
Suasana di dalam mobil nampak canggung, tak ada sepatah kata pun yang ke luar dari mulut sepasang suami istri itu.
Aileen terlihat masih begitu kesal dengan cara Vir membangunkannya, namun ia juga seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ditahannya.
Aileen melirik ke arah Vir, pria itu begitu fokus menyetir dengan tatapan dinginnya. Sorot matanya menerawang jalan malam yang dipenuhi sorot lampu kendaraan yang lalu lalang, Sedari tadi ia sama sekali tak pernah menoleh ke arah Aileen
"Vir..!" Aileen menepikan kekesalannya, ia harus mengatakan sesuatu
"Hmmmnt" sahut Vir tanpa menoleh
"Bisakah kita sedikit bersandiwara saat di sana nanti.." ucap Aileen ragu, takut si makhluk aneh akan mengamuk
"Tanpa kau minta pun aku pasti akan melakukannya, walaupun aku membenci Keluarga mu namun berpura-pura akan lebih baik daripada image ku tercoreng..." ujarnya
Aileen menghela nafas mendengar ucapan Vir, Ia mengalihkan pandangannya menatap jalan. hatinya selalu saja sakit saat Vir mengatakan ujaran kebencian itu, tidak bisakah ia berhenti menegaskan hal itu? Lagi pula perjodohan ini bukankah sebuah kesepakatan yang disetujui antara kedua keluarga, tapi mengapa Vir seolah membenci satu pihak saja..
Meskipun begitu ia tetap senang karena Vir bersedia bersandiwara.
Suasana kembali hening, hingga sampailah mereka pada kawasan perumahan elit mewah yang setara dengan perumahan Keluarganya.
Security membukakan gerbang, membiarkan mobil mereka masuk.
Sementara salah seorang security lainya masuk memberi tahu sang majikan,bahwa yang ditunggu sejak sore telah tiba.
"Permisi, Tuan di depan ada nona Aileen dan suaminya" ujar security itu memberi tahu
Semua yang duduk termenung menunggu seketika langsung menghela nafas lega saat mengetahui Aileen dan Virendra datang. Tentu saja, karena menunggu merupakan sesuatu yang sangat membosankan.
"Ayo cepat antar aku ke luar, aku harus menyambut mereka.." kata Opa yang begitu antusias
Mereka semua pun ke luar.
Bertepatan dengan Virendra dan Aileen yang baru turun dari mobil
"Kemarikan koper mu, biar aku yang membawanya agar aku terlihat seperti suami yang begitu menyayangi Istrinya" bisiknya lalu megambil alih koper kecil dari tangan Aileen.
Virendra pun menggenggam tangan Aileen lalu berjalan ke arah Keluarga yang sudah menunggu.
"Kenapa harus bawa barang sebanyak ini, kau pikir kita akan tinggal di sini? Haissh menyusahkan." Gerutu Vir yang merasa Aileen begitu berlebihan membawa begitu banyak barang, bahkan sampai menggunakan koper
Namun Aileen enggan menjawab, ia tak henti-hentinya mengulum senyum menatap Vir yang terlihat begitu menghayati perannya sebagai pasangan yang harmonis..
Tidak ada yang tahu apakah ia benar-benar tulus atau hanya sebatas menjalankan peran.
"Akhirnya kalian datang juga, opa sudah menunggu sejak sore..!" ujar opa yang terlihat begitu senang
Aileen dan Vir bergantian memeluk Kakek tua itu
"Kami minta maaf Opa, tadi kami.." baru Aileen mengatakan bahwa ia sempat tertidur namun Vir sudah terlebih dahulu menyelanya dan memberikan alasan di luar dugaan
"Maaf Opa tadi aku pulang terlambat sehingga membuat Eil menunggu lama"
Aileen tak menyangka, Vir akan menyatakan alasan yang berbeda. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu membelanya walaupun hanya hal kecil seperti ini. Hatinya yang sempat tak punya harapan lebih dalam hubungan ini terasa mendapat semangatnya kembali.
Haruskah ia terus memperjuangkan hubungannya agar Vir bisa melihatnya dan membuka hati untuk dirinya? Bisakah dia menggantikan posisi wanita lain yang masih bertahta di hati suaminya walaupun ia sendiri tidak tahu seperti apa wajah kekasih pria itu.
