
Pagi yang cerah tak melulu memberikan kehidupan yang indah bagi setiap orang. Sebagaimana filosofi Matahari yang menjadi simbol kehidupan, penuh harapan, keceriaan, dan kebersamaan. Namun nyatanya hari yang dialami pria bertubuh tegap dengan tatapan teduh itu tak seindah filosofi tersebut.
Dia bersandar di dinding ruang bercat putih itu dengan pandangan kosong. Pikirannya terbagi antara memikirkan keadaan Ayah dan adiknya yang sama-sama dalam keadaan keritis. Sungguh menjadi dilema tersendiri bagi dirinya. Ingin rasanya ia pergi melihat keadaan sang adik, namun kondisi sang Ayah juga tak memungkinkan untuk ditinggalkan. Sungguh kenyataan tak secerah cuaca di pagi ini.
Dengan perasaan kalut ia masih menunggu kabar dari dokter yang tengah menangani sang Ayah di dalam sana. Dua pria berbeda generasi yang tengah menemaninya pun nampak terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Tentu mereka juga dikejutkan dengan tragedi yang terjadi.
Vino, dia masih saja terus memikirkan keadaan Virendra dan Ayah disaat seorang dokter keluar dengan raut wajah tak mengenakkan. Namun ia tetap berusaha berpikiran positif dan segera menghampiri dokter tersebut, pergerakannya langsung disusul oleh Om Ferdy dan Shakeel yang memang sedang menemaninya sejak tadi.
“Dok, bagaimana keadaan Ayah saya?" Cecarnya menuntut jawaban. Vino sangat berharap Ayah baik-baik saja agar ia bisa segera menengok keadaan sang adik nantinya.
Dokter paruh baya itu menghela napas, raut wajah kalut, ia pun berkata “Maafkan kami ... Kami sudah berusaha semaksimal mungkin!”
“Dokter!” teriak Vino tak terima. Ia merasa dokter itu tak seharusnya mengatakan hal seperti tadi. Karena ia tahu betul Ayahnya tentu akan baik-baik saja sebagaimana kejadian yang sudah-sudah, dimana beliau selalu bisa bertahan dari sakitnya itu.
“Vino..” Om Ferdy mencoba menenangkan sambil mengusap pelan bahunya.
“Vin.” Shakeel pun ikut melakukan hal yang sama.
Dengan mata berkaca-kaca, Vino berusaha menelan ludah yang terasa kering dan tercegat di tenggorokan. Hatinya begitu sakit mendengar penuturan dokter itu. Melihat ia yang tak bisa mengontrol diri, membuat Papa Ferdy kembali mengajukan pertanyaan dengan harapan apa yang mereka dengar sebelumnya adalah penjelasan keliru.
“Dok?" tanya Papa Ferdy dengan tatapan menuntut kebenaran.
“Maafkan kami pak, Pak Hans terlambat mendapat penanganan. Gumpalan pada pembuluh darah yang lepas terlalu lama mengakibatkan terjadinya sumbatan pada jantung yang berakibat fatal seperti ini. Pak ..."
Belum sempat Dokter menyelesaikan ucapannya. Vino sudah berteriak sambil meluapkan amarahnya dengan memukuli dinding. Hatinya begitu sakit mendapati kenyataan pahit ini. Keadaan sang adik saja sudah membuatnya kalang kabut, ditambah lagi berita yang baru saja Dokter sampaikan benar-benar membuat dunianya hancur seketika.
Pikirannya berkecamuk, inilah alasan kenapa ia sempat menolak niatan Ayah untuk ikut pencarian. Sebab ia tahu betul, jantung Ayahnya sangat lemah dan penyakit itu bisa kambuh kapan saja ketika mendapat berita atau guncangan yang mengejutkan. Namun nasi sudah menjadi bubur, takdir dan kehendak takdir Tuhan memanglah tak melulu indah dan sesuai dengan keinginan hambanya. Namun dibalik itu, pasti ada sesuatu yang indah yang menunggu setelahnya.
...----...
