Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 6


__ADS_3

"Bagaimana hubungan mu dengan Aileen?" tanya Dito, yang tengah berjalan bersama Vir


"Buruk..!" ketus Vir.


Ia dan Dito baru saja mengadakan rapat dengan semua staff hotel.


Sebagai seorang CEO yang merangkap sebagai GM (General Manager) Virendra merupakan pimpinan yang sangat disegani karena berdedikasi tinggi dan sangat disiplin. Sehingga para bawahannya sangat segan dan hormat padanya. Kecuali Dito, tentunya karena ia bukanlah asisten biasa, melainkan asisten yang merangkap sekaligus seorang sahabat.


"Kenapa buruk? Apa kau sudah merasakan malam pertama.." tanyanya penasaran "Rasanya seperti apa? aku penasaran sekali" Celetuknya, membuat Vir melemparkan tatapan mengintimidasi yang membuatnya bungkam seketika


"Diamlah, jangan banyak tanya! bagaimana jika ada karyawan yang dengar. bisa-bisa wibawa ku hilang karena pertanyaan konyol mu itu!!"


Dito hanya memutar bola mata malas, sungguh Vir sangat pandai mencari alasan. Lagi pula pertanyaannya sangatlah wajar, bukankah semua orang yang menikah akan mengalami itu. Pikir Dito


Di dalam Lift, saat hendak menuju ruangannya, tiba-tiba handphone Vir Berdering.


Derggt derggg, dergtt...


"Bisakah kau ke mansion sekarang? ada yang Ayah dan Ibu ingin katakan..." ucap seorang wanita dari balik telepon


Vir hanya diam, menanti kelanjutan ucapan ibunya


"Bawa menantu ibu juga ya! ibu tunggu di rumah"


Tuut..


Panggilan terputus.


"Shiit... Kenapa mereka menjadi hangat begini pada ku??" Lirih Vir


"Itu artinya Aileen membawa perubahan besar antara hubungan mu dengan Ayah dan Ibu" Celetuk Dito.


Vir berbalik menatap sahabatnya yang sangat cerewet itu, sudah pasti ia menguping pembicaraan di telepon tadi sehingga ia bisa tahu apa yang dirinya maksud.


"Kau benar Dit, aku rasa mereka jadi lebih perhatian setelah aku menyetujui perjodohan ini..." Vir menarik nafas dalam "Baiklah permainan baru akan dimulai" Vir tersenyum licik, entah apa yang ia rencanakan. Hanya dirinya dan Tuhan lah yang tahu


Ting..


pintu lift terbuka


"Keluar lah, Aku harus ke mansion dulu. kerjakan semua berkas yang belum tuntas" Vir mendorong Dito hingga ke luar dari dalam lift


"Cih, kau ini kasar sekali!" ucap Dito berbalik, namun pintuk Lift sudah tertutup dan hanya menyisakan sedikit cela, Ia bisa melihat seringai licik dari wajah sahabatnya


"Huhh dia tersenyum licik seperti joker, entah apalagi yang ia rencanakan" Dito menggeleng lalu melenggang pergi ke ruangannya


***


Sementara itu, di depan sebuah Rumah sakit terlihat Vir sedang berdiri bersandar dengan gaya cool di mobilnya dengan kaca mata yang bertengger di hidung bak prosotan itu. Entah siapa yang ia tunggu


Namun selang beberapa detik. Nampak dokter cantik berjalan ke arahnya, Dokter Aileen.


Entah ada angin apa sehingga Vir menjemput wanita yang katanya sangat dibencinya itu.


"Ada apa?" tanya Aileen dingin. setelah mendapat pesan bahwa Vir menunggunya di depan ia pun bergegas menemui suaminya yang mengirim pesan bernada ancaman dan paksaan, Bagaimana tidak ia mengirim pesan yang berbunyi


"Cepat Keluar, aku ada di depan!! jika tidak akan ku hancurkan rumah sakit ini" katanya dalam pesan itu, membuat Aileen bergidik ngeri membayangkan hal itu terjadi.

