Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 112


__ADS_3

“Kita tidak bisa mengambil kesimpulan ataupun keputusan seperti ini..” sela Mommy begitu mendengar Daddy Al berbicara dengan nada emosi, jika ia ingin memisahkan Vir dan Ailee untuk sementara, karena takut kejadian kemarin terulang kembali. Mengingat aksi brutal Fia yang cukup nekat.


“Mereka berhak menentukan pilihan, ini rumah tangga mereka.. Pilihan ada ditangan Eil dan Vir.. Kita tidak punya hak mengambil keputusan apapun!” sambung Mommy yang kelihatan sangat tak setuju.


Sementara Opa Surya dan Oma Fera terpantau lebih banyak diam. Ya, setelah mendengar cerita keseluruhan dari Daddy tentang permasalahan rumah tangga yang pernah Aileen dan Virendra alami. Opa Surya begitu merasa bersalah, bahkan ia sempat menyesali keputusan perjodohan ini, jika akhirya Aileen harus menderita.


Sepasang tua renta itu memang belum melihat jelas kondisi Aileen. Sebab, sejak datang tadi, Ia sama sekali belum bertemu dengan cucu sulungnya itu. Namun mendegar cerita dari Daddy Al saja sudah membuat keduanya meringis sedih dalam hati. Begitu menyesal dan sangat menyesal.


“Keputusan ini bukan tanpa alasan, Aku hanya berusaha melindungi putriku dari kemungkinan yang akan terjadi.. Bisa saja wanita itu kembali menyerangnya dan belum tentu Vir bisa melindunginya..” Daddy tetap mempertahankan statement-nya


“No, dad.. Aku rasa tak perlu!” Mommy menjadi satu-satunya orang yang selalu membela, ini menguntungkan posisi Vir untuk tetap aman.


“Aku yakin Vir pasti bisa menjaganya! Mereka saling mencintai, jadi ku rasa kita tak perlu menghawatirkan hal seperti ini”


Mommy menghela napas san kembali berkata “Yang lalu biarlah berlalu.. Mungkin Vir memang salah di awal dulu, tapi itu bukan berarti bisa jadi patokan untuk kita memisahkan dua orang yang sudah saling mencintai.. Aku bisa lihat jika sekarang semuanya benar-benar berbeda, Sudah ada cinta diantara mereka...”


“Tetap saja, Mau ada cinta atau tidak. Yang aku pikirkan hanya keselamatan dan keadaan putriku..” Daddy masih saja tak mau kalah


“Mas, jangan jadi egois!! Semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin.. Kita bicarakan baik-baik..!”


“Tidak bisa, ini sudah berlebihan..!”


Orang tua Aileen itu masih saja berdebat. sedangkan Oma dan Opanya masih terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Sepertinya Opa Surya masih tak menyangka atas apa yang terjadi. Ia dan mendiang besannya sedari awal mengira jika perjodohan ini adalah yang terbaik, sama sekali tak pernah terlintas dipikirannya jika ternyata ada masalah seperti ini. Semua begitu tertutup rapat, mungkin karena Aileen yang terlalu pandai menyimpan bebannya seorang diri.


Ibarat kata 'Sepandai pandainya seseorang menyimpan bangkai, pasti tetap akan tercium baunya' Begitu lah yang terjadi dalam masalah ini. Ibarat bangkai dan bom waktu, meskipun dulu Aileen begitu menutup rapat semua masalahnya namun kini semua sudah terkuak. Bahkan makin menjadi benang kusut yang tak berujung.


Semua masalah makin menjalar luas ketika diantara dia dan Vir jelas sudah tidak ada permasalahan lagi, keduanya bahkan mungkin sudah melupakan permasalahan itu dan fokus pada masa depan dan kebahagiaan yang ada di depan mata. Di saat itu pula, keluarganya justru mempermasalahkan hal ini.


“Kenapa Kau tidak memperdulikan putri mu, Mom..” hardik Daddy


“Siapa yang tidak perduli?" Sunggut Mommy tak terima “Aku hanya tidak setuju jika mereka harus dipisahkan.. Memangnya Vir salah apa? Apa Mas tega memisahkan dua insan yang saling mencintai?”


“Ini hanya sementara..” potong Daddy


“Tetap saja.. Coba tukar posisi, jika kau yanga ada di posisi Vir, apa Mas juga akan rela jika dipisahkan hanya karena kesalahan wanita yang ada di masa lalu.” sanggah Mommy, berusaha memberikan alasan yang serasional mungkin, agar mampu membuka cahaya terang pada relung hati dan pikiran Ayah dari anak-anaknya itu.


“Apa..”


Tuk..


Belum sempat Daddy Al melanjutkan ucapannya, Dialognya itu sudah menguap begitu saja ketika Opa Surya menghentakkan tongkatnya ke lantai marmer hingga menimbulkan bunyi yang melengking..


Semua mata tertuju pada Opa yang kelihatannya mulai bosan mendengar perdebatan antara Mommy dan Daddy Aileen.


