
"Mbak tenang ya! jangan syok seperti ini..
Sakit mbak ini belum terlalu parah, masih bisa di tangani, Segera lah melakukan pengobatan atau terapi untuk menghilangkan sel akar kankernya dan yang paling utama anda harus banyak istirahat dan minum banyak cairan"
Sedari tadi Fia hanya terdiam mendengar ucapan Aileen, Ia sama sekali tak mampu berkata-kata saking terkejutnya
"Di negara B saya punya kenalan dokter spesialis kanker, tapi kalau mbak mau di sini juga ada, mbak bisa memilih"
Fia mendongak, Seketika ia seperti mendapat dorongan keinginan dan semangat yang besar untuk sembuh.
"Saya akan berobat dok, kebetulan orang tua saya sedang berada di negara yang dokter sebut tadi, saya akan ke sana" ucap Fia, keinginannya untuk sembuh benar-benar kuat, dia tidak ingin lalai seperti dulu lagi.
"Terimakasih dok, terimakasih karena sudah menolong saya! Jika dokter tidak menolong saya, mungkin saya akan terlambat mengetahui penyakit ini! Saya beruntung ketemu dokter" ucap Fia sambil meraih tangan Aileen
Aileen tersenyum ramah "Jangan berlebihan, saya hanya menjalankan kewajiban saya! Lagi pula sesama manusia bukankah kita harus saling menolong?"
Fia juga tersenyum mendengar ucapan Aileen, Ia begitu terkesan padanya.
Sampai kapan pun ia tidak akan pernah melupakan kebaikan dokter itu.
Flashback Off
"... Kau tahu? dulu aku sangat mengagumi mu sebagai dewi penolong ku! Tapi sekarang tidak lagi, Kau merebut kekasih ku! dia milik ku!" ucap Fia sedikit berteriak, Ia sudah mulai lepas kendali dengan kata-katanya yang sudah agak kasar.
Perasaan kesalnya pada Aileen begitu besar karena telah menjadi istri dari pria yang ia cintai.
Ia tidak lagi mengagumi sang dokter sebagai Dewi penolongnya, melainkan ia membencinya sebagai seorang perebut.
"Aku pikir kau wanita baik-baik yang tidak akan pernah merusak kebahagiaan orang lain! Kau tidak lebih dari seorang pelakor. Kau PELAKOR!!!" teriak Fia, ia begitu menekankan panggilan 'Pelakor' yang ia sematkan pada Aileen.
Aileen tidak terima disebut sebagai pelakor, Ia begitu kesal tapi masih bisa mengontrol dirinya untuk tetap tersenyum.
Sungguh wanita yang sangat berkelas, dalam keadaan marah pun masih bisa tersenyum.
"Aku bukan pelakor, aku tidak pernah merebut siapapun!" katanya sambil menatap lawan bicaranya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun
"Kau merebut Vir dari ku, Keluarga mu melakukan itu!!" Hardik fia yang berharap lawan bicaranya akan merasa terpojok karena ucapannya.
Nyatanya itu sama sekali tidak terjadi, Ia geram saat melihat Aileen masih bisa tersenyum dalam menghadapinya.
Seharusnya dia emosi, bukan malah seperti ini! Pikir Fia dalam hati
"Apa Vir yang mengatakan begitu??" tanya Aileen masih berusaha tenang, dia kembali menseruput lemon tea miliknya
Fia mengangguk dengan senyum sinis.
Aileen pun menyunggingkan senyuman, lalu mulai bicara
"Dengarkan aku, Pelakor adalah sebutan pada wanita yang merebut suami orang, sedangkan aku sama sekali tidak merasa merebut siapa-siapa apalagi sampai merebut suami orang, jadi itu berbeda!"
