Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 139


__ADS_3

“Benarkah aku tidak gagal menjaga kalian?”


Aileen yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya kemudian kembali mengitari ranjang untuk duduk di kursi, lalu Aileen menatap wajah Vir lekat-lekat sambil menangkupnya.


Aileen mengangguk sesegukan “Lihatlah, aku baik-baik saja. Dan ini karenamu, kamu Daddy yang baik untuknya. Rela menukar hidupmu untuk kami, kau mengalami koma karena melindungi kami."


Air mata Vir bahkan semakin berderai saat matanya mengikuti arah mata Aileen melirik. Tonjolan perut yang besar itu membuat hati Vir berdebar bersamaan dengan rasa haru yang menyeruak. Benarkah ia berhasil melindungi anak dan istrinya? Benarkah ia melakukan itu?


“Lihat, dia juga tumbuh dengan baik. Dia sudah sebesar ini.” Lirih Aileen sambil mengusap perutnya dengan satu tangan menhapus bulir air mata yang terus mengalir.


“Aku tumbuh sehat dengan Mommy. Kami merindukan mu, Daddy."


Vir yang mendengar Aileen menirukan suara ana kecil membuat tangannya bergerak kaku agar bisa meraih tangan istrinya. Saat ia begitu ingin memeluk Aileen, tapi keadaan membuat ia begitu tidak berdaya. Tidak ada lagi alasan untuk tidak mempercayai Aileen, semua bukti yang ditunjukkan sangat jelas membuktikan jika mereka memang suami istri.


“Aku ingin menyentuhnya.” Lirih Vir, dia tidak ingin menyusahkan Aileen dengan menyuruhnya kembali menunduk agar bisa berpelukan, ia tidak ingin menyusahkan. Pasti akan sulit melakukan sesuatu dengan perut yang sebesar itu. Pikirnya dalam hati.


Perlahan Aileen membantu Vir mengarahkan tangan ke atas perutnya, mengarahkan senyaman mungkin agar Vir tidak merasakan sakit karena pergerakan kasar.


“Hai..!” Ucap Vir kelu, seakan tak mampu berkata-kata lagi saat hatinya seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu begitu menyentuh perut yang membesar dan begitu keras itu. Ia sangat bahagia bisa merasakannya, begitu nyata!


“Dia menendang.” Aileen tersenyum menatap Vir yang heran merasakan pergerakan di dalam sana, “Dia merindukanmu, dia tahu daddynya yang menyentuh makanya merespon saat jam begini.”


“Maksudnya?" Tanya Vir dengan tangan yang terus menikuti kemana bagian yang terdapat tonjolan karena pergerakan di dalam sana.


“Ini bukan waktunya untuk bangun, biasanya dia hanya akan bergerak di waktu tertentu, seperti saat subuh."Keduanya sama-sama tersenyum. Derai air mata itu sudah kering, tergantikan dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajah keduanya.


Senyum Vir semakin lebar saat pergerakan di dalam sana seperti mengajak untuk bermain.


“Halo Daddy, aku sangat merindukanmu. Lihat, betapa aktifnya aku.”


Lagi-lagi Aileen membuat Vir tersenyum mendengar dia menirunkan suara anak-anak, begitu menggemaskan.


“Sebentar lagi kita akan bertemu, doakan agar semuanya berjalan lancar.”


Tangan Vir berhenti bergerak, ditatapnya Aileen dengan lekat. “Sudah berapa bulan usianya?"


“32 minggu Daddy, dia sudah delapan bulan.” Aileen tersenyum sambil kembali menggerakkan tangan Vir. Ia begitu menyukai moment yang sudah lama ia nantikan ini.

__ADS_1


“Berapa lama? Berapa lama waktu yang aku lewatkan bersamanya?” Air mata Vir Kembali berurai.


“Enam bulan, sayang. Aku dan anak kita menunggumu selama itu, hari-hari kami begitu berat tanpamu.” Bahkan Aileen pun kembali ikut terisak. Keduanya larut dalam kesedihan dengan tangan yang saling menggenggam.


“Aku ingin menciumnya, aku ingin memeluknya." Pinta Vir hati-hati.


Tanpa berpikir panjang, Aileen segera berdiri, dan menghadapkan perutnya pada Vir. Suaminya itu langsung mengecup perutnya penuh sayang, mengelusnya bahkan juga melingkarkan tangannya di sana.


“Maafkan Daddy yang tidak menemanimu selama ini.”


“Tidak Dad, ini bukan salahmu. Kami justru bangga, kau seperti ini karena melindungi kami. Kami bangga punya super hero pemberani." Lirih Aileen sambil mengusap rambut suaminya yang lumayan panjang.


Hari ini merupakan hari dimana Aileen mendapat titik balik kehidupannya. Jika hari-hari sebelumnya dipenuhi dengan kesedihan, maka mulai detik ini dengan penuh harap, Aileen berdoa agar kehidupan mereka bisa lebih baik lagi dan dijauhkan dari kejadian mengerikan yang bisa membuat mereka berpisah seperti saat Vir koma.


Dalam diam, Aileen terus memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada Vir, jika Ayahnya sudah tiada sejak kejadian itu. Semua terasa begitu berat. Ini sangatlah tidak mudah.


...🍂🍂🍂...


Hari-hari terus berlalu. Setelah selama dua minggu pertama melakukan fisioterapi dan terapi okupasi saat perawatan di rumah sakit, akhirya Virendra diperbolehkan pulang. Meski harus melakukan sesuatu menggunakan kursi roda, namun hasil dari fisioterapi dan terapi okupasi itu perlahan membuahkan hasil. Mulai dari Vir yang sudah mampu menggerakkan tangannya, seperti menggerakkan kursi rodanya sendiri. Bahkan cara bicaranya pun mulai lancar, tidak lagi terbata-bata seperti awal.


