Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 75


__ADS_3

Seorang wanita terbangun dari tidurnya.


Ia merentangkan tangannya, merenggangkan otot yang kaku sebab tidur dalam posisi tak nyaman.


Tidur di sofa sepanjang malam membuat tubuhnya terasa remuk.


Aileen mengedarkan pandangannya menatap seisi ruang, mencari keberadaan suaminya yang kembali tak menepati janji.


Hatinya semakin teriris saat bangun pun masih tak mendapati pria itu di rumah, ia sudah mengecek semua ruangan yang ada namun sama sekali tak menemukannya di sana.


Entah kemana dan dimana ia sampai tak pulang bahkan tidak ada kabar sama sekali.


Aileen bersendar di pintu kamarnya. Ia memegangi kepalanya sambil sedikit meremas rambut panjangnya. senyum getir tersungging dari wajah penuh kecewa itu “Dia bahkan tidak pulang" lirihnya dalam pedih


Ia lalu enghela napas kemudian melangkah ke kamar mandi.


★★★★★


Di halaman rumah sakit, seorang wanita cantik dengan riasan makeup.natueal yang mengenakan midi dress biru, dipadukan dengan widges hitam yang melapisi kaki jenjangnya berjalan memasuki gedung Rumah sakit.


Langkanya tertatih seakan memikul beban berat dalam diri. Wajahnya begitu letih namun tetap menyunggingkan senyum pada setiap orang yang ia lalui sepanjang koridor.


Namun perlahan langkahnya mulai melambat saat seorang pria yang dari semalam ia tunggu ternyata ada di rumah sakit.


Pria itu pun menatapnya penuh rasa bersalah, Vir masih mengenakan pakaian yang sejak kemarin ia kenakan.


“Eil..” lirih Vir, ia langsung melepaskan genggamannya dari kursi roda


Bak diporak porandakan kenyataan, hati Aileen terasa di patahkan saat matanya menangkap sosok wanita yang tengah duduk di kursi roda.


Ia tahu persis siapa wanita itu.


“A-aku bisa jelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kau pikirkan” Vir gelagapan, ia benar-benar merasa bersalah pada Aileen


“Fia sakit, dia meneleponku dan aku membawanya ke sini! keluarganya masih di luar negeri, Aku hanya menolongnya” Vir berjalan ke arah Aileen


“Maaf, semalam aku tidak mengabarimu. Hp ku lowbath” sambung Vir


“Maafkan Aku Eil, aku benar-benar tidak punya orang terdekat selain Vir” lirih Fia


Aileen yang masih terpaku segera tersadar. Ia berusaha terlihat biasa saja. ia tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain, sebisa mungkin Aileen membendung rasa sakit hatinya yang seolah tengah mendobrak benteng pertahanannya untuk meluapkan kekecewaannya di sana.


Siapa yang salah dan keliru? dia yang mematahkan hatiku karena ingkar atau aku yang berharap terlalu tinggi.


Aku keliru telah mengira bahwa dia akan dengan mudah menerimaku mengganti posisi wanita itu namun nyatanya semua hanya harapan semu, semua hanya sepihak.. bisa-bisanya aku mengharapkan rasa kepada orang yang sama sekali tak bisa membalas rasa itu. Aku yang terlalu naif mwnyerahkan rasa pada dia yang masih terjebak pada masa lalunya.


Lirih aileen dalam hati.


Ia terlihat mendongak kemudian menghembuskan napas dengan kasar.


Seulas senyum tersungging dari bibir yang dihiasi lipstik nude itu.


Membuat Vir makin merasa bersalah, Senyuman yang Aileen sunguhkan seolah menghantam telak di hatinya.


Vir hendak menggenggam lengan Aileen namun wanita itu menghindar, membuat jarak di antara mereka.


“It's Oke. Semoga cepat sembuh! Kalau begitu aku pergi dulu” ucap Aileen dingin kemudian pergi dari sana.


Melihat itu Vir segera meminta suster untuk membawa Fia ke ruangannya.


“Sus, tolong antar dia ke ruangannya” ucap Vir kemudian berlari mengejar Aileen


Namun Fia terlihat tak terima.


“Vir..” cegah Fia namun Vir sama sekali tak menghiraukannya.


Vir kewalahan mengejar Aileen, ia terhalang oleh branker pasien yang melintas di depannya.


Setelah beberapa menit mencari Akhirya Vir menemukan Aileen di taman belakang rumah sakit, Wanita itu terlihat berbincang dengan rekan sesama medis.


“Eil..” Lirihnya, ia sedikit terengah-engah karena berlari.


Aileen menatap pria itu dengan tatapan datar.

