Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 53


__ADS_3

Ting, tong, ting tong...


Suara bel rumah berbunyi.


Aileen yang tengah melakukan ritual beres-beres rumah langsung menghentikan kesibukannya yang kini tengah membersihkan toilet di kamar suaminya.


Aileen membasuh tangannya dengan air kemudian bergegas turun untuk melihat siapa yang bertamu di malam hari begini.


Dia pun membuka pintu, Ia sedikit terperangah tak percaya saat melihat siapa yang berdiri di depannya.


"Vir!" Lirih Aileen pada suaminya yang tengah menatapnya intens dengan raut wajah tanpa ekspresi.


Vir menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya fokus melihat Aileen yang baru kali ini dilihatnya memakai celana pendek dan kaos oblong yang membuat penampilannya bak remaja belasan tahun.


Aileen meraih tangan Vir, lalu mencium punggung tangan suaminya itu.


Aku pikir dia tidak akan pulang, tapi apa yang membuatnya pulang? apa dia sudah mendengar rekaman yang ku beri.. Pikir Aileen seraya melepas perlahan tangan suaminya


Vir masih tak mengalihkan pandangannya dari wajah dan baju Aileen yang sedikit basah, entah itu bekas air atau buliran keringat karena aktivitas yang ia lakukan.


Rasa bersalah bersemayam dalam dirinya, namun ia kelihatan ragu mengutarakan maafnya pada sang istri. Fia telah membuatnya begitu kecewa dengan melakukan kebohongan padanya.


Vir menghela nafas kemudian beralih menatap ke sembarang arah, Ia tak mampu menatap Aileen yang juga menatapnya heran.


"Sudah makan?" tanya Aileen, mencoba membuka obrolan untuk memecah canggung di tengah keheningan yang ada.


Vir menggeleng, menandakan dia sama sekali belum makan.


"Kita makan ya, kau pasti lapar!" ucap Aileen, ragu-ragu ia menarik tangan suaminya untuk masuk. Ia bisa melihat jika suaminya kelihatan begitu lelah dan banyak pikiran.


Sesampainya di ruang makan, Aileen menarik kursi untuk Vir. Vir yang terpaku dengan sikap Aileen yang baginya makin memperlakukannya dengan baik sungguh tak mampu berkata-kata. ia duduk di kursi.


Aileen lalu menyediakan semua makanan untuk makan malam suaminya.


"Makan yang ini dulu ya, kalau masak makanan yang lain akan memakan waktu yang lama" Aileen meletakkan makanan di depan Vir.


Lagi-lagi Vir hanya menjawab dengan sebuah anggukan seraya mulai menyuap makanan yang sudah Aileen hidangkan di piringnya.


Ia kelihatan seperti pria yang begitu penurut membuatnya begitu menggemaskan


Aileen menuangkan air minun untuk Vir,.


Vir beralih menatap Aileen "Kenapa begitu baik padaku?"


Aileen tersenyum "Kau suami ku, ini kewajiban ku" lalu ikut duduk di depan Vir.


Vir kembali melanjutkan makannya


"Kenapa makanannya masih kelihatan banyak begini? Apa kau tidak memakannya?" Ucap Vir yang baru menyadari, makanan yang ia pesan pagi tadi masih begitu banyak.


Aileen menatap Vir seraya mengernyitkan dahinya, Ia menatap makanan yang Vir maksud.


Dari perkataan Vir, Ia baru menyadari, jika suaminya itulah yang membeli semua makanan itu.


"Berarti pagi tadi kau sempat pulang?" Tanya Aileen.


Vir kembali menjawab hanya dengan sebuah anggukan.


Aileen melototkan matanya,

__ADS_1


Jika dia pulang, apa itu artinya semalam dia juga yang membawa ku ke kamar. kata Aileen dalam hati.


Sungguh Ia akan merasa senang jika memang begitu.


Jadi itu bukan mimpi? Aku tidak mengigau..


Beberapa menit kemudian, Vir sudah selesai makan. Aileen juga sudah membereskan semuanya.


"Kita obati bibir mu dulu ya, agar lukanya cepat sembuh" ucap Aileen lembut


Lagi-lagi menjawab hanya dengan sebuah anggukan.


"Aku ambil obatnya dulu!" Aileen beranjak hendak menuju kamarnya.


Namun bukannya diam di sana, Vir malah ikut naik ke lantai atas.


Aileen yang sudah di tangga, menoleh ke arah Vir yang ada di belakangnya.


Ia mengerutkan keningnya ketika melihat itu.


Vir yang ditatap seperti itu langsung menjawab "Aku ingin ke kamar ku!"


Mendengar itu, kini Aileen lah yang mengangguk mengerti.


****


"Sudah selesai!" ucap Aileen setelah mengobati luka di bibir Vir.


Kini mereka masih duduk di sofa.


Vir tak henti-hentinya menatap Aileen.


Ia tidak tahu bagaimana perasaannya, intinya sekarang hanya ada rasa bersalah yang membuncah di hatinya.


Aileen yang sibuk menyusun obat-obatan di kotak P3K miliknya sama sekali tidak menyadari jika Vir tengah menatapnya dengan tatapan bersalah.


"Eil!" lirih Vir


Perlahan Aileen menoleh


"Maaf!"


