Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 106


__ADS_3

“Sayang, Ibu Rindu sekali..” Ibu tak henti-hentinya memeluk menantunya itu. walaupun awalnya ia sempat terkejut mendapati wajah Aileen yang penuh dengan goresan.


Ibu sempat mengira jika hubungan keduanya sedang ada masalah, hingga Vir tak mengajak Aileen ikut bersamanya. Namun setelah mendengar penjelasan dari Aileen, ibu kini mengerti. Ia yang sempat berpikiran sama seperti Biyan, jika Vir telah melakukan Kdrt kini menepis jauh pikiran tersebut.


“Bantu Ibu bikin kue ya.. Tadinya, kuenya mau dikirim ke rumah Mommy tapi kau malah datang lebih dulu, jadi sekalian kita bikin sama-sama. Maukan?” Ibu menggenggam tangan Aileen meminta persetujuan.


“Tidak perlu repot-repot, Aileen cukup duduk. Jangan membantu, Kita bisa mengobrol apa saja..” lanjut Ibu dengan begitu antusias.


Ibu yang memang gemar membuat kue begitu senang dengan kehadiran Aileen, Ia memang begitu menginginkan kehadiran anak perempuan membuatnya begitu menyayangi menantunya itu.


“Tentu! repot-repot sekalipun tidak masalah. Aku kan suka semua hal yang berbau dapur..” sahut Aileen dengan tak kalah antusiasnya.


“Tapi Ibu rasa tidak perlu, ibu tidak ingin tangan menantu ibu kotor” ibu mencolek hidung mancung Aileen membuatnya terkekeh sambil memeluk erat tubuh ibu


Biyan yang tak mengerti apa-apa, hanya diam seribu bahasa sambil menghembuskan napas kasar melihat interaksi keduanya.


“Biy, tante pinjam kakaknya dulu ya! Maaf, kau harus duduk sendiri, Om Hans dan Vino sedang ke kantor..”


Biyan pun hanya tersenyum kikuk sambil mengangguk tanda menyetujui.


“Ayo, kita langsung ke dapur..” Ibu dan Aileen pun melangkah ke dapur dengan penuh canda tawa.


“Jangan kemana-mana, Biy! nanti kau bisa hilang..” teriak Aileen yang mana membuat Biyan mendelik sebal.


Sedangkan ibu hanya terkekeh sambil merangkul tubuh Aileen.


Sesampainya di dapur, Ibu langsung disibukkan dengan proses pembuatan kue. Dimulai dengan mempersiapkan adonan kue. Ibu sama sekali tak membiarkan tangan Aileen kotor, Ia menyuruh menantunya itu duduk manis sambil memerhatikan apa yang ia lakukan.


“Aku bantu ya bu...” Aileen sempat menawarkan diri. Namun ibu tetap menolak bantuannya.


“Jangan, Kau duduk lah di situ..”


Dengan berat hati, Ia pun hanya duduk diam tanpa melakukan apapun.


“Mau bikin kue apa?” tanya Aileen saat melihat bahan yang ibu siapkan berupa beras ketan yang sudah diaron kemudian dikukus terlebih dahulu.


“Ini namanya kue katiri sala, Vir dan Vino sangat suka kue ini! memang sederhana, tapi ini kesukaan mereka..” Ibu mulai memasukkan ketan yang sudah di kukus ke dalam talang.


“Ini sudah bisa dikukus lagi, Bi.” menyerahkan 3 talang ketan tadi kepada pelayan untuk segera dikukus.


Sementara Aileen hanya mengangguk sambil terus mengamati agar suatu saat bisa membuatnya untuk Vir nya tersayang. Bukankah kata ibu ini kue kesukaan suaminya, tentu dia harus mengamatinya agar bisa mempraktekkannya suatu saat.


“Ini resep dari Mama Dito, Kue ini kue tradisional khas bugis” Ibu mulai memecahkan 6 butir telur yang akan digunakan sebagai cairan Vla lapisan bagian atas ketan.


