya di telinga.


Aileen terdiam sejenak, menunggu sang penelepon berbicara lebih dulu.


"Dok, Hari ini anda diminta untuk menghadiri acara seminar di Angkasa Land Hotel, Mohon maaf sebelumnya, karena waktu cuti yang anda minta harus digunakan untuk menghadiri seminar ini!"


"Bukannya hari ini saya tidak ada jadwal? Saya sudah memesan tiket pesawat dan tidak bisa di cancel begitu saja"


"Mohon maaf sebelumnya dok, seminar ini tidak bisa jika tidak dihadiri. sebenarnya undangan seminarnya sudah ada sejak tiga hari yang lalu, ini kesalahan saya karena bterlambat memberi tahu anda" ucap si penelepon


Aileen menghela nafas panjang, Ia yang tadinya berniat pergi ke Singapura untuk menemui sang mertua harus membatalkan semua karena informasi seminar yang terlambat diberitahukan.


"Oke, oke saya akan segera menuju ke sana" ucap Aileen pasrah, dengan terpaksa ia harus merelakan tiket yang sudah ia beli hangus begitu saja.


"Terimakasih sebelumnya dok, Mohon maaf atas keterlambatan info yang saya berikan! Saya akan mengirimkan data seminar yang bisa digunakan chek-in, Selamat pagi dan selamat berkativitas!" ucap Si penelpon tanpa berdosa.


Aileen kembali menghembuskan nafas kasar, Ia berdecak kesal sambil menyimpan Hanphonenya ke dalam tas.


"Kita putar balik pak!" ucap Aileen pada driver taxi yang kelihatan kebingungan, padahal sebentar lagi mereka akan sampai di Bandara.


"Lho kok putar balik bu?" kata sang driver.


"Saya tidak jadi ke bandara pak, antar ke Angkasa Land Hotel saja!" ucap Aileen datar, Ia seperti tak bersemangat.


Ia benci dengan informasi yang terlambat seperti ini, selalu saja merugikan sepihak. Namun ia pun tak bisa menolak untuk tidak mengikutinya.


"Baik bu" ucap si Driver, tidak ada yang tidak tahu Hotel bintang lima milik suaminya itu. Bahkan sang Driver bisa tahu arah jalannya tanpa menggunakan bantuan google maps sekali pun.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, taxi itu sudah sampai di halaman Angkasa Land Hotel. Aileen ke luar dari taxi sambil menyeret koper kecilnya, Ia sudah seperti tamu hotel yang datang dari luar kota.


Aileen masuk ke loby hotel, Ia melakukan check-in terlebih dahulu kemudian menuju sebuah kamar yang akan ia gunakan untuk istirahat sambil menunggu waktu seminar.


Setelah itu, Aileen pun segera bergegas menuju ruangan seminar yang sudah ditentukan.


Terlihat di sana sudah begitu banyak peserta yang siap mengikuti seminar.


.


.


.


Aileen yang baru selesai mengadakan seminar di hotel milik Vir kebetulan bertemu dengan Dito yang kemudian mengajaknya untuk sekedar mampir ke cofeeshop yang ada di restoran hotel.


"Mau pesan apa?" tanya Dito pada Aileen yang kelihatan tidak bersemangat.


Lama Aileen berpikir, Dito pun menyerahkan daftar menu padanya.


"Yang ini saja!" tunjuknya pada Cofee late, Mungkin tidak ada lemon tea jadi dia memesan minuman berkopi, biasanya dia sangat anti minum-minuman sejenis kopi.


Dito lalu memberikan list pesananya dan Aileen pada Waitres yang ada di sebelahnya.


Waitres itu menunduk hormat, berpamitan pada Dito sang atasan tertinggi setelah Vir.


"Aihh sudah sana pergi, jangan terlalu seperti ini" Dito yang tak suka perlakuan Waitres yang baginya terlalu berlebihan itu langsung memukuli pelan bahunya


Waitres itu sontak terkejut, Ia cengengesan dan langsung berbalik pergi.


Aileen yang tadinya bad mood seketika tertawa melihat kelakuan Dito..


"Kenapa kau memukulnya? Hahaha lihat wajahnya, dia kelihatan syok karena kau pukul" ucap Aileen di sela tawanya


"Ck, Aku tidak suka mereka terlalu berlebihan"


"Aku ini masih muda Eil, Dia terlalu menghormati ku seperti orang tua, Bahkan suami mu juga tidak suka seperti ini, Kami lebih suka jika mereka biasa-biasa saja" ucap Dito


"Dasar bos aneh!" cebik Aileen.


Ia sedikit heran dengan tingkah dua sahabat itu, Padahal beberapa orang sangat gila hormat, apalagi jika merasa dirinya sudah menjadi atasan, tidak jarang mereka ingin di hormati. Namun berbeda yang dia lihat dari Dito, justru sahabat suaminya itu malah tidak suka jika bawahannya berlebihan seperti tadi.


Mendengar ucapan Dito, Aileen jadi penasaran dengan cara kerja suaminya yang Kedengarannya sangat berbanding terbalik dengan sikapnya. Ia penasaran ingin melihat bagaimana sikap Vir jika sedang berinteraksi dengan para stafnya.


"Hubungan mu dengan Vir bagaimana?" tanya Dito seraya menseruput kopi hitam di depannya


Ya, pesanan mereka baru saja tiba.


"Yaa begitulah, maju mundur tidak jelas!!" tersenyum kikuk sembari mengaduk-aduk cofee late di depannya.