Aileen tersenyum sambil menggeleng "Tidak perlu minta maaf! Aku mengerti posisi mu, jika aku yang berada di posisi mu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama" Aileen beralih menatap kotak itu kemudian menutupnya


"Tapi aku mohon jangan lagi menyimpulkan sesuatu yang belum pasti, cari tahu dulu kebenarannya baru bisa memvonis apakah itu salah atau benar! Karena disalahkan karena sesuatu yang tidak kita lakukan itu menyakitkan"


Vir hanya terdiam, sungguh kali ini ia dibuat tak mampu berkata apapun dengan ucapan istrinya itu. Lidahnya seakan kelu, tidak ada lagi jawaban-jawaban konyol yang ia lontarkan sebagai pembelaan seperti biasanya. Yang dia lakukan hanya diam membisu dengan tatapan kosong.


"Pekerjaan ku belum selesai, istirahat lah!" Aileen beranjak dan berjalan ke arah kamar mandi.


Vir menghela nafas berat, hari yang begitu melelahkan baginya.


Beberapa menit kemudian Aileen sudah selesai, Saat ke luar dari kamar mandi Ia mendapati Vir yang masih duduk di sofa dengan beberapa berkas yang berceceran di atasnya, sepertinya ia baru selesai menandatanganinya.


"Aku ke kamar ku dulu" ucap Aileen yang hendak membuka pintu.


Vir beranjak, perlahan ia mendekat ke arah Aileen.


"Kenapa tidak tidur di sini saja? bukankah ini juga kamar mu" kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Vir.

__ADS_1


Yang mana hanya menyisakan keheningan diantara mereka, dengan Aileen yang kelihatan berusaha mencerna arti ucapan suaminya itu.


"****.." Vir menggeleng, Ia menyadari apa yang baru saja dia katakan, secara tidak langsung mengajak Aileen tidur bersama.


Memangnya kenapa? Bukankah itu bagus?


"Emmnt maksudku, tidurlah di sini! Aku membutuhkan mu untuk membangunkan ku besok, Badanku terasa sangat lelah. Jika tidak dibangunkan mungkin aku akan terlambat bangun" ucapnya asal, berusaha mencari alasan yang tepat. Sebab tak mungkin meralat ucapannya yang dengan sadar meminta Aileen tinggal di kamarnya.


Aileen menyerngitkan keningnya.


Alasan klise! Ambigu dan tidak masuk akal..


"Apa tidak punya alarm?" Aileen melirik seisi kamar, pandangannya menelisik setiap sudut mencari keberadaan jam weker yang bisa digunakan untuk membangunkan suaminya itu.


Vir salah tingkah dengan alasan konyol yang ia buat, Aileen telah membuatnya mati kutu! Pria Arogan itu tidak menggunakan senjatanya dengan tepat.


Aileen mengedipkan alisnya melirik ke arah jam weker yang ada di atas nakas!


Vir menatap ke arah pandang Aileen.


"Jam itu rusak!" ketus Vir. Ketika tak mampu menaklukkan Aileen, senjata terakhir yang tersisa adalah marah-marah.


Aileen terdiam sejenak, memikirkan sesuatu.


Tidak lama kemudian ia menjentikkan jarinya, menandakan ia mendapat sebuah ide cemerlang.


"Ada Handphone, kau bisa menggunakan alarm canggih" ucap Aileen memberi saran.


Aku tahu kau hanya modus, maafkan aku! Tapi aku hanya akan tidur dengan mu saat kau memintanya secara baik-baik.. tersenyum licik


"Mari Handphonenya, biar aku aturkan! Mau bangun jam berapa?" Aileen tersenyum mengejek membuat Vir menatap malas


"Ck, Tidak perlu! Aku bisa mengaturnya sendiri... Sana kembalilah ke kamar mu!" ketus Vir


Aileen hanya terkekeh geli melihat Vir yang keliatannya marah atas penolakan secara halus yang Aileen lakukan.


"Mau bangun jam berapa? biar aku yang langsung membangunkan mu" ucap Aileen saat Vir membawanya ke luar dari kamar.


"Tidak perlu! Aku punya alarm!"


Vir lalu masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dengan keras membuat Aileen terkekeh geli dengan kelakuannya.


"Wanita menyebalkan!! memutar mata malas "Perasaan macam apa ini, dia selalu bisa membuat ku merasa senang dan kesal di saat yang bersamaan" Vir menggerutu sebal.


Ia berjalan ke arah ranjang kemudian duduk di sana.


Ting...


terdengar suara notifikasi pesan masuk.


Vir berjalan ke arah meja sofa lalu meraih hanphonenya.


"Kenapa tidak mengangkat telepon ku? Apa kau masih marah? Jangan abaikan aku, Aku minta maaf!" Isi pesan yang Fia kirimkan pada Vir.


Bukannya dibalas, Vir hanya membacanya kemudian mengecek log panggilan. Di sana tertera begitu banyak panggilan tak terjawab dari Fia.


Vir menghela nafas kasar, Ia menonaktifkan Hanphonenya kemudian melemparnya ke sofa.


Sepertinya dia benar-benar marah pada Fia.

__ADS_1


__ADS_2