"Ck.. Hmmnt, itu sama saja!!" Fia menyeringai
"Apanya yang sama?" tantang Aileen, Ia berusaha diam saat Fia marah padanya tapi dia tidak terima jika dikatai sebagai pelakor
"Hubungan kami sah dimata agama dan hukum, suami ku menikahi ku saat statusnya lajang. Jadi di sini siapa yang pelakor untuk siapa?" Aileen tersenyum sinis
Ucapan Aileen yang terakhir membuat Fia geram. Ibarat melempar sebuah boomerang yang akhirnya berbalik pada dirinya sendiri, Aileen berhasil membuatnya tersudut
"Jadi kau menganggap ku pelakor?" Fia juga tidak terima dikatakan sebagai pelakor
Aileen mengedipkan bahunya sambil menyeringai. Seolah menandakan ia tidak bermaksud seperti itu tapi jika kau merasa mungkin saja benar.
__ADS_1
"Kau.." tuding Fia "Aku kekasih Vir, kami saling mencintai sedangkan dia tidak mencintaimu!"
Jleebb.
Kata-kata Fia barusan seperti sebuah pedang yang menebasa setangkai bunga yang mulai mekar.
Hati Aileen begitu sakit mendengar ucapan Fia yang begitu mengena di hatinya, Ia tahu posisinya,
Ia tahu, sangat tahu jika dirinya hanya menang dalam status tapi kalah soal rasa.
Aileen sadar jika Ia dan Vir sama sekali belum mencintai. Walaupun katanya Vir akan berusaha, namun bisakah ia yakin akan hal itu, mengingat masih ada nama lain yang bertahta di hati suaminya itu
Walaupun begitu Aileen tetap berusaha kuat menghadapi Fia, ia tidak boleh lemah hanya karena tersentil omongan yang berusaha membuatnya down.
Aileen menghela nafas, sedangkan sedari tadi Fia sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Aileen, Ia berharap istri kekasihnya itu akan berderai air mata dan meminta maaf pada dirinya karena telah merebut sang kekasih.
"Hubungan macam apa yang kau harapkan ketika mertua ku sama sekali tak pernah merestui hubungan kalian!"
Kata-kata Aileen membuat Fia Emosi, Ia berdiri dan melayangkan tangannya pada pipi mulus Aileen.
"Beraninya kau!!"
Dengan sigap Aileen menangkis tangan Fia yang hampir mendarat di pipinya
"Jangan coba-coba bermain kasar padaku! Sedari tadi aku sudah berusaha bersabar menghadapi mu, tapi jika kau tidak bisa sopan aku juga tidak akan tinggal diam! Kau tahu, aku bisa saja mematahkan tangan mu ini jika aku mau!" Kata Aileen sambil memegang erat
tangan Fia bahkan sampai memelintirnya
"Awwww" jerit Fia memekik kesakitan
"Jangan pernah menyebut ku dengan sebutan pelakor lagi! Aku sama sekali bukan pelakor" Aileen menghempaskan tangan Fia dengan begitu keras hingga membuatnya terhuyung ke belakang
kemudian Aileen pun pergi dari sana, meninggalkan Fia yang masi terpaku tak percaya dengan tenaga Aileen yang begitu kuat
Ia tidak menyangka jika Aileen akan berbuat seperti tadi, sebelumnya ia mengira akan mudah membuat wanita itu mundur dan meninggalkan suaminya. Namu nyatanya ia salah, dirinya dibuat kalah telak.
Aileen begitu lihai membalikka setiap ucapannya membuat ia kehabisan kata-kata
"Arghhhh..." teriak Fia yang merasa dipermalukan, bahkan minumannya pun Aileen sudah membayarkan untuknya
⚡⚡⚡⚡
Di Rumah Sakit..
Sore itu, Aileen yang baru saja tiba di rumah sakit mendapat telepon dari Vir, ia pun langsung mengangkat telepon itu dan meletakkannya ke telinga
"Ya Halo?"
"Apa kau sibuk?" tanya Vir
"Tidak, aku baru saja dari..."
ucapan Aileen menggantung, Ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya baru saja bertemu dengan Fia
"Halo, Eil??" kata Vir yang tak mendengar suara Aileen
"Eh, iya Vir! Aku sama sekali tidak sibuk, ada apa?" berbalik bertanya agar Vir tak kembali bertanya padanya
"Aku cuma mau bilang kalau nanti aku akan lembur, jadi aku tidak bisa menjemput mu! Tidak apa kan kau pulang naik taxi dulu" kata Vir dari balik telepon.