“Kok bisa bu? Memangnya Dito orang apa?” tanya Aileen yang sedikit terkejut mendengar asal kue itu dari tanah bugis yang merupakan resep dari ibu Dito. Ia memang tidak begitu tahu tentang sahabat Virendra itu namun kini ia mulai tahu sedikit banyak, bukan hanya menjalin persahabatan biasa namun orang tua Vir dan Dito juga memiliki hubungan yang begitu dekat.


“Dito itu keturunan Makasaar, ayahnya orang bugis, orang namanya saja Andi Ardito. Nah kalau dalam suku bugis, Andi itu sebutan untuk keturunan orang berdarah biru, kalau di kita semacam keturunan bangsawan begitu..”


Kini Aileen baru tahu sedikit asal usul Dito


Ibu pun mulai mencampur berbagai jenis bahan, mulai dari telur yang sudah dipecahkan, santan kelapa, gula merah yang sudah dihaluskan, Vanili, garam dan gula pasir. lalu mulai di mixer. Ibu terlihat begitu lihai dalam mengerjakan semuanya.


“Ini bi, Sudah bisa di tuang ke atas ketannya” Ibu menyerahkan adonan santan yang sudah di mixer pada pelayan.


“Tuangnya perlahan ya, jangan sampai tumpah” peringat ibu yang tak ingin kuenya jadi jelek karena belepotan apalagi terkena lelehan cairan yang meluber kemana-mana.


“Baik, Nyonya.” Pelayan itu menunduk lalu mulai mengerjakan yang diperintahkan.


Setelah selesai, Ibu lalu ikut bergabung dengan Aileen yang duduk di mini bar. Sementara para pelayan mulai mengambil alih tugasnya. Ada yang bertugas mengukus dan membersihkan sisa-sisa bahan kue yang berserakan.


“Ini, makanlah!” Ibu menyodorkan semangkuk kacang almond ke hadapan Aileen


“Kata teman Ibu, anaknya sering makan kacang Almond untuk promil” katanya sambil yang mulai di samping Aileen.


“Katanya Almond mengandung banyak lemak jenuh, vitamin E dan mineral lainnya, baik untuk meningkatkan kesuburan tubuh yang bisa mendukung sistem reproduksi.. Ibu juga tidak terlalu paham soal kandungan gizi seperti itu. Tapi dicoba saja lah ya, siapa tahu cucu ibu bisa segera hadir..” ujarnya begitu bersemangat membuat Aileen tersedak.

__ADS_1


“Uhuk uhukk..”


“Eh kenapa? Ibu salah ya..” Ibu menuangkan air ke gelas lalu menyodorkan pada menantunya itu.


Aileen menerima air dari ibu, Ia tersenyum sambil meletakkan gelas tersebut. Bukan penjelasan ibu yang salah, semua yang dikatakannya tentang kandungan gizi almond tadi memang benar adanya, Ia sebagai dokter tentu tahu semua itu. Namun yang membuatnya batuk adalah ucapan Ibu yang kelihatan begitu menginginkan cucu.


“Ohiya, kau dan Vir masih sering mengonsumsi kurma muda yang ibu beri waktu itu kan?”


Aileen hanya mengangguk mengerti sambil terus mengunyah kacang Almond tersebut


“Ohiya Eil, bisa jelaskan sekali lagi. siapa yang bikin wajah mu seperti ini?” tanya Ibu, karena memang tadi Aileen tidak begitu menjelaskan secara detail.


Aileen pun kembali menjelaskan masalah itu untuk yang kesekian kalianya. Walaupun enggan, namun tetap harus dilakukan karena tak ingin mengecewakan sang mertua.


“..Apa?? Jadi wanita itu yang menyebabkan wajahmu seperti ini? Sampai membuat mu di Scorsing juga?” Marah sekaligus keterkejutannya menyeruak ke dalam diri, membentuk sebuah emosi yang menggebu saat mendengar penjelasan dari Aileen. Ibu bahkan sampai mengepalkan tangan saking geramnya.


Aileen yang melihat reaksi Ibu mertuanya hanya tersenyum kecil. Ia senang semua orang begitu Care padanya.