__ADS_1


Rekan Aileen pun ikut menoleh ke arah Vir


“Kalau begitu saya duluan ya dok”


“Eh iya dok, nanti kita bahas lagi soal yang tadi”


Wanita itu mengangguk lalu pergi, Aileen beralih menatap Vir


“Ada apa? Aku tidak punya waktu lama.” menghela napas seraya melipat kedua tangannya di dada.


Vir menarik wanita itu sedikit menjauh ke tempat yang lumayan sepi


“Eil, aku tahu aku salah, ini tidak seperti yang kau pikirkan” ucap vir lirih, seolah berusaha meyakinkan Aileen jika kali ini merupakan sebuah kesalah pahaman yang sama persis seperti saat itu.


Namun Aileen yang sudah terlanjur kecewa, benar-benar tak mengerti dengan pria dihadapannya ini, pria yang pernah menawarkannya kepastian saat dirinya berjuang sendiri kini kembali menoreh luka saat Hatinya mulai menggantungkan harapan.


“Apa? Memangnya apa yang aku pikir?” ucap Aileen lantang seraya menatap tajam


“Kamu salah paham eil, ini...”


“Ini tidak seperti yang aku pikirkan karena aku benar-benar akan datang tapi dia (Fia) lebih membutuhkan mu kan??” Aileen menyela ucapan Vir dan meneruskan ucapannya


”keadaannya lebih pentingkan daripada dinner itu” Aileen menggeleng pelan. Ia tak memberikan celah untuk Vir berkata-kata.


“Bulsshit.! aku tahu jawabannya, aku tahu Vir. Tanpa di jelaskan pun aku mengerti, Aku sadar akan posisiku. Aku memang istrimu yang menang dalam status tapi tidak memenangkan hatimu! Jelas aku kalah, Aku tahu itu” lrih Aileen dengan bibir bergetar. ia benar-benar tak bisa menahan emosinya yang meluap begitu saja.


Ini bukanlah dirinya, Aileen yang selalu bisa menahan diri kini tak bisa lagi melakukan itu


“kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya dikecewakan, mungkin bagimu hal sepele tapi bagiku tidak, pria yang tidak bisa menepati janji merupakan pria yang tidak bisa di pegang omongannya. Kamu tahu, aku menunggu mu semalaman tapi kamu tidak datang sama sekali! Kalaupun tidak bisa, apa susahnya mengabari ku Vir?"


Vir benar-benar merasa bersalah. Baru kali ini ia tak berdaya untuk menyanggah setiap ucapaan yang Aileen lontarkan.


“Eil, please. Biarakan aku menjelaskan semuanya. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita”


“Apa? Coba, aku ingin dengar..”


Vir menarik napas dalam sebelum kembali berucap


Flashback On


Sore itu, setelah melalui beberapa sesi pada meeting yang harus di hadiri oleh Vir sebagai pimpinan baru saja selesai, Ia keluar meninggalkan meeting sesi kedua yang kembali berjalan yang kali ini dipimpin langsung oleh Dito.


Saat sudah di tengah jalan, Ia menerima telepon dari Fia. Wanita itu terdengar meringis kesakitan.


Vir yang awalnya menolak terus memikirkan keadaan wanita itu, meskipun sudah tidak memiliki hubungan namun ia tetap merasa kasihan apalagi Fia hanya tinggal seorang diri di apartemennya.


Saat sampai di sana, Vir mendapati wanita itu sudah tergeletak di lantai dengan wajah pucat dan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Ia lalu membawa Fia ke rumah sakit.


“Bagaimana keaadanya dok?” tanya Vir saat seorang pria paruh baya ke luar dari ruang IGD


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, orang yang terkena maag kronis memang seperti ini. Karena pola makan yang tidak teratur mengakibatkan asam lambungya mengikis naik. Sehingga membuat pasien seperti ini” jelas dokter.


“Tapi ini tidak ada hubungannya dengan kanker kan dok?” Vir yang khawatir kanker pada Fia kambuh kembali terlihat gusar


“Sama sekali tidak, ini murni karena maag”


Vir menghela napas mendegar penjelasan dokter, bukannya khawatir berlebihan ia hanya merasa kasihan jika Fia kembali mengidap penyakit parah itu. Ia hanya berempati dan tidak ingin hidup Fia menderita, mengingat dirinya merupakan salah satu oramg yang juga membuatnya menderita..


“Kalau begitu saya pamit dulu” ucap pria paruh baya itu, dilihat dari nametagnya ia bernama Arta


Vir mengangguk mengerti.


Saat beberapa langkah dokter Arta kembali menoleh


“ohiya, berhubung perawat yang bertugas jaga malam ini sedang cuti apa anda bisa menemani pasien?”


