
Pagi hari kembali menyapa..
Aileen yang baru saja selesai mandi tengah duduk manis di depan meja rias dengan handuk yang masih melilit di tubuh indahnya, membuat lekukan sexy itu terekspos nyata.
Sepertinya ia lupa jika di kamar itu tidak hanya ada dirinya, melainkan ada Vir juga yang masih terlelap dengan posisi tengkurap.
Wajar saja jika dia tidak menyadari keberadaan Vir, walaupun sudah menikah toh selama ini mereka tinggal di kamar yang berbeda jadi tak perlu canggung jika harus seperti ini, Kalau pun satu kamar, memangnya apakah salah jika hanya menggunakan handuk?
Terlihat Vir mulai mengerjapkan matanya lalu perlahan membalik tubuhnya menatap ke arah Aileen yang sibuk memoles skincare di wajahnya.
Aiih sial, kenapa aku harus melihat pemandangan seperti ini di pagi hari.. Apa dia ingin menggoda ku? Aku masih pria normal yang tentu akan tertarik jika melihat pemandangan indah ini.. Gumamnya dalam hati..
Vir menggelengkan kepalanya, berusaha mengusri gelanyer aneh yang berdesir di dalam dirinya.
Ia kembali menyakinkan diri, menguatkan hati untuk tidak tergoda apalagi sampai lepas kendali. Dia hanya ingin melakukan hubungan dengan orang yang dia cintai.
Walaupun Aileen Istrinya, tapi dia tidak ingin melakukannya sebelum ada cinta.
Ia sendiri tidak tahu akan kah cinta itu segera tumbuh, tapi kapan? dan sampai kapan ia harus kuat menahan diri jika tiap hari harus melihat pemandangan ini.
Sekali lagi Vir menggeleng, ia menelan ludahnya kasar.
"Eil, bisa buatkan aku nasi goreng? Aku ingin makan-makanan Indonesia" katanya seraya sok membenarkan selimutnya agar Aileen tak menyadari bahwa sedari tadi dia terus menatap wanita itu
Antara hanya sebuah alasan untuk mengusir kecanggungan atau memang dia merindukan masakan dari tangan Istrinya, tidak ada yang tahu karena ia begitu pandai menyembunyikan semua perasaannya.
Seperti kata Aileen, dia pandai berakting. Jika ikut piala Oscar atau Awards mungkin akan memenangkan nominasi sebagai pemeran pria antagonis yang pandai menyembunyikan rasa.
Aileen menoleh, ia sadar ternyata di kamar itu juga ada Vir.
Dia tersadar jika dirinya masih mengenakan handuk pun segera berlari secepat kilat menuju kamar mandi seraya membawa baju yang sudah ia siapkan tadi. Ia malu dan takut jika Vir akan kembali mengatakan dirinya sengaja menggoda, tentu itu sangat memalukan.
Vir mengernyit geram melihat Aileen yang berlari secepat kilat tanpa merespon ucapannya.
Sementara di kamar mandi, Aileen mengutuki dirinya yang lupa jika di sini dirinya satu kamar dengan Vir.
Aihh, bagaimana aku bisa lupa jika kami satu kamar! Bisa-bisa dia akan menuduhku ingin menggodanya lagi seperti dulu. Mengutuki diri dalam hati
Beberapa menit kemudian Aileen sudah ke luar dari kamar mandi dengan mengenakan dress selutut, Itu sudah menjadi ciri khasnya yang jarang mengenakan pakaian minim, dia selalu tampil casual setiap saat.
Ia tersenyum kikuk, menatap Vir yang masih setia bersandar di atas ranjang seraya bermain hp.
"Eh, tadi ingin makan apa?" tanya Aileen ragu-ragu
Vir menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan, Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Terlihat jelas Ia sedang berusaha menahan emosi agar tak lepas kendali dan memarahi Aileen, karena sudah berjanji untuk belajar menerima wanita itu sebagai istrinya. Itu artinya ia juga harus berbicara yang lembut padanya.
