Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Pary 117


__ADS_3

Grup Chat : Trio Cantika Fams (dr Aileen, drg Risa & Perawat Nita)


Nita : Hey!! tulis Nita membuka obrolan


Night... Ehh, gara-gara membahas hal tidak penting tadi, @drg Risa, kita sampai lupa mengucapkan selamat pada New bumil kita @dr Aileen


Risa : Huaa iya ih.. tanpa menunggu lama, Risa sudah ikut nimbrung di grup chat.


Selamat ya bumil @dr Aileen, semoga aku segera menyusul.


Nita : Aamiin yang paling serius..


Risa : Makasih Nita adikku😘


Nita : Sama-sama kakak pertama🤗. Cukup lama grup chat tersebut hanya diisi oleh dua penghuni Trio Cantika Fams tanpa adanya tanda-tanda online dari sang tokoh utama yang jadi perbincangan.


Risa : Semoga adik bungsu segera bertemu jodoh ya, kalau perlu jangan jauh-jauh, sama sahabatnya Pak Virendra yang tadi saja @Perawat Nita


balas Risa dengan sepuluh emoticon ketawa. Ia memanggil Nita adik bungsu, karena memang Nita lah yang paling muda diantara mereka.


Nita : Garing... balas Nita dengan raut wajah paling ditekuk ketika membalas pesan tersebut


Risa : Ngakak So hard sambil terpingkal-pingkal dan terjungkal-jungkal..


Nita : Hah, sejak kapan kau menjadi pelawak dadakan kak @dr Risa?


Risa : Hahaha sejak melihat mu bertemu dengan Crush mu yang tertunda.. Risa yang terbilang paling serius diantara mereka memang jarang sekali melemparkan candaan seperti ini, mungkin karena umurnya terbilang lebih dewasa, jadi membuatnya terkesan serius.


Sementara itu, Aileen yang baru selesai makan malam langsung menuju kamar, Ia ke luar dari kamar mandi menggunakan kaos hitam dan celana hotpants karet. Ia berdiri di depan meja rias sambil memutar-mutar badannya di depan cermin.


Di elusnya perut yang masih tampak datar namun mulai kencang itu.


“Sehat-sehat di dalam ya anak Mommy..”


Aileen mencium telapak tangannya lalu mendaratkan ke perutnya. Saat mendengar suara notifikasi beruntun dari ponselnya yang sedang di charger di atas nakas, Ia pun langsung melangkahkan kaki ke sisi kanan tempat tidur lalu duduk di sana.


Di raihnya ponsel tersebut lalu ia mulai membuka satu persatu notifikasi yang masuk.


Seulas senyum merekah tersungging dari bibirnya, demi membaca isi pesan grup dari Trio Cantika Fams. Ia pun mulai mengetikkan balasannya.


Grup Chat.


Aileen : Terimakasih do'anya..


Aamiin, semoga @dr Risa segera menyusul.. dan @perawat Nita segera diberi jodoh, kalau perlu dengan si makhluk tak beretika..


Tanpa menunggu lama, grup chat yang sempat sepi itu kembali ramai ketika si tokoh utama yang dicari sudah muncul ke permukaan.


Nita : Hiss, dua kakak-kakak ini sungguh senang membully ku..


Risa : Ututu Si yang paling merasa terbully...


..........


Notifikasi ponsel itu terus berbunyi seiring dengan ketikan balasan yang Aileen lakukan.


Sambil bersandar di kepala ranjang, si ibu hamil itu terlihat mulai menguap, bersamaan dengan munculnya seseorang dari balik pintu yang tersenyum sambil membawa segelas susu.


“Sebelum tidur minum ini dulu ya..” Vir berjalan mendekat ke sisi kanan ranjang, tempat dimana Aileen duduk.


Aileen tersenyum saat melihat Vir yang sejak pulang dari rumah sakit, seketika berubah menjadi suami siaga. Bahkan ia mau repot-repot mempersiapkan makan malam yang sempat dibeli saat perjalanan pulang tadi. Setelah makan malam pun, ia sama sekali tak mengizinkannya menyentuh pekerjaan apapun. Suami Arogannya itu langsung mengantarnya ke kamar, sedangkan ia malah kembali untuk menyelesaikan cucian piring.


