Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 149


__ADS_3

Sudah hampir tiga hari berturut-turut Aileen dan Virendra selalu memutuskan mampir ke rumah mereka. Persis seperti hari ini, ketika Virendra baru saja melaksanakan fisioterapi yang memang dilakukan dua kali dalam sepekan. Entah Eil atau Vir pasti akan meminta diantar ke rumah hanya untuk menikmati quality time disana.


“Dia sudah jarang bergerak ya, Eil?" Virendra yang tengah berbaring sambil menghadap perut Aileen sedikit mendongak menatap wajah sang istri.


Eil yang berbaring sambil setengah duduk dan bersandar di kepala ranjang mengarahkan tangannya mengusap kepala Virendra.


“Itu semua karena posisi bayi sudah masuk panggul," jelas Aileen.


“Emmmnt, padahal aku masih ingin merasakan tendangannya!" celetuk Virendra, ia kembali menyandarkan wajahnya di perut Eil.


Aileen berdecak sembari menoel-noel pipi suaminya. “Ck, bukankah melihat tendangannya secara langsung lebih menyenangkan?” Aileen tersenyum sembari membayangkan bayi mungil mereka.


“Pastinya!” celetuk Vir, ia kian mengeratkan pelukannya dan menelusupkan wajah di perut buncit itu.


“Aku sudah tidak sabar ingin bermain dengan anakku!" lirihnya penuh haru.


Aileen yang tak ingin melihat Virendra merasa sedih langsung berusaha mengalihkan pembahasan. Ia tahu setelah ini Virendra pasti akan mengutuki keadaan atas kondisinya saat ini.


“Sayang!" perlahan Aileen membaringkan tubuhnya, ia menelusupkan wajahnya ke dada bidang sang suami. “Aku ingin bertanya soal kemarin!"


Mendengar ucapan Eil, Vir hanya bisa menyerngitkan kening sambil menunggu apa yang ingin istrinya katakan.


“Aku penasaran sejak kapan kau mulai mengingat semuanya? Melihat kemarin kau langsung mengingat siapa pemilik rumah di samping sepertinya ingatanmu sudah cukup membaik, sejak kapan?" Aileen mendongak menatap Virendra yang tengah mengusap rambut panjangnya.


Virendra nampak berpikir. “Sejak kapan ya? Emmmnt, aku juga lupa!” katanya dengan ekspresi heran yang dibuat-buat.


Aileen berdecak kesal. “Dasar dramaking!" Ia kembali menelusupkan wajahnya di dada Virendra. “Kau pasti sudah ingat semua, ‘kan?"


“Kau bahkan sempat menyebutku dengan sebutan dramaqueen, kata yang sering kau ucapkan dulu saat kita masih musuhan!" cecar Aileen.


“Oh, jadi selama ini aku dianggap musuh, hah?" Dengan wajah dibuat kesal Vir mendaratkan ciumannya secara bertubi-tubi.


“Kenapa marah, bukankah dulu kau memang menganggapku musuh? Kau sempat memusuhiku!" protes Aileen.


“Aihh, sudahlah, Eil! Jangan bahas masa lalu yang jelek-jelek, bahas kebaikanku saja atau bahas hal lain!" Vir memanyunkan bibir tanda tak suka.


“Nah kan, bahkan kau juga mengakui keburukanmu di masa lalu!" sergah Aileen dengan wajah sumringah. “Itu artinya kau mengingat semuanya, 'kan?" cecarnya lagi sambil menunjuk Virendra dengan telunjuk tepat di hidung Virendra.


Virendra meraih tangan Aileen, ia lalu memeluk istrinya itu sambil berkata. “Iya, ingatanku sudah kembali! Bahkan aku juga ingat ucapan Niko saat di malam reuni waktu itu dan hal itu juga membuatku baru mengerti sekarang jika kau dan Niko pernah punya hubungan, kan?" Virendra balik mencecarnya, membuat Eil balik memanyunkan bibir.


Ingatannya baru pulih, tapi kenapa yang diingatnya malah hal seperti ini? gerutu Aileen dalam hati.


“Bahkan Niko sampai menyebutku orang yang suka barang bekas darinya, itu semua karena kau juga mantannya, kan!?"