Bahkan Oma Fera yang tadinya sedih, kini beralih menatap suami tuanya itu.


“Berhenti berdebat!!” ucapnya dengan sorot mata nyalang.


“Aku sebagai orang yang pernah mengatur perjodohan ini di masa lalu pun merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa cucu ku..” Seketika wajah nyalang itu berubah sendu


“Aku pun menyesali semua yang terjadi!!! Kalian pikir aku tak merasa bersalah??”


“Aku pun sebagai Kakek Aileen sangat merasa menyesal.. Tapi bukan seperti ini caranya..” Opa menghela napas sambil membenarkan kaca matanya

__ADS_1


“Yang Jessica ucapkan ada benarnya, Al.. Kita tidak boleh menutuskan suatu hal secara sepihak. Meskipun berawal dari perjodohan namun ini rumah tangga mereka. Mereka berhak menentukan pilihan. Kita tak perlu ikut campur lebih jauh!! apalagi jika mereka benar-benar sudah saling mencintai, jika menggunakan cara mu mungkin akan sangat menyakitkan”


Daddy Al hanya menghela napas mendegar ucapan sang Ayah..


“Bisa jadi itu yang terbaik menurut kita tapi justru malah tidak baik bagi mereka, jangan membuat masalah menjadi runyam..."


Semua hanya terdiam mendengar ucapan Opa, Tidak ada yang berani menentangnya.


“Kita bicarakan baik-baik, tanyakan pada keduanya..” lanjut Opa


“Ya, itu, Kebetulan sekali, kita langsung saja tanyakan pada yang bersangkutan..” sahut Oma sambil menoleh ke suara langkah yang mulai memasuki ruang keluarga.


Semua mata menoleh ke arah dua orang yang baru datang, yaitu Aileen dan Virendra.


Daddy terdengar menghela napas berat sambil memijat pangkal hidungnya.


“Nah tepat sekali.. Kalian, kemarilah!” seru Opa sambil menunjuk sofa yang masih kosong.


Vir dan Aileen pun segera mendekat dan duduk di sana, Aileen terlihat melingkarkan tangannya pada lengan Vir dengan begitu posesif.


Seolah ia ingin mengatakan pada dunia bahwa Ia dan suaminya tercinta itu tak akan terpisahkan sekali pun dunia menentang, Ia akan tetap bertahan dan melalui semuanya bersama. Jika dulu ia bertahan hanya karena sebuah komitmen, maka sekarang ia akan bertahan karena hal yang lebih kuat, Yaitu Karena Cintanya.


“Eil..” lirih Oma saat melihat bekas goresan yang mulai samar-samar di sepanjang garis wajah cucu sulungnya itu.


Aileen tersenyum sambil menggenggam tangan keriput oma Fera yang berhasil mendarat di pipinya “Eil baik-baik saja, oma..” ucapnya meyakinkan


Oma hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dalam diamnya Oma seolah mengatakan “Ya, kau memang selalu baik.. Dalam keadaan apapun dirimu, kau pasti akan bilang jika semuanya 'It's Fine' , meskipun kami tahu kau hanya tak ingin kami mengetahui bebanmu”


“Opa sudah dengar semuanya..” kata Opa Surya membuka obrolan


“Sebelumnya Aku minta maaf” Vir dengan gaya gentel-nya pun berinisiatif menjelaskan semuanya tanpa dipersilahkan.


Vir mulai menjelaskan semua permasalahan benang kusut yang sudah terselesaikan menjadi terurai karena apa. Ia menjelaskan semua yang terjadi secara detail tanpa menutup-nutupi kesalahannya di masa lalu.


“..Aku akui, Aku memang salah di masa lalu. Tapi sekarang aku benar-benar menyesal dan kami sudah memperbaikinya..” Vir menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak searogan versi dirinya yang seperti biasa.


“Opa senang mendengarnya, Itu artinya tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kalian sudah berujung pada Cinta dan kami semua cukup lega mendengar itu.. Berarti di sini permasalahannya hanya perkara mantan kekasih Vir yang tak terima semua ini..” Opa mencoba memahami


Mommy, Oma Fera dan Aileen terlihat bernapas lega. Meski hanya wajah Daddy lah yang terlihat masih tak rela.


“Mantan juga tidak akan seperti itu jika Vir tak pernah menjanjikan sesuatu..” celetuk Daddy dengan nada yang paling sinis


“Mas..” sela Mommy


“Eil, Daddy rasa kau harus tetap tinggal di sini sampai wanita itu benar-benar tak lagi menganggu mu. Daddy tidak ingin kau terluka lagi..”


Aileen menggeleng demi mendengar ucapan Daddy nya.


“Kita bisa saja membalas perlakuannya, hanya saja itu tidak perlu, karena di sini yang jadi sumber masalahnya ya suami mu ini..” tunjuk daddy pada Virendra.


Dan Vir hanya menunduk, meski terasa menyakitkan namun inilah konsekuensi yang harus ia terima.


