
Sekitar hampir menjelang subuh, para rombongan baru sampai di gedung tua itu.
Bersyukur rombongan Daddy Al bisa menyusul tepat waktu. Kini sirine mobil polisi menggema di sana. Mereka semua turun dan melangkahkan kaki menyusuri tempat tersebut. Beberapa orang lainnya mulai mengepung gendung dari segala penjuru agar tak ada satu pun yang bisa lolos.
“Jangan bergerak! Tempat ini sudah kami kepung! Tempat ini kami kepung!”
“Tempat ini sudah kami kepung!!”
Mereka semua pun bergegas menuju lantai paling atas yang darinya terdengar suara tembakan sebanyak dua kali.
...-----...
Sementara itu, di lantai atas. Vir justru berusaha sekuat tenaga agar bisa terlepas dari pegangan dua orang itu saat melihat Fia mulai menarik pelatuknya. Sungguh ia tak menyangka jika mantan kekasihnya itu benar-benar gila dan tega melakukan ini.
“TIDAKkk!” Vir masih bisa mendengar suara Shakeel berteriak.
Sementara ia masih sempat melihat raut wajah Niko yang kelihatan panik, seperti tak menyangka jika Fia akan nekat melakukan hal itu. Niko terlihat berdiri dari tempatnya dan mengusap wajahnya dengan penuh penyesalan. Cih, Damn You, Niko!! Menyesal sekarang tidak ada artinya!
Wajahnya seperti menunjukkan ekspresi “Ini bukan bagian dari rencana kita!!”
Bersamaan dengan itu, ia justru berhasil lepas dari genggaman dua orang itu setelah ia menendang titik Vitalnya. kemudian dengan langkah seribu Vir segera berlari ke arah sang istri yang terlihat hanya bisa menangis sambil menutup matanya. Seolah itu adalah akhir dari hidupnya.
“AILEEN....!”
Doooor.....
Dooorr......
Suasana hening seketika sebelum akhirnya satu tembakan peringatan polisi berbunyi. Suara peringatan Polisi baru saja terdengar di arah pintu masuk gedung tempat mereka berada, bersamaan dengan sebuah tubuh jatuh membentur sesuatu yang sangat keras.
Semua mata tertuju pada sosok yang jatuh itu.
__ADS_1
Sementara Virendra, bagaimana kabarnya?? Dia terkulai setelah ia berhasil mendorong Aileen bersama dua orang itu hingga terjatuh ke samping. Menggantikan tubuh Aileen menggunakan dirinya. Sungguh pengorbanan yang luar biasa.
Dia terkena dua tembakan dari jarak tiga meter sekaligus, membuatnya langsung jatuh tepat dimana Aileen berdiri. Kepalanya menghantam benda bulat yang sempat Fia lemparkan tadi.
Dengan wajah panik, Fia menjatuhkan senjata dari tangannya kemudian menutup mulutnya. Tubuhnya mulai bergetar saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Berulang kali ia menggelengkan kepalanya saat melihat siapa yang baru saja menjadi korban aksi brutalnya.
”Virendra!!” Shakeel menggeleng dalam ketakberdayaannya.
“Vir..”
Suara isakan dan teriakan seorang wanita mulai terdengar. Bahkan wajah Fia dan Niko beserta para komplotannya mulai berubah pias saat suara peringatan itu begitu dekat.
“Harap menyerah! Tempat ini sudah kami kepung! Tempat ini kami kepung!”
Mereka semua mulai berhamburan dan melepaskan Aileen ketika para polisi mulai mengepung tempat itu.
Aileen yang mendapat kesempatan lolos langsung berlari memeluk Vir yang terlihat terus menatapnya dalam ringkihan pedih akibat luka tembakan dan benturan di kepalanya. Berulang kali ia mengedipkan matanya seolah berusaha menahan sakit yang teramat dibagian dada dan tubuhnya.
“Vir, sayangku.. Hikkkkss!!! Kenapa melakukan ini??? Seharusnya jangan menukar dirimu hanya untuk ku..” Aileen menagis sejadi-jadinya, ia meletakkan kepala Vir ke atas pangkuannya. Kemudian menciumi wajahnya beberapa kali. Sementara tangannya berusaha menutupi bagian dada kanannya yang terlihat mengeluarkan darah melalui robekan kecil pada baju putih yang dikenakannya.
Dengan tangis yang kian menjadi, Aileen hanya bisa mengangguk sambil sebelah tangannya memegangi tangan Vir yang masih menempel di pipinya.
