
Siang hari di Bandara Internasional Negara A,
Terlihat Vir dan Aileen tengah berpamitan pada Ibu dan Ayah Vir..
"Ayah dan Ibu berangkat! Kalian berdua baik-baik ya, jika ada kesempatan secepatnya kami akan segera ke Indonesia" kata Ibu seraya bergantian memeluk putra dan menantunya.
Vir hanya bersikap dingin tanpa banyak bicara saat dalam pelukan orang tuanya.
"Ayah dan ibu juga hati-hati, titip salam untuk Vino" katanya, berucap dengan datar
Kenapa dia selalu bersikap dingin dan cuek seperti ini saat bersama Ayah dan ibu?
tanya Aileen dalam hati saat melihat Vir yang seolah tak bersedih saat akan berpisah dengan orang tuanya.
"Vir jaga istrimu, Ayah senang melihat kalian sudah saling menerima satu sama lain!" Ayah menepuk bahu putranya. Ia tersenyum bahagia melihat perkembangan hubungan keduanya.
Semenjak pernikahan itu terjadi, hubungan Vir dengan keluarganya benar-benar membaik.
"Ayah tenang saja. lagi pula dia sudah besar, jadi untuk apa dijaga?" ucap Vir acuh seraya menatap Aileen dengan tatapan mengejek membuat Aileen mendelik sebal.
"Hey Vir, yang namanya istri itu harus dijaga agar tak diambil orang, Kalau hilang bagaimana??
Lihatlah kami! meskipun kami sudah tua tapi Ayah selalu berusaha menjaga ibu mu, Ayah tak bisa jauh darinya" kata Ayah bangga pada dirinya yang begitu harmonis dengan sang istri, berbicara dengan nada sok romantis membuat ibu tersipu malu.
"Kita sudah tua! Malu lah sedikit pada mereka" Ibu yang salah tingkah menepuk keras bahu Ayah
Vir dan Aileen yang melihat dua tingkah orang tua mereka rasanya ingin terkekeh geli, tapi takut tidak sopan.
Namun berbeda dengan Vir. Dia sama sekali tak tersenyum ataupun menggubris tingkah Ayahnya.
Mendengar ucapan Ayah yang terakhir, tiba-tiba saja Vir teringat dengan Dito yang begitu mengagumi istrinya. Bahkan saking kagumnya Dito secara terang-terangan meminta Aileen untuk dirinya jika Vir hanya ingin menyia-nyiakan pernikahannya dengan Aileen.
Cih kenapa aku malah mengingat makhluk gila itu, Bahkan dia dengan tidak tahu malunya menginginkan istri sahabatnya. Vir menggeleng seraya tersenyum kecil mengingat Dito, sepertinya ia sedikit merindukan sahabatnya.
Setelah itu Ayah dan Ibu pun sudah masuk ke dalam pesawat pribadi yang akan membawanya terbang ke Singapura.
.
.
"Kelihatannya sikap mu sangat dingin pada Ayah dan Ibu" kata Aileen yang berjalan di samping Vir.
"Bagiku biasa saja" celetuk Vir yang terus melangkah diantara kerumunan orang seraya berdampingan dengan sang istri
Kini mereka melangkah keluar dan akan menunggu taxi yang sudah Vir pesan dari layanan antar jemput bandara yang akan membawa mereka kembali ke rumah.
Sepertinya keanehannya kumat lagi.. Aileen menggeleng dan tak berniat meneruskan pertanyaannya.
Beberapa menit kemudian taxi pun datang, dua sejoli itu pun masuk.
Saat dalam perjalanan pulang keduanya nampak asyik dengan pikiran masing-masing tanpa terlibat obrolan di dalamnya.
Vir menoleh ke samping
Ia melihat Aileen yang sedang terlelap di sampingnya dengan menyandarkan wajahnya pada kaca mobil.
Pantas saja sepi, rupanya dia ketiduran. Dia kelihatan begitu lelah
Vir menghela nafas, Ia membawa Aileen bersandar di bahunya lalu kembali fokus menatap kendaraan yang lalu lalang di kota besar itu.
__ADS_1
.
"Eil bangun lah, kita sudah sampai" Vir menepuk pelan pipi Istrinya yang masih terlelap di bahunya.
Aileen menggeliat, ia menatap samar pada Vir yang ada di sampingnya lalu beralih menatap sekeliling dari dalam taxi.
Seketika Aileen langsung bersemangat tatkala menyadari bahwa taxi yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan Icon ibu kota negara ini yang sudah lama sekali ingin ia kunjungi, tapi karena terlalu sibuk keinginannya itu tak pernah kesampaian apalagi ia berkunjung ke negara itu dalam keadaan duka jadi tak kepikiran dan tak ada waktu luang untuk mengunjungi list wisata terkenal yang ada di kota itu.