"Tidak masalah, bukankah sekarang kalian sudah ada di sini? itu jauh lebih penting dan membuat ku bahagia" senyuman di wajah opa tak henti-hentinya mengembang dari sudut bibirnya
Kini Aileen dan Vir beralih mencium punggung tangan Om Ferdy dan Tante Syella
"Kami senang kalian datang!" Ferdy menepuk punggung Vir
Pria itu hanya tersenyum dan beralih menatap Shakeel dengan senyuman menyeringai yang dipaksakan penuh arti
Aileen memeluk tante Syella
"Tadi mommy dan daddy mu juga ada di sini.." tutur Syella seraya memeluk Aileen
"Benarkah, lalu dimana mereka?"
__ADS_1
"Kalian terlambat, mereka sudah pulang"
"Sudahlah.. kenapa kita malah mengobrol di sini, ayo masuk, kita mengobrolnya di dalam saja" Sahut opa
Mereka semua pun tertawa, lalu masuk ke dalam.
Setelah sedikit banyak berbincang satu sama lain. Malam semakin larut mereka semua pun kembali ke kamar masing-masing.
Tante Syella pun mengantarkan Aileen dan Vir ke kamar mereka yang sudah dihiasi layaknya kamar pengantin.
"Ini kamar kalian, jika perlu apa-apa beri tahu saja pada pelayan" pintu pun terbuka, menampakkan berbagai macam dekorasi bunga dan dua handuk putih yang dibentuk menyerupai angsa yang sedang berciuman tertata di atas ranjang yang bertabur bunga mawar merah
Vir menelan salivanya dengan kasar
Apa-apaan ini? shittt, apa mereka mengira aku datang ke sini untuk berbulan madu.. gumam Vir yang merasa kesal
Sementara Aileen, jangan ditanyakan lagi. wajahnya sudah merah seperti tomat rebus, rasanya canggung sekali melihat kamar yang di hiasi seperti ini, apalagi harus tidur di sana berdua dengan Vir, Jangankan tidur di kamar yang bertaburan bunga, selepas menikah pun mereka sama sekali tak pernah bersentuhan apalagi sampai tidur bersama.
Ah iya, tentu di sini mereka tak bisa tidur terpisah seperti di rumah, yang ada semua keluarganya akan mengetahui kepalsuan rumah tangga mereka.
"Layani suami mu dengan benar Eil..!" Syella mengedipkan mata membuat Aileen dan Vir salah tingkah
"Kalau begitu, tante tinggal dulu! kalian beristirahat lah" Ibu Keil pun melenggang pergi
Kini hanya menyisakan kecanggungan diantara sepasang suami istri itu, mereka masih sama-sama mematung memandangi ruangan yang penuh dengan dekorasi bunga.
"Eh kau masuklah dulu, Aku akan mengambil minum" ucap Aileen memecah keheningan lalu beranjak meninggalkan Vir seorang diri.
Ragu-ragu Vir melangkah masuk ke dalam kamar.
"Haissh.. Keluarga ini benar-benar menyebalkan!" Vir menatap seisi ruangan yang bernuansa putih dengan banyak bunga mawar merah yang bertaburan di dalamnya.
***
"Kau sedang apa?"
"Kenapa terkejut? wajah mu terlihat menyimpan banyak beban, apa terjadi sesuatu?.." cecar Shakeel seraya meraih gelas dan mengisinya dengan air minum yang ada di samping kulkas
"Eh, tidak ada. aku hanya menikmati minum ku" sanggah Aileen
"Kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariku, kita sudah bersama sejak kecil jadi aku tahu betul gerak-gerik mu" Keil menarik satu kursi dan duduk menghadap ke sepupunya yang masih berdiri.
"Bukan apa-apa! Ah sudahlah jangan mengintrogasi ku, lebih baik bahas yang lain saja"
Keil hanya mengangguk mendengar ucapan Aileen.
"Oma dimana, sedari tadi aku tidak melihatnya?"
"Oma sudah tidur, dia lelah menunggu.. kami semua lelah menunggu mu" ketus Shakeel yang masih merasa kesal
"Hahaha apa kau marah padaku? kelihatannya kau masih marah karena sikap Vir malam itu ya?" tebak Aileen, karena tak biasanya Keil bersikap seperti ini padanya, Biasanya sepupunya itu tak mudah marah dalam hal apapun kecuali dia tak menyukai seseorang.
"Aku tidak marah kepada mu, aku hanya tak suka sikap suami mu itu.." cibir Keil
"Aku tahu hubungan kalian tidak baik"
Aileen menghembuskan nafas, Ia tahu tanpa berbicara pun Shakeel pasti mengerti apa yang terjadi diantara dirinya dan Vir.
