
“Hay cantik, kenapa sendiri? Aku temani ya..!”
Aileen yang tengah duduk sambil memerhatikan sekitar, seketika langsung menoleh ke sumber suara yang berada tepat di sisi kanannya.
Matanya membulat seketika saat melihat siapa pria yang menyapanya itu.
“Niko...!”
Ya, pria yang menyapanya itu adalah Niko mantan kekasihnya beberapa tahun yang lalu. Ia dan Niko putus dengan cara tidak baik. Sebab saat itu, Niko mengkhianati hubungannya dengan alasan Aileen tak mau diajak melakukan hal lebih. Dan ketika mendapati pengkhianatan Niko. Aileen ingin mengakhiri hubungan tersebut, namun Niko justru bertindak di luar nalar agar Aileen tetap menjadi miliknya. Ya dia hampir menodainya, namun beruntung saat itu ada Zaky yang menyelamatkannya.
Aileen masih menatap Niko dengan tatapan yang sulit diartikan, Ia tak menyangka jika mantannya itu juga hadir di sana. Entah darimana datangnya. Namun ia sudah menduga dari awal, jika Niko yang sering ia dengar dari cerita Dito adalah Niko yang sama dengan masalalunya. Kini ia sudah menemukan jawaban dari satu hal yang begitu ingin ia ketahui.
“Kenapa, kaget?” tanya Niko lagi dengan seringain di bibirr tipisnya
Aileen masih tetap diam, sama sekali tak bergeming. Setelah sekian lama tak bertemu dengan pria itu, sama sekali tak membuat luka yang pernah ia torehkan hilang begitu saja. Rasanya ia begitu jijik jika mengingat kelakuan bejat Niko yang suka berselingkuh bahkan hampir menodainya. Apalagi jika mengingat ucapan Dito, Jika Niko lah yang meraup hampir separuh dari uang Investasi yang Vir kumpulkan untuk hotel, membuat rasa kesalnya pada Niko kian menjadi.
“Datang dengan siapa?” tanya Niko lagi
“Bukan urusanmu..!” ketus Aileen tak suka
“Wow.." Niko bertepuk tangan “Lama tidak bertemu ternyata kau makin galak.. Tapi, tetap cantik! bahkan makin cantik..” Niko hampir menyentuh wajah Aileen, namun segera ditepis olehnya.
“Jangan macam-macam, Aku sudah menikah..!” ucapan Aileen itu kian membuat Niko tersenyum.
“I know, aku pernah mendengarnya..” Niko menyandarkan tubuhnya bertumpu pada meja, kedua tangannya terlipat di dada sambil menatap Aileen secara intens.
“Sayang sekali ya kita tidak berjodoh.. Hmmm, aku penasaran siapan pria beruntung yang berhasil mendapatkan princess nya Daddy Alfin..”
“Niko...!”sentak Aileen tak terima.
Bukan tanpa sebab, ia tahu betul jika Niko tidak sedang memuji dia dan Daddy. Sedari dulu Niko memang selalu saja sensitif jika menyangkut keluarganya, terlebih lagi ketika masih menjalin hubungan, Daddy Al terbilang begitu protektif dalam menjaga anak gadisnya, hal itu tentu membuat Niko jengah bahkan sering mengatai Aileen hanya anak orang kaya manja yang selalu bergantung dan mengadu pada keluarga. Hal itu membuatnya hancur, orang yang pada saat itu ia cintai justru menjadi manusia toxic baginya, bahkan membuatnya menutup diri tanpa melibatkan keluarganya dalam segala hal yang ia hadapi. Bahkan masalah saat Niko hampir menodainya tak ada satupun keluarganya yang tahu, hanya Zaky lah yang mengetahui semuanya.
Niko terkekeh melihat reaksi Aileen yang masih sama seperti dulu.
“Lucu sekali, Ah ini membuat ku semakin merindukan mu, Eil...” Niko lagi-lagi hendak menyentuh pipi Aileen.
...***...
Sementara itu, Vir yang tengah sibuk mengambil makanan tak henti-hentinya melirik sang istri.
Aileen terlihat menoleh ke kiri dan kanan, ia terlihat begitu menggemaskan bagi Vir. Hal itu membuatnya tersenyum dan berucap dalam hati jika ia begitu mencintai Istrinya itu.
Ia pun kembali fokus mengambil makanan sambil sesekali berbincang dengan teman-teman yang juga berada di meja prasmanan. Namun ketika ia kembali menoleh, Vir melihat Aileen berdiri dengan seseorang yang juga dikenalnya. Orang yang begitu ia hindari justru tengah bersama istrinya. Darahnya kian mendidih ketika ia melihat pria itu hendak menyentuh wajah Aileennya. Hal itu membuatnya murka, ia lalu kembali meletakkan makanan tadi dan dengan langkah gontai ia segera menghampiri mereka.
__ADS_1
“Sedari dulu kau memang sudah cantik...!” Vir bisa mendengar ucapan Niko, ia juga bisa melihat raut wajah istrinya yang risih dengan perlakuan Niko tersebut.
Namun, sebelum Aileen menepisnya, Niko sudah merasakan lengannya ditarik dan seseorang melayangkan bogeman pada wajahnya.
Bughh...
“Brengse*!! Jangan sentuh istriku...”