“Ih, itu hanya masa lalu!" sela Aileen. Ia takut Vir marah dan akan berpengaruh pada psikisnya. “Lagi pula aku mengenalnya jauh sebelum kita bersama!"


“Ck, kenapa kau mau bersamanya!" protes Vir tak suka. “Seharusnya kita langsung dijodohkan saja dari sebelum mengenal cinta! supaya kita berdua tidak harus terjebak pada Cinta yang salah, hmmmn!" ucapan Vir yang terdengar bersunguh-sunguh membuat Aileen ingin sekali terkekeh.


“Sudah ya, jangan dibahas! Kita bahas hal yang membahagiakan saja!" Aileen menangkup wajah Vir, lalu mendaratkan kecupan bertubi di wajah sendu suaminya itu.


“Ohiya, Vir, sejak kapan ingatanmu kembali?" tanya Aileen bersunguh-sunguh.

__ADS_1


Virendra terdiam sambil berusaha mengingat-ingat kapan pastinya ingatannya kembali pulih. “Emmmnt, sepertinya dari beberapa hari yang lalu, tapi setelah menemui Niko dan Fia aku merasa semua ingatan tentang kejadian malam itu mulai berputar dengan jelas di kepalaku. Bahkan membuat aku perlahan bisa mengingat semuanya!" jelas Virendra dengan wajah serius sambil menatap langit-langit kamar. Meski begitu, pelukannya di tubuh Aileen sama sekali tak merenggang.


Eil terdiam mendengar penjelasan sang suami. Ia bersyukur Virendra tak harus mengalami kepanikan yang bisa membuatnya histeris ketika ingatannya kembali. Bahkan ia senang karena Vir mendapatkan ingatannya kembali dalam keadaan tenang.


“Pokoknya besok kita harus berkonsultasi ke dokter Wiguna.”


“Iya sayang, besok ya, sekarang kita tidur dulu ya, aku ngantuk.” Vir mulai memejamkan matanya.


“Berarti kau juga ingat panggilan sun dan moon?” tanya Aileen yang terus mengoceh meski Virendra sudah memejamkan mata.


“Hmmnt, aku ingat!" sahut Vir apa adanya.


“Kenapa tidak pakai itu lagi?"


“Ck, jangan sayang! Itu terlalu lebay dan menggelikan. Mengingatnya saja membuatku bergidik geli.” selorohnya sambil mengedikkan bahu.


Tentu hal itu membuat Aileen terbahak-bahak. Tak disangka orang yang menciptakan sebutan itu beberapa waktu lalu, kini malah merasa geli sendiri.


“Hahaha, kenapa baru sadar sekarang! Aku bahkan sudah merasa geli saat kau menjadikannya panggilan sayang diantara kita.”


Tawa Eil membuat Virendra membuka mata, ia gemas melihat sang istri yang bisa tertawa lepas.


Aku senang kita bisa seperti ini, selama ini kau pasti sudah melalui banyak hal yang menyakitkan. Aku berjanji sekarang sampai kapanpun itu akan membuatmu bahagia, Eil. Aku harap kondisiku bisa segera pulih agar bisa menjagamu dan anak kita.


Virendra mendaratkan kecupan yang disusul cubitan gemas di wajah berisi Aileen. “Kalau tahu begitu seharusnya kita tak melakukannya.” Bahkan kini Virendra pun ikut terkekeh mengingat panggilan gila yang ia buat ketika menjadi pria bucin akut yang menggebu pada Aileen saat itu.


“Sebenarnya aku ingin protes, tapi kau terlalu ketus dan setiap kali mengingat betapa menyarankannya dirimu setiap kali dibantah, aku jadi malas menolak.” Aileeen terkekeh sambil balas mencubit pipi Virendra. Ia senang melihat senyum manis di balik mata sipit itu.


Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Hujan deras yang mengguyur kota malam itu membuat mereka mengurungkan niat untuk pulang. Lagi pula setelah sempat bercanda beberapa jam lalu keduanya langsung terlelap dengan nyenyak dan saat terbangun jam sudah menunjukkan dini hari. Tentu keduanya sama-sama tak ingin merepotkan pak supir di tengah malam buta hanya untuk menjemput mereka.


