
"Jika tidak ingin meminjam di Ayah Hans kenapa pada saat itu kalian tidak meminjam di Ayah mu saja?" tanya Aileen pada Dito
Kini mereka sudah berjalan ke luar dari Coffe shop dan akan kembali mengerjakan kesibukan masing-masing.
"Ayah ku tidak punya uang sebanyak yang kami butuhkan saat itu!" Berjalan masih dengan saling mengobrol satu sama lain.
Entah kenapa kelihatannya Aileen masih tidak rela menerima kenyataan bahwa Fia lah yang membantu suaminya saat dalam keterpurukan.
"Kalau boleh tahu Ayah mu kerja apa?" melirik sekilas ke arah Dito kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Hanya pekerjaan biasa! Ayah ku seorang Pengacara" berucap dengan tidak ada rasa bangga pada pekerjaan ayahnya
Namun berbanding terbalik dengan Aileen yang justru bertepuk tangan bangga dengan pekerjaan Ayah Dito.
"Ck, pekerjaan biasa kata mu?" berdecak seraya menggelengkan kepala "Jadi pengacara itu sangat keren, dia bisa membantu menyelesaikan masalah orang yang tidak bersalah terbebas dari jeratan hukum"
"Aih jika seperti itu aku akan sangat bangga!! Masalahnya Ayah ku hanya akan menjadi pengacara untuk mereka yang berduit banyak, Ah sudahlah Eil, jangan membahas Ayah ku" ucap Dito malas
Aileen yang mengerti maksud perkataan Dito pun hanya terdiam, Melihat respon Dito Aileen enggan melanjutkan pembahasan. Ia cukup mengerti maksud ucapan sahabat suaminya itu yang kini juga menjadi temannya
Lama mereka berjalan menyusuri lorong hotel, Hingga sampailah di depan Seminar room yang sebentar lagi akan kembali dilanjutkan
Aileen pun berhenti di sana
"Aku masuk dulu, terimakasih untuk hari ini"
Dito hanya menganggukkan kepala "Apa tidak ingin ke ruangan pimpinan dulu? Sebentar lagi Vir pasti datang" tawar Dito
"Lain kali saja, Aku hanya aka ke ruangannya jika dia yang mengajak ku" Aileen terkekeh denga ucapannya sendiri yang terkesan seperti berharap bahwa Vir akan mengajaknya menuju ruangannya di hotel ini.
"Untuk apa harus menunggu di ajak, kau kan istrinya! kau bebas bisa datang kapan saja" Ucap Dito yang gemas, langsung repleks menyentil kening Aileen.
Tindakan Dito itu sontak membuat Aileen terdiam sejenak, Ia memegangi keningnya seraya mengingat Vir yang selalu melakukan hal itu padanya.
"Eh, maaf aku tidak bermaksud apa-apa" ucap Dito tak enak hati
"Tidak masalah" Aileen tersenyum ramah "kalau begitu aku masuk dulu"
Aileen pun segera masuk meninggalkan Dito yang masih tersenyum melihat istri sahabatnya itu, Ia semakin dibuat kagum padanya. Tidak seperti yang ia lihat, Aileen yang selama ini kelihatan cuek dan jutek ternyata orang yang cukup humble dan lucu
Dito tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Huuhh, Ya Tuhan tolong sisakan satu yang seperti Aileen..!
Dito lalu berjalan ke arah Lift yang akan membawanya ke ruangannya yang berada tepat di sebelah ruangan Vir.
Saat tengah asyik melamun, Dito tidak menyadari jika Vir sudah berdiri di depan ruangannya dan menghadangnya di sana.
"Apa yang kau lakukan berdua dengan Aileen?" bertanya dengan tatapan datar yang begitu mendominasi.
Bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya.
Sepertinya ia melihat ketika Aileen dan Dito berada di Coffe shop tadi
Dito yang tadinya melamun, tidak menyadari adannya Vir di sana.
"****... Sialan!! kau mengejutkanku Vir" Dito memegangi dadanya dengan raut wajah pias
Vir masih menatap dengan tatapan datar lalu memutar bola matanya malas.
