Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 66


__ADS_3

“Vir, jangan pergi! kamu harus tetap bersamaku!" Fia ikut menyusul Vir yang hendak masuk ke mobilnya.


Pria itu menoleh, Ia mengusap wajahnya kasar sebab Fia malah mengejarnya. Sudah pasti waktunya akan terbuang lama jika harus meladeni wanita ini.


"Ada apa lagi Fi? Aku harus segera pergi" ucap Vir yang mulai jengah. pikirannya kalut, ia takut membuat Aileen kecewa. Padahal orang yang dipikirkan sedang pergi mengisi perutnya.


"Vir sekeras apa pun aku berusaha untuk membenci mu tidak akan mampu menutupi kenyataan jika hati ku sangat mencintai mu, Cinta itu lebih besar daripada rasa benci itu sendiri" ucap Fia seraya menggengam erat tangan kekar pria bermata sipit itu.


"Dan sekeras apapun usaha kita untuk bersama tak akan mampu mendustai takdir jika Tuhan menginginkan aku dengan dia! Kita bisa apa Fi?" Vir menatap wajah Fia lekat.


Ia tahu, jika usaha mereka selama ini selalu di tentang takdir. Mulai dari tak direstui namun tetap bersama, saat berjuang pun dia malah dinikahkan dengan orang lain. Lalu usaha apa lagi yang harus dilakukan jika sudah seperti ini.


Niat hati ingin berjuang agar bersama tapi malah dibuat semakin jauh. Ia sadar jika semua ini merupakan kehendak takdir yang tidak bisa dirubah.


"Vir katakan sekali lagi, kau tidak benar-benar memilihnya kan! Aku tahu kau hanya main-main, Kau ingin menceraikannya bukan? Ayo katakan!"


"Aku tidak main-main, keputusan ku sudah bulat dan aku tidak akan pernah menceraikannya" ucap Vir tegas, Ia segera membuka pintu mobilnya dan hendak masuk namun tak disangka Fia malah melakukan hal di luar dugaan.


Wanita itu lari ke arah jalan hendak menabrakkan dirinya pada kendaraan yang berlalu lalang.


"Kalau begitu Aku mati saja!" Ucap Fia sambil berlari. Vir yang melihat itu langsung mengejarnya.


Beruntung Ia tepat waktu dan menarik tangan Fia, jika tidak mungkin wanita itu sudah mati terlindas mobil yang melaju sangat kencang.


"Kamu jangan gila" ucap Vir seraya menarik kencang lengan Fia sehingga membuat tubuh mereka sedikit rapat terlihat seperti sedang berpelukan, namun kenyataannya Vir hanya berusaha menyelamatkan wanita itu.


Sementara itu, di sebrang jalan sana. Di depan sebuah kedai terlihat dua orang yang tidak sengaja melihat ke arah Vir dan Fia yang jika dilihat dari jauh seperti sedang berpelukan.


"Ada apa?" tanya seorang pria yang bersama dengan Wanita itu


Wanita itu terpaku melihat adegan di seberang sana, entah mengapa hatinya begitu sakit melihat itu. Bahkan air matanya terlihat menggenang di pelupuk mata indahnya.


Pantas saja tidak mengabari ku dan Melupakan janjinya, ternyata dia sedang bersama Fia! Dia tidak benar-benar mengakhiri hubungannya.. Aileen menutup mulutnya dengan punggung yang sedikit bergetar, Ia benar-benarny tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis di tempat umum


"Eil ada apa?" tanya Zaky yang melihat Aileen menitihkan air mata, namun wanita itu sama sekali tak menyahut.


Kenapa rasanya sesakit ini? Ini semua salahku, seharusnya aku tidak menaruh harapan padanya yang jelas-jelas tak bisa melupakan Fia. Memangnya atas dasar apa aku harus marah, mereka memang saling mencintai dan mustahil untuk berpisah secepat itu.


Zaky yang melihat Aileen sesedih ini, ikut melirik ke arah pandang wanita itu. Matanya menelisik ke seberang jalan dan melihat sepasang pria dan wanita yang kelihatannya sedang berpelukan di sana.