"Hua Vir, kita ada di sini..!" katanya yang langsung begitu segar - bugar, ia turun lebih dulu meninggalkan Vir yang masih ada di dalam mobil
Aileen menatap takjub pada sebuah bangunan ikonik yang menjadi pusat peradaban kota di negara itu, Ini bukan kali pertamanya bagi Aileen mengunjunginya, tapi entah menapa ia selalu jatuh cinta pada kota ini sehingga keluarganya pun sering menyempatkan waktu untuk datang kemari kapan pun jika mereka ingin.
Sementara Vir, ia baru saja turun dari mobil setelah membayar ongkos pada si pengemudi.
"Kelihatannya kau senang sekali" kata Vir seraya merapikan pakaiannya yang agak berkerut akibat duduk cukup lama.
Vir terlihat lebih Fresh dengan mengenakan kaos putih dipadukan dengan coat hitam di luaralnyan dengan celana jeans pula, membuat Vir benar-benar terlihat seperti ABG, apalagi Aileen juga mengenakan coat, hanya saja beda warna.
"Tentu, sudah lama sekali aku tidak pergi ke tempat seperti ini" Aileen menghela nafas, mengingat semenjak menikah ia memang sudah mengurangi aktivitas di luar kecuali bekerja.
"Ck, kau bahkan seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya" menyunggingkan senyum seraya terus menatap Aileen yang kelihatannya begitu bahagia
"Makasih ya Vir kau sudah membuat ku sejenak melupakan beban hidup ku" saking bahagianya ia spontan memeluk tubuh Vir, berterima kasih seolah Vir lah si dewa penyelamatnya padahal dia juga salah satu beban yang Aileen maksud..
Memangnya siapa yang tidak terbebani dengan hubungan seperti ini.
"Janga berlebihan, jika seperti ini terus kapan jalan-jalannya" kata Vir seraya melepaskan pelukan Aileen dari tubuhnya.
"Eh.." Aileen melepaskan pelukannya seraya tersenyum kikuk.
Mereka pun berjalan melewati kerumunan orang yang terlihat begitu menikmati pemandangan di sana.
Aillen dan Vir terlihat begitu serasi dengan style yang sama hanya berbeda warna saja, Mereka berjalan seolah dua remaja yang sedang menikmati indahnya cinta pertama, Keduanya terlihat bahagia sambil sesekali mengambil gambar untuk diabadikan.
Mereka pun berjalan menyusuri trotoar, berbaur dengan para pejalan kaki lainnya.
Beruntung Aileen tak mengenakan Haighells Jadi tak perlu khawatir jika kakinya akan lecet.
Namun cuaca terik hari membuat kulit putih keduanya begitu cepat memerah.
"Kita berteduh ke sana dulu" Vir menarik tangan Aileen menuju depan emperan toko yang kelihatannya menjual souvenir khas negara itu.
Aileen menurut saja kemana Vir akan membawakan.
Mata Aileen berbinar tatkala melihat berbagai macam barang unik yang tersusun di rak toko tersebut.
Ia langsung melupakan rasa laparnya dan memilih masuk menyusuri setiap sudut toko yang menyediakan berbagai barang-barang yang begitu menggoda iman.
Ya, godaan terbesar bagi wanita adalah belanja, apalagi ketika melihat barang-barang yang unik membuat mereka tergerak untuk memborongnya.
Vir yang tadi niatnya hanya untuk berteduh sejenak terperangah seketika saat tidak melihat Aileen berada di sampingnya.
Astaga kemana dia? Baru saja tadi Ayah memperingati ku untuk menjaganya dia sudah hilang secepat ini, aihhh wanita itu benar-benar menyebalkan. Menggerutu sebal sambil menengok ke sembarang arah mencari keberadaan istrinya.
Menajamkan pandangan di sela kerumunan orang yang lalu lalang, namun tak juga membuatnya menemukan yang di cari.
Vir mengutuki Ayahnya sebab sudah mengatakan sesuatu yang benar-benar terjadi. Secepat itukah ucapan orang tua terkabulkan? Mengomel sendiri di dalam hati.
Vir mengusap rambutnya kasar saat pandangannya tak sengaja menoleh ke arah pintu kaca toko yang ada di belakangnya, ia melihat wanita yang ia cari tengah berbinar bahagia sambil memilah beberapa barang.
__ADS_1
Vir pun melangkah masuk.
"Aihh kau ini selalu saja menyusahkan ku!! kenapa tidak memberi tahu ku jika ingin berbelanja di sini" omel Vir saat sudah berada di samping Aileen yang masih fokus memilih barang yang akan ia bawa ke Indonesia.
"Kenapa harus laporan, aku kan tidak kemana-mana" katanya seraya memasukkan berbagai macam barang ke dalam keranjang.