Ternyata ia menelpon hanya untuk mengabari jika dirinya tak bisa menjemput sang istri. Sungguh manis perlakuan bapak Virendra.
__ADS_1
Aileen tersenyum "Iya tidak masalah"
"Oh iya saat aku pulang tolong siapkan makanan yang banyak, Aku akan makan malam di rumah" katanya lagi
"Tentu, mau aku siapnkan apa?"
"Terserah, yang penting jangan makanan yang beracun!"
Aileen terkekeh mendengar ucapan Vir yang ada-ada saja
"Kalau begitu sudah dulu ya, Aku mau lanjut bekerja! See you my wife" ujarnya seraya langsung memutus panggilan.
Aileen tersenyum mendengar itu, Hatinya bagai disinggahi ribuan bupu-kupu. Beruntung Vir segera memutus panggilan tadi, jika tidak mungkin ia akan bingung harus menjawab ucapannya dengan apa. Ia sungguh kaku jika harus mengucapkan itu pada Vir.
Bebeepa hari belakangan ini, Vir benar-benar memperlakukannya dengan baik.
Bisakah ia tidak berharap jika sudah seperti ini?
.
.
.
Saat sudah sampai di rumah, Aileen langsung bergegas untuk menyiapkan berbagai menu masakan untuk suaminya.
Bahkan Ia sampai repot-repot menanyakan apa makanan kesukaan Vir pada Ibu mertuanya
Melinda yang ditelepon menantunya begitu senang, apa lagi Aileen menanyakan soal makanan kesukaan Vir. Sudah pasti Ibu menduga hubungan Aileen dan Vir benar-benar sudah ada kemajuan dengan saling menerima satu sama lain
Aileen sudah menata semua hidangan di atas meja, kemudian menyalakan beberapa lilin.
Setelah selesai, Aileen pun duduk manis di kursi sambil menunggu suaminya pulang.
Ia kelihatan sudah seperti seorang istri yang begitu mencintai suaminya dan akan menemaninya makan saat dia pulang nanti.
Beberapa menit menunngu akhirya yang ditunggu sudah datang. Aileen yang mendengar suara deru mesin mobil di depan rumah pun segera berlari ke depan membukakan pintu untuk suaminya.
Aileen tersenyum begitu ramah saat melihat Vir turun dari mobil.
Namun kenapa rasanya berbeda, Vir bersikap dingin, Ia berjalan melewati Aileen yang berdiri di ambang pintu dengan menyunggingkan senyum ketulusan padanya
Aileen yang melihat Vir seperti itu menelan ludah kasar, Ia ikut menyusul langkah Vir yang berjalan ke arah ruang tamu
Ada apa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan? Bukankah belakangan ini hubungan kami baik-baik saja, lalu ada apa dengannya? Mengapa ia menatap ku dengan tatapan dingin seperti saat awal pernikahan dulu?
Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya, Ia berusaha menerka apa yang sebenarnya terjadi. Namun karena dirinya btidak merasa melakukan kesalahan apapun Aileen berusaha memberanikan diri untuk mengajak Vir makan, siapa tahu ia bersikap seperti ini karena belum makan. Pikirnya dalam hati
Mungkin saja rasa laparnya menghantarkan sikap dinginnya kembali, mungkin setelah makan ia akan kembali membaik..! Ah semoga saja..
Aileen berusaha meyakinkan diri bahwa Vir tidak akan bersikap seperti itu lagi padanya
"Kelihatannya kau sangat lelah, mandilah terlebih dulu! setelah itu kita makan malam, Aku sudah masak banyak makanan kesukaan mu" Aileen tersenyum ke arah Vir yang kini sudah berbalik menatapnya.
Namun bukannya tersenyum, Vir malah kelihatan makin emosi
"Kenapa harus melakukannya? Bukankah kita sudah sama-sama sepakat?" tanya Vir dengan tatapan yang begitu dingin.
kali ini ia lebih bisa mengontrol emosinya dengan tidak terlalu kasar pada Aileen.
Aileen yang tadinya menunduk kini beralih menatap Vir yang tiba-tiba bicara.
__ADS_1
Aileen menyerngit heran
"Maksudnya?" tanya Aileen yang sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Vir