Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 24


__ADS_3

"Fi bukankah kau ingin ke rumah ku?"


Fia menoleh, ia memicingkan tatapannya seolah mengatakan, mengapa mengajak ku ke rumah mu, bukankah orang tua mu tak pernah menyukai ku.


"Maksud ku ke rumah yang di cluster Magnolia" Vir berusaha menenangkan Fia dengan mengajaknya melihat rumah yang katanya ia beli untuk mereka nanti, namun kenyataannya tidak begitu.


Fia yang tadinya masih murung langsung bersemangat ketika Vir ingin membawanya ke rumah itu.


"Baiklah ayo kita pergi sekarang.." kata Fia girang "Biar mobil ku diambil orang butik"


Ia pun memeluk lengan Vir dan langsung pergi dari Restoran itu.


.


.


Sesampainya di sana, Fia begitu senang melihat interior rumah yang pernah ia pilih dengan kekasihnya itu, Ya walaupun Vir yang membelinya tapi bukankah dia juga akan menjadi nyonya rumah ini suatu hari nanti, jadi rumah ini rumahnya juga bukan?


Beruntung di rumah itu sama sekali tidak terpajang foto pernikahan Aileen dan Virendra, di sana hanya ada beberapa figura yang terpajang itupun hanya gambar pemandangan yang indah.


Tadinya Vir berani mengajak Via ke sini karena ia pikir Aileen tidak akan pulang lebih awal, mengingat wanita itu selalu lembur sama seperti dirinya. Jadi tidak ad salahnya ia mengajak Fia agar kekasihnya itu berhenti bersedih. Namun sepertinya dugaannya salah, Fia justru masih enggan pergi dari rumah itu, ia masih betah berada di sana.


Hari sudah semakin sore dengan cahaya senja yang mulai meredup berganti malam.


Virendra kelabakan, ia takut jika Aileen akan segera pulang dan kedua wanita itu akan bertemu


"Fi kita pulang sekarang ya!" ajak Vir berusaha membujuk Fia agar mau segera pulang.


"Tapi...


Belum sempat Fia melanjutkan ucapannya, Mereka berdua menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.


Vir panik. Jantungnya berdetak begitu kencang, seolah waktu akan berhenti saat itu juga.


Akankah semuanya terbongkar secepat ini? Tidak, ini tidak boleh terjadi pikirnya.


Vir menatap lega saat Aileen masuk masih menggunakan masker. Wanita itu berjalan menuju lantai atas tanpa memperdulikan wanita yang duduk dan menatap tak berkedip ke arahnya.


Bagaimana dengan Vir?? Jangan ditanyakan lagi, pria itu tak bergeming antara lega dan was-was. Ia masih memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sementara Fia masih terpaku, ia tak mengerti, bagaimana bisa ada seorang wanita masuk begitu saja di rumah ini? rumah yang setahunya adalah rumah kekasihnya yang dibeli untuk mereka tinggali setelah menikah nanti.


Apakah Vir telah menjualnya ke orang lain?? Itu tidak mungkin, Kalaupun sudah dijual, tentu Virendra tidak akan mengajaknya ke sini.


"Dia siapa Vir? kenapa masuk begitu saja dan kau tidak melarangnya..?" tanya Fia memecah keheningan setelah ia selesai menatap punggung wanita itu yang sudah menghilangkan di lantai atas sana.


"Ehh.."


Virendra gugup, entah alasan apa lagi yang akan ia katakan. Ia harus memutas otak, mencari alasan yang tepat agar bisa segera membawa Fia pergi dari rumah ini.


"Di-dia sepupu ku, iya dia sepupu ku yang berkuliah di kota ini! Ibu menyuruhnya tinggal di sini" katanya berusaha meyakinkan


Fia mengangguk mengerti, berusaha mempercayai penjelasan sang kekasih.


"Kenapa tidak tinggal bersama kalian?"


Fia yang masih merasa janggal kembali melemparkan pertanyaan.


"Dia ingin mandiri dengan tinggal seorang diri, jadi aku menyarankannya untuk tinggal di sini saja daripada harus menyewa apartemen" Sepertinya alasannya sudah melenceng jauh, namun ia berharap semoga Fia puas dan bisa yakin dengan jawabannya.