Setiap barang seolah menjerit ingin dimiliki oleh Aileen, begitu pun dengan keinginan wanita itu yang seolah mengatakan Aku ingin itu, ingin yang ini, ingin yang itu juga, semuanya bagus, aku ingin semuanya..
Vir menyerngit heran melihat Aileen yang sudah membawa hampir tiga keranjang penuh.
"Hiyaaa.. kau ini apa-apaan, kenapa begitu boros" protes Vir, bukan mempermasalahkan soal uang tapi dia hanya tak sanggup memikirkan bagaimana cara membawa semua barang itu pulang.
"Kenapa Vir, lagi pula aku tidak menyuruh mu membayarnya" kata Aileen yang mengira Vir memikirkan soal harga belanjaannya
Vir menghela nafas kasar seraya mengusap wajahnya.
"Bukan soal uang tapi bagaimana cara mu membawanya pulang" melengos sebal
Aileen terdiam sejenak, seolah memikirkan apa yang Vir katakan. Lama berpikir hingga ia pun menemukan sebuah kilatan ide yang terlintas di otaknya
Aileen menjentikkan jari seraya tersenyum ke arah Vir "Tenang saja, kita bisa memakai jasa kurir untuk membawanya ke rumah"
"Ck, terserah kau saja! Yang jelas aku tidak ingin membawa barang itu semua" berucap sambil melangkah ke arah kasir membawa tiga keranjang belanjaan istrinya.
Kasir itu tersenyum ramah.
"Wah wajah tuan ini mirip sekali dengan artis terkenal korea" kata si kasir yang merupakan seorang wanita. Ia berbicara menggunakan bahasa internasional, bahasa Inggris.
Vir tak tersenyum sama sekali ia hanya diam dengan tatapan datarnya seraya berkata "Sayang sekali saya bukan orang korea, saya orang Indonesia" katanya dingin, membuat sang kasir tak berniat melanjutkan drama keramahannya.
Memangnya siapa yang mengatakan anda orang korea, saya hanya bilang mirip!! cih kau tampan tapi sangat galak Tuan..! gerutu sang kasir dalam hati
Aileen yang melihat sikap Vir hanya menggeleng kecil.
"Tidak bisakah dia sedikit bersandiwara agar membuat kasir itu bahagia, Aihhh dia memang makhluk kadang-kadangan!! lihatlah wajah kasir itu terlihat menahan malu" gerutu Aileen dalam hati yang benar-benar tak mengerti dengan sikap suaminya itu
"Total semuaanya 5 ribu 3 ratus dolar (Rp, 65 juta)" kata sang kasir.
Vir menyerahkan kartu kreditnya pada sang kasir.
"Pakai punya ku saja Vir, ini kan belanjaan ku" cegah Aileen, yang juga menyodorkan kartu kreditnya membuat sang kasir kebingungan harus memilih yang mana.
"Pakai punya ku saja!" kata Vir datar
"Tidak usah, pakai punya ku saja" kata Aileen tak mau kalah
lama mereka memperdebatkan hal spele yang unfaedah membuat kasir itu sudah seperti juri penengah diantara dua pertandingan.
Lagi pula kenapa harus berdebat, bukankah jika sudah menikah uang suami uang istri juga.
Namun Aileen tak terbiasa akan hal itu, membuat Ia menolak niat Vir yang akan membayarkan untuknya.
Vir yang mulai jengah menarik Aileen mendekat seolah berpelukan, sehingga tubuh mereka begitu rapat, jika dilihat dari arah kasir mereka terlihat sedang berciuman
Kasir yang melihat itu menutup mulutnya tak percaya, ia tersenyum seolah juga berharap ada yang menciumnya seperti pria tampan namun dingin di depannya itu.
"Jangan menolak ku, Aku bilang pakai punya ku saja! Jika sekali lagi kau menolak, aku akan mencium mu secara paksa di tempat ini.." Melepaskan Aileen seraya tersenyum nakal dan melirik ke seantero toko yang begitu padat pengunjung. Mengisyaratkan agar sang istri menurutinya
Aileen bergidik ngeri membayangkan ucapan Vir tadi. ia menyerah, dia masih punya rasa malu dan menjunjung tinggi rasa malu itu, Walaupun di negara tempatnya itu, ciuman di depan umum merupakan hal yang wajar. Namun berbeda denag dirinya yang masih menjunjung tinggi norma agama dan budaya timur yang menjunjung tinggi rasa malu dan melakukan hal itu di depan umum dianggap tabu.
__ADS_1
Perlahan Aileen mundur dan menarik kartu kreditnya, membuat Vir tersenyum penuh kemenangan
"Good Girl.." Vir menepuk lembut pipi Aileen membuat wanita itu sekali lagi seperti mendapat kontak dengan kabel yang bertegangan tinggi.