Pantas anaknya parah kalau sedang marah, ternyata ibunya begini.. Aileen membatin dalam hati. Reaksi Ibu sama persis seperti raut wajah Vir saat marah. Lagi-lagi ia merindukan Virendra nya tersayang.


Aileeng menghela napas sambil mengangguk mengiyakan.


“Dia memang tidak tahu malu, sama seperti keluarganya..!” cibir Ibu dengan suara hampir tak terdengar


“Maksudnya?”


“Eh, bukan apa-apa sayang..” Ibu salah tingkah, seperti tengah menyembunyikan sesuatu, namun sejurus kemudian berusaha untuk terlihat biasa saja.


“Itu sebabnya ibu tidak pernah menyukai wanita itu.. tingkah lakunya membuktikan jika dia memang tidak pantas bersanding dengan Vir yang juga keras kepala..” Ibu menghela napas sejenak dan nampak berpikir


“Atau jangan bilang mereka memang masih ada hubungan, Hingga wanita gila itu sampai nekat berbuat seperti ini..” Tatap ibu penuh selidik


“Tidak bu, aku percaya sama Vir. mereka sudah tidak punya hubungan apapun” Aileen berusaha meyakinkan.


Tanpa mereka semua tahu, Vir bahkan sudah membalas perlakuan Fia dengan membuatnya luka bahkan sampai menamparnya.


“Nyonya, sepertinya ini sudah matang” ucap seorang pelayan memberi tahu


“Tunggu sebentar ya, ibu lihat dulu.”


Sementara Aileen mulai membuka ponselnya yang berdering menandakan sebuah notifikasi pesan masuk.


Virendra “Kenapa tidak membalas ucapan cintaku?? jangan membuat ku gila karena merindukan mu! I miss you Like Crazy tapi justru kau malah mngabaikan ku🤬...”


Ia tersenyum membaca pesan brutal suaminya, yang melayangkan protes hanya karena pesan cintanya tak dibalas. membuatnya terkekeh geli.


Baru Aileen mengetikan balasan unuk pesan itu, namun Vir sudah melakukan panggilan video terlebih dahulu.


Ia tahu pasti apa yang akan suaminya itu katakan, sudah tentu ia akan marah-marah dan menuntut agar dirinya membalas ungkapan cintanya..


“Sun...!” lirih Vir dengan wajah di tekuk.


Melihat reaksi Vir seperti itu benar-benar di luar dugaan, ia yang mengira jika Vir akan marah-marah namun justru mendapat hal yang berbeda. Vir terlihat sangat menggemaskan dengan mimik wajah merajuk seperti anak kecil.


“Kenapa, moon? katanya sibuk! kok menelepon?” tanya Aileen dengan penuh kelembutan, senyum tersungging tak pernah pudar. Membuat ibu yang mendengarnya hanya menoleh sekilas sambil tersenyum ke arahnya.


“Kau tidak membalas ungkapan cintaku, apa kau tidak tahu, I Miss you more like crazy, tapi kau malah mengabaikannya. huhhh” Vir mendengus kesal dengan penuh penekanan.


“I miss you too.. hehe maaf, tadi aku buru-buru ke kamar mandi sampai lupa membalasnya. Emmmt, Okey, sekarang aku akan bilang I love you Vir, I miss you too like crazy'” ucap Aileen sambil terkekeh gemas.


“I love you too” ucap Vir dengan begitu bersemangat


“I love you three”


“I love you Four”

__ADS_1


“I love you Five..”


“I love you a thousand time..” Mereka saling berbalas kata cinta menggunakan angka tanpa ada yang mau kalah satu sama lain, sebelum akhirnya tertawa bersama menyadari ungkapan berlebihan itu.


“I love you more than anything..” lirih Vir dengan tatapan yang begitu dalam membuat hati Aileen bergetar hebat.


“Vir, Vir. sejak kapan kau jadi pria mellow begini?” timpal Ibu dengan tawa melengking, membuat Vir menyerngit


heran dari balik telepon.


“Apa ibu mendengarnya?” tanya Vir dengan raut wajah merah menahan malu dan Aileen hanya mengangguk menahan tawa.