“Kita bermalam disini saja, ya! Tak apa kan?" tanya Virendra disela derain petir yang menyambar. Silaun kilatnya bisa terlihat jelas dari kaca jendela kamar. Suasana malam disertai dengan angin kencang membuat malam itu sedikit dingin mencekam. Padahal sebelumnya sama sekali tak ada tanda-tanda mendung.


“Ya mau bagaimana lagi!“ Eil turut memperbaiki posisi menjadi duduk, dengan muka bantal ia membenarkan jepitan rambutnya.


Virendra meletakkan ponselnya kemudian beralih menatap gorden jendela yang terbang akibat angin yang berhembus kencang dari arah luar. Pandangannya beralih menatap Aileen yang nampak gelisah.


“Kenapa?" tanya Vir heran. Meski tertidur tapi ia sempat merasa Aileen terus terbangun.


“Dari tadi pipis terus!" kata Eil sambil menggaruk bagian bawah perutnya yang terasa agak gatal.


“Mau pipis lagi? Bukannya itu juga tanda-tanda persalinan, Eil?" ucap Vir dengan wajah panik. Ia takut kalau hal itu harus terjadi sekarang. Entah apa yang harus dilakukan dengan kondisi yang seperti ini jika terjadi sesuatu pada sang istri. Sungguh ia tak sanggup membayangkan hal itu.


“Sepertinya begitu!" Eil perlahan bergeser ke sisi tempat tidur dan menurunkan kakinya, bersiap menuju ke toilet. Kamar tamu ini memang tak cukup besar dan tak memiliki toilet di dalam seperti dua kamar utama yang ada di lantai atas. Sehingga mengharuskan ia berjalan ke toilet di dekat ruang shalat di sampingnya.


Penuturan Aileen tentu membuat Virendra semakin panik. “Aku harus telepon Mommy, ibu atau semua anggota keluarga yang lain agar bisa jemput kita disini!” Vir agak menggeser duduknya ke samping Aileen.


"Boleh, setidaknya kita sudah siap-siap. Tapi sepertinya ini baru pembukaan awal, karena aku sama sekali belum merasakan sakit apa-apa!" Eil mengusap lembut bahu Vir disertai senyuman, kemudian ia segera melangkah keluar kamar.


“Tunggu, aku ikut!" cegah Vir yang merasa dirinya harus selalu ada di sisi Aileen dalam kondisi seperti ini.


Wanita hamil yang mengenakan dress kaos berbahan karet warna mocca itu langsung menoleh ketika tangannya sudah hampir memutar gagang pintu. Masih berjalan normal seperti biasa, dengan senyum mengembang ia melangkah ke arah ranjang.

__ADS_1


“Maaf menyusahkan!" lirih Virendra dengan mata berkaca-kaca saat Aileen tengah menggeser kursi roda ke arahnya. Ia benar-benar merasa tak berdaya.


Aileen sama sekali tak menjawab dengan perkataan, melainkan dengan sebuah kecupan yang diakhiri usapan lembut di wajah Vir sebagai tanda jika ia sama sekali tak merasa terbebani.


“Terimakasih banyak sayangku.”


Aileen mengangguk mendengar ucapan Virendra.


“Aku ingin coba sendiri!" Vir kemudian menolak uluran tangan dari Aileen. Dengan perlahan ia mengarahkan kakinya ke atas stang kaki, kemudian secara perlahan tangannya bertumpu dipegangan kursi roda. Dalam satu tarikan napas dan kekuatan tumpuan tangan, akhirnya Vir bisa berpindah ke kursi roda tanpa hambatan. Membuat ia merasa bangga.


Aileen tersenyum senang melihat semangat dan kemajuan yang Virendra tunjukkan.


“Yuk!"


“Jangan, Eil!" cegah Vir saat Aileen hendak mendorong kursi rodanya. “Aku bisa sendiri!"


Lagi-lagi Aileen hanya tersenyum sambil mendaratkan ciuman di puncak kepala Virendra. Secara beriringan keduanya lalu pergi ke kamar mandi


Virendra tak membiarkan Eil menutup pintu kamar mandi. Ia menunggu di sisi toilet sambil mengarahkan air dari selang air yang ada.