__ADS_1


Walaupun tidak tertera nama si pengirim, karena sepertinya itu nomor baru. Namun dari photo profil Whastup nya ia bisa melihat siapa si pengirim pesan itu, Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Virendra suaminya si makhluk aneh.


Vir membuka kaca matanya, ia tersenyum namun auranya seperti sedang mengintimidasi.


"Ikut aku ke mansion orang tuaku" katanya to the point


Aileen tersenyum, ternyata pria itu datang hanya ingin mengajaknya bertemu sang mertua, Ia merasa sedikit senang.


"Kau jangan besar kepala dulu, Aku mengajak mu karena permintaan mereka. Dan ingat di sana kau harus sedikit berakting agar mereka tak curiga bahwa hubungan kita tidak baik-baik saja" sahut Virendra yang tahu isi pikiran Aileen.


"Aku tidak merasa hubungan kita tidak baik"


Vir memicingkan matanya seperti tatapan Elang yang siap menerkam mangsanya.


"Jangan menjawab ku, cukup lakukan apa yang aku katakan" Virendra dibuat kesal oleh Aileen yang selalu saja menjawab setiap perkataannya


Yaa terserah kau saja, aku akan menuruti semua keinginan dan permainan mu yang mulia Raja...


"Ayo cepat kenapa kau malah mematung di sini. Aku paling tak suka dibuat menunggu" ketus Vir


"Hmmmnt, baiklah aku ambil tas dulu" Aileen pun kembali ke dalam untuk mengambil tasnya


Vir terus melempar tatapan tak suka pada Aileen.


Sepertinya dia cukup keras kepala.. Huhhh its oke, Aku akan lebih keras lagi agar kau patuh dan aku akan dengan mudah membuat mu menderita!


"Mau kemana dok?" tanya seorang rekan medis


"Ada urusan mendadak, kalau ada pasien langsung hubungi aku" Aileen tersenyum ramah


"Oke sip..Take Care!"


Sesampainya di luar mereka langsung menuju ke mansion orang tua Virendra.


Sepanjang perjalanan mereka sama sekali tak terlibat obrolan apapun. Tentu, memangnya apa yang ingin diobrolkan jika Vir terlihat jelas memasang dinding pembatas di antara mereka.


Setelah sampai, mereka pun langsung turun dari mobil, di depan mansion terlihat Ayah, Ibu dan Vino yang tengah menunggu kedatangan mereka


"Berpura-pura lah, itu jauh lebih baik!" bisk Vir pada Aileen.


Ia lalu menggenggam tangan wanita itu dan berjalan dengan penuh senyuman


Hal itu seketika membuat Aileen gugup,


sambil berjalan ia menatap Vir yang tersenyum. Meskipun ia bisa melihat senyuman itu penuh dengan kepalsuan, namun entah mengapa ia malah merasakan desiran aneh yang bergejolak dalam hatinya, Ia terpesona melihat senyum suaminya yang begitu manis dan menggoda.


Namun secepat mungkin ia tersadar dan menepis pikiran itu. Ia tahu batasan, bahwa ia dan Vir hanyalah sebuah ketidak mungkin yang hanya kebetulan dipersatukan oleh takdir yang hanya bersifat sementara. Jika pria itu memasang dinding pembatas maka ia juga harus melakukan itu jika tak ingin tersakiti.


*Fokus lah Eil, jangan mudah goyah! ingat kalian adalah ketidak mungkinan yang hanya kebetulan menyatu, kalian hanya sesaat jadi jangan berharap lebih..! pikirnya


Dasar bodoh.! jangan membuat batasan seperti ini!! kalian Sah dimata agama dan hukum, jadi perjuangkan lah cinta itu.. suara hati Aileen.


Tidak, jangan dengarkan!


perjuangkan!


Tidak, jangan!