”Apa tidak ada perawat lain dok?”


“Untuk, malam ini tidak ada. karena semua sudah mendapat shift jaga masing-masing”


Dengan berat hati Vir pun menyetujui hal itu.

__ADS_1


“Baik dok, saya akan jaga di sini”


Setelah kepergian dr Arta, Vir merebahkan dirinya di kursi depan ruangan Fia.


Ia menghela napas berat, seraya mengusap wajahnya gusar.


Ia meraih hanphonenya dan hendak menelepon istrinya namun daya hp tersebut malah habis membuat Ia tak dapat meghubungi Aileen.


“Arghhhh, kenapa jadi begini” Vir mengacak-acak rambutnya.


Maafkan aku yang selalu mengecewakan mu, tapi ini benar-benar di luar kendali ku


Flashback Off


“...Aku harap Kau menerima alasanku, kami sama sekali tak ada hubungan apaapa, kami hanya berteman dan aku sebagai teman tak tega jika harus membiarakan ia sakit” Vir meraih tangan Aileen berusaha meyakinkan


“Mau ada atau tidak pun apa perduliku?.” Aileen menepis tangan Vir


“Satu lagi, Berhenti memberiku harapan! Seperti ingin tapi nyatanya kau tak ingin bersamaku! Aku pun tahu ini berat jadi jangan dipaksakan” ujarnya kemudian pergi dari sana.


Ucapan Aileen begitu menohok membuat vir kesal pada keadaan yang membuat semuanya seperti ini


“Arghhh..kenapa jadi begini.. bangs*t” Vir menendang tembok dan berteriak kesal, Ia mengahancurkan semua benda yang ada di sampingnya


***


Aileen menenggelamkan kepalanya pada kedua tangannya, dengan sesekali membenturkannya di atas meja. Sungguh wanita yang malang.


“Egoiskah aku jika mulai menginginkan dia hanya untukku? apa aku salah jika merasa cemburu pada wanita yang pernah mengisi penuh hatimu..”


“Tapi aku salah jika sepenuhnya menyalahkanmu. Ini menyangkut nyawa orang, dan aku sebagai ahli medis seharusnya bisa mengerti..”


Aileen terus bermonolog pada dirinya seraya menyanggah kepalanya dengan tangan yang bertumpu pada meja.


****


“Makasih sudah menjagaku” ucap Fia pada Vir yang baru masuk ke ruangan itu


"Sama sama” Vir kelihatan tak bersemangat, ia terus memikirkan bagaimana caranya agar istrinya itu tak lagi marah padanya.


Dulu ia begitu ingin melihat Aileen menangis namun kenapa sekarang saat melihat wajah wanita itu sedih hatinya begitu teriris.


Ia mengutuki kebodohannya namun ia juga tak menyesali tindakannya karena telah menolong Fia, jika tidak mungkin wanita itu sudah mati di apartemennya.


“Vir, emnt kalau boleh tahu apa kau sudah mencintai istrimu?” tanya Fia ragu-ragu


Saking sibuknya memikirkan Aileen, Virendra sampai tidak mendengar ucapan Fia yang berbicara padanya..I


Ia termenung, larut dalam masalah yang terjadi.


“Vir..”


“Tidak...” ucapnya spontan karena terkejut


“Eh maaf tadi kau bertanya apa?” tanya Vir yang kembali berusaha fokus.


“Apa kau mencintai istrimu” tanya Fia


Vir tersenyum mendengar pertanyaan itu, melihat wajah fia yang biasa-biasa saja dalam menanyakan ini membuat ia yakin jika wanita itu benar-benar sudah mengikhlaskan hubungan mereka yang sudah berakhir. Hal ini membuat Vir senang.


“Menurut bagaimana?” Vir menampakkan senyum terbaiknya, meminta Fia menebak isi hatinya.


Cih, tatapan macam apa itu.. bahkan aku tak pernah melihatnya menunjukkan ekspresi seperti ini saat bersamaku dulu.. dia sudah seperti abg labil yang sedang kasmaran..


“A-aku tebak, iya, kau mencintainya?” ucap Fia dengan suara tercegat. Napasnya naik turun seolah menahan sembilu yang menyayat hati.


“Fi, kau kenapa?” Melihat Fia yang sesak napas mbuat Vir segera memencet bel di dinding bagian atas ranjang, berharap dokter segera datang.


Sementara itu, di depan pintu seorang wanita hendak masuk ke dalam, namun entah apa yang membuatnya urung melanjutkan langkahnya, ia malah menjatuhkan keranjang buah yang ia bawa, kemudian berlari dari sana dengan wajah pilu.


...______...


Jangan lupa dukungannya readers sekalian🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2