“Aku mencintaimu..Ku mohon bertahan lah.!” Air mata Aileen terus bercucuran, membasahi wajah suaminya yang masih membelalak namun sama sekali tak bisa mengatakan apapun.
Ia merasakan tiga kesakitan sekaligus. dua di belakang, yang satunya menembus di bagian dada sebelah kanan dan satu luka perih dibelakangnya, tepat dia area pinggang bagian tengah. Sementara kepala bagian belakangnya terasa sakit sekali, saking sakitnya ia seperti merasakan ada batu besar yang mengganjal, membuatnya sampai kesulitan untuk bernapas.
Sementara Shakeel yang masih dalam keadaan terikat. Sekuat tenaga berusaha lepas saat satu persatu orang yang dikenalnya mulai berdatangan..
Ia bisa melihat dengan jelas Ayah Hans pingsan begitu sampai dan melihat kondisi putranya dalam keadaan tak berdaya dan bersimbah darah tengah berada dipangkuan Aileen.
“Ayahhh.. ” Vino meraih Ayahnya. sedangkan daddy Al dan om Ferdy berlalu mendekati Aileen yang tengah meringkuk sambil memeluk Vir.
__ADS_1
“Biy, lepaskan aku. Biyan!” Biyan yang hendak menyusul Ayah langsung berbelok ke arah Shakeel.
Sedangkan para polisi mulai menangkap satu persatu komplotan Fia dan Niko yang hendak melarikan diri.
Tembakan kembali terdengar saat polisi sudah memberi peringatan. Entah siapa saja yang mendapat luka tembak di kakinya akibat usaha ingin melarikan diri.
“Lepaskan saya, Pak! saya tidak salah. Rencananya tidak seperti ini!" Niko mencoba memberontak saat tubuhnya digiring ke bawah.
“Ini semua rencana dia, saya tidak berniat menculik siapapun. Ini rencananya!" Dengan amarah yang menggebu, Niko terus menunjuk ke arah Fia yang juga sudah tertangkap namun hanya diam dan menunduk.
...---...
Begitu melihat kondisi Virendra, Om Ferdy dan Shakeel langsung mengambil gerakan cepat untuk mencari rumah sakit terdekat. Karena sangat tidak mungkin mereka menghubungi ambulance dari kota yang sudah tentu akan memakan waktu yang sangat lama. Bisa-bisa Virendra tak bisa diselamatkan.
Beruntung disekitar pabrik itu ada sebuah desa yang memiliki puskesmas dengan fasilitas memadai. Om Ferdy dan Shakeel pun sudah berhasil mendatangkan dokter dan ambulance untuk melakukan pertolongan pertama.
#Kembali ke gedung tua tempat tragedi penembakan.
Setelah berusaha ditenangkan oleh Daddy. Akhirnya Aileen bisa sedikit memberikan pertolongan pertama pada luka tembak Vir, ia menutupinya menggunakan kain agar darahnya tak terus-terusan keluar, hingga mengakibatkan pendarahan yang bisa menyebabkan kehabisan darah pada korban.
Tentu Aileen melakukannya dengan berurai air mata.
“Kau harus kuat demi dia, nak!" Begitu kata Daddy sambil memegangi bahu Aileen, berusaha memberinya kekuatan.
“Kakak yang kuat ya, ingat kau tidak sendirian kak!" Biyan pun ikut merangkul Daddy dan Kakaknya secara bersamaan.
Setelah itu, dua ambulance pun datang. Virendra Sudah dimasukkan ke dalam ambulance. Tubuhnya pun sudah dipasangkan berbagai peralatan medis yang sebisa mungkin membuatnya bertahan sampai mendapat penanganan yang sesungguhnya.
Sedangkan di ambulance yang satu, Vino terlihat menangisi dua keadaan pria beda generasi yang begitu ia cintai itu. Disaat pikirannya terbagi memikirkan keadaan Virendra, Ia justru harus menghadapi masalah lain seperti ini. Dimana Ayah juga ikut tumbang melihat keadaan putra bungsunya.
Inilah alasan kenapa Vino melarang Ayah Hans untuk ikut, sebab dia memiliki riwayat penyakit jantung kronis.
__ADS_1
“Bertahan lah Ayah!! Ayah harus kuat untuk Vir!” Vino menangis sambil memegangi tangan Ayah.
Sementara Shaakeel yang ikut menemani di ambulance itu pun berusaha menenangkan Vino “Kita semua harus kuat!" ucap Shakeel dengan mata berkaca-kaca sambil menepuk-nepuk punggung Vino, berusaha menyalurkan kekuatan.