"Ck.. Jawab pertanyaan ku!"
"Memangnya kau bertanya apa? Aku tidak dengar" Dito menarik Vir menjauh dari pintu ruangannya lalu masuk ke dalam
"Kau mengajak Aileen minum kopi sampai ke sini?" ucap Vir yang ikut masuk ke ruangan Dito.
Dito yang hendak duduk di sofa menatap Vir sambil tersenyum penuh arti, ternyata itu yang sedari tadi membuat wajahnya tak bersahabat.
"Hmmnt kau ini, Apa kau tidak tahu dia sedang ada seminar di sini?"
Vir nampak berpikir "Kenapa berdua saja? Kenapa tidak mengajak ku?"
"Ya karena kami teman sekaligus tim, sedangkan kau bukan tim kami" Memberi tahu Vir dengan begitu bangganya bahwa dia dan Aileen sudah berteman.
"Cih" Berdecih kesal "Memangnya dia mau berteman dengan mu?" Vir yang masih berdiri menatap malas kepada Dito
"Tentu mau! kami bahkan sudah saling bercerita satu sama lain, dia juga curhat banyak kepada ku, memangnya apa namanya jika sudah begitu terbuka seperti itu"
__ADS_1
Dito sengaja ingin melihat bagaimana reaksi Vir bila mendengar ia dekat dengan istrinya.
Vir yang mendengar itu merasa sedikit geram, bahkan ia sebagai suami dari Aileen tidak pernah mendengar curhatan dari wanita itu. Tapi kenapa istrinya itu bisa curhat begitu saja pada Dito.
Sepertinya Vir mulai terpancing, padahal kenyataannya Aileen sama sekali tidak cerita banyak, Ia hanya mendengar cerita Dito tentang masa lalu Vir.
"Memangnya dia curhat apa?" Memicingkan matanya dengan tatapan yang sangat tajam.
Kekepoan yang nyata terpancar dari wajahnya yang sangat ingin tahu apa yang istrinya katakan
"Kau jangan banyak tanya, kau bukan tim kami!!
"Kita Sahabat bukan? Itu artinya aku tim kalian juga, lagi pula aku suaminya" berucap sok manis. Ia sadar jika terlalu galak, Dito tidak akan menceritakan apapun padanya.
Namun dugaannya justru salah, Dito malah terkekeh geli melihat Vir yang begitu penasaran
"Shutt!" meletakkan jari ditelunjuk, mengisyaratkan agar Vir tidak berisik "Kau bukan tim kami! Aku lah yang tim istri sah, kau bertim saja dengan Fia" terkekeh geli seraya berjalan ke arah meja kerjanya.
"Bullshit!!" umpat Vir yang baru sadar ternyata tim yang dimaksud adalah tim yang memojokkan dirinya.
Vir pun melangkah ke luar
"Kau mau ke mana?" tanya Dito pada Vir yang sudah memegang hendel pintu
"Bukan urusanmu!" ucap Vir acuh dan langsung melengos begitu saja.
"Cih, sepertinya dia marah!! Baguslah, aku senang jika kau cemburu, itu artinya sedikit demi sedikit Aileen sudah menggeser nama Fia di hatimu! Hanya saja kau belum menyadari itu"
Dito menggeleng kecil sambil membuka laptopnya dan menekan tombol power pada keyboard.
"Baru melihat ku minum kopi berdua dengan istri mu saja kau sudah ketar-ketir seperti tadi, Hmmmt bagaimana jika tadi kau melihat ku menyentil keningnya, mungkin saja kau akan langsung mengajak ku bertarung di atas ring tinju" bergidik ngeri membayangkan jika Vir benar-benar melakukan itu
****
Aileen yang baru saja selesai seminar, ke luar dari ruangan tempat seminar diadakan. Ia langsung menuju kamarnya untuk mengambil kopernya yang masih ada di sana. setelah itu ia langsung ke luar dan berniat pulang ke rumah.
Sepanjang lorong horel Ia masih memikirkan ucapan Dito tentang mantan sahabat mereka itu.
Nama yang sama tapi bisa saja orang yang berbeda.
