
Dito, begitu mendengar kabar jika istri dari sahabatnya itu akan melahirkan. Ia yang tengah berada di club malam langsung buru-buru pergi ke rumah Virendra. Beruntung ia hanya baru meminum seteguk alkohol, jadi ia masih sadar dan berkendara dengan normal.
Derasnya hujan dan beberapa bagian jalan yang tergenang sedikit menghambat jalan di beberapa titik. Namun, itu tak membuatnya menyerah. Dito benar-benar menghawatirkan keadaan kedua sahabatnya. Ia tahu betul Vir sama sekali tak bisa melakukan apapun, mengingat kondisinya belum pulih seutuhnya. Itu jelas menjadi kegelisahan tersendiri baginya. Persahabatan yang terjalin antara dirinya dengan Virendra membuat ikatan diantara keduanya menjadi sangat erat, sudah layaknya seperti saudara sendiri. Tentu saat situasi seperti ini juga bisa menjadi beban baginya.
waktu Yanga harusnya bisa ditempuh tak sampai setengah jam harus terbuang lebih lama. Begitu sampai, Vir buru-buru mengetuk pintu rumah bercat putih itu.
Tok, tok, tok....
“Vir ini aku?” teriak Dito sambil terus menggedor pintu. Saking paniknya ia sampai lupa kepikiran untuk menelepon Virendra, sebab Vir tak mungkin mendengar teriakannya.
Cukup lama ia mengetuk pintu sambil berteriak, akhirnya Dito dibuat sadar ketika ponselnya berdering. Tertera nama Virendra disana, membuat ia segera mengangkatnya.
“Kau dimana?"
“Aku sudah di depan!"
Ucap keduanya secara bersamaan.
“Tunggu sebentar ya, sayang! Dito sudah ada di depan. Sabar ya!"
Ingin rasanya Dito segera mendobrak pintu itu ketika mendengar percakapan antara Virendra dan Aileen di dalam sana dari balik telepon.
“Ya Allah, kenapa kalian bisa ada disini dalam kondisi begini!" Mata Dito terlihat merah memikirkan keadaan dua orang itu di dalam sana.
....
Sambil terus meringis Aileen berusaha untuk mencoba berjalan mengikuti Vir dengan pelan. Meski harus terseok-seok dan lambat, tapi ia tetap berusaha melangkah dengan bertumpu pada dinding. Ingin rasanya ia menangis ketika melihat Vir yang juga kelihatan susah payah memutar kursi rodanya. Dalam hati ia bergumam, kenapa mereka harus berada pada situasi seperti ini.
“Ahkkk..!" Rasa sakit yang ia rasa membuat Eil kembali menghentikan langkah. Ia menunduk dengan satu tangan bertumpu pada lutut, sedangkan satu tangannya lagi masih bertahan pada dinding. Bukan tanpa sebab Aileen melakukan hal ini, ia hanya sedang berusaha melakukan banyak gerak agar aliran darah bisa meningkat sehingga proses pembukaan jalan lahir akan semakin cepat. Namun, semua tak mudah teori ketika rasa sakit terus menyerang tanpa ampun.
Ternyata kontraksi sesakit ini. Ringisnya dalam hati.
“Huuhuuu, Mommy, sakit sekali, hikkss..." Bayangan beberapa ibu hamil yang sedang kesakitan ketika ia membantu beberapa persalinan dengan dokter kandungan maupun bidan terputar nyata di otaknya. Ternyata begini pengorbanan luar biasa menjadi seorang ibu. Sakitnya bukan main-main.
...
“Kau tidak apa-apa, kan?" sergah Dito ketika Virendra berhasil membuka pintu.
Wajah sahabatnya itu amsih sama seperti pertama kali ia menerima kabar ini, panik dan dipenuhi kekhawatiran.
“Aku tidak apa-apa! Kau lihat sendiri aku sehat walafiat. Yang apa-apa itu istriku.” Sergah Vir.
“Makanya kenapa kau bisa ada disini, sudah tahu kondisi tak memungkinkan malah menginap di tempat yang hanya ada kalian berdua, cari perkara!” Omel Dito sambil berlalu setelah melayangkan toyoran pada kepala Virendra. Hmmnt, sepertinya Dito benar-benar kesal.
