
Vir melemparkan tatapan tak suka saat melihat dokter Wandi tersenyum ke arahnya.
Perasaan tak karuan itu kian mencuat bersamaan dengan detak jantung yang semakin berpacu kencang begitu mendengar sang dokter mulai berbicara pada Aileen.
Bahkan mulai menanyakan hal-hal yang membuat telinganya panas dan matanya melotot seperti hendak meloncat ke luar.
“Tekanan darah dan Hb nya normal ya..” kata dr Wandi saat membaca satu persatu keterangan yang perawat tadi berikan
“Masih ingat HPHT-nya kapan?”
Aileen terdiam, ia berusaha mengingat kapan pertama dan terakhirnya haid. “Satu bulan yang lalu, tanggal 8 sampai 14.."
Dasar Virendra nya saja yang berlebihan, padahal itu merupakan pertanyaan yang wajar. Dimanapun ia melakukan pemeriksaan tentu itu akan menjadi pertanyaan nomor satu yang seorang obgyn tanyakan pada pasiennya.
“Oke..” dr Wandi terlihat menulis info yang Aileen berikan “Kita langsung USG dulu ya..” ia beranjak lalu menyalakan alat USG yang berada tepat di samping ranjang pemeriksaan.
“Ayo...” Aileen bangkit dari duduknya sambil menarik tangan Vir menuju ranjang dan membantunya mulai berbaring di sana.
“Tunggu sebentar..” dr Wandi tersenyum ke arah Aileen dan Vir yang sedang berdiri di sisi ranjang.
Tanpa menyahut, Vir hanya melemparkan tatapan mendelik pada dr Wandi yang mana membuat dr tersebut tersenyum kikuk sambil mempersiapkan alat-alat USG yang akan di gunakan.
“Bajunya bisa diangkat sedikit..”
Dokter Wandi tidak sedang meminta izin melainkan sedang memberi perintah. Vir yang tak terima, secara refleks langsung melototkan mata pada dr Wandi dengan raut wajah yang mulai memerah.
Sementara Aileen mulai menyibakkan bajunya hingga ke bawah dadanya. Tentu ia tahu apa yang harus dilakukan bukan?
“Jangan terlalu tinggi..” Vir mengarahkan tangannya untuk menahan agar Aileen tak mengangkat hingga menampakkan gunung terindah miliknya yang sudah tentu hanya dia lah yang boleh melihatnya.
Bukannya bertingkah konyol ataupun bodoh, hanya saja nalurinya sebagai seorang suami seolah memberontak. Yang mengatakan itu adalah dr Wandi, meski ia sendiri tahu jika begitulah prosedur yang harus dilakukan. Namun mengingat kesan yang pernah dr Wandi berikan sebelumnya, membuat ia tak rela jika dokter tersebut yang menyentuh istrinya apa lagi sampai melihat tubuh mulus Aileen nya tercinta.
“Itu kenapa pegang-pegang?? kau...!” teriaknya saat melihat dokter Wandi mulai mengoleskan gel pelumat pada perut Aileen.
“Eh..” dr Wandi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, suasana canggung yang Vir ciptakan membuatnya sedikit gerogi.
Aileen yang melihat tingkah berlebihan Vir hanya terkekeh geli.
“Moon, No.!” Aileen menggeleng, Ia tak ingin sikap Vir, menghambat semuanya
“prosedurnya memang begini” sambil menggenggam tangan suaminya, ia mencoba memberi pengertian
“Memangnya kau bisa melakukannya sendiri?” Aileen mengulum senyumnya
Vir menghela napas
“Shiitt..” umpatnya sambil mengusap wajah kasar saat melihat tatapan memelas sang istri.
Dengan berat hati, ia mengisyaratkan dengan tangannya agar dr Wandi segera melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Dengan tawa tertahan, Aileen mengulum senyum melihat tingkah konyol suaminya itu.
..._____...
