
Aileen tersenyum melihat pemandangan di kamarnya, ia lalu melangkah mendekat dan berjongkok di sisi sofa.
Pantas saja tidak ada yang menyambutnya datang, ternyata suaminya itu sedang tidur sore. hihi sangat menggemaskan.
“Apa kau kelelahan sampai tertidur di sini?” ia menatap lekat wajah Vir yang tertidur pulas dengan dengkuran halus dan bibir setengah terbuka.
“Kasihan.. Pasti kau lapar ya...” tangannya mulai terangkat dan menyusuri garis wajah sang suami.
Cup..
Satu kecupan mendarat di kening Vir, disusul dengan belaian lembut pada rambut hitamnya yang mulai memanjang.
Puas memandang wajah itu, ia langsung merebahkan kepalanya di dada bidang Vir, dengan tangan yang melingkar pada tubuh suaminya.
Perasaan nyaman dan tentram menyeruak setiap kali bersama Vir. Ia begitu mencintai pria itu. Entah sejak kapan, namun perasaan itu begitu besar dan nyata, terlepas dari perlakuan buruk yang pernah ia lakukan.
Beberapa detik kemudian Vir mulai menggeliat. Kelopak matanya perlahan mulai terbuka dan pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah sang istri yang memeluknya.
“Sudah pulang?” seketika Aileen langsung mengangkat kepalanya, ia menoleh ke arah Vir dengan senyum mengembang
“Aku mengganggu tidur mu ya..?”
“Sama sekali tidak..” Vir langsung merubah posisinya menjadi duduk “Kemarilah..” ucapnya lagi sambil menarik Aileen duduk di sofa
“Bagaimana jalan-jalannya, Pasti lelah ya...?" Ia membantu melepaskan flat shoes Aileen lalu menarik kaki jenjangnya ke atas pahanya dan mulai memijatnya.
Aileen tersenyum melihat perlakuan suaminya yang begitu penuh dengan perhatian.
“Sudah makan siang?” tanya Aileen dan Vir menggeleng “Kita makan ya, tadi aku sempat beli makanan untuk di take away..”
“Boleh-boleh, kebetulan sekali aku lapar..”
“Kalau lapar kenapa tidak makan dari tadi”
Aileen dan Vir beranjak, mereka ke luar dari kamar.
“Maunya makan sama istri cantikku.. Tidak bisa makan kalau tidak di suruh Ayang..” ucap Vir menggoda sambil merangkul tubuh Aileen menuruni tangga
__ADS_1
“Hiss, makin hari makin jago gombal ya..” Aileen mencebik namun tetap tersenyum
“Bukan gombal, ini serius..”
Aileen memutar mata malas
“Itu namanya menyiksa diri, Aku bersenang-senang di luar. sudah pasti makan enak sedangkan kamu dengan bodohnya malah tidak makan karena menunggu ku.. huh alasan klise!” Celetuk Aileen
Sesampainya di ruang makan, lagi-lagi Vir dengan begitu berlebihannya melarang Aileen melakukan apapun. Sedangkan ia sibuk mempersiapkan makan sore mereka.
“Kenapa harus begini? ini berlebihan.. aku masih bisa melakukannya tapi kau selalu membatasi pergerakan ku..” Aileen menggerutu sebal
“Bumil duduk manis saja, Biar Pamil yang siapkan.. Bumil kan pasti lelah seharian jalan-jalan..” dengan seriusnya ia mulai membuka boks makanan yang Aileen beli
“Pfftttt.. hahaha Pamil? sejak kapan ada kata seperti itu? Siapa yang menciptakan? haha aku baru mendengarnya..” Aileen terkekeh sambil memukul bahu Vir yang masih sibuk menuang makanan ke piring
Masih dengan wajah serius, Vir malah menjawab dengan santainya “Ya sejak saat ini, Kalau ada bumil berarti ada pamil kan..” Sepertinya dia sedang mencetuskan istilah baru. Ya, terserah kau saja Vir, sesuka mu lah!!!
Aileen masih saja terkekeh mendengar jawaban absurd suaminya, pasalnya baru kali ini ia mendengar istilah itu.
“Hahaha kau ini ada-ada saja sayang.. Sepertinya kau harus mempatenkan penemuan baru mu ini..”
Memangnya apa yang salah, bukankah dia benar? Seharusnya jika ada bumil maka harus ada pamil bukan??
“Ini, makanlah Bumil! ini suapan dari pamil..” kini bahkan ia pun mulai terkekeh demi memahami istilah barunya yang memang kedengaran menggelikan.