Ibu Melinda baru saja kembali dari melihat kondisi Aileen yang sudah ditangani dokter. Betapa senangnya Ibu dan Mommy saat tahu ternyata Aileen tengah mengandung. Meski waktu mengetahui kabar bahagia itu bertepatan dengan tragedi ini, namun semua anggota keluarga yang mengetahuinya begitu bahagia dan bersyukur atas kabar baik tersebut. Dengan penuh semangat dan harapan ia kembali menuju ruang operasi, meninggalkan Aileen bersama Mommy Jessica.
Wajah sumringah Ibu Melinda tentu memantik tanya pada Daddy Al dan Mama Syella yang tengah duduk termenung di depan ruang operasi. Keduanya heran melihat raut wajah bahagia dari sang besan. Pasalnya, tadi kondisi Ibu hampir sama seperti Aileen, begitu histeris dan terguncang. Namun begitu kembali ia kelihatan begitu fresh dan lebih ceria dari sebelumnya.
“Ada apa, jeng?" Tanya Mama Syella yang tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
Belum apa-apa, Ibu Melinda sudah kembali menitihkan air mata. Namun bedanya, kali ini ia menangis disertai senyuman bahagia. Tentu itu membuat Daddy Al dan Mama Syella semakin heran. Kecuali Biyan, karena dia tentu tahu info apa yang Ibu Melinda dapatkan dari dokter.
“Aileen hamil.” katanya sambil terus menangis haru sekaligus sedih ketika pandangannya kembali tertuju pada ruang operasi.
“Hah?” sentak Mama Syella dan Daddy secara bersamaan.
“Aileen hamil, kandungnya sudah dua bulan lebih. Sebentar lagi kita akan menjadi kakek nenek, Pak Al." sunggut Ibu sambil mengatupkan tangannya di dada.
”Iya, kakak memang sedang hamil!" sahut Biyan menimpali yang mana langsung membuat semua menoleh padanya.
__ADS_1
“Kau tahu, Biy?” Daddy menatap penuh selidik dan Biyan hanya mengangguk mengiyakan.
“Sejak kapan?" kali ini ketiganya langsung mencecar Biyan dengan pertanyaan.
“Eh," tentu itu membuat Biyan tersenyum getir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “Kak Vir baru memberitahu ku semalam saat tengah mencari kakak.”
“Katanya mereka berniat memberi kejutan dan akan mengumumkannya saat acara syukuran yang akan Kak Vir adakan besok malam..”
Ketiga wajah paruh baya itu langsung kembali sendu saat mendengar penjelasan Biyan. Tatapan mereka kembali tertuju pada pintu ruang operasi. Semua kembali termenung sambil terus melafalkan do'a dalam hati agar operasi itu berjalan lancar dan kondisi Virendra akan baik-baik saja.
Sementara Ibu Melinda. Seketika ia merasa ada yang kurang. Ibu merasa seluruh keluarga belum sepenuhnya lengkap berada di sana. Ya, ia mencari keberadaan Sang suami dan Vino yang sedari tadi sama sekali tak nampak batang hidungnya. Bahkan Ibu juga sama sekali tak melihat keberadaan Papa Ferdy dan Shakeel. Tentu itu memantik rasa penasarannya, membuat ia bersiap akan menanyakan keberadaan mereka pada Daddy Al.
“Pak Al!" Saat Daddy sudah menoleh, Ibu menjeda ucapannya. pandangan Ibu langsung tertuju pada sosok putra sulungnya yang tengah berjalan mendekat dengan tatapan kosong. Di belakangnya menyusul Shakeel dan Papa Ferdy. Lalu dimana keberadaan suaminya? Tentu ia bertanya dalam hati.
“Ibu.. Huuhuu...” Vino langsung memeluk tubuh Ibu. Ia menumpahkan seluruh isi hatinya dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya itu. Sama seperti yang lain, hatinya kian bergidik ngeri tatkala tatapannya tertuju pada pintu operasi. Dari keterangan suster, Jelas ia tahu orang yang berada di dalam ruangan itu adalah adiknya. Dia tengah berjuang antara hidup dan mati. Lalu bagaimana mungkin ia bisa kuat menghadapi dua kenyataan menyakitkan yang menimpa keluarganya ini.