Ini bukanlah kebiasaan Vir, bicara lembut merupakan sebuah hal langka yang dilakukan Vir pada orang asing yang ia benci.
__ADS_1
Cih kata itu lagi, omong kosong!!
"Aku ingin makan nasi goreng buatan mu, lidah ku sudah bosan memakan makanan khas negara ini" katanya tanpa menoleh "Di bawa ke sini ya, kaki ku terasa berat jika harus melangkah menuruni tangga" katanya lagi
"Tunggu sebentar, akan ku buatkan"
Aileen ke luar dari kamar.
Di dapur...
Setelah selesai Memasak dan kini memasuki tahap Plating, Aileen menyusun nasi goreng spesial request dari Vir suaminya. Ia sedikit menghiasi nasi goreng itu dengan berbagai sayuran, irisan sosis, tomat, suiran ayam dan irisan bawang perai yang kelihatannya sangat menggugah selera..
"Lho eil, kenapa masak makanan lain, tadi tante sudah memesan makanan dari restoran terdekat" ucap tante syella
Ya, selama tinggal di negara ini, mereka memang terbiasa memesan makanan karena rumah di sini tidak memiliki pembantu. Lagi pula mommy Jessica dan tante Syella suka memasak dan misa mengerjakan semuanya berdua.
"Eh.. Ini Tante, Vir ingin makan nasi goreng" Aileen menunjukkan satu piring nasi goreng itu
Mendengar ucapan Aileen tante Syella hanya mengangguk mengerti
"Oh iya mommy ku dimana?" Tanya Aileen
"Sepertinya masih di kamar, kalau begitu tante ke depan dulu ya!" Tante Syella pun pergi.
Nasi goreng itu sudah Aileen letakkan di nampan dan bersiap untuk membawanya ke yang mulia raja.
"Makananya mau di bawa kemana Eil, kenapa tidak makan bersama di meja makan?" tanya Ibu yang kebetulan berpapasan dengan Aileen saat menaiki tangga.
Sedangkan Aileen, dia mengartikan perkataan Vir tadi bahwa ia tidak punya tenaga yang cukup sehingga kakinya tak akan mampu menuruni tangga. Itu yang Aileen tangkap dari perkataan Vir.
Sementara ibu yang mendengar itu hanya mengangguk mengerti, Ia mulai tersenyum penuh arti
"oh, kalau begitu makan lah!" mempersilahkan sang menantu untuk segera meneruskan langkah "Hal itu biasa terjadi pada sepasang suami istri Eil, apa lagi jika suaminya terlalu kuat hingga dia sendiri sampai kehilangan tenaga" berbisik sambil terkikik geli
Sepertinya pikiran ibu mulai traveling keliling dunia, Aileen yang tidak mengerti maksud ibu hanya mengerutkan kening tanda ia tak mengerti kata-kata vulgar yang ibu lontarkan.
"Kalau begitu kembalilah cepat, berikan ia makan yang banyak agar tenaganya kembali pulih lalu kalian bisa secepatnya memberi kami cucu!!" Senyum bersemangat "Kalau begitu ibu turun dulu ya, Happy breakfast both dear! " tersenyum ramah seraya mengusap lembut lengan sang menantu
Ibu pun berlalu, namun aileen masih memikirkan maksud perkataan mertuanya yang baginya agak sedikit aneh.
Berjalan sambil memikirkan kata kata tadi. Ia melotot tak percaya tatkala mulai mengerti arti perkataan mertuanya itu.
"Aissh, sekarang aku mengerti!! Aku tahu, pasti tadi ibu mengira Vir tidak bertenaga karena kami melakukannya" Aileen menggeleng tak percaya dengan pikiran ibu mertuanya yang terlalu jauh.
Sangat kelihatan jika ia sudah ingin memiliki cucu dari Aileen dan Vir.
Bagaimana bisa cucu mu lekas hadir bu, jika Vir saja masih berusaha menerima Pernikahan kami. dan aku, aku juga tidak tahu perasaan macam apa yang aku miliki untuk makhluk aneh sepertinya.
