
Beberapa jam kemudian.
Setelah melewati durasi penerbangan dengan waktu yang cukup lama dan satu kali transit di sebuah Negara, akhirya pesawat pribadi itu lepas landas di bandara Internasional Indonesia. Mereka semua tiba di Indonesia saat malam hari.
Aileen terlihat turun dari pesawat menggunakan baju hitam dan jaket coklat dengan rambut dicepol, ia kelihatan begitu mengantuk. Sementara Vir yang mengenakan masker dan topi tampak terlihat masih segar bugar, sambil menyeret dua koper miliknya dan Aileen.
Sementara Oma fera, opa Surya, Biyan dan Shakeel berjalan tanpa beban karena Para penjemput yang sudah menunggu sejak tadi membawakan koper mereka menuju mobil.
"Kalian berdua akan pulang kemana?" tanya Opa Surya pada Aileen dan Vir
Kini mereka sudah berada di area parkiran, dengan para pengawal terlihat masih bolak balik mengangkut semua koper dari pesawat menuju ke mobil.
"Kami langsung pulang ke rumah saja Opa" sahut Vir, Ia melepaskan genggamannya pada koper lalu beralih memegangi tangan Aileen yang kelihatannya masih begitu mengantuk
"Ikutlah dengan kami, tadi Shakeel memesan dua mobil untuk menjemput.." sahut Oma Fera
"Sebelumnya terimakasih atas tawarannya Oma, tapi Asisten ku sudah menuju kemari untuk menjemput kami" kata Vir, berusaha berucap dengan sopan
Mendengar ucapan Vir, oma dan Opa pun hanya mengangguk. "Kalau begitu kami tinggal dulu ya, oma sudah merasa lelah ingin segera rebahan di atas ranjang" kata Oma Fera seraya meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Vir , Eil kami semua duluan" kata Opa yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Aku juga pamit duluan!" kata Shakeel pada Vir dan Aileen yang masih berdiri di sisi mobil
Vir dan Aileen hanya mengangguk
Kini giliran Biyan "Kak Eil Aku duluan ya!" kata Biyan yang hanya menyebut nama Aileen
Vir hanya tersenyum sinis, ia tahu Adik iparnya itu sengaja tak ingin menyebut namanya.
Dua mobil itu pun mulai menjauh meninggalkan area bandara, Aileen dan Vir yang masih berdiri menunggu Dito yang tak kunjung datang sudah mengomel tidak jelas.
"kita duduk di sana dulu, sepertinya manusia lelet itu akan terlambat" kata Vir seraya menunjuk sebuah kursi yang tak jauh dari tempatnya.
Aileen pun berjalan ke arah kursi dan langsung duduk di sana, Sementara Vir, ia baru saja menyusul sambil menarik dua koper mereka lalu ikut duduk di sebelah Aileen yang sedari tadi hanya diam
Vir mengumpat Dito yang tak kunjung datang.
****, kenapa dia begitu lama.
Vir menatap Aileen yang hanya terdiam seraya terus menguap.
"Sepertinya kau sangat mengantuk.. kemarilah bersandar di bahu ku, kau boleh tidur sampai manusia keong itu datang" Ia membenarkan posisinya agar Aileen bisa mendapat posisi yang nyaman di bahunya
Aileen yang merasa mengantuk pun menyenderkan kepalanya di tubuh Vir.
Tidak ada yang tahu wanita itu tidur atau tidak, sebab ia menggunakan kaca mata hitam.
__ADS_1
Lama menunggu akhirnya sebuah mobil mendekat ke arah mereka.
Vir menyipitkan mata tatkala lampu mobil itu mengenai tepat di bagian wajahnya.
Tidak lama setelah itu, terlihat seorang pria yang ia kenal turun dari mobil dengan senyum mengembang tanpa dosa sudah membuat Virendra dan Aileen menunggu lama.
"Hey Man, aku sangat merindukanmu brother.!!!" kata Dito sambil melangkah gontai ke arah Vir
"Ck, Jangan brisik Dito!! Aileen sedang tidur!" peringat Vir yang tak ingin Aileen terbangun karena suara Dito
Dito pun yang melihat itu mengulum senyumnya, Ia tak mampu menahan tawa saat lihat posisi mereka begitu dekat.
"Sepertinya aku ketinggalan banyak moment!" Dito mengedipkan mata sembari berbisik ke arah Vir "Apa kau sudah taubat sama seperti ku? Kalian kelihatan lebih dekat satu sama lain.."
Dito tersenyum penuh arti..
"Dia istriku, wajar jika kami dekat" ketus Vir "Aihh berhenti mengintrogasi ku seperti ini!! Harusnya aku yang bertanya pada mu Dit, kenapa kau sampai selama ini? Lihatlah dia sampai tertidur karena menunggu mu" kini Vir yang berbalik menceramahi Dito.