__ADS_1


Fia menggangguk mengerti dengan masih menatap ke lantai dua.


"Berarti kau tidak tinggal di sini kan?"


"Ya tentu tidak, ibu dan ayah kan sedang di luar Negeri jadi aku tinggal di mansion" Entah kenapa kali ini Vir merasa gugup, tak seperti biasanya saat bersandiwara bersama Aileen selalu berjalan mulus dan begitu menghayati peran, tapi ini malah terkesan begitu gugup, ia mengutuki dirinya yang masih memikirkan Aileen saat sedang bersama Fia.


.


.


.


Sementara itu di dalam kamar.


Aileen duduk termenung seraya menatap dirinya dari pantulan cermin. Ia mengenakan nightgown dengan motif bordiran renda yang terukir di bagian bahu membuat ia semakin cantik dan elegan meski di malam hari dan hendak mengarungi alam mimpi.


Rambutnya yang terurai lurus dan tergerai ke bagin sisi depan dadanya terlihat begitu feminim. Ya dokter ini memang selalu tampil cantik di setiap kesempatan. Bahkan tak pernah nampak sisi kurangnya.


Selepas melihat Vir dan wanita tadi berdua di ruang tamu entah mengapa hatinya terasa ngilu, seolah ada besi yang saling bergesekan di dalam sana. Ia tidak tahu ada apa dengan dirinya, namun perasaan itu sungguh tak bisa diabaikan.


Apakah ia benar-benar merasakan naluriah seorang istri yang merasa tergores saat melihat suaminya dengan wanita lain. Bisakah ia marah? Haruskah ia melayangkan protes seperti yang Moza lakukan saat suaminya membawa kekasihnya ke rumah..


Tapi itu kedengarannya sangat brutal, Aileen tidak seperti itu. Lagi pula dia tahu dulu Vir membeli rumah ini untuk ditinggali bersama Fia, jadi dia merasa tak punya hak untuk marah.


Tok, tok-tok...


Terdengar suara ketukan di depan pintu kamar, membuat Aileen tersentak dari lamunannya. Ia melangkah membuka pintu, menampakkan Virendra yang berdiri di sana.


"Kau sudah melakukannya dengan baik.. terima kasih untuk itu"


Aileen tercengang, baru kali ini seorang Virendra minta maaf, kelihatannya begitu tulus..


Entah istri mana yang membantu suaminya melakukan sandiwara untuk menutupi Pernikahan mereka. "Bukankah kata mu kau sendiri yang akan memberi tahunya, maka dari itu aku berusaha menghindar sampai darinya"


Vir terdiam..


Perasaan benci itu masih ada, ia ingin marah namun kenapa rasanya sulit memarahi wanita di depannya ini, wanita yang belakangan ini selalu mengurusnya dengan baik, mengerjakan semua perintahnya walaupun ia selalu ketus dan kasar, bahkan wanita itu sama sekali tak pernah membantahnya meskipun terkadang sesekali menjawab setiap perkataan yang ia lontarkan. Haruskah ia menghargai itu?


Mereka berdua terdiam dan masih berdiri saling membuang pandangan ke lain arah.


"Apa mau makan? akan ku siapkan.." tawar Aileen


"Tidak, aku sudah makan"


"Oh" Aileen mengangguk mengerti.


"Kalau begitu aku istirahat dulu."


Kini Vir lah yang mengangguk mengerti.


Aileen pun langsung masuk ke kamarnya.


Entah mengapa hari ini rasanya berbeda.


.


.


.

__ADS_1


"Halo mom, kalian apa kabar? aku sangat merindukan kalian semua!!" kata Aileen yang sedang Video call dengan Daddy dan mommynya.


"Kami semua baik Eil, bagaimana dengan mu dan Vir?" tanya Mommy


"Apa kau tidak merindukan daddy mu ini Eil?" kata seorang pria paruh baya yang berusaha meraih handphone dari tangan mommy.


Aileen tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya, diusia Pernikahannya yang sudah tua namun mereka tetap mesra seperti ini, Aileen terdiam sejenak, Ia memikirkan apakah bisa hidupnya seperti daddy dan mommy, tapi rasanya tidak mungkin.


