Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 21


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, saat langit masih di selimuti gelap yang belum sepenuhnya pergi membuat mentari nampak malu-malu menerbitkan sinarnya.


Aileen yang selalu bangun lebih awal tengah menyiram tanaman di halaman rumah, pandangannya tak sengaja tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk di kursi tepat di depan rumah pasangan yang bertengkar semalam.


Mendengar rintihan tangis dari wanita itu membuat hatinya tergerak ingin menghampiri, ia mematikan keran air lalu melangkah mendekati si wanita yang sedang menangis seorang diri.


"Hikss, hikkks" wanita yang semalam terlihat tegar dan pemberani itu kini begitu rapuh, dengan menumpahkan tangisnya di pagi buta seperti ini, berharap tidak ada yang melihat kelemahannya.


"Mbak..!!" suara rendah nan lembut itu menelusup ke dalam telinga si wanita, membuat ia menoleh ke arah Aileen yang sudah berdiri di sampingnya


"Eh, iyaa" ucapnya gelagapan seraya dengan cepat menyeka air matanya, ia tersenyum getir menyembunyikan kerapuhan dibalik senyum kepalsuan


"Boleh saya duduk" kata Aileen


"Silahkan" wanita itu sedikit bergeser, memberi sedikit ruang agar Aileen bisa duduk.


"Perkenalkan nama Saya Aileen, panggil saja Eil"


Si wanita tadi tersenyum, ia menyambut hangat keramahan Aileen


"Saya Moza"


"Mbak pemilik rumah ini ya" tunjuknya pada rumah Aileen dan Vir yang tepat berada di sisi kiri rumahnya, desainnya sama persis dengan rumahnya. ya karena memang seperti inilah konsep perumahan cluster.


"Iya, saya baru pindah satu bulan yang lalu"


si wanita hanya mengangguk tersenyum, ia menatap sang fajar yang mulai menampakkan diri dari ufuk timur. kalau bahasa gaulnya sih "sunrise" anak muda sering menyebut Seperti itu hanya agar terdengar keren, padahal maknanya sama saja.


"Terkadang hidup itu seperti matahari ya mbak, butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri agar kemudian bisa kembali tersenyum di keesokan hari"


Mbak Moza menatap wajah cantik Aileen yang tak sedikit pun mengalihkan pandangan dari matahari yang mulai menampakkan sinarnya.


"Jika ingin menagis maka menangis lah mbak, itu jauh lebih baik daripada harus dipendam" lanjut Aileen


"Dengan menangis kita bisa menumpahkan kekesalan yang ada di dalam hati dengan begitu kita akan merasa lebih lega dan perasaan pun akan lebih tenang dan plong"


"Jika ingin curhat itu juga lebih baik, tapi jangan asal curhat sebab tidak semua orang bisa dipercaya" kata Aileen "Bisa dengan menulis, seperti menulis keluh kesah kita di sebuah diary, itu akan membantu meringankan beban pikiran"


Sepertinya ia berusaha memberikan self healing pada Moza, mengingat wanita itu terlihat begitu tertekan karena masalah semalam.


Sebenarnya Aileen dan Moza tidak jauh beda, nasib mereka sama. walaupun begitu Aileen tetap berusaha menyembunyikan semua rapat-rapat, ia terlalu pandai menyembunyikan rasanya. selalu berusaha memberikan solusi pada orang yang punya masalah sedangkan dia sendiri memiliki segudang masalah yang sangat besar.


"Apa mbak dokter?" tebak moza


Aileen tersenyum


"Apa wajah saya terlihat seperti itu?"


Moza tertawa


"Tidak, tapi dari cara mbak Aileen menyampaikan terdengar seperti seorang dokter yang sedang memberi arahan pada pasiennya"


Aileen tak menjawab, ia hanya tersenyum simpul


"Jadi mbak benar-benar seorang dokter?"


hanya menjawab dengan anggukan "Panggil nama saja mbak, sepertinya saya lebih muda dari mbak Moza"


"Apa saya kelihatan begitu tua?" moza terlihat lebih ceria saat mengobrol dengan Aileen, sepertinya mereka akan menjadi tetangga yang cocok


"Eh, bukan begitu mbak." Aileen salah tingkah, merasa ucapannya tadi salah.


"Santai saja, baiklah saya panggil nama saja ya Eil"


Mereka tertawa bersama. Seorang wanita yang memiliki nasib sama terlihat begitu akrab satu sama lain


***


Sementara Virendra yang baru bangun langsung menuju ke ruang makan. Belum ada sarapan di sana, namun seisi rumah sudah bersih dan tertata rapi.


"Apa dia sudah berangkat? Tapi kenapa tak memasak sarapan dulu untuk ku" Vir merenggut kesal lalu kembali ke kamarnya dan membersihkan diri


Sepertinya ia benar-benar tak bisa hidup tanpa makanan dari Aileen..