“Hey, ada apa?" Tanya Ibu yang bisa jauh lebih tenang dari sebelum. Walau masih sesenggukan namun ia tetap berusaha mengontrol diri.
“Ayah, bu..hiks..Ayah..” Vino kian tersedu-sedu. Rasanya begitu tak pantas melihat seorang pria gentel menangis seperti ini. Namun itulah kenyataannya, sekuat dan sehebat apapun seseorang. Entah itu wanita atau laki-laki Mereka tetaplah seorang manusia biasa. Punya naluri dan perasaan sedih yang bisa membuatnya menangis kapan saja, apalagi dalam kondisi seperti ini. Sungguh ujian yang teramat sangat menyakitkan.
Hal itu tentu membuat semua keluarga beralih menatap penuh tanya pada Papa Ferdy dan Shakeel yang datang bersama Vino. Namun keduanya hanya menggeleng dengan raut wajah penuh kesedihan sambil menunjuk Vino. seolah mengisyaratkan “Dengarkanlah apa yang akan dia katakan!”
“Ada apa Jevino?” Ibu mengguncang tubuh Vino, menuntut jawaban darinya “Jangan bikin Ibu panik seperti ini, Vin!" Ibu kembali menitihkan air mata sambil mencengkram bahu Vino yang masih saja menumpahkan kesedihan di pundak sang ibu.
Daddy Al yang melihat itu langsung mendekati Vino sambil berusaha menenangkannya. Tak lupa pula Daddy terus menatap Papa Ferdy.
Melihat Vino yang tak kunjung mengutarakan maksud. Membuat Papa Ferdy berinisiatif untuk menuntun Ibu menuju ruangan IGD dimana tubuh Kaku Ayah terkulai di dalamnya.
Sementara Daddy Al dan Biyan ikut menuntut Vino mengikuti langkah Ibu dan Papa Ferdy. Meninggalkan Shakeel yang bergantian menunggu di ruang operasi bersama Mama Syella.
“Ini ada apa? Siapa yang di rawat di sini?” tanya Ibu heran saat tangan Papa Ferdy bergerak mendorong pintu ruang IGD. Tak ada sedikitpun terlintas dipikiran ibu jika suaminya lah yang berada di ruangan tersebut. Mengingat penyakit jantung Ayah Hans sudah lama tak kambuh semenjak hubungannya dengan Virendra mulai membaik. Terakhir kali hanya saat Vir menolak perjodohan dengan Aileen. Setelahnya Ayah benar-benar tak lagi merasakan keluhan itu.
Dan betapa terkejutnya ibu saat melihat seonggok tubuh terbujur kaku, ditupi dengan kain putih di atas ranjang. Keningnya kian mengkerut. Sambil menatap Om Ferdy secara bergantian. Sedangkan Vino, pria itu justru kian menangis tersedu-sedu.
“Ini siapa?" Ibu mulai merasakan perasaan yang tak karuan. Dan begitu tangan Om Ferdy tergerak menyibakkan kain putih tersebut. Tangis ibu pecah seketika.
“Innalillahi wa Inna raji'un!” lirih Daddy dan Biyan secara bersamaan.
“Ayaah.. Hu huuuu!” Tangan Ibu refleks memeluk tubuh yang terbujur kaku itu. Rasanya ia tak ingin percaya apa yang dilihatnya, namun tubuh dan wajah itu begitu nyata terbujur kaku di hadapannya.
“Vino, huhuu... Apa yang terjadi sama Ayah?" Vino mendekat merangkul tubuh wanita yang telah melahirkannya itu. Berusaha memberikan kekuatan padahal dirinya sungguh tak mampu mengahadapi kenyataan ini. Ayahnya pergi di saat Virendra tengah berjuang antara hidup dan mati.
...___...
Di koridor rumah sakit, seorang pria dengan pakaian yang semalam masih ia kenakan berjalan dengan wajah kalut penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Dia adalah Dito. Tadi saat bangun, ia sempat terperanjat ketika mendapati dirinya berada di kamar hotel yang sudah tentu sangat familiar baginya. Ya, dimaana lagi kalau bukan di Angkasa Land Hotel, miliknya dan Virendra.
