
Virendra, ia sama sekali tak minum apa pun karena mengingat pesan dari sang istri. Ia terus menatap kedua temannya yang sudah terkapar tak berdaya. Andra dan Dito bahkan mulai meracau tidak jelas sambil terus mengibaskan kemeja yang mereka kenakan, kancingnya sudah tak beraturan saking panasnya mungkin.
Bukannya bodoh, ia bahkan tahu jika dua temannya itu sedang berada di bawah pengaruh obat perangsang yang entah darimana asalnya. Itu membuatnya tak tega untuk meninggalkan mereka. Beruntung suasana acara sudah tidak begitu ramai. Hanya menyisakan para pria yang ada di sana. Sama sekali tidak ada wanita, semua sudah pulang. Entah apa yang akan terjadi jika makhluk bernama wanita masih ada di sana, mungkin Andra dan Dito yang berada di bawah pengaruh obat perangsang sudah menerkam sembarang wanita yang mereka lihat untuk menuntaskan hasratnya. Hmmmnt.
“Shiiit...” Vir meremas rambutnya kasar.
Dia masih memikirkan siapa sumber masalah yang terjadi ini, bukan tidak mungkin jika ia meminumnya maka ia pun akan bernasib sama seperti Dito dan Andra. Syukurlah, ia masih jadi suami penurut yang selalu menghindari hal yang tak disukai istrinya dan itu sudah membuat ia terselamat dari hal membahayakan ini.
Ia masih terdiam memegang ponselnya sambil menatap dua pria yang tertidur dengan bagian depan celana yang menonjol, sungguh dua pria yang malang. Vir sedang memikirkan cara untuk membawa Dito dan Andra pergi dari sana saat ponselnya berdering, tertera panggilan masuk dari 'Biyan' adik iparnya.
“Tumben!” ia bergumam, sesaat kemudian mengangkatnya.
Virendra : Ada apa??
Biyan : Kakak belum sampai dari tadi, apa mereka masih bersamamu?. Tanya Biyan dari balik telepon.
Vir mengerutkan keningnya mendegar penuturan Biyan.
Virendra : Hah... Ia melongo, tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Tapi mereka sudah pergi sejak dua setengah jam yang lalu.
Biyan terdengar mendesah gusar disebrang sana, sambil memberi tahu apa yang dirinya katakan. Ia bisa mendengar suara gusar dan perdebatan kecil dari orang-orang yang bersama Biyan, mereka mempertanyakan kemungkinan Aileen dan Shakeel kemana.
Virendra : Biy, sudah dulu ya. Aku mau kesana, sekalian cari mereka.
Tut..
Panggilan pun berakhir. Dengan wajah cemas hampir menangis, Vir mengusap wajahnya kasar. Menarik rambutnya gusar. Ini yang ia takutkan, ia menyesal telah mengabulkan keinginan sang istri, melepas penjagaan dari sisinya. Sungguh ia merasa menjadi makhluk paling bodoh, ketika nalurinya sudah mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Entah itu apa, namun ia masih saja membiarkan Aileen nya jauh dari sisinya.
Prang...... Ia melempar gelas minuman yang ada di depannya. Semua orang yang tersisa menatapnya penuh tanya, namun tak dihiraukannya.
Tubuhnya bergetar, namun sama sekali tak mengeluarkan tangis apapun. Ia memendamnya dalam hati, tentu itu lebih menyakitkan. Masalah istrinya yang belum sampai saja sudah membuatnya porak poranda begini, terlebih ketika pandangannya tertuju pada dua pria yang tak berdaya di depannya, sungguh itu membuat emosinya kian meledak. Ia merasa ini semua ada hubungannya. Arrrrghht Damned!
Tidak mungkin meninggalkan duo makhluk yang sedang membara itu di sini, ia pun membuat keputusan Final. keputusan yang paling tepat agar kedua pria itu tetap aman dan baik-baik saja tanpa melakukan dosa dengan menyebar benih kemana-mana, apalagi kondisinya seperti ini. Itu bisa saja terjadi.