Pamil, papa hamil. hahaha memangnya papa bisa hamil..? Vir menggeleng kecil sambil menyuapi Aileen dan dirinya secara bergantian.
Yeah, sudah jadi kebiasaannya. Semenjak Aileen hamil, ia jadi lebih senang makan sepiring berdua dengan alasan karena merasa lebih dekat dengan calon anak mereka dan ia pun begitu bahagia bisa berbagi makanan dengannya.
“Sehat-sehat ya anak Daddy.. kami menyayangimu” Vir mengusap lembut perut Aileen yang masih datar. Sama sekali belum menunjukkan jika ia tengah hamil, mungkin karena postur tubuhnya yang memang langsing.
“Iya Daddy, adek juga sayang sama Daddy..” Aileen menirukan suara bayi, membuat Vir mencubit gemas hidungnya.
...***...
“Yakin mau ikut? Apa kau benar-benar kuat?”
__ADS_1
Berulang kali Vir menanyakan pertanyaan yang sama karena setelah makan sore tadi istrinya itu sempat muntah-muntah dan mengeluarkan semua makanan yang baru ia makan. Hal itu tentu membuatnya khawatir. Namun Aileen dengan keras kepalanya tetap kekeh ingin pergi ke acara reuni itu. Bahkan kini bumil tersebut sedang mencoba berbagai macam baju yang akan ia kenakan.
“Tidak usah pergi ya, kita di rumah saja.. Bagaimana kalau kau kembali muntah-muntah..”
“Aihh, sudah ku bilang aku tidak apa-apa sayang.. Percayalah! tadi itu aku hanya terlalu kenyang. Kau yang memaksa menghabiskan makanannya, huh..” tolak Aileen, entah mengapa ia begitu antusias ingin menghadiri acara tersebut.
“Ya maaf..” Vir menghela napas gusar. karena memang tadi ia yang memaksa Aileen menghabiskan makanannya, dengan Alasan istrinya itu berdua jadi harus makan banyak. Namun prediksinya salah, hal itu justru membuat Aileen over kekenyangan yang menyebabkannya muntah-muntah. Alhasil bukannya terisi, perut bumil itu kembali kosong.
“Tapi sungguh tidak apa-apa kan?”
Aileen menghela napas “Lihatlah, memangnya Aku kenapa? bukankah aku terlihat baik-baik saja..” Aileen yang sedang memilih baju berbalik ke arah sofa tempat suaminya duduk.
Vir menggeleng, istrinya memang tidak menghawatirkan. Bumil itu justru terlihat segar bugar dan lincah dalam memilih pakaian yang akan dikenakannya. Berganti dari satu baju ke baju yang lain namun tidak ada yang cocok.
Begitu sensitifnya kah bumil hingga dalam memilih bajupun harus selama ini? Vir bertanya dalam hati
“Ohiya, ini acara formal atau non formal?” Aileen kembali berbalik
“Non formal.. hanya reuni biasa..” jawab Vir apa adanya
Aileen berbalik menatap jejeran baju yang ada di lemari, tangannya tergerak meraih dress berwarna putih.
“Sepertinya aku pakai ini saja ya?..” Aileen berbalik menunjukkan pakaiannya pada Vir.
“Pakai apa saja, kau selalu terlihat cantik .”
Sungguh wanita benar-benar makhluk paling ribet. Mau pergi saja pilih baju harus selama ini.
“Ah iya, pakai yang ini saja! Ini serasi dengan outfit mu..” Aileen memutuskan pilihannya kemudian segera memakai dress tersebut.
Ya, dia memakai dress putih dipadukan dengan outer warna cokelat, sesuai dengan penampilan suaminya yang mengenakan kemeja putih dipadukan dengan celana beige. Sempurna, mereka terlihat sangat serasi.
“Ayoo...” setelah siap dan memakai tas, Aileen mengulurkan tangannya pada Vir. Pria itu menerimanya dan segera melangkah bersama.
“Kenapa kau yang lebih bersemangat, ini kan acaraku..” Vir memakaikan seatbelt pada sang istri
“Aku senang karena bisa bertemu teman-teman mu. Aku ingin mendengar mereka bercerita tentang masa lalumu saat SMA..” Aileen tersenyum geli.
__ADS_1
Vir hanya tersenyum mendengar Jawaban sang istri.
“Jangan mencari tahu, nanti kau bisa terkagum setengah mati padaku..” Ia mengecup kening Aileen kemudian mengusap lembut pipi Istrinya.