“Aishhh...”


“Kenapa Vir? Apa kau malu jika Ibu mendengarnya?” kini Ibu telah bergabung di belakang Aileen membuatnya turut bisa melihat wajah sang Putra.


“Anak durhaka, kau pergi tidak berpamitan pada Ibumu”


“Tidak sempat dan aku buru-buru..” sela Vir


“Ck, Alasan..” Cebik Ibu yang mana membuat Vir memutar mata malas


“Yayaya, lagi-lagi ibu tak memercayai ku. Oke fine..” seloroh Vir yang mana membuat Ibu dan Aileen terkekeh geli


...____...


Setelah memutuskan panggilan Video dengan Vir, kini Ibu dan Aileen sudah berjalan ke ruang tamu menemui Biyan yang sepertinya sudah sangat dongkol karena menunggu terlalu lama.


“Tante titip ini untuk Mommymu ya, Biy..” Ibu memberikan satu wadah kue berukuran besar dari bahan plastik kedap udara yang sudah teruji klinis tentunya.


Biyan termangu sejenak sambil melirik ke arah Aileen, seolah mengisyaratkan agar Ibu Vir memberikannya pada Aileen saja.


Namun ibu yang melihat reaksi Biyan cukup paham dan berkata “Aileen tidak pulang, dia akan menginap di sini. Bolehkan? tante pinjam kakaknya satu malam.” ujar Ibu dengan senyuman mengembang


Biyan pun menggaruk tengkuknya sambil menerima wadah itu dari tangan Ibu sembari tersenyum kikuk “Eh, tentu Tante. Kakak kan juga bagian dari keluarga ini..”


“Kau tidak akan menangisiku kan, jika aku tidak ada di rumah..” sahut Aileen yang begitu senang menggoda adiknya, Ia tahu ini kesempatan bagus baginya untuk mengerjai Biyan, sebab sudah tentu ia tidak akan berani menimpali jika dihadapan orang lain. Mommy dan Daddy selalu memperingatinya agar selalu bersikap sopan di depan orang yang lebih dewasa apalagi jika itu orang tua.


Biyan yang tahu Aileen mengerjainya pun hanya menggerutu dalam hati.


“Kalau begitu saya pamit dulu ya tante..” Biyan mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Ibu dan Aileen secara bergantian.


Setelah itu, Biyan pun ke luar dengan diantar oleh seorang pelayan.


“Biy, hubungi aku jika kau kesasar!!”


Biyan yang mendengar ucapan sang kakak hanya berbalik dengan tatapan menghujam.


“Cih, kau pikir aku anak kecil yang tidak tahu teknologi.. Menyebalkan!” cibir Biyan dengan suara hampir tak terdengar.


“Kau ini ada-ada saja!” ucap Ibu yang gemas melihat tingkah menantunya yang ternyata cukup usil.


“Aku sengaja Bu, sikapnya terkadang begitu mirip dengan Vir. keras kepala dan tak mau kalah”


“Ya, anak ibu yang satu itu memang agak keras kepala, sepertinya mereka akan cocok..” ucap Ibu menimpali.


“Kalau begitu istirahatlah,..” Ibu pun mengantar Aileen memuju lantai dua dimana kamar Vir berada.


“Ini kamar suamimu! Ibu tinggal ke bawah dulu, kalau butuh sesuatu panggil pelayan saja ya!” dan Aileen hanya mengangguk mengerti.


Ia lalu menutup pintu kamar tersebut kemudian berjalan masuk. Kamar Vir sangatlah luas. Ini kali pertama Aileen menginjakkan kaki di kamar Vir, Kamar tersebut memiliki interior monokrom dengan kesan maskulin.


dengan ranjang ukuran king Size di tengah ruangan, dan Sofa santai di sisi jendela kaca. Juga meja kerja di sudut ruang dengan jejeran rak buku yang tersusun rapi, didalamnya berjejer banyak piagam penghargaan.


Sementara di ruang sebelah kanan terdapat walk in closed yang didesain semenarik mungkin menggunak sekat dari kaca yang elegan.

__ADS_1


__ADS_2