Aileen dan Vir tidak lagi tinggal di rumah pribadi mereka. Seluruh keluarga sepakat agar bisa mengontrol mereka, sebab kondisi Aileen yang hamil tua juga tak memungkinkan untuk melakukan semuanya sendiri.


Aileen memilih tinggal di rumah keluarga Vir, apalagi di sana hanya ada Vino dan Ibu mertuanya. Mereka juga belum memberi tahu Vir soal Ayah, karena tidak ingin memberi tahu secara langsung, semua ingin Vir menyadarinya secara perlahan agar kondisinya tidak drop begitu mendengar kabar buruk. Dokter juga menyarankan untuk selalu menjaga suasana hati dan pikirannya, sebab bisa menganggu proses penyembuhan yang dialami otaknya pasca cedera.


“Kamu tidak mungkin bisa melakukan ini. dokter memintaku untuk mencegahmu melakukan aktifitas berat." Ucap Vir yang tidak ingin Aileen mendorongnya. Beberapa hari yang lalu mereka pergi ke dokter kandungan. Kata dokter, kandungan Aileen sudah memasuki usia 9 bulan, tinggal menunggu hari saja. Vir yang tahu itu, melarang keras Aileen untuk melakukan pergerakan yang menurutnya berbaya. Seperti siang ini, saat mereka hendak pergi melakukan fisioterapi tapi Vir menolak saat melihat Aileen sudah berdiri di belakangnya.


“Jangan, Eil. Kalau kau kenapa-kenapa aku tidak akan bisa menggendongmu. Jangan biarkan suamimu yang tidak berdaya ini merasa gagal melindungi kalian."


Aileen hanya menghela napas mendegar ucapan Vir, dia tetaplah seorang Virendra yang cerewet dan banyak bicara. Bedanya kali ini lebih sensitif karena ketidak berdayaannya.


“Sini." Vir meraih tangan Aileen, menariknya agar pindah ke sampingnya.


“Bukan aku, sayang. Aku juga sudah tidak kuat mendorongmu. Kita tunggu seseorang." Ucap Aileen sambil merangkul pundak Vir dan menunjukkan tangannya pada orang yang berjalan ke ruang keluarga.


“Itu, perawatnya sudah datang.” Tunjuk Aileen pada Dito yang sedang tersenyum sumringah sambil memutar remote mobil di tangannya dan Vir hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu.


“Biar ku benarkan, Eil" Dito dengan gayanya yang tidak berubah, berdiri di hadapan Vir dengan gaya seolah tengah membenarkan dasi, padahal dia sama sekali tak mengenakan dasi, hanya kemeja biasa. Hmmnt, dasar Dito.

__ADS_1


“Aku bukan perawat, tapi calon suami perawat." Ucap Dito dengan bangganya.


“Mimpi mu terlalu tinggi, Dit. Nanti kau bisa di tabrak meteor." Ketus Vir sambil memutar mata malas, membuat Aileen cekikikan melihat tingkah dua sahabat itu.


“Cih, sialan!" Umpat Dito “Kalau bicara tidak pernah ada bagusnya."


“Oh jelas." Sahut Vir lagi “Itu fakta, Memangnya usahamu mendekati Nita sudah sampai dimana?" Ejek Vir, yang mana membuat Dito salah tingkah, sambil menggaruk tengkuk.


Vir tahu semua dari Aileen tentang Dito yang begitu tergila-gila pada Nita. Dia menceritakan semua yang pernah pria itu katakan.


“Aih, jangan dibahas. Ayo berangkat sekarang." Dito yang tahu jika sebentar lagi ia akan menjadi bahan bullying dari Aileen dan Vir segera mengambil alih kursi roda dan mendorongnya cepat untuk menghindari penistaan pada dirinya yang malang ini.


“Payah, tebar benih dimana-mana bisa. Tebar cinta untuk menaklukkan hati satu wanita saja tidak bisa. Lemah." Ejek Vir lagi.


“Cih, diamlah! Aku tahu kau suhu, tapi tidak seharusnya mengejekku." Ucap Dito saat mereka sudah berada di halaman dan hendak masuk ke mobil.


“Aku punya saran, Dit, mau tahu?" Vir mendongak seraya mengedipkan mata membuat Aileen menyerngit melihat apa yang akan suaminya katakan. Biasanya dua orang ini memiliki tingkat kemiringan otak dalam waktu yang bersamaan, sepertinya Vir sudah mulai ketularan otak miring si Dito.


“Apa?" Ketus Dito dan segera membungkuk saat Vir menggerakkan tangannya agar Dito mendekat.


“Tanam benih, go*blok! Apa lagi?!" Vir terkekeh seraya mendorong kepala Dito menjauh.


"Itu pasti ampuh untuk menaklukkannya."


“Apa kau sudah gila?!" Dito refleks


melayangkan pukulan pada bahu Vir.


Sementara Aileen yang mendengar saran dari suaminya juga menampakkan respon tidak terima.


“Hey, mana bisa begitu!" Ketus Aileen, “Awas saja berani menyentuhnya, Dit. Aku akan membasmimu." Ancam Aileen sambil melayangkan pukulan pada Dito.


“Aihh, kenpa memukulku, Eil?" Dito mengusap lengannya yang terasa panas akibat pukulan Aileen "Ini saran suamimu, tidak adil jika tidak memukulnya."


“Tadi kau sudah memukulnya, Dit. Jadi aku membalasnya padamu."


Aileen dan Vir hanya terkekeh melihat Dito yang meringis kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2