“Shhht, Ahkkk, sakit Ardito!"
Mendengar Vir yang meringis kesakitan membuat Dito langsung tersadar jika apa yang ia lakukan barusan juga salah besar. Bisa-bisanya dia menoyor kepala orang yang baru sadar dari koma.
__ADS_1
“Astaga Vir, maafkan aku, aku tidak sengaja!" Dengan rasa bersalah Dito kembali dan mengusap kepala Vir, kemudian mendekapnya setelah itu. Hmmnt, dasar Dito!
“Aku telah berbuat zolim pada sahabatku yang tak berdaya, maafkan aku ya, Vir! Aku tidak mau kualat!"
“Ck, menjauhlah, Dit! Jangan banyak drama, ayo cepat bawa istriku ke rumah sakit."
Mendapat dorongan dari Vir, Dito langsung segera berlari. “Eil dimana Vir?" teriak Dito yang berlari ke arah tangga.
“Bukan disana bodoh, dia di kamar mandi, dekat ruang sholat!” teriak Vir geram sambil menunjuk ke ruangan sebelah kanan.
“Ya Ampun, Eil!” pekikan Dito membuat Virendra cepat-cepat menyusul. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Eil sudah berada di ruangan luas depan kamar.
“Ya ampun, Eil. Kenapa bisa disini?" ujarnya panik.
Vir kembali imut menyusul ketika melihat Dito dengan susah payah berusaha mengangkat Aileen. Bobot Aileen yang makin berat tentu akan membuat Dito kesulitan. Meski begitu sahabatnya itu terlihat begitu hati-hati melakukannya.
Virendra kembali mengikuti dari belakang. Begitu tiba diluar, dadanya kian merasa sesak saat melihat Aileen tengah duduk di bangku belakang sambil menahan sakit yang luar biasa.
“Ayo Vir, kita harus segera ke rumah sakit!" Dito beralih mendorong kursi Virendra mendekat ke mobil. Dengan begitu telaten Dito membantu memampah Vir masuk ke dalam mobil.
“Tunggu sebentar, aku naikkan kursi roda ke bagasi dulu!" Dito bahkan terlihat begitu sibuk dan kewalahan. Namun, ia benar-benar melakukan semua dengan tulus.
Tak mau membuat beban makin bertambah dengan situasi yang ada. Virendra lebih memilih beralih memberikan perhatian penuh pada Aileen yang ada di sampingnya.
“Sabar ya sayang, sebentar lagi kita ke rumah sakit!" Tangan Vir tergerak mengusap peluh yang bercucuran di wajah Aileen.
“Sabar ya, Eil, aku akan langsung menelepon pihak rumah sakit untuk menyiapkan semuanya!" celetuk Dito dari balik kemudi. Perlahan mobil itu mulai melaju, memecah deraian hujan yang masih mengguyur ibu kota.
....
Rumah sakit yang Dito pilihkan adalah rumah sakit khusus ibu dan anak sehingga membuat ia tak bisa ditangani langsung oleh obgyn yang biasanya menangani Aileen, yaitu dokter Wandi. Begitu tiba Aileen langsung dibawa ke ruang bersalin.
“Sudah pembukaan 4 ya, hampir sempurna. Air ketuban juga masih cukup." jelas seorang dokter wanita yang baru saja memeriksa jalan lahir.
Mendapat perawatan dan penanganan khusus sama sekali tak membuat rasa sakit akibat kontraksi yang Aileen rasakan berkurang. Tentu saja, ini hal yang lumrah. Rasa sakit tak akan hilang begitu saja hanya karena sudah ditangani dokter yang bersangkutan.
“Kalau masih kuat, ibu Aileen bisa jalan kecil ya di sini. Semakin banyak gerak akan semakin bagus ya, bu.” Dokter wanita dengan nametag Susi Oktavia itu memberi saran.
“Kalau ada saya mau pakai birth ball saja, dok!" ucap Aileen sambil sesekali meringis menahan sakit yang terus bertambah.