“Makasih ya, Daddy!" lirih Eil begitu selesai buang hajat dan kembali membenarkan **********. Namun saat hampir melangkah keluar, ia merasakan sesuatu merembes dibagian ************ disusul dengan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang di bagian pinggang hingga perut bagian bawah. Ngilu dan nyeri.


“Awww!" pekiknya sambil memegang pinggang.


“Kenapa?" tanya Vir panik, arah pandangnya beralih mengikuti saat mata Aileen menatap ke arah betisnya, sebuah cairan bening yang disusul dengan cairan yang agak kuning mulai merembes di bagian betisnya.


“Bukankah itu Air ketuban, Eil?" Vir yang mulai panik, bingung harus melakukan apa. Ia merasa sekujur tubuhnya mendadak tremor.


Aileen mengangguk, dengan berusaha tenang ia mencoba menarik napas dalam-dalam. Aileen sama sekali tak menyangka ia akan mengalami hal ini, pecah ketuban dan kontraksi yang datang secara bersamaan. Ciri-ciri umum yang palig sering ia temui pada ibu hamil biasanya di awali dengan kontraksi yang disusul dengan pecahnya ketuban ketika pembukaan sudah hampir sempurna. Meski begitu Aileen tahu ini masih dalam kondisi normal. Sambil menahan sakit yang makin terasa ia kembali duduk di toilet sambil terus mengatur napas.


“Coba telepon siapa saja!" Sakit yang Aileen rasakan semakin menjadi, tak lagi seperti saat pertama ketubannya pecah. Kini durasi dan volume sakitnya kian bertambah. Ia merasak pinggangnya seperti ingin copot.


“Sabar ya sayang, orang rumah sama sekali tidak ada yang angkat telepon!" lirih Vir panik setelah mencoba menghubungi semua nomor telepon orang rumah, tapi tak ada satupun yang menjawab telepon darinya. Begitupun saat ia menghubungi semua anggota keluarga dari sang istri, hasilnya tetap sama. Mungkin karena sudah larut malam dan kondisi cuaca sedang hujan sehingga orang lebih memilih untuk terlelap dengan nyenyak.


“Uhhhh!" Aileen meringis sambil meremas erat dressnya.


Sambil terus mencoba menghubungi siapapun, tangan Vir tergerak mengusap lembut punggung Eil. Ia jelas bingung harus melakukan apa.


“Vir, makin sakit!" keluh Eil dengan wajah yang kian menekuk menahan sakit. Bulir bening perlahan mulai menetes dari keningnya.


Saat pikirannya bingung harus menelpon siapa. Vir langsung tersenyum penuh harap ketika membuka kontak Dito, terteras status online di bawah tulisan namanya. Tentu itu membuat Vir berkali-kali mengucap syukur dalam hati. Beruntung Dito sudah datang kemarin malam dari luar kota. Sehingga ia bisa dimintai bantuan disaat genting seperti ini.


Tak mau membuang waktu, ia langsung mendial nomor Dito menggunakan panggilan Video!


“Kau dimana?" sergah Vir begitu Dito mengangangkat telponnya tapi sahabatnya itu malah mematikan kamera. Vir sama sekali tak perduli ketika mendengar suara alunan musik dari sebrang sana. Ia jelas tahu dimana Dito berada saat ini. Jika kondisi Eil tak seperti ini, mungkin ia sudah memberikan kata-kata mutiara pada Dito yang kembali main ke club' malam. Dasar sahabat gesrek, entah ada masalah apa lagi dengannya! umpat Vir yang sempat memikirkan alasan Dito kembali menginjak tempat haram tersebut.


“Kenapa, Vir?” Suara Dito terdengar serak.


“Dit, Eil mau melahirkan. Dia kontraksi, Dit, tolong jemput kami, aku ada di rumah lama...”


Belum sempat Vir menyelesaikan ucapannya, Dito sudah menyelanya lebih dulu. “Ck, Bodoh, Vir! Kenapa kau bisa disitu dan kenapa tak menghubungiku dari tadi!?" Dito terdengar mengomel bersamaan dengan suara lantunan musik yang perlahan mulai mengecil dan perlahan hilang. Sepertinya ia sudah keluar dari club.

__ADS_1


”Sabar ya, Eil! Aku segera kesana!" ujar Dito sebelum akhirnya panggilan itu terputus.


__ADS_2