Di Angkasa Land Hotel, tepatnya di salah satu Hall-nya. Ruangan besar itu kelihatan begitu ramai dengan para hadirin berseragam hitam putih yang baru saja mengikuti acara penerimaan mahasiswa magang. Mereka semua adalah para mahasiswa yang diterima magang di hotel itu.
Sementara di ujung panggung, terlihat seorang pria sedang berdiri memantau acara yang masih berlanjut setelah ia memberikan sedikit sambutan.
Pria itu adalah Dito, ia berdiri sambil mengecek ponselnya yang baru saja mendapat notifikasi pesan masuk.
Virendra : Kau sedang apa?
Begitu ia membaca isi pesan yang masuk lalu segera mengetik pesan balasan untuk sahabatnya itu.
Ardito : Tidak ada, baru selesai mengikuti acara penerimaan mahasiswa magang. Kenapa?
Virendra : Oh
“Cih, kebiasaan sekali!!” Dito berdecih saat Vir hanya membalas pesannya hanya dengan kata oh menyebalkan.
Ardito : Oh ah oh ah. Kalau hanya ingin ber oh, lebih baik jangan dibalas.
Balasnya begitu kesal menggunakan pesan suara.
Virendra : kemarilah, temuai aku di rumah sakit Arga Medika . Tunggu di depan ruangan dr Wandika Kusuma Sp.O.G
__ADS_1
Ardito : kau di dokter kandungan?? Aileen hamil? Dito memberikan pertanyaan beruntun pada pesannya
Virendra : Jangan banyak tanya, cepat kemari.. Ditunggu!!
Ardito : Siap laksanakan!! otw.. balas Dito dengan emotikon memberi hormat.
Entah mengapa ia langsung begitu bersemangat saat mendapat kabar dari Vir itu.
Virendra pun tidak lagi membalas pesanya.
Entah apa yang ingin Vir lakukan dengan menyuruh Dito datang. Apa iya, dia ingin mempertontonkan sederet pemeriksaan istrinya itu pada Dito. Entahlah, sepertinya ia hanya ingin membagi berita bahagia ini pada sang sahabat.
...____...
“Kenapa mengoleskan gel saja sampai selama itu? cih..” protes Vir tak terima
“Pasti sedang ambil kesempatan..” sambungnya dengan suara hampir tak terdengar.
Ia yang bersandar di dinding ruang menatap datar ke arah dr Wandi yang kembali melempar tatapan menyerngit padanya.
Huhh, resiko pernah berurusan dengan macan.. Sampai sekarang dia bahkan terus mencurigai ku, hmmnt.. Gumam dr Wandi dalam hati
“Ini sudah selesai..” Ia meletakkan botol gel yang berfungsi sebagai pelumas itu, lalu mulai mengarahkan sebuah alat di atas perut Aileen.
Tangan dokter Wandi mulai menari, mencari posisi rahim.
“Nah, lihat itu..” ujar dr Wandi penuh semangat.
Aileen terlihat menelan ludah kasar, begitu menatap ke arah layar monitor yang menunjukkan sebuah gambar titik kecil yang ada dalam perutnya. Tenggorokannya seakan tercegat, dr Wandi belum mengatakan apapun, namun ia tenti tahu arti dari gambar tersebut.
Sementara Vir, ia yang juga melihat itu tak lagi memperdulikan apa yang dokter Wandi lakukan. Toh dokter itu tak menyalahi aturan.
Sama seperti Aileen, Ia juga tertegun saat melihat gambar pada layar monitor yang membuat netranya memanas. Dengan gerakan pelan dan tatapan tetap fokus pada gambar, Vir menarik sebuah kursi menggunakan kakinya, lalu duduk di samping Aileen sambil menggenggam tangannya. Perasaannya kian mengharu biru saat gambar pada layar semakin jelas.
“Wah, selamat dr Aileen.. Anda akan menjadi seorang ibu.. dan Tuan Virendra akan menjadi seorang Ayah” dengan wajah berbinar dr Wandi terus menggerakkan tangannya.