"Za, antar aku pulang" ucap Aileen sendu. namun Zaky tak mendengarnya, Ia masih berusaha melihat siapa mereka yang sampai membuat Aileen sesedih ini karena melihat adegan itu.


"Laki-laki itu? dengan wanita?" lirih Zaky sambil menyipitkan matanya. Ia tahu siapa pria itu, dia adalah suami dari wanita yang sedang bersamanya saat ini, Namun satu yang tidak ia mengerti kenapa pria itu bersama wanita lain.


Dan Aileen malah sesedih ini, apa itu artinya?? Zaky mencoba mengartikan tebakannya sendiri.


Aku akan mencari tahu apa hubungannya dengan wanita yang sedang bersamanya. aku yakin ada sesuatu, kalau tidak Aileen tidak mungkin sesedih ini.


Zaky tersenyum, Entah keberuntungan macam apa ini. Kedai bakso yang kebetulan ada tepat di seberang butik Fia membuat mereka melihat kejadian ini. Sedangkan Zaky, pria itu yakin bahwa hubungan Aileen dan suaminya memang tidak baik. Hal ini membuat ia bersemangat untuk mencari tahu semuanya.


Jika benar pernikahan mereka berawal karena perjodohan maka besar kemungkinan wanita itu ada hubungannya dengan suami sahabatnya itu. Pikir Zaky dalam hati seraya mengusap lembut bahu Aileen.


"Za, tolong antar aku pulang" ucap Aileen pilu seraya menghapus sisa air matanya.


"Aku akan mengantarmu, Ayo!"


Hatinya benar-benar sakit mendapati pria yang kemarin menyatakan cinta kini kembali bersama wanita yang katanya sudah ia jadikan mantannya itu.


Sementara di seberang jalan sana.


"Kenapa menyelamatkanku? Lebih baik aku mati jika harus berpisah dengan mu" ucapan Fia menggambarkan jika dirinya begitu mengenaskan.


"Kamu jangan gila ya Fi, hidup mu masih panjang! Jangan hanya karena kita tidak bersama lalu kau ingin berbuat nekat seperti ini" ucap Vir mengguncang tubuh wanita itu, berusaha untuk menyadarkannya.

__ADS_1


"Hikkss, aku tidak bisa jika tidak bersamamu Vir! Aku terlalu mencintaimu" Fia terisak dalam sendu.


Sungguh penampilannya sangat acak-acakan dengan ke luar dari butik tidak menggunakan alas kaki, ditambah lagi rambutnya yang kusut membuat penampilannya sangat mendukung jika disangka orang gila.


Vir mengusap wajahnya kasar, wanita di depannya benar-benar hilang akal sehingga tak bisa berpikir rasional.


"Aku akan mengantarmu pulang, kau harus membersihkan diri agar otak mu jernih" Vir menarik Fia ke dalam mobil.


"Lepaskan, lepaskan aku, biarkan aku mati! Aku ingin mati saja jika tak bisa bersama mu.. hiksss" Fia berteriak memberontak saat Vir memaksanya masuk ke mobil. Namun tenaga pria itu begitu kuat hingga sulit bagi Fia untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Vir


🍂🍂🍂🍂🍂


Sementara itu di sebuah kamar, nampak seorang wanita tengah menangis tersedu-sedu di atas tempat tidur. Ia membenamkan wajahnya pada bantal.


Dia adalah Aileen, wanita mengenaskan yang sedang meratapi nasibnya yang begitu mudahnya percaya pada bualan buaya yang sudah menerkam dirinya dan berjanji tidak akan menerkam mangsa lain namun nyatanya dia malah pergi bersama mangsanya yang katanya sudah ia lepaskan itu.


"Poor Aileen!"


"Poor Aileen!"


kata-kata itu terus ia sematkan pada dirinya yang bernasib malang setiap kali mengenal cinta harus merasakan sakit yang mendalam.


