Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 76


__ADS_3

Saat tengah berlari ia malah menabrak seseorang yang membuatnya hampir terjatuh.


“Maaf, saya tidak sengaja” lirih Aileen seraya mengusap tetesan bulir bening yang mengalir di pipinya.


Ya, wanita itu adalah Aileen. Ia yang merasa bersalah pada Virendea langsung berubah pikiran untuk lagi-lagi memaklumi kesalahan suaminya dan malah memesan parcel buah Secara online dan bergegas untuk menjenguk mantan kekasih suaminya yang Pernah ia tolong itu.


Namun saat hendak masuk, ia malah mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar.


“Vir, emnt kalau boleh tahu apa kau sudah mencintai istrimu?”


“Tidak...”


Ya, Ia mendengar kata-kata itu.


Bagai tersambar petir di siang bolong, Aileen yang berniat ingin menjenguk malah mendengar kenyataan pahit yang menghujam sesak di hatinya.


walaupun yang ia dengar hanya sekilas percakapan yang tak utuh namun hal itu berhasil menghadirkan komplotan rasa sakit yang mendalam pada dirinya.


Tidak ada yang bisa menjelaskan semua padanya jika yang ia dengar barusan hanyalah sebuah penggalan kalimat salah yang tak sesuai kebenaran dan kenyataan Yang vir ucapankan di dalam sana.


Aileen pun harus menahan sakit seorang diri sebab tidak ada yang tahu jika ia mendengar ucapan ambigu itu.


“Kak, kenapa menangis?” pria yang di tabrak itu memiringkan kepalanya. menatap lekat wajah menunduk wanita yang ia tabrak ternyata adalah kakaknya.


Ya, pria yang Aileen tabrak adalah, Biyan.


“Bi,” lirih Aileen yang sedikit terkejut dengan keberadan Biyan di sana, dengan cepat ia menghapus air matanya..


“Siapa lagi yang membuat mu menangis?” tanya Biyan emosi


Ia melirik ke arah ruangan yang di depannya tercecer keranjanh buah yang kakaknya bawa tadi.


Aileen menahan lengan Biyan saat mulai melangkah ke ruangan tersebut namun sulit mencegahnya yang sudah terlanjur penasaran.


Dengan tergesa-gesa Biyan berjalan ke arah sana dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang ada di dalam.


Biyan mengepalkan tangannya


Lagi-lagi iparnya menorehkan luka pada kakak perempuan yang teramat ia sayangi setelah oma dan mommy.


“Jangan, by! Aku mohon jangan.!” Aileen mencegah lengan biyan yang hendak masuk


“Tapi kak, dia sudah keterlaluan. kami tidak pernah membuat mu menangis! Aku tidak terima dia seperti ini”.ucap Biyan penuh emosi


Aileen menggeleng, mengisyaratkan agar biyan tak marah.


Ia lalu menarik adiknya itu ke lorong yang tak begitu jauh dari sana.


“Kak, kenapa kau bodoh begini hah?”


“By,” lirih Aileen dengan raut wajah mengiba, seolah mengatakn jangan emosi, ingat ini rumah sakit


“Virendra anj*r.. aku akan memberi tahu daddy”


“Aku mohon jagan By, jangan membuat beban daddy bertambah”


Biyan menghela napas kesal, ia tak habis pikir bagaimana bisa kakakanya ini selalu menyerangnya dengan senjata seperti ini. Bukankah daddy mereka perlu tahu semua tentang anaknya tapi mengapa Aileen berbeda.. pikrinya.


“Pokoknya aku akan tetap memberi tahu daddy”


“Jangan, kalau kau memberi tahuknya aku tidak akan menengurmu selama satu abad” Ancam Aileen namun dengan tawa tertahan, sungguh ia tak bisa untuk tidak tertawa jika menghadapi Biyan


“Ck, ancaman tidak masuk akal!” ketus Biyan


Aileen terkekeh melihat raut wajah adiknya.