Handphonenya berdering, Ia kemudian meletakkan kopernya lalu meraih handphone dari dalam tas.
"Apa dokter akan menginap di hotel itu?" ucap si penelpon yang sepertinya orang yang sama yang meneleponnya pagi tadi
"Tidak, saya akan pulang dan akan kembali lagi besok" berucap ketus
"Baiklah jika begitu. Saya hanya ingin memastikan itu saja, Kalau begitu selamat sore dok, semoga hari anda menyenangkan!"
Orang itu menutup panggilan, Aileen yang masih kesal pada si penelpon terus menggerutu sebal seraya memasukkan handphonenya ke dalam tas.
Sudah memberi informasi dadakan dan membatalkan penerbangan ku lalu kau dengan entengnya mengatakan 'Semoga hari anda menyenangkan!' menyebalkan!!
Ia yang kesulitan memasukkan handphone tidak begitu memperhatikan jalan hingga membuat fokusnya hanya tertuju pada Hanphone dan tasnya saja.
Hal itu membuat ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang kebetulan berjalan berlawanan arah dengannya dan sedang asyik menelpon.
Bruak..
"Aihhh" Hanphone yang hendak Aileen masukkan ke dalam tas jadi terjatuh ke lantai.
Sementara di depannya terdengar suara berkas yang jatuh berceceran.
"Maaf, saya tidak sengaja!" ucap seorang pria yang sudah kembali berdiri setelah memungut semua berkasnya yang terjatuh tadi.
Aileen hanya terdiam seraya memandangi layar hanphonenya yang sedikit retak karena terjun bebas.
"Untung hanya anti goresnya yang pecah" lirihnya seraya mengusap.layar hanphonenya
Samar-samar pria tadi mendengar ucapan Aileen, membuat Ia sedikit membungkuk ingin melihat wajah wanita yang bertabrakan dengannya.
"Are you okey?" tanyanya seraya sedikit membungkuk
Namun ia sama sekali tak bisa melihat jelas wajah Aileen karena tertutupi rambut panjang yang tergerai.
Mendengar suara pria itu, Aileen mendongak kemudian berdiri menatap wajah pria yang tertutupi kaca mata dan masker.
"I'm Fine!" ucap Aileen seraya memasukkan hanphonenya dengan benar ke dalam tas
__ADS_1
Pria itu seakan terpaku ketika melihat wajah Aileen, bahkan ia masih terdiam cukup lama dan menatap Aileen yang merapikan rambutnya.
"Eil...!" lirih pria itu
Apa? Siapa dia? Kenapa memanggil dengan nama panggilan seperti itu.
Aileen yang mendengar itu menatap heran.
Anda siapa? Apa kita saling kenal? Atau mungkin sebelumnya kita pernah bertemu.. Tanya Aileen dalam hati
Melihat Aileen yang kebingungan, pria itu sadar jika ia masih memakai kacamata dan masker. Jadi mana mungkin Aileen bisa mengenalinya jika wajahnya saja tak terlihat.
Pria itu pun membuka kacamata dan maskernya.
Aileen tak kalah terkejutnya tatkala menyadari siapa pria yang berdiri di depannya itu.
Lidahnya seakan kelu, terkejut sekaligus bahagia melihat orang yang selama ini ia rindukan berdiri di hadapannya.
"Za-Zaky??" Aileen menutup mulutnya tak percaya.
Ya, Pria itu adalah Zaky. Sahabat lama Aileen yang dua tahun terakhir ini bekerja sebagai Arsitek di luar Negeri. Kini Ia kembali ke Indonesia dan bertemu lagi dengan sahabatnya .
Zaky satu-satunya sahabat lama Aileen yang masih selalu ada dan tidak akan pernah Aileen lupakan meskipun beberapa tahun terakhir mereka sempat hilang kontak.
Zaky yang begitu senang saat kembali bertemu dengan Aileen sontak memeluk tubuh sahabatnya yang begitu ia rindukan.
"Eil, Aku senang kita ketemu di sini!! Aku baru saja akan datang ke rumah mu" ucap Zaky di sela pelukannya.
