Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 140


__ADS_3

Aileen dan Dito berjalan beriringan, dengan Dito yang mendorong kursi roda Vir. Proses fisioterapi untuk hari ini baru saja selesai dilakukan.


Di koridor, tak jauh dari arah mereka. Terlihat Nita mendekat bersama seorang pria yang tidak asing bagi Aileen


Dito yang melihat itu, kelihatan sangat tidak senang. Ada sesuatu yang bergejolak di hatinya saat melihat wanita yang didambakan malah dekat dengan orang lain.


“Hai.” Sapa pria yang bersama Nita.


“Bagaimana Fisioterapinya, Vir?" Sapa Nita.


“Zaky?” Aileen pun tak kalah herannya saat melihat Nita sedang bersama sahabatnya, Zaky. Pertanyaan mengenai sejak kapan mereka dekat terus berputar-putar di kepala Aileen. Jika benar itu terjadi, ia pun akan kesulitan jika harus membantu Dito, sedangkan Zaky juga sedang dekat dengan Nita.


“Hai, Eil, Vir, Apakabar?” Sapa Zaky, yang mana hanya tersenyum kikuk dengan wajah bingung. Ia memang masih belum bisa mengingat sebagian orang, dan hanya akan mengingat setelah sedikit diingatkan.


Waktu itu, Zaky memang hanya sempat menjenguk setelah beberapa bulan ia koma. Karena saat kejadian itu, Zaky sedang berada di luar daerah menyelesaikan beberapa project di sana.


“Baik, kalau boleh tau nama mu siapa?" Vir balas bertanya dengan ramah. Membuat Zaky menatap heran, sebab setelah Vir sadar dari koma, ini memang kali pertamanya ia bertemu dengan suami dari sahabat yang pernah ia cintai itu.


Ya, dulu dia memang sempat tidak suka pada Virendra karena kelakuannya yang pernah menyakiti Aileen. Namun saat melihat kondisi Aileen yang begitu terpukul saat Vir mengalami koma, Zaky tersadar jika sang sahabat memang begitu mencintai suaminya. Hal itu lantas membuat Zaky membuang jauh-jauh perasaannya pada Aileen, ia yang pernah begitu mengharapkan Aileen akhirya bisa mengikhlaskan sahabatnya tersebut. Zaky senang Aileen menemukan cintanya.


“Setelah sadar dari koma, dia memang mengalami amnesia, Za. Vir hanya mengingat beberapa orang saja.” Jelas Aileen.


“Oh, maaf. aku sama sekali tidak tahu.” Zaky menatap semua yang ada secara bergantian.


“Tidak apa, namanya juga baru ketemu, iya kan Eil?" ucap Nita menimpali.


Semua pun saling balas tersenyum, kemudian menepi untuk duduk di kursi yang ada di pinggir ruangan.


Tapi tidak dengan Dito, disaat semua orang mengobrol dengan senyum ramah, dia malah menampakkan senyum tak bersahabat. Wajah itu seperti nampak diterpa beban berat. Tentu saja, siapa yang tidak marah jikika melihat wanita incarannya dihampiri pria lain dan terlihat begitu akrab. Dito meringis dalam hati, alias nyesek.


“Kau kenapa?” Bisik Virendra yang menyadari perubahan raut wajah sahabatnya.


Namun, Dito enggan menjawab. Menghiraukan ucapan Vir sama saja menghantarkan diri ke jurang penistaan. Ia jelas tahu jika sahabatnya itu hanya akan meledeknya. Dito kesal, entah mengapa setelah sadar dari koma Vir malah makin jail dan menyebalkan, tapi hanya padanya. Sedangkan Dito yang dulu tahu Vir begitu tak menyukai Zaky, kini malah terlihat akrab. Apakah orang sakit, akan segesrek Vir? Tanyanya dalam hati.


“Pasti hati mu sedang memar, ya!” Ledek Vir dengan seringai mengejek.


“Diam dan fokuslah pada calon sahabat barumu!" Dito memutar mata malas sembari mengarahkan wajah Vir agar menghadap pada orang-orang yang tengah asyik mengobrol itu.


“Ternyata kau tidak hanya sedang patah hati, tapi hatimu juga remuk redam karena takut sahabatmu berpaling.”

__ADS_1


“Shiiit, diam lah!" Lirih Dito dengan wajah kesal “Jangan banyak bicara, nanti syarafmu terkilir lagi!"


Bugh..


Dito langsung mengaduh kesakitan saat Vir malah meyikut perutnya dengan kencang.


“Sahabat lucknut!! Kau mengejek orang sakit!" Gerutu Vir. “Nanti Tuhan marah, doa orang tak bedaya itu dikabulkan, Dit!"


“Kenapa kau baper sekali, Virendra?!” Dito balik menggerutu. Ia benar-benar dibuat kesal dengan keadaan saat itu. Ahhh, rasanya dia ingin menghilang dari sana. Rasanya begitu menyakitkan melihat Nita sangat dekat dengan Zaky.


“Perutmu sudah turun sekali, Eil.” Ujar Nita saat melihat posisi perut Aileen sudah begitu turun, yang mana menandakan jika posisi bayi sudah berada di bawah, siap untuk masuk ke jalan lahir.


“Iya, kata dokter Wandi, prediksinya pertengahan bulan ini.”


“Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu moment yang sama”


” pasti akan sangat menyenangkan dan mendebarkan menanti kelahiran buah hati kita.” Ucap Zaky sambil tersenyum kikuk. Yang mana langsung disambut gelak tawa oleh Nita dan Aileen.


Tidak dengan Virendra dan Dito, di saat semua tertawa, Vir malah sibuk menatap wajah sahabatnya yang makin mengkerut, kusut seperti jemuran.