“ohiya, kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau sakit?” Aileen memutar tubuh Biyan memeriksa apa adiknya itu ada cedera atau apa sehingga membuatnya terdampar di rumah sakit.


“aaissh ” biyan menggeleng. Ia lupa jika dirinya kemari bersama seorang wanita, dan jika Aileen bertemu dengan wanita itu bisa-bisa tamatlah riwayatnya


“Shiit, damn” lirihnya namun masih bisa di dengar oleh Aileen


“By, kau mengumpati ku.? "Aileen melotot tak percaya. “kau bergaul dengan makhluk planet mana hingga berani mengumpati saudaramu? Anak kurag ajar, Aku jauh lebih tua darimu bocah...” Aileen menhujani tubuh Biyan demgan cubitan membuat pria tampan itu mrengaduh kesakitan.


“Hey, kak! Aku tidak mengumpati mu” Biyan berusaha melindungi bagian tubuhnya yang menjadi sasaran kejam jari Aileen


“Kalau bukan aku lalu siapa? di sini hanya ada kita”


“Ck, kak aku mengumpati diriku sendiri” ucap Biyan, Ia memang mengumpati kebodohannya yang melupakan jika ia datang dengan seorang gadis.


Entah apa hubungannya namun ia kelihatan begitu takut, jelas takut sebab orang tuanya melarangnya unuk menjalin hubungan sebelum benar-benar dewasa.


Namun apa boleh dikata, remaja sekarang terlalu sulit dicegah, bahkan sampai rela menjalin hubungan diam-diam agar tak ketahuan orang tua. Apa Biyan salah satunya..? kita lihat saja..

__ADS_1


“oke baiklah” Aileen menepuk-nepuk punggung Biyan setelah puas menhujani tubuh pria itu dengan cubitan


“Jadi kau kesini dengan siapa?”


Biyan terdiam, mencari alasan yang tepat dan berharap teman wanitanya itu tak menemuinya di sini..


“Babe, aku mencarimu kemana-mana ternyata kau di sini sedang bersama wanita...” suara seorang gadis terdengar tepat di belakang Aileen.


Pria itu meringis dalam hati, belum sempat menemukan jawaban yang diwaspadai malah menghampirinya.


Biyan mati kutu, jika diibaratkan sesuatu dia sudah jadi seperti kura-kura yang siap menyusut ke dalam cangkangnya jika dalam bahaya. Biyan pun begitu, Rasanya ia ingin memasukkan kepalanya ke dalam kerah baju agar wanita itu tak mengenalinya.


Aileen yang mendengar kata 'Babe' segera mendongak..


Gadis itu tersenyum kikuk saat menyadari siapa wanita yang sedang bersama Biyan.


Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebab Ia tahu betul jika Aileen adalah kakak dari pria yang ia panggil Babe itu.


“siapa Bi?” tanya Aileen


“Eh, teman, kita temankan??”


Wanita itu terlihat tak suka dengan pernyataan Biyan, namun ia tak punya nyali untuk melayangkan protes di depan Aileen.


Baginya berhubungan dengan pria tajir melintir keturunan orang terpandang saja sudah membuatnya jadi gadis yang beruntung


Biyan mengedipkan mata ke arah gadis itu, memberi isyarat agar tak mengaku sebagai kekasih


“I-iya dok, kami hanya teman”


Aileen tersenyum penuh arti, Ia melirik ke arah Biyan yang sedari tadi menunduk salah tingkah.


“Aku tahu dia kekasihkmu, kau berani melanggar perintah mommy dan daddy!” bisik Aileen.


Biyan semakin dibuat mati kutu. Jika sudah seperti ini ia tak bisa mengelak, takut Aileen akan mengadukannya pada Daddy dan Mommy.


“Kalau masih ingin memberi tahu daddy soal tadi, aku akan membocorkan kartu mu ini juga” ancam Aileen demgan senyum menyeringai.


Mampus, ternyata Kakakku juga licik..


“Hmmny baiklah kakak ku sayang, aku akan tutup mulut” ucap Biyan pasrah.