Aileen yang merasa risih diperlakukan seperti itu langsung melepaskan pelukannya.
Ada perasaan takut di hati Aileen. Ia tahu batasannya, Ia sadar dirinya sudah berstatus istri orang jadi tak bisa berpelukan dengan sembarang orang meskipun ia juga begitu merindukan Zaky. Apalagi mengingat dirinya masih berada di hotel milik suaminya, bisa saja beberapa orang mengenali dirinya sebagai istri dari pemilik hotel. Apa yang akan mereka pikirkan jika melihat hal tadi, Itu sama saja mencoreng nama baiknya dan juga Vir.
Tanpa mereka sadari jika ada seseorang yang sedari tadi mengamati interaksi keduanya dari lantai atas.
Zaky masih menatap heran pada Aileen, Ia bertanya-tanya pada dirinya mengapa Aileen begitu canggung saat bertemu dengannya.
"Eil...?" ucap Zaky yang melihat Aileen seperti kebingungan
Aileen beralih menatap Zaky dan tersenyum "Bagaimana kau bisa ada di sini?"
"Aku ada projects di sini, dan aku senang bisa bertemu dengan mu" tersenyum bahagia seraya ingin meraih tangan Aileen untuk ia genggam.
Aileen menjauhkan tangannya membuat Zaky semakin di buat heran. Ia menatap penuh tanya pada Aileen
"Maaf za, Ini hotel suami ku! kita tidak bisa seperti ini! Aku takut ada yang salah paham jika melihat kedekatan kita seperti ini" ucap Aileen hati hati.
Deg..
Namun berbeda dengan Zaky, Ia memberikan reaksi yang berbeda.
Bak tersambar petir di sore hari, jantung Zaky seakan berhenti berdetak tatkala mendengar ucapan Aileen.. Bagaimana mungkin Aileen mengucapkan kata "Suami" begitu saja.
Apa begitu banyak kejadian yang sudah ia lewatkan sehingga tidak tahu hal apa saja yang sudah terjadi pada sahabatnya itu
"Su-su-suami? Maksudnya apa Eil, Aku sama sekali tidak mengerti" ucap Zaky terbata-bata.
Jantungnya masih berdetak begitu cepat, hingga membuatnya begitu gelisah dengan Ucapan yang dia dengar tadi
"Banyak yang belum kau dengar Za! Aku akan ceritakan semua, tapi tidak di sini"
Zaky menghela nafas kasar, Ia buang muka, tak sanggup menatap wajah Aileen setelah apa yang ia dengar.
Tiba-tiba handphone Zaky berdering, Ia hanya melirik siapa si penelpon tanpa berniat mengangkatnya.
Zaky beralih menatap Aileen yang masih menatapnya dengan tatapan dingin dan senyum kecil yang menjuntai dari ujung bibirnya.
"Tidak bisa sekarang Eil, Aku ada rapat yang sebentar lagi akan diadakan" Nada bicara Zaky terdengar begitu berat.
Sangat terlihat jelas semburat kekecewaan yang terpancar dari wajahnya, walaupun begitu ia tetap berusaha tersenyum dan tidak menganggap serius ucapan Aileen tadi sebelum ia mendengar semuanya.
Aileen menghela nafas dan mengangguk mengerti "Aku bahagia kau kembali, aku sangat merindukanmu" ucap Aileen yang mana membuat Zaky yang tadinya kecewa kini menjadi tersenyum penuh semangat.
"Aku juga merindukan mu" berucap begitu tulus "Bisa berikan nomor telepon mu, aku akan menghubungi mu bila waktu ku senggang" menyodorkan hanphonenya pada Aileen
Eil pun meraih handphone Zaky dan menuliskan nomor teleponnya di sana.
"Hubungi aku kapan saja, Kita akan bercerita banyak seperti dulu" tersenyum begitu manis sambil mengembalikan hanphone pada Zaky.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pergi dulu" Zaky pun pergi terlebih dahulu meninggalkan Aileen yang masih menatapnya
Aileen menghembuskan nafas kasar kemudian meneruskan langkahnya.