Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 148


__ADS_3

“Hai Eil, Vir, apa kabar?" Sapa Moza. Kini ia dan Vino sudah berdiri tidak jauh dari arah Aileen dan Virendra berada.


“Alhamdulillah baik seperti yang mbak Moza lihat." Aileen tersenyum ramah, tangannya teralih merangkul Virendra yang juga turut tersenyum meski sorot matanya terus beradu dengan sang kakak. Keduanya seperti tengah berkomunikasi dengan ilmu telepati. Benar-benar dua bersaudara yang luar biasa.


“Syukurlah Eil. By the way sepertinya babynya sudah tidak lama lagi akan launching,ya?" Moza tersenyum tulus sambil mengusap bahu Aileen ketika pandangannya tertuju pada perut buncitnya.


“Iya mbak, perkiraan dokter minggu depan, insyaallah!"


Obrolan antar dua wanita itu sama sekali tak membuat dua sosok pria yang tengah berkomunikasi melalui sorot mata itu sama sekali tak terganggu. Tentu pemandangan itu membuat Moza dan Aileen menyerngitkan kening menatap keduanya.


Menyadari tatapan dari Moza dan adik iparnya. Vino makin salah tingkah dan langsung menepuk bahu Virendra dengan sedikit kencang.


“Kalian sedang apa disini?" tanya Vino.


“Kau yang sedang apa disini?" Bukannya menjawab, Vir justru balik bertanya. Tentu itu membuat Aileen sedikit mencubit bahunya. Sepertinya istrinya itu takut kalau Moza turut merasa terpojok karena pertanyaannya.


“Tidak apa-apa, aku hanya kebetulan melihat proyek disini.”


“Dimana?" tanya Vir dengan tatapan mengintrogasi sambil celingak-celinguk mencari dimana maksud dari kata 'proyek disini’ yang Vino maksud. Apa benar ada lokasi proyek disekitar sini?


“Ck, anak ini! Ayo masuk. Sepertinya kau rindu rumahmu!" Vino yang tak ingin berdebat langsung mengambil alih kursi roda Vir dan mendorongnya masuk setelah memerintahkan pak supir untuk membuka pintu dengan kunci yang Aileen berikan.


Berdebat dengan Vir adalah hal yang tak menguntungkan apalagi situasi membuat Vino makin mati kutu. Tentu menghindar adalah jalan ninjanya.


“Ayo Mbak, kita masuk!" Ajak Aileen. Namun Moza menolak dengan alasan anaknya harus segera mandi sore.


“Kenapa kau tak mengajak pacarmu masuk, kak?"

__ADS_1


Pertanyaan Vir benar-benar membuat Vino ingin menghajar adik menyebalkannya itu. Baru kali ini ia merasa kesal pada Vir. Selama adiknya itu sakit, ia begitu menghawatirkannya, bahkan memperlakukan Vir layaknya anak kecil. Namun, sepertinya sakit tak membuat sikap menyebalkannya hilang. Begitu pikir Vino.


.....


Kehadiran Vino disana ternyata ada untungnya bagi sepasang suami istri yang tak berdaya itu. Kondisi Aileen yang hamil besar dan Virendra yang masih belum bisa berjalan normal membuat Vino kewalahan karena harus membantu memindahkan barang-barang dari kamar tidur mereka yang ada di atas menuju kamar di lantai bawah. Meski sempat dibantu pak supir, tapi tetap saja Vino merasa sangat kewalahan. Apalagi Vir terbilang banyak maunya. Ia seperti tengah mengerjai kakaknya itu.


“Ada untungnya juga kau muncul, Vin!' Vir tersenyum dengan tangan yang sedari tadi terus memindahkan saluran chanel televisi. Entah acara apa yang ingin ditontonnya hingga tak ada satupun yang pas.


“Ya ya ya!" Vino yang kelelahan melepas kemeja dari tubuhnya dan hanya menyisakan kaos hitam polos yang ia tarik naik hingga menampakkan otot-otot perutnya yang sixpack. Sepertinya ia benar-benar kelelahan.