“Makanya, cepat cari calon! jangan kelamaan menjomblo!" Celetuk Aileen sembari menepuk bahu Zaky.


“Doakan Eil, yang didekati terlalu sulit dijangkau. Dia kasih syarat yang banyak!" Ujar Zaky sembari menatap penuh Arti pada Nita.


Ya, Dito memang geram. Begitu mendengar ucapan Dito dan melihat tatapannya pada Nita, ia langsung merasa berapi-api. Sesuatu seolah mendorongnya untuk bertidak. Kali ini ia tidak akan menyerah dengan membiarkan cinta pandangan pertamanya itu jatuh ke tangan orang lain.


Dito lantas berdiri, dengan tindakan impulsif ia menarik Nita yang duduk di kursi paling ujung.


“Kita perlu bicara, sebentar!" ucapnya dengan tangan yang menggenggam tangan Nita dan menariknya menjauh dari sana. Meninggalkan ketiga orang yang menatapnya dengan kening mengkerut. Kecuali Virendra, sahabatnya itu terlihat mengulum senyum.


“Mau bicara apa, Dit?" Tanya Nita yang begitu lugu tanpa tahu seseorang dihadapannya itu tengah terbakar api cemburu.


“Kamu menyuruhku berusaha dan menunggu, tapi kamu malah mendekatkan hati dengan orang lain juga! Maksudnya apa, Nit?" Tanya Dito dengan ekspresi menahan marah.


Ya, selama ini hubungannya dengan Nita terbilang cukup dekat. setelah hari itu, ia melakukan segala upaya untuk mendapatkan simpati dari Nita yang sempat menutup diri, ia berhasil meluluhkan hati wanita tersebut dengan menunjukkan jika ia memang pantas mendapatkan itu. Namun ternyata perjuangannya masih panjang, Nita malah meminta waktu agar ia bisa membuka hati. Hingga hari ini tiba, ia malah dikejutkan dengan kedekatan wanita itu dengan Zaky.


“Ini tidak adil!" Seru Dito tidak terima. Ia tidak rela bila harus berjuang sekeras ini dengan bersaing lebih lama.


“Kenapa! Ini adil, Dit!" Seru Nita meyakinkan, Ia memang sedang berusaha menentukan pilihan, karena Zaky dan Dito datang meminta hatinya di saat yang hampir bersamaan. Hal itu membuat ia dilema dan akan menautkan pilihan pada pria yang menurutnya pantas.

__ADS_1


“Kalau seperti ini tidak bisa, Nit. Ini sama saja aku membuang waktu ku, bisa saja kau tidak memilih ku dan malah memilih dia!" Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti!” Ucap Dito panjang lebar.


..


Sementara itu, masih di kursi tunggu. Tanpa Dito dan Nita, ketiga orang itu masih mengobrol dengan begitu asyiknya.


“Ohiya, Vir. Aku turut berbelasungkawa atas meninggalnya Ayah mu. Waktu itu aku sedang di luar kota”.


Deg...


Sedari awal mendengar arah pembicaraan Zaky, wajah Aileen sudah berubah pias, ia sudah mewanti-wanti agar Zaky tak mengucapkan apapun tentang hal yang mengarah pada kejadian itu. Jika seperti ini, Vir bisa terkena serangab panik berlebihan yang bisa mengganggu kondisi sarafnya. Dokter Wiguna menyarankan untuk meberi tahu secara perlahan. Beberapa kali ia memberi kode agar Zaky berhenti, namun sahabatnya itu sama sekali tak memerhatikannya.


Dan benar saja, tak menunggu lama, wajah Vir sudah kelihatan bingung dan semakin memerah dengan tangan yang mulai terangkat memegang kepalanya.


“Pasti kau sangat terluka, saat sadar tidak bisa melihat orang yang kita sayang.” Lirih Zaky, sembari mengingat kadaan dimana dirinya dulu sakit dan merasa tak berdaya saat tahu Aileen sudah bersuami saja rasanya begitu sakit, apalagi Vir yang begitu sadar setelah 6 bulan kejadian mengenaskan itu Ayahnya sudah tidak ada. Pasti ia sangat terluka..


“Argggght,,”


“Za, stop!!!" Teriak Aileen saat Vir makin histeris memegangi kepalanya.


Zaky yang melihat itu langsung kebingungan, dengan panik ia langsung membantu memegangi Vir.


Sementara itu, Nita dan Dito yang baru tiba, langsung terkejut sekaligus panik saat melihat keadaan Vir yang kesakitan dan tak berdaya memegangi kepalanya.


“Vir..” Dito langsung membantu menenangkan Vir.


“Apa yang terjadi, Eil?" tanya Nita yang juga tak kalah paniknya.


Tak menunggu lama, Nita langsung berlari memanggil beberapa perawat untuk membawa branker dan menaikkan Vir, lalu mendorongnya ke ruang tindakan.


Begitu Vir di bawa. Zaky yang merasa bersalah dan tidak tahu apa-apa langsung minta maaf.


“Eil, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.."


Bughh..


Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, sebuah pukulan mendarat di wajah Zaky. Darah segar mengalir dari sudut bibir pria itu. Membuat ia dan Nita berteriak panik.


“Bangs*t!! Apa kau tidak bisa tutup mulut?? kalau mau bicara jangan asal ceplas-ceplos, apa kau tidak tahu dia masih dalam masa pemulihan!!" Ucap Dito yang geram, tadi ia memang sempat mendengar obrolan Zaky yang menayakan soal mendiang Ayah Hans.

__ADS_1


Zaky yang merasa bersalah, hanya menunduk diam.


“Dit, jangan bikin keributan di sini! Ini rumah sakit!" peringat Nita


__ADS_2