“Permasalahan ini berawal dari dia!! Jika saja dari awal dia tahu dirinya dijodohkan seharusnya dia sudah mengakhiri hubungannya dengan siapapun itu.. dan mungkin masalahnya tidak akan seperti ini. kau tidak akan terluka...” hardik daddy Al.

__ADS_1


“Al, cukup!” bentak Opa, udara ruangan makin panas saat Daddy tak lagi mengindahkan perintah sang Ayah. sepertinya masalah ini benar-benar membuatnya membara. Mengingat Daddy pernah memberi kepercayaan pada Vir namun kembali tercoreng hanya karena masalah yang Fia timbulkan.


“Jika ingin Aileen ikut bersamamu, kau harus bisa memastikan jika Wanita itu tidak lagi mengganggu rumah tangga kalian apalagi mengusik Putriku.” ucap Daddy lagi dengan nada yang mengancam.


Aileen yang mendengar itu tak bisa lagi untuk tetap diam. Nalurinya tak bisa diabaikan jika ia harus melakukan pembelaan pada suaminya itu.


“Dad, cukup!!” teriak Aileen.


Semua mata tertuju padanya, ini kali pertama wanita itu terdengar meninggikan suaranya di hadapan keluarga besarnya.


“Eil?" Daddy menggeleng dengan raut wajah sulit diartikan. Antara sedih, kecewa dan tak menyangka jika putri sulungnya itu akan membentak dirinya.


“Tidak bisakah Daddy tutup telinga? Tidak bisakah Daddy pura-pura tak melihat?? atau tidak biskah Daddy pura-pura bisu untuk tak membicarakan hal seperti ini..?” ucap Aileen dengan Air mata yang siap meluap namun masih berusaha dibendungnya.


“Eil!!" bentak mommy tak terima. Meski sedari tadi ia pun menentang sang suami, namun ia sama sekali tak terima jika Putrinya itu melontarkan kata-kata seperti itu pada Daddy nya.


“Sayang..” lirih Vir dengan setengah menggeleng, ia bahkan berusaha merangkul tubuh istrinya yang perlahan mulai terisak itu.


“Aku lelah mendengar pembahasan ini terus!!”


“Kalian semua tidak tahu bagaimana susah payahnya aku mempertahankan semuanya dari awal..!” ucap Aileen dengan suara tersendat-sendat menahan tangisan saat air matanya mulai meleleh


“Aku menerima perjodohan ini, Aku menjalani pernikahan ini dengan komitmen ku sendiri.. aku menjalani semuanya dengan penuh kesabaran hingga semua berakhir seperti ini! itu tidak mudah.. dan saat kami diterpa masalah seperti ini Kalian malah meminta ku untuk menjauhi suami ku sendiri??”


“Ini bukan masalah besar yang perlu diperbesar!!” lirih Aileen dan semua hanya terdiam.


“Aku bahkan berhasil melewati masalah terbesar ku seorang diri, Jadi tolong sekarang biarkan kami menyelesaikan semuanya sendiri.. Tak perlu memisahkan kami seperti ini apalagi sampai menyudutkan Vir, dia sama sekali tak bersala!!”


“Eil..” lirih Daddy


“Kami bisa melaluinya dengan mudah jika bersama.. Tolong percaya padaku, Dad..!”


...____...


Setelah berhasil membujuk Daddy, Aileen dan Vir pun langsung kembali ke rumahnya.


Di sepanjang perjalanan, Vir tak henti-hentinya memerhatikan Aileen dengan mata berkaca-kaca.. Ia benar-benar tak menyangka jika Aileen akan membelanya sampai seperti itu.


“Terimakadih sudah membela ku Eil..” lirih Vir sambil mengecup tangan lentik sang istri dengan satu tangan yang lain masih fokus mengemudi.


“Aku hanya ingin membuktikan, jika aku akan selalu membela dan mensuport mu dalam hal apapun itu..” Aileen tersenyum


“Karena Aku mencintaimu..!” kini ia yang berbali mengecup tangan lebar milik suaminya itu


Dengan mata berkaca-kaca, Vir menganggukkan kepalanya. Bahkan bulir bening itu mulai menetes. Jika dulu ia begitu Jaim, mungkin sekarang ia sudah tak memperdulikannya lagi. Sungguh perjalanan cinta keduanya sangatlah tidak mudah.


Aileen tersenyum menatapnya “Tidak apa, laki-laki juga manusia! Wajar jika menangis” Aileen mengusap lembut sudut mata suaminya itu


“Menangis itu manusiawi! Semua manusia punya kelenjar air mata!! Masih bisa menangis itu artinya kita manusia normal yang masih punya naluri refleks merasakan kesedihan dengan cara mengeluarkan air mata..” ucap Aileen dengan setengah mencibir


Sementara Vir, ia malah terkekeh mendengar penjelasan menangis dari Aileen yang begitu detailnya.


“Nanti sore kita harus langsung ke rumah sakit..” kata Vir sambil memencet klason berkali-kali, sebab lampu merah telah berganti lampu hijau, namun pengendara di depannya itu tak kunjung melaju.

__ADS_1


__ADS_2