"Hehehe maaf, tadi di jalan ada sedikit kemacetan" katanya seraya nyengir kuda
Mendengar alasan klise Dito, Vir memutar mata malas "Ya sudah, Ayo kita pulang sekarang!"
Namun Dito masih tetap diam, Ia terus memperhatikan Aileen yang masih tertidur di bahu Vir.
"Berhenti menatapnya seperti itu!"
"Jangan salah paham man, Aku hanya bingung bagaimana cara membangunkannya! Dia terlihat begitu lelap"
"Kenapa harus pusing, Aku akan mengangkatnya" Berucap begitu enteng, seolah-olah Ia tidak ingin menganggu tidur wanitanya "Ayo cepat buka pintu mobilnya" Vir membawa Aileen ke dalam gendongannya
Namun saat hampir masuk di mobil. tiba-tiba Aileen terbangun, ia menyadari jika Vir menggendongnya, Aileen yang masih setengah sadar langsung melompat dan membuatnya terjatuh.
Bruak..
Vir menatap Aileen yang masih terduduk di tanah
"Haisshh, kau ini apa-apaan Aileen Zavierra?" Vir menggelengkan kepalanya, seraya berusaha membantu Aileen berdiri
Wanita itu linglung, Aileen menatap ke sekitar, terlihat banyak mobil dan orang yang lalu lalang. Ia sadar mereka masih berada di area Bandara, Aileen bernapas lega. Sepertinya dia mengira Vir akan mengangkatnya ke atas ranjang, dia yang kaget sontak melompat dari gendongan Vir.
Dasar Aileen, Mungkin pikirannya sudah dipenuhi dengan Vir yang ingin berbuat yang tidak-tidak padanya.
"Maaf, tadi aku mengira mu orang jahat.." terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil.
Mobil Dito pun mulai melaju meninggalkan area Bandara.
__ADS_1
Aileen tersenyum menatap gemerlap kota di malam hari, ia terlihat begitu merindukan kota ini.
Welcome to Indonesia, Selamat berkativitas kembali..! katanya dalam hati, sepertinya ia sudah sangat merindukan pekerjaannya
Sementara Vir, Ia terlihat sibuk mengganti kartu hp-nya.
Sedangkan Dito, Ia terlihat melirik dari spion depan. "Halo Eil, lama tidak bertemu.." Dito mencoba untuk berbasa-basi
Mendengar suara Dito. Vir yang kelihatan terkejut ketika begitu banyak notifikasi yang masuk pun seketika melirik ke arah depan dengan tatapan sinis. Dito yang melihat itu hanya tersenyum. Sepertinya ini hanya bagian rencananya lagi yang ingin tahu bagaimana respon Vir ketika Ia berbincang dengan Aileen.
"Halo juga Dito.!" Aileen membalas sapaan Dito
"Aku turut berduka cita atas kepergian Opa dan Opa mu, maaf aku tak bisa hadir! maklum terlalu sibuk" kata Dito sambil fokus mengemudi
"Ah iya tidak masalah, Terimakasih atas ucapannya" kata Aileen
Wajah Vir yang sejak tadi sudah tidak bersahabat, mulai tarik napas dan akan angkat bicara. Entah protes macam apa lagi yang akan dia layangkan.
"Berhentilah mengobrol Dito, fokus saja mengemudi dengan benar"
Dito pun hanya tersenyum, Ia tak berniat membalas ucapan sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian, Aileen dan Vir sudah sampai di rumah. Dito juga sudah kembali ke apartemennya.
Kini sepasang suami istri itu kembali ke kamar masing-masing.
Di dalam kamar, Vir yang sudah membersihkan diri terlihat duduk di sisi ranjang. Sedari tadi ia mencoba memejamkan mata namun teta tak bisa, entah apa yang membuatnya tak bisa tidur.
Vir mengusap wajahnya kasar, tubuhnya sudah begitu lelah tapi matanya enggan tertutup.
"Arggggh.."
"Ada apa dengan ku, kenapa aku seperti ini...!"
.
.
Sementara di kamar yang berbeda, Aileen terlihat berbaring menyamping. Berulang kali mencoba memejamkan mata namun tetap tak bisa tertutup.
"Mungkin karena tadi aku sudah tidur makanya sekarang mata ku tak bisa lagi terpejam" Lirih Aileen sambil menguap "Ck, ada apa dengan ku?" katanya yang bingung sendiri
Tanpa mereka sadari, keduanya sudah sama-sama terbiasa untuk tidur bersama dan ketika tidak bersama membuat perasaan keduanya terasa gelisah karena merasa ada yang kurang pada diri masing-masing.
Ibarat tidur di tempat mewah tapi tanpa guling membuat seseorang yang sudah terbiasa menggunakan guling akan sulit untuk tidur nyenyak.
Begitu juga dengan Vir dan Aileen, Hanya saja mereka terlalu bodoh dan tidak peka sehingga belum menyadari itu.
__ADS_1