Vir pun menelepon taksi untuk membawa Andra dan Dito. Setelah itu amarahnya kian memuncak ketika melihat pelayan yang tadi membawa minuman dan makanan ke mejanya. Tentu jiwa-jiwa detektifnya keluar saat itu juga, ia bergerak maju untuk mengintrogasi si pelayan yang sudah membuat temannya seperti ini.
Pranggg...
Sekali lagi, dengan kasarnya Vir menyambar nampan yang di bawa pelayan itu. Hingga mengakibatkan gelas-gelas dan botol minuman yang ada pecah dan berserakan. Semua mata kembali menatapnya, namun tidak ada yang berani bertanya Ada apa?
“Beraninya kau membuat temanku seperti itu!!” tunjuk Vir pada duo terkapar.
Pelayan yang melihat kilatan amarah di mata Vir hanya bisa menunduk sambil gemetar takut, ia mundur satu langkah. Menghindari kemungkinan apa yang bisa dilakukan pria di depannya itu.
__ADS_1
Kelihatannya saja ramah tapi kelakuan tidak ramah..! Bintang satu ah! (*Heh, pelayan!! Apa kau pikir Virendra adalah kang ojol?🤦**🙄*)
“Jangan menatap ku seperti itu!!!” Vir hendak melayangkan tangannya, namun sepertinya ia mengingat jika di depannya adalah wanita, jadilah ia hanya menepis angin.
“Katakan siapa yang menaruh obat perangsang diminuman mereka!!” Sentak Virendra sekali lagi, ia menuntut jawaban “Katakan!!” suaranya kian meninggi, naik tujuh oktaf..
(👩🦰 : Sa ae lu Vir, kek mau nyanyi aja lu!!”🤭. 🤵 :Diamlah Thor! Aku sedang marah, kau jangan mengganggu jika tak ingin kena!!🙄)
"Vir, ada apa?” salah seorang teman memberanikan diri untuk bertanya
“Lihat..” Vir menunjuk ke arah Andra Dito yang masih terkapar dengan kondisi kemeja tak beraturan “Ada yang sengaja menaruh obat perangsang di minuman kami!”
Para yang hadir kini hanya menggeleng, prihatin sekaligus menyayangkan apa yang terjadi. Kenapa diacara reuni bisa seperti ini?
Bersamaan dengan itu, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari taksi yang dipesannya.
“Lihat saja, aku akan menuntut hotel ini atas apa yang terjadi dan jika kau terlibat..” Vir menghentikan ucapannya “Aku pastikan kau akan kehilangan pekerjaanmu untuk selamanya!” Ia kemudian melangkah menuju si duo terkapar.
“Tolong bantu!!” ujar Vir sambil mencoba mengangkat Dito. Sedangkan salah seorang teman, mencoba mengangkat Andra.
Setelah sampai di luar, duo terkapar di masukkan ke dalam taksi, Vir pun berterimakasih pada teman yang membantunya.
Bahkan saat berlalu di Lobby, ia sempat meneriakkan sesuatu pada resepsionis “Lihat temanku,!” teriaknya sambil menunjuk Andra dan Dito “Ada yang sengaja melakukan ini!! Aku akan menuntut kalian jika ini terbukti direncanakan!"
Resepsionis itu hanya menampakkan ekspresi terheran sekaligus ketakutan dengan ucapan Vir.
“Mau di bawa kemana pak?” tanya si driver.
“Apartemen Recidens sky kawasan Greenland!”
“Kalau yang satunya kemana pak?”
Ah, sial! Vir mengusap rambutnya kasar. Ia lupa jika ia sama sekali tidak tahu dimana alamat rumah Andra. Tak ingin terlalu lama berpikir dan membuang-buang waktu ia pun memutuskan untuk membawa keduanya ke Angkasa Land Hotel.
“Bawa ke Angkasa Land Hotek saja!” Vir menatap sang Driver yang diam seperti tengah memikirkan bagaimana caranya bisa chek in untuk kedua orang ini.