__ADS_1


Perjuangkan bodoh*..


"Sayang, Kami senang sekali kalian bisa datang kemari"


Seketika suara Melinda membuyarkan lamunan Aileen yang sedang berperang batin antara hati dan pikirannya.


Vir menyenggol bahu Aileen, membuat wanita itu sontak gelagapan


"E-eh, Tante.. Maaf tadi aku melamun jadi tak mendengar ucapan tante.." Aileen tersenyum kikuk sambil menatap Mertuanya secara bergantian. Disaat menatap Vir, pria itu malah sedikit melototinya.


"Lho kok tante, Harusnya kau memanggilku ibu. Kau anak kami sekarang" tersenyum ramah seraya mengusap lembut pipi menantunya


"Benar Eil, sekarang kau bagian dari keluarga kami. Lagi pula apa yang kau pikirkan?" sahut Ayah Hans


"Ahh itu tadi aku hanya tidak menyangka saja ternyata sekarang aku punya keluarga baru. Hehehe"


Cih selain pandai membantah ternyata dia juga pandai berakting..


"Kenapa malah mengobrol seperti ini, Ayo masuk, ngobrolnya di dalam saja!" sahut Vino yang sepertinya lelah berdiri


"Ah iya, benar sekali kenapa jadi berdiri di sini, Ayo Vir ajak istri mu masuk" kata Ayah


"Ayo sayang bawa istri mu masuk, dia pasti lelah kan karena harus mengurus pasien di rumah sakit" Ibu merangkul Vir dan Aileen untuk masuk


Cihh pencitraan, bahkan kalian tak pernah semanis ini..Apa karena aku menuruti kalian menikahi wanita ini jadi kalian begitu memuja ku..


Di ruang tamu..


Lagi-lagi detak jantung Aileen berpacu begitu kencang, Entah mengapa rasanya sangat aneh seperti ini jika berada di samping pria Arogan yang berstatus suaminya.


Aihhh kenapa dada ku sesak begini, dan kenapa jantungku berdetak sangat kencang. Apa aku sudah tidak sehat? Bukankah aku selalu menerapkan pola hidup sehat tapi kenapa jantungku seperti ini..LIrih Aileen dalam hati


"Ayo adik ipar di minum" Vino mempersilahkan sambil menyodorkan secangkir teh pada Aileen


"Ah iya, tapi..."


Belum sempat Aileen menyelesaikan ucapannya, lagi-lagi Vir malah menyela ucapannya.


"Sini biar aku" Vir meraih cangkir teh dari tangan Vino dan melemparkan tatapan peperangan


"Ayo minumlah" Vir menyodorkan cangkir teh itu pada Aileen


"Ah maafkan aku, Sepertinya adik ku sangat menyukai mu Eil! sampai - sampai dia cemburu seperti ini" ejek Vino, yang tahu betul Vir sedang berpura-pura


"Uhukkk,, Uhukkk..." Aileen terbatuk mendengar ucapan Vino


"Astaga Eil, apa kau tidak apa-apa nak?" Melinda memberikan tisu pada Aileen


"Berhentilah berbicara Vino, kau membuat menantuku terbatuk" timpal Ayah


"Lagi pula, wajar saja Vir cemburu! tentu dia sangat mencintai istrinya yang sempurna ini" Sambung Ayah


Virendra menghembuskan nafas kasar. Ia dibuat jengah dengan drama yang terjadi.


Vir menatap kakaknya dengan tatapan seolah mengatakan "Berhentilah mengolok ku"


Namun bukannya takut, mendapat tatapan seperti itu Vino justru tersenyum seolah mengatakan "Aku tidak mengolok mu, kelihatannya kau benar-benar cemburu, sepertinya kau sangat mencintai istri mu"

__ADS_1


Dan begitu lah seterusnya, mereka saling melempar tatapan penuh arti. Sungguh keren bukan? dua saudara aneh yang bisa tahu isi hati satu sama lain.


__ADS_2