Ia juga sempat menanyakan siapa yang membawanya ke hotel itu. Tentu staff hotel mengatakan jika sahabatnya, Virendra lah yang membawanya ke sana.
Dengan kepala yang masih sedikit pening akibat pengaruh alkohol, Dito berniat untuk pulang ke Apartemennya. Namun betapa terkejutnya ia ketika melewati Loby, samar-samar telinganya mendengar percakapan para staf yang sangat menggemparkan paginya.
“Kasian sekali ya, Pak Virendra. Istrinya di culik dan dia terkena tembakan dari si penculik saat mencoba menyelamatkan Bu Aileen.” Jantungnya berdetak seketika saat ia mendengar obrolan dari para staf.
“Katanya komplotan penculikan itu diatur sama Mbak Fia dan mantan sahabatnya itu ya?"
“Iya, katanya sih begitu!”
“Mantan tidak tahu diri! Mbak Fia itu tidak benar-benar tidak punya malu!"
“Katanya sejak subuh tadi, pak Virendra sudah masuk ruang operasi. Dengar-dengar dia terkena dua luka tembak!"
Setetes bulir bening lolos seketika saat mendengar serentetan kejadian yang menimpa sahabatnya. saat ia sendiri terbaring tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol. Tentu itu membuat Dito marah semarah-marahnya, sebab merasa gagal menjadi seorang sahabat. Namun di saat berusaha mengingat kejadian semalm, ia sama sekali tak bisa mengingat jelas detail kejadian sebelum dirinya berada di bawah pengaruh alkohol.
Sambil melangkah mencari ruangan operasi, air matanya terus begulir. Sementara pikirannya dipenuhi berbagai macam tanya tentang bagaimana bisa dalam semalam sahabatnya mengalami kejadian setragis ini? Dito benar-benar benci saat dimana dirinya tak bisa mendampingi sahabatnya dalan situasi tersebut.
Lamunan Dito terpecah saat melewati ruang IGD yang pintunya masih terbuka. Samar-samar ia mendengar suara yang begitu dikenalnya tengah berteriak histeris di dalam sana. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat orang yang sangat dikenalnya tengah menangisi seonggok tubuh tak berdaya di atas ranjang.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Dito menyeret langkahnya masuk. Ia menutup mulutnya ketika melihat sosok paruh baya terbujur kaku.
Ia sempat merasa lega sebab bukan sahabatnya yang terbujur kaku di sana. Tapi kondisi ini pun tetap menghantarkan perasaan sedih dalam hatinya. Ia ikut menangisi kenyataan yang ada.
Riuh tangis Ibu Melinda dan Vino menggema di ruangan tersebut.
“Kenapa pergi meninggalkan ku saat anak kita dalam kondisi seperti ini, Yah? Hikkss, Kenapa kau meninggalkanku secepat ini? kita bahkan belum menimang cucu kita dari Aileen dan Virendra..!”
“Kau meninggalkan kami saat Vino sama sekali belum menemukan belahan jiwanya! Huhuuu..” Melihat tubuh limbung ibu yang terhempas ke lantai membuat Dito langsung sigap menangkapnya, membantu ibu dari sahabatnya itu untuk bangun.
“Virendar kita sedang kritis, yah! Kenapa kau pergi secepat ini, hikkkks.." lirih ibu sambil menumpahkan kesedihannya di sana.
...----...
Maaf Garing!!
jujur aku mewek menulis part ini😪😪🤧🤧
Yang takut Vir lupa ingatan, tenang aja! Itu nggak akan terjadi.
Paling dia cuma meninggoyy juga kek Ayahnya.. Candaa meninggoy🤭🤭✌️✌️✌️
Seloww! Jangan ngamok dolo gays!! Aku nggak akan setega itu sama Vir. aku juga sayang dia kok, kan kasian Aileennya juga kalau dia sampai metong! Nanti Eil jadi jendes dong.. Nggak rela aku tuh!!😅
__ADS_1