Aileen berpuas diri dalam hati, akhirnya bocah tengil keras kepala itu bisa ia taklukkan


“Good boy,” mengelus rambut Biyan seraya menepuk pipi sang adik


Semenjak bersama Vir kaka benar-benar pandai bersandiwara, ckck. berdecak kesal melihat kakaknya yang begitu manipulatif.


Biyan pun segera pergi dengan gadis itu.


“By, ingat aku memegang kartu xl mu” teriak Aileen seraya terkekeh.


Ia benar-benar sangat pandai berkamuflase dari sedih menjadi bahagia


Sementara Biyan, dia hanya berbalik seraya melemparkan tatapan tak suka pada sang kakak


🍁🍁🍁


“Apa istri saya ada di ruangannya?” tanya vir pada Nita yang kebetulan berpapasan dengannya saat ingin menuju ruangan Aileen. Ia sedikit menandai wajah Nita sebab pernah melihatnya berada di ruangan istrinya.


Nita menatap lekat wajah pria tampan yang bertanya padanya, sekarang ia ingat jika pria di depannya ini adalah suami dari dr Aileen “dr Aileen sudah pulang”


Mendengar itu, Vir segera pergi dari sana.


🍁🍁🍁🍁


Diaryku...


hari hari terus berlalu...


Aku menangis dan meratap dalam sendu..


Kau membiarkanku sendiri bersama sepenggal harapan yang kau gantungkan. Apa sebegitu tidak pentingnya aku di matamu banding dia?


Ya, Aku tahu itu, aku sadar akan posisiku yang hanya berstatus istri mu. menang dalam status tapi tak pernah bisa memenangkan Hatimu sekalipun tubuhmu telah ku miliki seutuhnya..


Aku rapuh, aku sedih, aku tak berdaya, tapi apa yang bisa aku lakukan? Ingin teriak? Ingin mengadu? Itu tidak mungkin, Semua itu hanya akan semakin sulit.


Kau mengatakan padanya dengan lantang jika kau tidak mencintaiku? Itu menyakitkan, sangat menyakitkan...


Tidak kah kau sadari? begitu sakit dan terlukanya aku..


Bisakah kau sesekali melihat ku? melirik aku sebagai istri mu. sekuat apa pun aku menyembunyikan semua rasa sakit ku tak kan mampu merubah kenyataan jika aku memang sangat terluka...

__ADS_1


Aku bahagia saat kau meminta kita berjuang bersama, meskipun aku tahu akan sulit tapi jika bersama itu akan lebih mudah di banding berjuang sendiri..


Tak bisa ku pungkiri, awalnya kita memang dua orang yang harus terikat dalam pernikahan tanpa cinta, tapi makin kesini aku makin menyadari perasaan ku yang semakin lama semakin tumbuh.


mungkin karena kita tiap hari tinggal bersama, setiap hari bertemu dan berteduh di bawah atap yang sama, bahkan berbagi peluh di ranjang yang sama. Bagaimana mungkin rasa itu tidak tumbuh? Aku tahu semakin kesini rasa ku semakin besar namun aku tak bisa memaksa mu untuk membalas cintaku, Perasaan ini hanya sepihak.


Aileen terus mengukir tinta Pulpennya di atas lembaran putih itu dengan air mata yang tiada hentinya menetes.


^^^Me And My Broken Heart^^^


Aileen menghela napasnya, rasanya begitu lega setelah menuangkan semua keluh kesahnya meskipun hanya ke dalam sebuah tulisan tal berarti. setidaknya bisa mengurangi beban di hatinya.


Setelah kejadian di rumah sakit tadi, Ia tahu dirinya begitu cemburu. kini ia makin sadar jika dirinya sudah benar-benar telah jatuh cinta pada suaminya itu..


Tak bisa dipungkiri, sikap Vir belakangan ini mampu meluluhkan hatinya.


Namun ia mengutuki perasaannya yang hanya sepihak.