“Mulai sekarang kau tidak boleh melakukan aktivitas berlebih, bahkan bila perlu kita akan cari pembantu..” begitu kata Vir memberitahu, namun Aileen sama sekali tak ingin memakai jasa ART, dan itu membuat Vir sedikit kewalahan. Karena sudah tentu, dia lah yang harus turun tangan mengerjakan semuanya sebab tak ingin Aileen kelelahan.


Setelah menghela napas, Vir pun berkata “Oke, tidak masalah.. Aku akan mengurangi jam kerjaku demi kalian..”

__ADS_1


Aileen tersenyum demi mengingat ucapan suaminya tadi saat mengantarnya ke kamar. Kini Vir, si suami siaganya sudah duduk di hadapannya.


“Dapat darimana?”


“Apa?" tanya Vir bingung


“Itu..” tunjuknya pada susu yang Vir bawa “Perasaan tadi Kita tidak sempat singgah di supermarket untuk beli susu..?” Aileen mengedikkan bahu, sebab saat pulang tadi mereka sama sekali tak singgah untuk membeli apapun, apalagi susu.


“Oh..” Vir tersenyum sambil mengangkat gelas yang dipegangnya “Ini, tadi aku cod-an. Kebetulan ada teman lama yang kerja sebagai Apoteker, jadi aku minta tolong padanya.” Vir mengangsurkan gelas susu rasa vanila itu pada mulut sang itri.


Aileen lalu meneguknya hingga tandas, hanya menyisakan setetes yang tersisa pada gelas.


“Daddynya juga harus sehat..” Vir menuangkan tetesan terakhir susu itu pada tenggorokannya, membuat Aileen terkekeh sambil memukul pelan lengannya.


“Bagaimana cuci piring perdananya, lancar?” Aileen kembali mencharger ponselnya


“Yaa lumayan.. ada beberapa yang pecah..” Vir terkekeh geli demi mengingat proses cuci piring yang berlangsung alot.


Aileen menautkan alis dengan kening berkerut tanda terkejut saat mendengar penuturan sang suami “Tidak bisa kubayangkan jika setiap hari kau yang mencucinya, mungkin semua peralatan makan akan habis pecah..”


“Namanya juga perdana, percobaan pertama pasti banyak yang pecah.." sahut Vir membela diri “Jika sudah biasa pasti akan terasa mudah..”


Sungguh kebiasaan ngeles seperti bajaj-nya tak pernah hilang.


“Uhh, Makin cinta.." Aileen menepuk pipi Vir lembut


Cup... satu kecupan mendarat di kening Aileen yang berakhir elusan lembut pada pipinya “Aku simpan ini dulu, sekalian mau ambil air minum untuk mu..”


Vir lalu beranjak ke luar.


Setelah beberapa saat, ia pun kembali sambil membawa segelas air minum di tangannya, lalu meletakkan di atas nakas.


Kemudian mulai mematikan saklar lampu yang menempel di dinding, suasana kamar berubah menjadi gelap. Hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu nakas.


Kegiatannya sama sekali tak terlepas dari pantauan sang istri. Setelah itu, ia pun ikut bergabung ke ranjang dan menarik Aileen ke dalam pelukannya.


Namun Vir kembali beranjak membuat Aileen mengerutkan keningnya, pasalnya ia yang sudah merasa nyaman harus melepaskan Vir ketika pria itu kembali duduk.


Namun tak disangka, Vir malah melakukan hal tak terduga. Ia mengarahkan wajahnya pada perut Aileen, dikecupnya perut datar itu, yang mana membuat Aileen terharu.


“Sehat-sehat di dalam ya nak, jangan menyusahkan Mommy..” katanya sambil terus mengelus lalu mengecupnya kembali.


“Terimakasih daddy...” sahut Aileen sambil menirukan suara anak kecil seperti yang dr Wandi lakukan sore tadi, membuatnya langsung menghentikan aksinya dan menoleh ke arah Aileen.


“Shiit.. kenapa menirukan dokter sialan itu?” sambil menggerutu, Vir kembali bersandar dan menarik Aileen ke dalam dekapannya


“Menirukan apa?” tanya Aileen yang tak mengerti sambil merebahkan kepalanya di atas lengan Vir.


“Tidak ada, tidur lah! Ibu hamil tidak boleh begadang...” Vir menarik wajah Aileen hingga mendongak menatapnya, lalu dikecupnya seluruh wajah itu, membuat si empunya tersenyum pasrah sambil memeluk erat tubuhnya.