***


"Sepertinya kita bisa jadi tetangga yang baik, mungkin aku akan sering berkonsultasi pada dokter" kata moza disela obrolannya

__ADS_1


Mereka sudah sama-sama berdiri. sudah puas mengobrol satu sama lain sehingga ingin memutuskan untuk masuk ke rumah masing-masing.


"Itu pasti, aku juga senang karena bisa kenal dengan salah satu tetangga di sini. Aku jadi punya teman satu kompleks."


"Kalau begitu aku masuk dulu ya mbak, lain kali aku ingin bertemu dengan bayi mbak"


"Tentu, kitakan tetangga. Itu akan mudah" sahut Moza


Kelihatannya si Moza jauh lebih baik, mungkin karena Aileen sedikit memberikan self healing hingga ia terlihat melupakan bebannya.


***


"Darimana saja kau ini?"


Aileen yang sedang menyiapkan dua sandwich dikejutkan dengan suara Vir yang tiba-tiba sudah duduk di meja makan dengan pakaian rapi dan ketampanan naik 100 kali lipat.


(author : Ah belum tampan seutuhnya karena kau belum mencintai Aileen🤪


Vir : Astaga Thor apa susahnya mengakui ketampanan ku, lagipula aku belum mencintai Aileen itu semua karena mu, bukan salah ku.. kau yang membuat cerita!! 🙄


Author : Ya yaaya, sudah sana lanjutkan saja sarapan mu, aku tahu yang terbaik untuk mu..wkwkwkw)


"Eh.." Aileen berbalik seraya memegangi dadanya


"Ternyata dokter juga bisa jantungan" memutar mata malas


"Dokter juga manusia! memangnya siapa yang jantungan, aku hanya terkejut" Aileen meletakkan sepiring sandwich, segelas air putih dan susu di hadapan Vir


"Pertanyaan ku belum di jawab, kau darimana?"


"Aku dari depan menyiram tanaman!!"


"Apa menyiram tanaman memakan waktu begitu lama?"


"Ya karena aku bertemu dengan mbak Moza jadi kami sedikit berbincang"


"Moza?" Mengunyah seraya menyerngit heran


"Tetangga kita, wanita yang semalam bertengkar dengan suaminya"


"Bukan begitu, justru tadi aku memberi nya sedikit healing agar membantunya untuk sedikit meredam emosi. Itu bisa meminimalisir terjadinya depresi, orang seperti itu sangat butuh dampingan, aku hanya merasa iba dengannya. Bagaimana kalau dia setres? siapa yang akan mengurus bayinya?"


cih sok memikirkan orang lain, apa kau juga akan memikirkan nasib Fia karena Pernikahan kita ini..Gumam Virendra dalam hati


Tapi aku salut padanya, dia selalu memikirkan keadaan orang lain walaupun sebenarnya nasibnya tak jauh berbeda dengan nasib si Moza.. suara dari lubuk hati terdalam seorang Vir.


Ternyata dia masih punya empati.


Vir pun hanya diam dan kembali menghabiskan sarapannya.


"Oh iya Vir ee aku.."


Kata-kata Aileen membuat Vir yang hendak beranjak langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Aileen yang kelihatan ragu-ragu seolah ingin mengatakan sesuatu


"Ada apa?" tanyanya dengan wajah datar tanpa Ekspresi


"Eh.. Ada yang ingin aku katakan, tapi nanti saja, berangkat lah!"


"Haissh kau ini apa-apaan." Vir mendegus kesal dan langsung melenggang pergi.


Selepas Vir berangkat, Aileen pun langsung meraih tas dan snelli-nya lalu pergi ke rumah sakit.


.


.


.


"Apa yang ingin kau katakan?" Cegah Vir pada Aileen yang baru saja tiba di rumah.


Kelihatannya ia begitu penasaran sehingga pulang lebih awal dan menunggu Aileen di rumah...


Aileen yang tengah menenteng tas dan snelli-nya pun langsung melepas masker yang ia kenakan


"Nanti saja ya, aku ingin langsung membersihkan diri dan langsung beristirahat"


Mendengar Jawaban Aileen, Vir mendengus kesal lalu beranjak

__ADS_1


"Kau tahu aku benci dibuat penasaran..kau harus segera memberi tahuku" desaknya


"Itu sama saja dengan kepo, bukan kah kau tidak suka dengan orang kepo? Jadi kau juga tidak boleh kepo!!!


Ceritanya nanti saja ya, aku mandi dulu!" Aileen hendak melanjutkan langkahnya


Dia ini benar-benar keterlaluan, selalu saja bisa membalikkan perkataan ku..