Aileen tersentak dari lamunannya, secepat kilat ia mengusap Air matanya saat mendengar suara derap langkah yang mendekat di depan pintu kamar.


Pintu terbuka, Vir dengan senyum rasa bersalahnya berdiri di depan pintu menatap Aileen.


Wanita itu tersenyum getir, Ia menutup bukunya kemudian memasukkannya ke dalam laci.


Lalu berjalan ke arah Vir dan mencium punggung tangan pria itu.


Meskipun kecewa ia tetap memperlakukan suaminya dengan baik.


“Maafkan Aku” Vir ingin mengecup kening istrinya namun Aileen malah menghindar


“Sudah makan?” katanya yang malah mengalihkan pembicaraan membuat Vir makin merasa bersalah.


Pria itu menggeleng, menandakan ia sama sekali belum makan.


“Mandilah, Aku akan menyiapkan makan malam untukmu” ucap Aileen dingin kemudian melalui Vir yang masih terpaku.


Saat tengah menata makanan di meja, Aileen merasakan lengan kekar melingkar di perutnya.


Ia tahu siapa yang memeluknya sambil sesekali mencium ceruk lehernya.


“Kenapa belum mandi?” tanya


“Nanti saja, aku ingin makan dulu” Vir hendak mengecup wajah Aileen namun lagi-lagi wanita itu menghindar darinya, membuat ia merasakan sesuatu yang yang menyakitkan hinggap di hatinya..


“Makanlah, Aku ke atas duluan” setelah semuanya siap Aileen melenggang pergi dari sana.


Vir benar-benar merasa bersalah, Selama ini Aileen tak pernah bersikap sedingin ini padanya. Bahkan saat dulu ia tak memperlakukannya dengan baik pun wanita itu tetap hangat padanya.


Namun kali ini rasanya benar-benar berbeda, sepertinya Aileen benar-benar kecewa.


Vir melalui makan malamnya dengan tidak berselera.


Setelah makan ia kembali ke kamar, Ia menatap punggung Aileen yang sudah terlelap membelakanginya.


Perlahan Vir mendekap tubuh istrinya, berharap tak akan mendapat penolakan sebab yang punya tubuh sudah terlelap dan ia akan dengan leluasa memeluk tubuh yang begitu ia rindukan itu.


******


Pagi hari kembali menyapa.


Cahaya Matahari menelusup ke balik celah gorden. Cahaya silau menerpa wajah tampan pria yang masih terlelap di dalam sana.


Tubuh itu menggeliat, ia tersenyum saat merasakan dirinya terbangun masih memeluk istrinya.


Karena belum membuka mata, Vir memberikan morning kiss. Namun saat mendaratkan ciuman, ia merasa ada yang berbeda pada wajah wanita itu.


Ia tersadar saat melihat apa yang ia peluk dan cium Sedari tadi bukanlah istrinya melainkam bantal guling membuat Vir mengumpat kasar dan menendang guling itu sampai terjatuh.


“Sial, pantas saja lembek. ternyata guling”


Vir bangun dari tempat tidur


Ia tersenyum saat melihat pakaian kerjanya yang sudah tergantung di depan lemari.


Ia pergi ke lantai bawah, sepertinya Vir tengah mencari keberadaan istrinya.


Di dapur pun Vir tak menemukan keberadaan istrinya, di sana ia hanya melihat berbagai hidangan yang sudah tersaji.


Saat mencicipi hidangan yang sangat menggugah seleranya ia menemukan surat yang bertuliskan.


“Selamat pagi, semoga harimu menyenangkan”


Vir yang menduga Aileen sudah pergi, Pria itu lalu mengurungkan niatnya untuk makan, Ia melanglah ke depan.

__ADS_1


benar saja, di sana sudah tidak ada mobil istrinya. Hal itu membuat Vir terlihat kesal, ia meremas kertas surat itu dan melemparkannya ke sembarang arah.


“Aku tahu aku salah tapi apa harus seperti ini, apa dengan menghindari ku kau akan merasa lebih baik?”


__ADS_2