Ada nada Kecewa dalam dirinya saat mengatakan itu, Dito mengerti perasaan Aileen.


Siapa yang tidak kecewa jika suaminya sudah mengatakan ingin sama-sama belajar menerima hubungan mereka namun tiba-tiba datang dan marah hanya karena sebuah pengaduan yang menyudutkan dirinya.


"Berarti buruk?" Menatap dengan tatapan iba


"Yah bisa dikatakan begitu, awalnya lumayan membaik tapi saat Fia menemui ku dan memutar balikkan fakta, Vir marah, sepertinya ia kembali membenci ku. Entah apa yang Fia katakan sehingga dia begitu marah padaku"


Dito berdecak kesal, ia selalu geram sendiri tiap kali Fia selalu jadi duri dalam rumah tangga Aileen dan vir


"Berjuang lah Eil, Aku yakin suatau saat Vir akan luluh dan menyadari dia juga mencintaimu sebagai istrinya"


Aileen tersenyum, hatinya begitu nyeri mendengar ucapan Dito.


Bagaimana mungkin ia masih mengharapkan cinta jika nyatanya hanya dia yang akan berjuang. Ya walaupun Ia baru akan memulai semuanya.

__ADS_1


"Memangnya selama ini apa yang aku lakukan jika bukan berjuang? Bahkan aku sudah bertahan selama ini Dit, tapi ku rasa perjuangan ku akan sia-sia saja, disaat aku berjuang untuk rumah tangga kami sedangkan dia malah berjuang untuk orang lain bahkan tidak pernah membela ku" Aileen selalu saja tersenyum setiap kali bicara


Dito menghela nafas kasar mendengar ucapan istri sahabatnya yang kedengarannya begitu menyayat hati..


"Berjuang sendiri itu tidak enak dit! Aneh dan melelahkan, sama seperti berkendara dengan orang yang punya tujuan berbeda dengan kita, kita ingin ke kanan dia ingin ke kiri, jadilah kendaraan itu tidak akan jalan dengan benar" Aileen sengaja terkekeh untuk mencarikan suasana.


Membuat Dito semakin salut padanya..


Bahkan disaat seperti ini dia masih berusaha tertawa untuk menutupi lukanya..


Dito tersenyum.


"Aku akan mendukung mu, Aku akan ada di belakang mu sebagai suporter yang memberikan semangat pada pemain andalannya" ujar Dito begitu serius seraya mengangkat kedua tangannya membentuk sebuah kepalan bogem, menandakan ia sedang memberi semangat pada Aileen..


"Kenapa mendukung ku? Kita kan baru kenal?? Kenapa tidak mendukung Fia saja yang lebih dulu menjalin kasih dengan vir?" tanya Aileen penasaran


"Karena aku tim istri sah, aku mendukung hubungan kalian"


"Dan dari awal, aku tidak pernah mendukung hubungan Fia dan Vir, selama ini aku hanya berusaha menghargai keputusan sahabat ku, bahkan aku sama seperti ornag tua vir yang tidak setuju dengan hubungan mereka"


"Kenapa?" Aileen semakin dibuat penasaran


"Dia tidak baik, aku tidak suka wanita seperti itu! "


"Maksudnya?"


"Dulu dia pernah menjalin hubungan dengan Niko. Namun wanita itu dengan mudahnya jatuh cinta pada Vir!" kelihatannya Dito akan menceritakan semuanya pada Aileen


Namun perhatian Aileen hanya fokus pada satu nama yang Dito sebut, Ia seperti terkejut saat mendengar nama itu.


"Niko?" ucap Aileen dengan kening berkerut


"Iya Niko, sahabat kami! Eh, tidak lagi, Dia hanya mantan sahabat" ucap Dito seraya terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Aneh bukan? Biasanya kita hanya mendengar kata 'mantan istri/suami' atau 'mantan pacar' tapi Aku dan Vir malah punya mantan sahabat" ucapnya sambil terkekeh


"Biasa terjadi" ucap Aileen santai


"Apa kau mengenal Niko?" tanya Dito yang heran kenapa Aileen menanyakan nama itu padanya


"Tidak, tapi sepertinya dia Niko yang berbeda!" Aileen menggeleng


Ya pasti bukan dia, mana mungkin dia bersahabat dengan Vir dan Dito..


"Oh iya Dit, apa aku boleh tahu kelanjutan cerita tentang Vir dan Fia tadi?" ucap Aileen hati-hati, takut Dito akan marah karena dirinya mengorek informasi tentang sahabatnya.


Dito menatap lekat wajah Aileen.


Aileen yang ditatap seperti itu merasa risih, Ia tahu sudah pasti Dito akan menolak memberi tahunya.


"Tentu, kau kan istrinya! Kau boleh tahu segalanya" ucap Dito tak terduga


Aileen yang mengira Dito akan menolak permintaannya langsung tersenyum. Ia senang bisa tahu sedikit banyak tentang masa lalu suaminya, Setidaknya ia bisa menentukan langkah selanjutnya setelah mengetahui masa lalu suaminya.


"Tapi apa kau sungguh ingin tahu?" Dito menatap serius


Aileen mengangguk


Dito pun menarik nafas dalam dan akan mulai bercerita.


_________________


NB :


Holaa guys! maaf aku baru bisa up sekarang, soalnya sibuk di RL.

__ADS_1


Jangan lupa beri dukungan berupa like, komen atau vote.. Seikhlasnya ya!! 🤭🤭


Peluk dan sayang untuk kalian semua🥰🤗


__ADS_2