"Ini semua salahku, kenapa aku begitu mudah percaya pada bualannya! Dia membenciku kemudian tiba-tiba merubah benci itu jadi cinta dan saat aku terbuai dengan kata-katanya lihat apa yang aku dapatkan, Aku malah kecewa.." Aileen membalik tubuhnya menatap langit-langit kamar. Air matanya berurai di pipi.


Entah mengapa rasanya sangat menyakitkan, ini lebih menyakitkan ketika dulu tahu mantannya selingkuh dengan orang lain karena dirinya yang tak bisa diajak tidur.


"Kenapa nasibku selalu begini, Apa aku tidak boleh jatuh cinta? Disaat aku mulai membuka hati bahkan mencoba mempercayainya tapi dia malah pergi bersama wanita itu sampai melupakan janjinya bersama ku" Aileen benar-benar kesal, ia berucap Sambil memukul tempat tidurnya yang tidak bersalah.


****


Seorang pria terlihat memasuki rumah, Ia berjalan lesu seraya memijat pelipisnya. Hari ini benar-benar sangat melelahkan. Ia tahu istrinya pasti kecewa karena dirinya tidak menepati janji.


Bahkan dia sudah melihat isi pesan sang istri namun sama sekali tak berniat membalasnya, Ia akan langsung menjelaskannya saat bertemu.


Vir membuka pintu, seorang wanita yang tengah tidur menggunakan gaun malam tanpa lengan dengan selimut yang menutupi setengah bagian tubuhnya.


Vir mendekat, Ia duduk di tepi ranjang kemudian menyentuh bahu Aileen lalu mendaratkan ciuman dikeningnya.


"Maaf" lirih Vir dengan raut wajah sedih merasa bersalah


Aileen yang tidak benar-benar tidur bisa mendengar ucapan suaminya itu. Ia tercengang dalam hati.


Cih, apa dia merasa bersalah karena sudah membohongiku? Huufft sulit dimengerti..


Vir beralih menggengam tangan Aileen, ia menatap cincin pernikahan mereka yang menghiasi jari lentik wanita itu. Sesekali Vir mengusapnya lembut kemudian mencium punggung tangan istrinya.


Aileen yang tak menyangka Vir akan melakukan ini, langsung menggunakan kesempatan itu untuk bangun.


"Sudah pulang? Huaaamm, maaf aku ketiduran" berucap dengan raut wajah bangun tidur. Sungguh ia memang pandai berakting.


Aileen meraih tangan suaminya lalu mengecupnya mesra.


Lama mereka saling pandang


Aileen menatap Vir dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kau bahkan memainkan peranmu dengan hebat, memperlakukanku seolah-olah aku ini wanita yang sangat kau cintai. Dasar tupai licik!


"Maaf, tadi aku melupakan janji kita"


Aileen tersenyum getir, Ia benar-benar menyembunyikan kesedihannya di hadapan Vir. Tidak ada yang tahu jika dia baru saja sudah menangis, bahkan kini wanita itu bersandiwara seolah tidak terjadi sesuatu diantara mereka.


"Tidak masalah, tadi aku juga ada urusan mendadak"

__ADS_1


Vir hanya mengangguk mengerti.


"Mau makan?" tawar Aileen yang hanya dijawab anggukan oleh Vir


"Kalau begitu bersihkan dirimu terlebih dahulu, aku akan menyiapkan makanan" Aileen menghibaskan selimutnya dan turun dari ranjang.


Vir yang terpesona dengan kecantikan Aileen malam ini, segera berdiri dan menarik istrinya ke dalam pelukannya.


cup


Ia mengecup bibir seksi istrinya yang sangat menggoda.


"Aku harus turun mempersiapkan makanan dan kau mandilah" berucap Sambil tersenyum.


"Setelah makan aku akan memakanmu" berbisik sensual tepat di daun telinga istrinya.


Setelah Vir menghilang di balik pintu kamar mandi, Aileen pun segera turun untuk mempersiapkan makanan.


Sepanjang menuruni tangga ia terus tersenyum getir dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Perasaan sakit itu selalu saja muncul ketika mengingat Vir yang sedang berpelukan, padahal kenyataannya pria itu sama sekali tak memeluk Fia. Hanya saja posisi Aileen yang dari kejauhan nampak terlihat jika mereka seperti berpelukan.