Detak jantung Aileen kian berdetak kencang, rasa bahagia menyeruak memenuhi rongga dadanya, disusul dengan gelombang rasa sesak antara haru dan bahagia yang menerpa membuat bulir bening itu lolos seketika.
Begitu pula dengan Vir, wajah datarnya kian terpaku pada layar monitor yang menampakkan kehidupan baru yang sedang tumbuh dalam perut sang istri. Ya, Malaikat kecil calon anak mereka yang akan melengkapi Keluarga kecilnya.
“Ini dia.. usianya sudah hampir masuk 7 minggu” dr Wandi mulai membaca penjelasan yang tertera
“Besarnya sudah seukuran kacang, Mom.. aku sehat ya, kalian bisa mendengar detak jantung kan?” dr Wandi berbicara menirukan suara anak kecil. Membuat Vir yang tadinya terharu malah menatap aneh ke arahnya.
Tatapan Vir, seolah mengatakan jika seorang dr Wandi yang pernah memberinya kesan menjengkelkan ternyata bisa bersikap seperti ini. Bahkan cukup profesional.
Ck, Aku ingin sekali memukulnya ... Vir membatin kesal.
“Moon..” ucap Aileen penuh haru membuat lamunan Vir yang masih menatap kesal pada dr Wandi, buyar seketika.
Mata Vir juga ikut berkaca-kaca ketika pandangan mereka bertemu dengan mata Aileen yang juga berkaca-kaca, sama seperti dirinya.
Dengan perasaan haru, Vir menganggukkan kepala sambil mengecup kening Aileen “Kita akan jadi orang tua, kita akan jadi Daddy dan Mommy..." tangannya terurai mengelus lembut kepala sang istri.
“I Love you both..” Aileen hanya mengangguk mendengar ucapan Vir, pandangannya kembali menatap pada layar monitor yang masih menampakkan calon bayi mereka.
Proses USG pun selesai. Vir membantu Aileen bangun dan menuntunnya menuju kursi.
“Sekali lagi selamat ya.. Kalian akan menjadi orang tua” dr Wandi mengulurkan tangannya.
Aileen terlebih dulu menjabat tangan tersebut lalu menyikut Vir yang masih duduk, sama sekali tak bergeming untuk membalas uluran tanga dr Wandi.
“Selamat..” ulangnya ketika Virendra baru saja membalas uluran tangannya
“Terimakasih.." Vir masih saja cuek
“Ohiya, ini hasil USG-nya... Dia sehat, usianya sudah hampir 7 minggu dengan besar seukuran kacang..” jelas dr Wandi seraya mengangsurkan 2 lembar foto janin mereka.
Dengan tangan bergetar Aileen meraih foto tersebut, tanpa sadar air matanya kembali menetes. Vir yang melihat itu pun ikut tersenyum haru, ia menggenggam kedua bahu Aileen, berusaha menenangkan dengan menyalurkan kekuatan yang ada.
Mulai saat ini ia akan berjanji untuk menjaga dan melindungi kehidupan baru yang ada di perut istrinya itu.
“Mau tespek juga??” tanya dr Wandi “Biar lebih yakin lagi..” ucapnya menawarkan.
__ADS_1
“Boleh..” sahut Aileen sambil menghapus sisa air mata dan ingusnya menggunakan tissu yang Vir berikan
Namun, Vir terlihat menggelengkan kepala.
“Ku rasa tidak perlu, Eil.. Toh kita sudah melihatnya, dia benar-benar ada di sini..” tolak Vir tak setuju sambil menunjuk perutnya.
“Aku hanya ingin mendokumentasikan kehamilan pertama ku” ucap Aileen sedikit terkekeh dengan jawaban absurd yang ia berikan.
“Rasanya belum lengkap jika tanpa tespek..”
“Oke, terserah mana baiknya” Vir mengedikkan bahu, berusaha mengalah dan tak ingin Aileen bersedih karena penolakannya.