“Sebut nama saya saja, saya yang punya Hotel!” Vir memutar mata malas melihat bapak driver yang kebingungan.
“Ya, masalahnya sayanya ndak tau nama bapak siapa!”
Vir tepuk jidat sambil mengatakan “Arshaka Virendra Shawan!”
“Ah iya, bapak Arshaka Virendra Shawan!" bapak Driver menyebutkan nama Vir secara berulang.
__ADS_1
“Hmmmnt" Vir yang sudah tidak mood, ingin cepat-cepat mencari istrinya pun hanya mengangguk.
“Kalau begitu saya pergi dulu pak!"
“Hmmmnt” setelah taksi itu pergi, ia melakukan satu panggilan lagi sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana
Virendra : Siapkan dua kamar terbaik untuk Dito dan teman saya! Nanti ada taksi yang bawa mereka..Usahakan bellboys yang antar ke kamar, jangan biarkan staff yang bernama wanita muncul di hadapan mereka!!
Begitu Vir memerintahkan, sepertinya yang ditelepon adalah staff di hotelnya. Keputusan membawa duo terkapar ke Hotel adalah keputusan yang tepat, aman dan terkendali tentunya. Di sana mereka bisa di rawat oleh anak-anak staff cowok tanpa harus melibatkan staff cewek, yang tentu akan berbahaya. Bisa saja kegiatan bercocok tanam akan terjadi. It's a Mistake!
..
Beberapa menit berkendara, akhirya ia sampai di rumah mewah mertuanya. Ia disambut dengan wajah panik para anggota keluarga.
Vir memberi salam hormat pada semua yang lebih tua. Bahkan untuk yang pertama kalinya ia mendapat sapaan ramah dari adik iparnya yang selama ini selalu mengibarkan bendera perang setiap kali menatapnya.
“Kak Eil belum datang kak!" begitu kata Biyan memberi tahu. Ah manis sekali, Semoga ini awal yang baru! Vir membatin
“Vir, istrimu dimana?" Mommy menampakkan wajah kecemasan.
“Biar ku lacak keberadaannya, ya Mom..” Vir yang memang pernah menyambungkan GPS di ponsel Aileen tentu bisa lebih mudah mencari tahu bukan.
“Memangnya bisa, ponselnya kan mati!”
“Bisa..” Vir tersenyum, mencoba menenangkan semua, meskipun dalam hatinya ia ingin berteriak dan menangis karena kehilangan istrinya. Ingatan tentang mimpi malam itu, benar-benar membuatnya takut tak berdaya.
“Bisa kok!” Bahkan Biyan juga ikut menimpali pertanyaan itu.
“Mereka ada di titik ini..!” Vir memperlihatkan sebuah titik merah pada gugel Mapss.
Daddy terlihat mengkerutkan kening “Kenapa ada di jalan sepi? Itu bukan jalur ke rumah kita”
Papa Ferdy yang mendengar itu pun ikut menengok dan menimpali setelahnya “Tadi Reuni dimana, Vir?”
“Di Hotel Mulia, jalan xx!”
“Wah, benar-benar melenceng jauh..!" tukas Papa Ferdy. Tentu itu membuat mereka semakin berakumulasi yang tidak-tidak.
“Huhuuu, kenapa anak ku bisa sampai di sana?” Tanya mommy yang mulai terisak.
“Tenang ya, dek. Aileen pasti baik-baik saja, dia dengan kakaknya!" Begitu kata Mama Syella menenangkan. Sementara Oma berusaha memeluk menantunya itu.
Rasanya mereka yang sudah tua seperti kembali ke masa lalu, saat dimana mereka semua mendapat kabar disaat Mommy jessica kecelakaan dulu.. Itu benar-benar menyiksa.
__ADS_1
“Mommy, tenang ya! Kakak aman, ada Keil yang menjaganya!’ Biyan melangkah dan merengkuh tubuh Mommy nya. Memberi kekuatan pada wanita yang sudah melahirkannya.
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, mereka pun segera pergi menuju titik lokasi bersama dengan para pengawal yang Daddy siapkan.