__ADS_1
.
.
.
Setelah menyantap nasi goreng buatan Aileen, Vir pun beranjak masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Vir sudah ke luar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, dada sixpack dan roti sobek terpampang nyata di tambah lagi rambutnya yang basah dan acak-acakan membuat ia terlihat begitu tampan dan mempesona.
Aileen yang tengah duduk di sofa menatap tak berkedip pada Vir yang sedang mengeringkan rambutnya terlihat seperti seorang aktor yang sedang melakukan iklan shampo.
"Sepertinya air liur mu akan menetes" kata Vir yang mendapati Aileen menatapnya tak berkedip
"Eh,.."Aileen gelagapan dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Kau akan berdalih apa lagi? Ada kecoak di dinding atau apa?" terkekeh geli melihat raut wajah Aileen yang sudah memerah seperti kepiting rebus "Sepertinya kau sangat menginginkan ku" ucap Vir seraya berjalan mendekat ke arah sofa.
Aileen tertegun saat Vir sudah berdiri tepat di hadapannya, tubuh kekarnya yang masih di hinggapi buliran air membuat ia terlihat begitu menggoda. Dia pria, namun kulitnya begitu mulus dan putih bersih seperti kulit wanita.
Mata Aileen yang tadinya tertuju pada dada bidang Vir kini beralih menatap wajah pria itu. Vir terlihat tersenyum saat pandangan mereka bersitatap, teerkunci satu sama lain.
Vir menarik tangan Aileen hingga terperangkap dalam pelukannya dan mentok pada dada bidangnya, bahkan tinggi Aileen yang hanya sebatas bahu Vir membuat ia bisa dengan jelas memandang roti sobek di hadapannya.
"Apa kau begitu menginginkan ku, hingga tak berkedip sama sekali" bisik Vir tepat di telinga Aileen, membuat Aileen merasa geli.
Lidahnya seakan kelu tak bisa menjawab perkataan suaminya itu, tubuhnya seakan terpaku ketika dengan sadar berada dalam dekapan pria yang pernah melontarkan kebencian padanya.
"Kau boleh memegang yang kau inginkan" bisik Vir sekali lagi, bahkan bagi Aileen kini suara pria itu terdengar begitu sexy dan menggoda.
Dia masih terpaku saat Vir mulai mengusap lembut pipinya, mereka saling tatap.
Merasakan deru nafas dan detak jantung yang berpacu satu sama lain membuat dunia mereka teralihkan seakan waktu akan berhenti saat itu juga.
Namun tiba-tiba saja Vir tersentak, seolah terbangun dari alam bawah sadarnya. Namun semuanya terjadi begitu nyata.
Ia melepaskan genggamannya dari tubuh Aileen, Vie menggeleng. Sekali lagi dia hampir kelepasan. Bukan hanya Vir, tapi Aileen juga hampir lepas kendali dan terbuai dalam sentuhan Vir.
"Eh..." vir mengundurkan langkahnya seraya mengusap wajahnya gusar
"Lupakan yang tadi! Bersiaplah kita harus pergi mengantar Ayah dan Ibu ke bandara" Meraih pakaiannya dan kembali ke kamar mandi
Lama-lama aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini!! Satu kamar dengannya membuat ku hilang kendali... Menggerutu seraya menutup pintu kamar mandi
Sementara Aileen..
Lidahnya masih terasa kelu, karena kejadian tadi ia sama sekali tak mampu menjawab. Namun wajahnya terlihat menyimpan banyak tanya, ia sama sekali tidak tahu jika mertuanya akan pulang hari ini.
__ADS_1
Kenapa debaran aneh ini selalu muncul tiap kali aku dan Vir kontak fisik.
Adakah yang tahu jika kejadian tadi murni karena kekhilafan keduanya atau memang sudah ada magnet rasa diantara mereka. Sehingga antara sadar atau tidak keduanya sudah hampir kebablasan melakukan sesuatu yang memang seharusnya terjadi di antara sepasang suami istri.