Tentu Niko tak bisa melihat siapa yang menghajarnya, namun suara tersebut sangat ia kenal. Bogeman itu membuat Niko terhempas ke lantai sambil memegangi tulang hidungnya yang terasa remuk.
“Bangsa*.. Beraninya kau!!” umpat Niko dengan mata terpejam, pandangannya masih gelap karena bogeman yang menghantam telak pada tulang hidungnya bahkan sedikit mengeluarkan cairan merah segar.
“Kau yang bangsat An*ing..!
Bugh sekali lagi Vir menghadiahkan bogeman dan menarik kerah kemaja Niko, hingga membuat pria itu berdiri.
...**...
Dito, ia masih membicarakan hal seru ketika ia mendengar suara keributan. Bahkan beberapa orang terlihat mulai berkerumun ke arah tempat yang begitu familiar baginya. Ya, tempat dimana Aileen dan Virendra duduk.
Perasaannya sudah sangat tak karuan, seperti mendorongnya untuk segera menuju kerumunan tersebut. Dan benar saja, belum sempat ia melangkah. Matanya sudah menangkap dua sosok yang dikenalnya saling mencengkram kerah baju satu sama lain.
“Aishh, sialan!!” Dito mengutuki dirinya yang merasa kecolongan.
Dito datang tepat waktu ketika Vir lagi-lagi hampir melayangkan bogemnannya, ia segera masuk di tengah-tengah lalu mendorong tubuh sahabatnya, hingga membuat bogeman Vir meleset ke wajahnya.
Bugh...
“Hentikan, Vir..!” ucap Dito sambil menahan rasa sakit ditulang pelipisnya yang terasa nyeri.
Semua orang yang berkerumun mulai berbisik. Menanyakan berbagai hal, Apa? kenapa? dan Bagaimana hal ini bisa terjadi? Yang mereka tahu, tiga pria yang tengah berseteru ini adalah tiga orang yang sudah bersahabat sejak lama, namun kenapa seperti ini. Mereka pun berusaha menerka-nerka.
“Apa yang terjadi?”
“Kenapa bertengkar?”
“Iya, bukankah mereka bertiga sahabat sejati?”
“Sepertinya banyak hal yang terlewatkan dan kita tidak mengetahuinya..”
Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang mereka utarakan.
“Vir..” Aileen dengan wajah piasnya berusaha menenangkan sang suami, ia mengelus punggung tegaknya dengan ekspresi yang hampir menangis.
__ADS_1
Vir menoleh, ia menatap istrinya dengan tatapan yang seolah mengisyaratkan jika dirinya baik-baik saja.
Bahkan wajah Vir pun sedikit terluka karena balasan bogeman dari Niko.
“Dit, kenapa dia ada di sini?” dengan wajah datar Vir terus menatap Niko yang terlihat mengusap darah di hidungnya.
Dito menggeleng, namun sejurus kemudian Niko justru tersenyum penuh arti.
“Kenapa?” tanya Niko dengan angkuhnya
“Kau ingin tahu kenapa? jawabannya adalah karena Aku lah yang mengatur reuni ini!”
Deg...
Dito dan Virendra begitu terkejut mendengar penuturan mantan sahabatnya itu.
“Karena apa? karena aku ingin merayakan hubungan barumu dengan dia.. Selain itu, aku juga merindukan kalian..” lagi-lagi Niko hanya terkekeh dengan senyum mengejek. Merasa dirinya telah berhasil membawa Vir dan Dito ke dalam perangkapnya. Entah apa yang ia rencanakan.
“Brengsek..!" Umpat Vir dan Dito secara bersamaan, namun Dito tetap berusaha menahan tubuh Vir yang terus memberontak ingin menerjang Niko.
“Hahaha. Santai saja Vir, Dit..! Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada Vir yang berhasil menikahi mantanku..” Niko melirik Aileen dengan senyum menggoda.
Vir dan Dito yang mendengar itu sama sekali tak mengerti, dengan wajah mengkerut ia menatap Aileen dan Niko secara bergantian.
Lagi-lagi Niko hanya tersenyum, dengan pongahnya ia membusungkan dadanya dan berbisik pada Dito dan Virendra.
“Sepertinya kau begitu senang mengoleksi mantanku! Kau menikahi mantanku, dia juga bekasku!!” hardik Niko sambil menunjuk Aileen.
Hal itu tentu membuat Vir mengamuk dan berteriak kesetan.
“Jaga bicara mu an*ing..!!! Dia bukan bekas, dia istriku!!” Vir benar-benar tak terima Aileen dikatakan bekas.
“Lepaskan aku Dit! biarkan ku robek mulut sampahnya! Selain koru*tor dia juga bermulut sampah!!”
Namun Niko hanya tersenyum mendengarnya sambil berkata “Nikmatilah pesta ini! Aku akan pergi dan membiarkan kalian bersenang-senang!”
Ia melangkah meninggalkan kerumunan, dengan seribu tanya yang masih menghias di kepala para teman-teman yang hadir.
Saat di ambang pintu, Niko kembali menoleh sambil mengangkat dua jari tengahnya mengudara.
“Ardito dan Virendra, FU*K!!”
“Brengsek! ..”
__ADS_1
“Fuck off!!" teriak Dito sambil masih berusaha menenangkan Vir