“Oh bisa Bu, sebentar saya minta tolong pada suster untuk mengambilkan."
Selepas kepergian dokter, Aileen terus menggenggam tangan Virendra yang sedari tadi hanya mampu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan aku kalau punya salah padamu ya, Pa!" Aileen membawa telapak tangan Vir ke wajahnya.
“Kamu tidak punya salah apa-apa padaku, sayang!” Vir mengusap kepala Aileen dengan penuh sayang.
__ADS_1
“Justru akulah yang minta maaf karena kondisiku yang seperti ini saat kau membutuhkanku." Dengan senyum mengembang Vir balas mencium tangan sang istri.
“No, Pa! Jangan ngomong begitu! Kami justru beruntung mempunyai sosok yang luar biasa sepertimu!" lirih Aileen, entah mengapa kali ini ia malah tertarik ingin mengobrol, padahal rasa sakitnya sama sekali tak berkurang.
“Aku punya permintaan, Vir!"
“Jangan aneh-aneh!" sela Vir yang tak mau Aileen berpikiran yang tidak-tidak. Ia benar-benar takut jika saja Aileen malah mengatakan hal-hal yang tak seharusnya.
“Lebih baik istighfar saja daripada harus mengutarakan permintaanmu itu!" Sambung Vir, kini pandangannya beralih menatap Dito yang masih setia menemani. Sahabatnya itu tengah duduk di sofa dengan wajah ngantuk.
“Dengar dulu!" ringis Aileen.
“Apa?" Kata Vir dengan mata berkaca-kaca sambil menatap nanar pada sang istri.
“Kalai anak kita lahir, aku tidak mau dipanggil Mommy dan kau tidak boleh dipanggil daddy.”
Vir menyerngit mendengar permintaan sang istri. Ia yang tadinya sempat mengira Aileen akan mengatakan hal yang tidak-tidak akhirnya bisa bernapas lega. Semua tidak seperti yang ia pikirkan.
“Kenapa begitu?" wajah Vir nampak heran.
“Ahkkk." Aileen kembali meringis sambil mencengkram erat bahu Vir.
“Sakit sekali, ya?" tanya Vir yang hanya bisa membantu memberi pijitan kecil pada bagian yang Eil tunjuk.
“Aku ingin duduk,” ringisnya.
Kebetulan disaat yang bersamaan, dua orang suster membawa sebuah bolak yang cukup besar. Bola yang sering digunakan ibu bersalin untuk duduk sambil memutar-mutar panggulnya disana.
“Ini birth ballnya, Pak, Bu!" ucap Suster tersebut.
Dito yang melihatnya langsung mengambil benda tersebut dan meletakkannya di sisi sofa. Setelah itu Dito langsung membantu Eil turun dari brangker dan duduk di bola tersebut.
Sambil memperhatikan Eil yang terus menggerak memutar di atas bola dengan tangan yang bertumpu pada Vir. Dito justru membisikkan sesuatu pada sahabatnya.
“Apa aku datang ke rumahmu untuk memberitahu keluarga yang lain?"
Vir nampak berpikir mendengar pertanyaan Dito.
“Tidak usah, Dit! Istirahatlah, kau pasti lelah. Biar nanti kutelpon saja."
“Tapi sepertinya Eil butuh mommy atau ibu untuk mendampinginya juga, Vir." Dito kembali menyarankan. Ia benar-benar tak berpikir jika harus menyaksikan perjuangan seorang wanita menjelang detik-detik persalinan seperti ini. Sedangkan ia sama sekali belum punya pasangan. Hmmnt, sepertinya dia memang harus belajar banyak dengan cara melihat semua ini. Ia jelas bisa merasakan bagaimana berada di situasi sahabatnya itu.
“Kalau mau beri tahu ibu atau mommy, lebih baik besok pagi saja. Kasian kalau
harus terbangun jam segini!” Ternyata Aileen masih bisa mendengar obrolan dari Dito dan suaminya.
“Tapi, Eil!" Ucap Dito dan Virendra secara bersamaan.
__ADS_1
Aileen menggeleng sebagai bentuk jawaban.