"Itu sama saja Keil, diakan suami ku.." mencoba mencairkan suasana
"Hahaha apa kau menganggapnya suami?? Lagi pula kenapa saat itu tidak kau tolak saja perjodohan ini"
"Keil.." sela Aileen
"Kenapa Eil? dia itu sangat Arogan, dia tidak akan bisa menerima mu begitu saja.."
"Apa kita bisa menolak permintaan Opa?"
Kata-kata Aileen seolah membuat Keil bungkam, ia tahu kakek tua itu tak bisa ditentang apalagi opa dari pihak daddy Al pun menginginkan ini
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan mu..?" Keil menatap cemas
Aileen tersenyum, ia tahu sedari kecil Shakeel selalu menghawatirkannya
"Aku tidak apa Keil, selagi itu membuat Keluarga kita senang maka akan ku jalani.. Lagi pula selagi mereka tidak tahu sikap Vir yang sebenarnya semua akan baik-baik saja" Eil menepuk bahu tegak sepupunya itu
"Yang penting Biyan tidak tahu, kau tahu sendirikan anak itu seperti ember bocor" Aileen terkekeh geli mengingat adiknya selalu saja membocorkan rencananya
.
.
Sementara itu di dalam kamar.
Aileen yang tak kunjung datang membuat Vir mendengus kesal.
"Wanita itu kemana sih, Apa dia ambil minum di luar negeri sehingga memakan waktu begitu lama!!" ucap Vir yang tak henti-hentinya mengoceh.
Entah apa yang membuatnya begitu senang mengoceh, kenapa tidak langsung tidur saja, bukanlah selama ini mereka terbiasa tidur sendiri, lalu kenapa tiba-tiba menunggu Aileen. ahh iya, diakan sedang bersandiwara jadi harus terlihat seperti suami yang tak bisa tidur tanpa Istrinya
Karena kesal, ia pun memutuskan untuk menyusul Aileen.
Sesampainya di dapur, Vir melihat Aileen yang tengah asyik mengobrol dengan Shakeel yang terlihat begitu ceria dengan tawa yang begitu manis.
"Heeemmnt, Eheemmmnt" Memberi kode seraya bersandar di meja dengan gaya yang begitu cool
Shakeel dan Aileen pun berbalik, mereka melihat ada Vir disana dengan menatap datar ke arah mereka.
"Ayo tidur, aku sudah mengantuk" katanya
Aileen menyerngitkan dahinya.
dia ini kenapa lagi, kenapa tiba-tiba mengajak ku tidur. biasanya juga kita tidur terpisah.
"Ayo cepat, kenapa malah diam" Vir meraih tangan Aileen
"Kami tidur dulu tuan Shakeel" Vir tersenyum sok ramah lalu kembali ke kamar seraya menggadeng tangan Aileen
Cih..dia terlalu pandai bersandiwara!! awas saja jika kau berani melukai Aileen..
gumam Keil yang begitu kesal dengan sikap Vir
Sesampainya di kamar..
"Kau ini kenapa lama sekali? Aku sudah mengantuk" berdecak kesal sambil melototkan matanya
"Kaukan bisa tidur sendiri, kenapa harus menunggu ku" ucap Aileen malas.
Sejujurnya ia senang dengan sikap Vir yang seperti ini. Namun ia masih takut berharap lebih, sebab setiap kali berharap Vir selalu menunjukkan sikap kasarnya dan membuat hatinya sakit.
"Aihh kau ini menyebalkan sekali, jangan besar kepala!! aku hanya bingung ingin tidur dimana," katanya penuh alasan "Lagipula kita sedang di rumah keluarga mu, jadi aku akan menahan diri agar tidak marah-marah.. selama di sini aku akan bersandiwara sebagai suami yang begitu membutuhkan istrinya" bisik Vir tepat di telinga Aileen.
Ia tersenyum namun begitu menyeramkan, membuat Aileen bergidik ngeri.
"Sana tidurlah, ini sudah larut!!" Vir beralu meraih selimut dan bantal menuju sofa
"Tidurlaah di ranjang berbunga mu itu!! Aku di sini saja" katanya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Aileen melotot tak percaya, sungguh kelakuan pria ini sangat menyebalkan. Pikirnya
Huhh Apa katanya?? dia berbicara seolah aku menginginkan tidur dengannya.
Gerutu Aileen Seraya naik ke tempat tidur
Memangnya kenapa jika tidru bersama? itu tidak buruk bukan, kalian kan suami istri.
Lagi-lagi suara hati yang tak diinginkan ikut menyahut.
Membuat Aileen menggelengkan kepala mengusir pikiran itu. Ia pun berusaha memejamkan matanya dan mulai terlelap diatas ranjang bertabur bunga..
__ADS_1