Vir menatap geram


"Aisssh kau ini benar-benar ya! kau selalu saja menentangku.. Aku tidak kepo, tapi lebih ke berpikir kritis"


Lihat lah, sungguh seorang Vir begitu pandai mencari alasan


Aileen menghela nafas kasar, padahal ia sangat merasa lelah namun harus tetap menuruti keinginan Vir yang kelihatannya begitu penasaran. Kalaupun ia menolak sudah pasti Makhluk aneh itu akan mengamuk.


Ia pun kembali melangkah ke arah Vir yang masih berdiri di sisi sofa


"Tapi berjanjilah jangan memarahi ku, aku sungguh tidak sengaja..!" Kata Aileen


Vir menatap dengan sorot mata tajam


"Tergantung kesalahan apa yang kau lakukan!"


"Kalau begitu aku tidak akan cerita"


"Haiiish dasar keras kepala! Ya sudah cepat ceritakan, aku tidak akan memarahi mu"


Aileen menarik nafas panjang dan mulai bercerita...


Flashback On


Malam itu saat Aileen telah menyelimuti Vir dan mengatur suhu ruangan di kamarnya


Pandangannya tak sengaja menangkap sebuah album foto kecil yang terletak di atas meja. Karena penasaran ia pun meraih album itu lalu membukanya satu persatu.


Tubuhnya terapaku dan begetar, hatinya patah atau bahkan terasa sakit sekali, Isi album foto itu adalah foto Virendra dengan kekasihnya yang sepertinya kelihatan sangat bahagia.


Hubungan mereka kelihatan begitu harmonis, tapi ia sendiri tak habis pikir kenapa orang tua Vir tidak merestui hubungan mereka.


Namun yang lebih parahnya lagi, ia terkejut saat pertama kali melihat wajah kekasih suaminya itu


"Dia..." jemari lentik itu kembali membalik setiap lembar album foto "Ini wanita yang waktu itu menemui ku, wanita yang mengaku pernah aku tolong"


"Dia ada di sini? Itu berarti Vir...." entah mengapa hatinya begitu sakit mengetahui kenyataan ini, kekasih suaminya ada di sini, itu berarti mereka sudah sering bertemu..pikirnya


Tubuhnya terkulai lemas. Ia menutup mulut tak percaya, kenapa takdir harus seperti ini. Ia meninggalkan album itu tergeletak begitu saja dan berlari menuju kamarnya


Flashback Off


Virendra terdiam mendengarkan cerita dari Aileen


"Kami pernah bertemu, dia menemui ku saat di rumah sakit.." jelas Aileen


Satu yang Vir tangkap dari penjelasan Aileen, wanita itulah yang menggantikan bajunya malam saat ia mabuk. Namun bukan itu yang lebih penting.


Wanita yang sudah berstatus Istrinya itu sudah mengetahui siapa kekasihnya bahkan mereka pernah bertemu. Membuat Vir semakin pusing, Ia sendiri tak pernah tahu kapan Fia menemui Aileen


"Dia menemui mu untuk apa?"


"Hanya untuk berterima kasih karena aku pernah menolongnya"


Vir menatap Aileen, seolah meminta penjelasan lebih lanjut


"Satu tahun yang lalu Aku pernah menolongnya dan aku yang mendiagnosa penyakit yang ia derita"


Vir cukup terkejut mengetahui hal ini, ia bahkan sama sekali tidak tahu kejadian yang sudah terjadi satu tahun yang lalu ini.


Yang ia tahu, satu tahun lalu setelah Fia mengetahui penyakitnya yang kata dokter kemungkinan untuk sembuhnya sangatlah besar, memutuskan untuk langsung melakukan pengobatan di luar negeri.


Dari situ dia tahu Fia kekasihnya sangat beruntung langsung di tolong oleh dokter yang ternyata Aileen. walaupun ia tahu siapa pun yang menolongnya ia akan tetap mengetahui penyakitnya itu namun bagi Fia, itu lebih spesial karena seorang dokter yang menolongnya langsung turun tangan untuk memeriksa kondisinya.


"Jika bertemu dengannya lagi, jangan membocorkan Pernikahan ini, biara aku yang memberi tahunya jika waktunya sudah tepat" Vir gusar, ia mengusap wajahnya kasar "Kalau perlu jangan pernah bertemu dengannya, aku tidak ingin dia mengenal mu lebih jauh" Vir lalu pergi meninggalkan Aileen yang masih terpaku tak percaya.


Kenapa dunia begitu sempit sehingga ia harus menikah dengan kekasih wanita yang pernah ia tolong, Terlebih lagi wanita yang ditolongnya itu terlihat begitu tulus saat berterima kasih padanya.


Apa jadinya jika suatu hari nanti wanita itu mengetahui semuanya, akankah Fia membenci dirinya yang juga hanya korban perjodohan dari Opanya.

__ADS_1


__ADS_2