*****


Aileen terus menatap lekat wajah Vir yang tengah meneguk air minum ke tenggorokannya.


Vir sendiri sama sekali tidak sadar dengan tatapan datar Aileen yang seperti ingin menerkamnya


"Kisah kita seperti Matahari, Bulan dan Bintang. Dimana aku sebagai mataharinya, kamu bulan dan dia sebagai bintangnya" berucap dengan begitu serius tanpa mengalihkan pandangannya dari sang Suami


Vir mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Aileen yang sangat puitis.


"Saat Aku si Matahari mencoba membagi cahayaku kepadamu, namun kau malah memilih pergi bersama bintang mengarungi malam. Membiarkanku seorang diri mengarungi hari, terperangkap dalam sendu tak berarah yang begitu mencekam dalam diri!"


Sarkas Aileen, berharap Vir bisa memahami maksudnya.


Jika pria itu tak bisa mengerti maka ia akan mengatakannya langsung. Sepertinya Aileen benar-benar tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya.


"Kau ini kenapa?" Vir tersenyum seraya membersihkan bibirnya dengan tisu "Berteman dengan Dito membuatmu ketularan sok puitis sepertinya"


Aileen menghela napas mendengar ucapan Vir, Bukannya merasa tersinggung namun pria di depannya ini malah berbalik mengejeknya.


"Bintang yang kau temui tadi sepertinya sangat membutuhkan Bulannya? Aku sadar, Matahari tidak mungkin bisa menjadi teman Bulan, karena bulan dan bintang sulit untuk dipisahkan. Mereka memang benar-benar partnert sesungguhnya" ucap Aileen acuh seraya menopang dagu sambil melempar tatapan ke sembarang arah.


Vir terdiam, Ia berusaha mencerna ucapan Aileen. Wanita itu mengatakan 'Bintang yang kau temui tadi sepertinya sangat membutuhkan Bulannya' kata-kata itu Vir jadikan acuan untuk mendefinisikan maksud perkataan istrinya itu.


'Bintang yang kau temui' pernyataan itu semakin meyakinkan Vir jika Bulan yang dimaksud disini adalah dirinya, Ia pun tersadar siapa bintang yang Aileen maksud, karena yang ia temui saat malam tadi hanyalah Fia, itu artinya istrinya itu melihat dirinya.


Vir menelan ludah kasar, Ia mencoba untuk tersenyum. Ia tahu istrinya sedang menyinggung dirinya.


Tapi bagaimana istrinya itu bisa tahu? pikirnya dalam hati


"Eil, itu tidak seperti yang kau pikirkan"


Aileen tersenyum


"Good Boy, kau sangat cepat menangkap maksud seseorang" puji Aileen dengan raut wajah penuh kecewa "Tidak seharusnya aku percaya pada ucapanmu, kamu tidak akan dengan mudah melupakan wanita yang 5 tahun ini bersamamu. Ck, maafkan aku yang berlebihan" beranjak dan pergi dari sana


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Eil, Aku bisa menjelaskan semuanya" Vir mengejar wanita itu dan memeluknya dari belakang


"Kau tahu tadi aku meneleponmu, itu karena aku ingin minta izin untuk menemui Fia. Dia sudah beberapa hari tidak ke luar dari ruangannya, Stafnya meminta bantuan padaku. Aku mengira tidak butuh waktu lama untuk membujuknya jadi tak perlu memberi tahu mu karena akan kembali tepat waktu tapi tak disangka dia malah berbuat nekat dan ingin bunuh diri" ucap Vir dengan raut wajah bersalah.


Ingin rasanya Aileen memercayai hal itu namun entah mengapa melihat mereka berpelukan membuat hatinya sakit.

__ADS_1


"Kenapa memeluknya?"


"Aku tidak memeluknya, aku hanya menariknya agar tidak ditabrak mobil" Vir tidak tahu dimana Aileen melihatnya tapi sepertinya wanita itu tahu banyak hal.


__ADS_2