Dr Wandi yang sedari tadi memerhatikan interaksi keduanya, lalu tersenyum saat Aileen beralih menatapnya “Jadi bagaimana?"
Aileen mengangguk mengiyakan.
“Oke, tunggu sebentar..”
dr Wandi lalu beranjak menuju lemari etalase yang ada di sudut ruangan dan kembali dengan membawa 4 buah tespek dari merek berbeda yang ia letakkan di atas meja.
“Biar lebih akurat..” sahutnya demi melihat kerutan di kening Aileen dan Vir saat melihat ia memberi 4 tespek sekaligus.
Dengan senyum mengembang, Aileen meraih tespek tersebut lalu berjalan menuju toilet.
“Aku ikut..” sahut Vir, ia mulai beranjak dan mulai menyusul sang istri.
Aileen berbalik sambil menggeleng “Tunggu di sini saja! Apa kau tidak merasa malu jika dr Wandi melihat mu ikut masuk..?”
“Tidak..”
Aileen mengerutkan keningnya
“Biar saja, supaya dia tidak lagi mengganggu mu..”
“Dia tidak lagi menganggu ku..” lirih Aileen sambil tersenyum kikuk ke arah dr Wandi yang melirik padanya yang masih di ambang pintu.
“Tetap saja, siapa yang tahu jika dia memasang cctv rahasia di dalam toilet dan akan melihatnya saat kita pulang..”
“Aku tidak akan rela..” lanjut Vir
Aileen semakin dibuat jengah dengan alasan absurd yang Vir berikan
“Ck, Moon jangan berlebihan..”
“Ini tidak berlebihan! Ayo masuklah, jangan membuang-buang waktu..” ” tanpa persetujuan Aileen, Vir langsung memeluk tubuh istrinya, membawanya masuk bersama.
Dokter Wandi yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala lalu kembali fokus pada kesibukannya sendiri.
...____...
“Ini ruangannya..” tunjuk Dito pada pintu berplitur cokelat yang di atasnya tertera nama dr Wandika Kusumu SP.O.G.
Dari info yang Vir berikan, sahabatnya itu ada di dalam sana.
“Aku tunggu di sini saja..” Dito duduk di kursi yang ada di samping ruangan tersebut.
...____...
“Apa kau puas?” tanya Vir saat melihat wajah berbinar Aileen setelah melakukan tespek menggunakan keempat benda tersebut.
Aileen tersenyum puas, Ia mengangguk lalu berhambur kepelukan sang suami.
“Tanpa di tes pun kau akan tetap hamil..” Vir membalas pelukan itu sambil menempelkan dagunya di pundak Aileen
“Ck, sudah ku bilang, Aku hanya ingin mendokumentasikan kehamilan pertama ku”
“Iya bumil.. kau boleh melakukannya!!” Vir melepaskan pelukannya lalu mengacak-acak gemas rambut istrinya itu dengan senyum tak pernah pudar.
Bahkan ia terus menghujani wajah Aileen dengan ciuman tanpa henti.
Setelah itu, mereka pun ke luar.
Setelah menunjukkan hasilnya pada dr Wandi, dokter tersebut hanya tersenyum puas karena melihat pasiennya kelihatan begitu senang.
Meskipun ia pernah melakukan pendekatan terang-terangan pada Aileen namun saat di ruangan seperti ini, Ia tetap berusaha seprofesional mungkin. Entah karena segan terhadap Vir atau memang dia sudah tak berniat menganggu wanita bersuami lagi.
__ADS_1
“Sekali lagi selamat ya.. dr Aileen bisa kembali ketika usia kehamilan memasuki minggu ke 8, di situ usia kandungan sudah masuk 2 bulan” dr Wandi memberikan resep obat dan hasil pemeriksaan yang telah Aileen lakukan.
“Baik, dok.. Terimakasih untuk pelayanannya..”