“Vin, bantu Eil bikin air minum!" ujar Vir panik ketika mendengar suara benda jatuh dari arah dapur.


Bahkan Vino yang mendengar itu langsung buru-buru berlari menuju dapur sebelum Vir menyelesaikan ucapannya.


Vir yang merasa khawatir tak bisa kalau harus tetap diam tanpa tahu kondisi Aileen, ia takut terjadi sesuatu pada sang istri. Namun, baru ia menggerakkan kursi roda. Aileen muncul dengan wajah cengar-cengir, membuat wajah berisinya nampak menggemaskan. Sedangkan Vino menyusul tepat di belakangnya sambil membawa nampan berisi tiga minuman berbeda.


Aileen menggeleng. “Tidak, tadi yang jatuh itu hanya mug steinlish.


Akhirnya Virendra bisa bernapas lega, ia lalu menyuruh Eil untuk segera duduk dan memperingtakn agar ia hati-hati.


Cukup lama ketiganya mengobrol hingga waktu sudah menunjukkan hampir 8 malam. Tentu dengan Virendra yang terus mencecar kakak tentang hubungan apa yang dimiliki dengan Moza.


Bukan Virendra namanya jika tak bisa mencari celah untuk mencari jawaban. Ia terus mengatakan kata pancingan yang membuat Vino secara tidak sengaja menceritakan apa yang sebenarnya.


“Kena kau, Vin!" Serang Virendra saat Vino tak sengaja mengatakan jika ia dan Moza memang ada hubungan dan Vino hanya bisa mengusap wajahnya frustasi.


“Jangan bilang-bilang ibu dulu!" lirih Vino frustasi.

__ADS_1


Membuat Aileen dan Virendra menyerngit heran. “Kenapa?" tanya keduanya secara bersamaan.


Vino menghela napas gusar. “Aku takut ibu tak akan merestui.” Lagi-lagi Vino mengusap wajah gusar.


Virendra mengerti apa yang sang kakak khawatirkan. Ya, ibu jelas tidak akan dengan mudah menerima latar belakang Moza, apalagi dia seorang single parent. Tentu ibu akan menentang keras hubungan itu.


“Kak Vino coba jelaskan secara perlahan, siapa tau Ibu mau mengerti. Setidaknya sudah dicoba!" ucap Aileen memberi saran yang diangguki oleh Vino.


“Nanti aku dan Vir juga akan coba bantu!”


“Tapi aku takut, Eil, Vir!" Wajah Vino nampak dipenuhi beban berat. “Aku takut menyakiti hati ibu, aku tidak ingin ibu terluka.”


Hal itu membuat Aileend dan Virendra hanya bisa terdiam. Suasana menjadi hening sesaat.


Suara dering telepon memecah keheningan diantara mereka yang tengah larut dalam pikiran masing-masing.


“Ibu menelpon!" Vino menatap ponsel yang masih berdering, nama ibu tertera disana. Membuat Aileen dan Virendra segera mengecek ponsel masing-masing. Ternyata juga ada panggilan tak terjawab dari ibu, hanya saja tidak kedengaran karena ponsel keduanya masih dalam mode diam.


“Dimana Vino? Apa kau masih bersama adikmu?” Cecar ibu begitu Vino langsung mengangkat telepon dengan mode lospeker.


“Iya Bu, kami masih sama-sama!"


“Ayo pulang dulu, disini ada Om Harun sekeluarga, kita makan malam sama-sama!"


“Ibu tunggu!"


panggilan itu lalu berakhir. Mendengar nama Om Harun, membuat ketiganya saling tatap. Setelah itu mereka langsung bergegas untuk pulang.

__ADS_1


Virendra yang tadinya ingin mengajak Aileen menginap pun langsung memutuskan pulang, sebab tak mungkin ia tak ikut menemui saudara Ayahnya itu.


__ADS_2