"Eil kenapa melamun?"


"Hey Aileen Zavierra Utama apa kau tidak merindukan daddy mu ini?" tanya orang tuanya bersamaan.


Aileen tersentak, ia tersenyum ke arah layar handphone


"Kami baik mom, Dan tentu aku sangat merindukan daddy ku yang paling tampan" Aileen tersenyum getir menyembunyikan kenyataan pernikahannya yang rumit di hadapan keluarga.


"Syukurlah, Oh iya apa kau sering berkunjung ke rumah opa nak?"


"Tentu mom, aku selalu berkunjung setiap kali pulang dari rumah sakit"


Orang tua dan putrinya itu terus mengobrol sampai Aileen tak menyadari ada seseorang yang terus memperhatikan interaksinya dengan Daddy dan Mommynya.


Satu yang Vir tangkap, Aileen benar-benar menutup rapat masalah mereka. Bahkan wanita itu sama sekali tak pernah menjelekkan dirinya di depan sang mertua padahal berbanding terbalik dengan kenyataan dimana ia sering kasar pada wanita itu.


"Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya pada mereka?" katanya saat obrolan mereka berakhir.


Suara Vir membuat Aileen terkejut, ia berbalik seraya memegangi dadanya lagi. Ini yang kesekian kalinya Vir membuatnya terkejut.


"Dasar lemah!!" cibir Vir yang kini sudah duduk manis bersiap untuk sarapan.


"Bukan lemah, itu refleks sebab kau membuat ku terkejut" Melepas apronnya dan ikut duduk di kursi


"Bisa tidak sehari saja jangan membantah ku!" Vir mengiris sandwich nya dengan sedikit keras karena kesal pada Aileen yang selalu bisa menjawab perkataannya.


"Cukup jawab pertanyaan ku!!" Vir mengunyah sandwichnya sambil terus menggerutu sebal


Aileen tidak perduli, ia sudah kebal dengan omelan Vir setiap harinya. Ia malah terlihat asyik dan santai menikmati sarapan pagi nya.


Uhukk, uhukkk....


Vir terbatuk, Sepertinya ia tersendat karena makan sambil mengomel..


"Ini minumlah.." Aileen segera memberikan Air minum, sembari menahan gelak tawa. Ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak, tapi takut jika si makhluk aneh akan menyemprotnya.


"Itulah sebabnya kita dilarang berbicara saat makan, ya karena begini! lihatlah kau hampir saja mati.." Aileen masih menahan tawanya.


"Apa kau menyumpahi ku mati?? Apa kau ingin menjadi janda di usia muda??" Vir berucap begitu serius tanpa menoleh ke arah Aileen yang terdiam mendengar ucapannya


"Lagi pula ini semua karena mu, andai saja kau tidak suka menjawab pertanyaan ku, mungkin aku tidak akan seperti ini" Vir memukul dadanya bekas tersedak tadi "Ahh ini semua karena mu, Aku tahu kau senang kan jika aku benar-benar mati, jadi kau bisa bebas dari rumah tangga ini" Vir terus mengoceh..


Sepertinya rencananya yang ingin membuat Aileen menderita malah berbalik pada dirinya, dia lah yang menderita. Memangnya bagaimana cara membuat Aileen menderita? Bahkan Vir sengaja memberikan pekerjaan rumah yang berat namun Aileen malah melakuaknnya dengan senang hati, bahkan wanita itu terlihat begitu menikmati tugasnya meskipun tetap sibuk dengan profesinya


"Huh baiklah, aku minta maaf karena terus menjawab perkataan mu! Aku tahu aku salah" Aileen meletakkan garpu dan pisaunya "Kalau begitu biar aku jawab, memangnya tadi kau bertanya apa?" tanya Aileen berusaha tersenyum tulus


Namun bukannya mengulang pertanyaan, Vir malah beranjak pergi


"Ah sudahlah, tidak ada yang namanya pengulangan"


Aileen menatap punggung tegak Vir yang mulai menghilang dibalik dinding.

__ADS_1


"Haissh dia memang aneh" Aileen menggeleng dan meraih tasnya.


__ADS_2