“Terimakasih sudah menyambut kedatanganku dengan hadiah yang luar biasa.. Aku sangat bahagia..” dengan mata terpejam, ia menempelkan wajahnya di rambut panjang sang istri.


Sementara Aileen, sungguh ia tak mampu lagi berkata-kata karena diserang kantuk sejak tadi. Namun bisa dipastikan, jika wanita hamil itu begitu bahagia dengan perlakuan suami tercinta yang dipenuhi dengan sejuta perhatian.


Yang pastinya ia begitu bahagia, terlebih lagi dengan kehadiran malaikat kecil dalam rahimnya. Buah cintanya dengan Virendra, yang akan menjadi pengikat kuat hubungan mereka.


“Moon..!” lirihnya, entah seperti apa ekspresinya. Terbelalak kah atau kah sudah terpejam? tidak ada yang tahu. Sebab wajah ibu hamil itu benar-benar menempel tanpa celah pada dada bidang Vir.


“Yaa.. ” dengan mata terpejam Vir kembali mendaratkan kecupan di puncak kepala Aileen “Ada apa My sun? Apa butuh sesuatu?” tangannya terus tergerak mengusap punggung sang istri, berusaha memberikan kenyamanan dengan sentuhan lembut.


“Aku ingin dinyanyikan..”


Seketika Vir mengerjapkan mata saat mendengar ucapan sang istri. Sudut bibir itu tertarik membentuk seulas senyuman. Ia tak menyangka Aileen-nya akan kembali minta dinyanyikan seperti beberapa malam yang lalu saat ia masih di Korea.


“Moon, apa kau sudah tidur?" tanya Aileen saat tak mendengar jawaban dari Virendra.

__ADS_1


“Mau lagu apa?” sahut Vir, sepertinya ia akan menuruti keinginannya. Ia akan menyanyikan lagu penghantar tidur untuk istrinya tercinta.


“Apa saja...”


“Lagu indo, western, jazz, campur sari atau K-Pop atau mau dangdut mungkin?” suara Vir terdengar sedang bercanda


“Ck, Aku bilang apa saja moon.. Apa Saja berarti terserah, kenapa masih bertanya padaku, Huh.. Tak perlu memamerkan keahlian mu denga memamerkan semua jenis lagu yang kau tahu..!” wanita hamil itu berdecak kesal, sungguh ia begitu sensitif.


“Jangan merusak moodku!” sambungnya lagi memperingati


You know lah, Ibu hamil sangat sensitif melebihi panta* bayi.


Cup..


Lagi-lagi satu kecupan mendarat di atas rambut hitam itu sebelum akhirnya Vir berkata “Ah, baiklah.. Aku akan menyanyi untukmu”


“Bumil jangan marah-marah.. Nanti kamu lekas tua...”


Bugh.... Baru Vir mulai bersenandung, Aileen sudah mendaratkan kepalan tangannya pada lengannya, membuat Vir terkekeh geli.


Kenapa wanita hamil begitu sensitif? Sudah seperti induk ayam yang baru selesai mengeram.. Sangat galak!


“Ok, kita mulai....


....I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason


There goes my hands shaking


And you are the reason


My heart keeps bleeding


I need you now....


(Calum Scott~You Are The Reason)


...Meski waktu datang


dan berlalu sampai kau tiada bertahan


Semua takkan mampu mengubahku


Hanyalah kau yang ada relungku


Hanyalah dirimu


Mampu membuatku


Jatuh dan mencinta


Kau bukan hanya sekedar indah


Kau tak akan terganti...


(Marcel~Takkan Terganti)

__ADS_1


Suara Vir kian terdengar sayu setelah menyanyikan beberapa lagu. Sementara suara hembusan napas si bumil sudah terdengar begitu teratur, menandakan ia sudah berlayar jauh ke alam mimpi.


Tidak lama setelah itu, suara Vir pun perlahan mulai menghilang seperti radio yang kehilangan siarannya karena tak memiliki jaringan, suaranya kian redup. Bahkan kini suara merdu lantunan lagu itu sudah berubah menjadi dengkuran halus yang menandakan jika ia baru saja berlayar menyusul sang istri dengan tangan saling melingkar mesra di tubuh satu sama lain.


__ADS_2